Pada akhirnya hanya terdengar teriakan sopir di dalam taksi tersebut saat mobil melaju kencang, membelah bagian jalan ibu kota yang ramai. Mobil taksi yang melaju kencang itu berhasil menghindari para pengendara mobil lainnya.
Untung saja tidak ada polisi yang berjaga sehingga aman dari kejaran mereka.
Ketika mobil berhenti di depan gerbang rumah Dallas, Chezy keluar, membayar ongkos yang melebihi nominal seharusnya. Anggap saja sebagai tip.
Namun senyum Chezy agak aneh menurut si pengemudi.
"Terima kasih," ucap Chezy sopan, lalu masuk ke halaman rumah besar itu setelah penjaga gerbang mengetahui kepulangan Chezy.
Di dalam taksi, pengemudinya adalah seorang pria paruh baya yang agak kurus. Kedua kakinya gemetar saat ini, tubuhnya lemas dan batinnya kelelahan.
Apakah dirinya baru saja berada satu mobil dengan seorang pembalap profesional?
"Untung saja tidak dikejar oleh—"
Sebelum pengemudi taksi itu berbicara lebih jauh, suara sirine mobil polisi lalu lintas terdengar di belakangnya. Lalu berhenti di depan mobil taksi, menghadang jalan.
"... Oleh polisi ...," gumam pengemudi mobil taksi melihat yang dibayarkan oleh Chezy. Sepertinya ini akan menjadi uang untuk membayar surat tilang?
Seorang polisi lalu lintas turun dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil pintu pengemudi. Si pengemudi paruh baya itu akhirnya menurunkan kaca mobilnya.
Sambil memegang sebuah note kecil dan pulpen, polisi pria itu dengan wajah tegas berkata, "Pak, mohon untuk mengutus surat tilang karena telah mengebut melebihi kecepatan mobil rata-rata taksi."
Pengemudi paruh baya itu akhirnya menghela napas tidak berdaya. "Saya bukan orang menyetir sebelumnya. Itu penumpang wanita yang menyetir."
Polisi pria itu mengerutkan kening. Lalu menatapnya dengan serius. "Apakah Anda tahu siapa orangnya? Kebetulan saya seorang penggemar mobil balap."
"???!"! Pengemudi taksi tak bisa berkata-kata. Kenapa ini tidak sesuai dengan rutinitas penilangan?
......................
Di halaman rumah, Chezy melirik jam tangannya. Tepat lima belas menit! Tidak terlambat. Dia sudah melihat Dallas berdiri di balkon lantai dua sambil merokok, menatapnya tanpa ekspresi jelas.
Chezy mendengkus, masuk rumah seperti tidak terjadi apa-apa. Pergi ke lantai dua dan temui Dallas.
"Tidak terlambat. Ini lima belas menit," kata Chezy saat melihat Dallas masih berdiri di tempat yang sama.
"Akhirnya ