"Ibumu tidak akan setuju dengan mudah. Dia sudah menganggap Sonya sebagai menantu rumah ini sejak awal. Wajar jika dia tidak menyukai Chezy pada pandangan pertama." Tuan Alston hanya bisa berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak yang berbeda pendapat.
Di sisi lain, ada istrinya yang harus dibela. Tapi di sisi lain juga, putranya yang akan mewarisi bisnis keluarga juga diperhatikan. Siapapun yang memenangkan hati siapa, semuanya tergantung Kakek Alston.
Tapi Tuan Alston tahu sifat putranya yang selalu berpendirian teguh.
"Ayah, Sonya dan aku tidak bisa bersama. Dia lebih suka bersama kakak. Kamu bisa membujuk kakak untuk menikahinya." Dallas memikirkan sesuatu untuk membuat keluarga Alston sibuk dengan hal lain.
Tuan Alston menghela napas. "Kakakmu memperlakukan Sonya seperti adiknya. Tidak ada niatan lain. Apakah kamu mengerti?"
Dallas tidak menimpalinya untuk waktu yang cukup lama. Dia mengangguk.
"Dia tinggal di negara K sebelumnya 'kan?" tanya ayahnya.
"Ya. Apakah ada masalah tentang ini?"
"Tidak ada. Negara K sangat bagus dan ketat. Wanita itu seharusnya terpelajar. Sulit untuk hidup di negara K sebagai warga biasa." Tuan Alston tidak mau berkata lebih banyak. Dia menyembunyikan pikirannya. Dia teringat dengan teman lamanya yang ada di sana.
Tentu saja Tuan Alston pernah mengunjungi negara K untuk urusan militernya di masa lalu. Dia tentu mengenal keluarga Edelmar.
Apakah mungkin Chezy ada hubungannya dengan keluarga itu?
Atau hanya memiliki nama yang sama saja?
Lagi pula Tuan Alston belum pernah melihat anak perempuan dari keluarga Edelmar di sana.
Dallas penasaran tapi berusaha untuk tidak menunjukkan sikapnya. Setelah bicara banyak, Dallas merasa lega. Keluarga paman dan bibinya tidak terlalu menentang.
Tak lama, Chezy keluar dari ruang kerja. Ekspresinya tidak berubah sama sekali. Dallas tidak bertanya lebih banyak.
"Kakek ingin bicara denganmu," katanya.
"Ya. Kamu menunggu." Dallas masuk ruang belajar dan menutup pintu.
Ruang belajar memiliki efek kedap suara sehingga tidak bisa mendengar apapun yang dibicarakan pihak lain dari luar. Chezy hanya menunggu.
Sepertinya tidak banyak yang dibicarakan Dallas dengan kakeknya. Setelah beberapa saat, Dallas keluar. Lalu terdengar suara teriakan Kakek Alston yang agak marah. Sebelum akhirnya pintu ditutup, suara itu menghilang secara alami.
"Apakah kamu bertengkar dengan kakekmu?" tanyanya.
"Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil," jawab Dallas malas. "Ayo kembali."
Keduanya meninggalkan rumah besar keluarga Alston setelah berpamitan dengan beberapa anggota keluarga yang ada. Sikap Nyonya Alston sudah dipastikan tidak baik. Sama sekali tidak ingin mengakui apapun.
Di perjalanan pulang, Dallas tidak mengatakan apapun. Namun ekspresinya agak serius.
Ketika tiba di rumah, Dallas pergi ke ruang belajar untuk mengurus pekerjaannya.
Tanpa terasa, ternyata hari sudah malam.
Dallas masih belum keluar dari ruang belajar. Waktu makan malam sudah lewat. Chezy makan sendiri di meja makan karena pria itu berkata masih sibuk dengan beberapa urusan.
Kemungkinan besar keluarga Marweth mencari masalah dengan keluarga Alston. Belum lagi masih ada Nyonya Alston yang sangat mementingkan Sonya saat ini.
Mungkin selama beberapa waktu ini, Nyonya Alston akan meminta bertemu secara pribadi atau lain sebagainya.
"Ini merepotkan."
Tak lama, Butler Sun meminta Chezy untuk mengantarkan makan malam ke ruang belajar pria itu. Masih ada senyum di wajah kepala pelayan, membuat Chezy sedikit tidak berdaya.
Chezy membawa nampan berisi makan malam dan segelas air ke lantai dua. Dia mengetuk pintu ruang belajar.
"Masuk." Suara Dallas dari dalam terdengar malas.
Ketika Chezy membuka pintu, hanya lampu di atas meja kerjanya saja yang menyala. Pria itu duduk sambil memegang dokumen dan pulpen, membaca dengan serius. Dua kancing kemeja bagian atasnya dilepas hingga Chezy bisa melihat tulang selangka nya yang tampak menggoda.
"Ada masalah apa?" tanya pria itu tanpa menoleh.
"Makan malam mu," jawab Chezy tidak peduli.
"Letakan saja. Aku akan makan nanti."
"Makanlah dulu sebelum melanjutkan pekerjaanmu."
Dallas menoleh dan tersenyum padanya. "Apakah kamu peduli padaku?"
"Ini permintaan Butler Sun."
"Sangat jujur." Dallas meletakkan kertas dokumen ke tempatnya dan menyingkirkan pulpen. "Bawa ke meja itu dan aku akan memakannya sekarang," imbuhnya.
Chezy menurutinya. Dia meletakkan dua piring makanan di meja lain yang letaknya tak jauh dari meja kerja.
Pria itu bangkit dan menghampiri, namun bukannya duduk. Dallas justru melingkari pinggang Chezy dengan sentuhan menggoda.
"Apa yang kamu lakukan?" Chezy sedikit menegang. Ada bau rokok tercium dari tubuh pria itu. Dia hampir lupa, Dallas adalah pecandu rokok.
"Memeluk istriku, apakah ada yang salah?"
"Tidak." Chezy ingin tersedak sesuatu di tenggorokannya.
"Apa yang dibicarakan kakek denganmu? Sangat lama?"
"Bukan apa-apa. Hanya dia tidak setuju aku menjadi menantu keluarga Alston." Chezy tidak mau membahas ini lebih jauh.
Dallas berekspresi dingin. "Yah, itu memang tidak layak secara status," ucapnya apa adanya.
Dallas mencoba berpikir selama beberapa waktu ini karena itu dia membenamkan diri dalam pekerjaannya. Sepertinya wanita ini memiliki banyak rahasia yang tidak bisa dia lihat.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Dallas tidak bersungguh-sungguh.
"Hah?"
"Bukan apa-apa." Dallas melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu dan duduk untuk makan malam.
Chezy hendak keluar setelah menyelesaikan pekerjaan dari Butler Sun namun Dallas menghentikannya.
"Mau ke mana?"
"Apakah ada hal lain?" Chezy tidak sabar.
"Tetap di sini dan temani aku makan. Kenapa kamu begitu buruk sebagai seorang istri?" ledeknya.
"Aku hanya istri kontrakmu. Tugasku hanya menghangatkan ranjang mu. Yang lainnya bukan urusanku!" Chezy memelototinya.
"Senang rasanya begitu tahu diri." Dallas tersenyum mengejek.
"Kamu—!" Chezy tidak tahan lagi. Bisakah dia menghancurkan meja beralas kaca mewah di depannya ini?
"Duduk dan layani aku makan." Dallas berkata lagi.
Chezy ingin keluar dan menelpon Marine, membicarakan kelanjutan dari misi mereka. Namun Dallas orang yang keras kepala dan siapa pun tidak boleh membantahnya.
Akhirnya dia memilih untuk duduk dan memperhatikannya makan dengan tenang.
Rupanya, Dallas meminta untuk menemaninya makan bukan tak lain hanyalah untuk membawa piring kosong keluar. Memang tidak ada yang baik dari kelakuan pria itu. Dia menganggapnya sebagai pelayan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Risti Dani
Dallas bakal jadi suami yg posesif
2022-10-22
1
fifid dwi ariani
sehat selslu
2022-09-16
0
A.0122
bnr yg kau pikirkan tuan alston karna chezy memang anak temanmu yg di negara k anak keluarga edelmer
2022-04-30
2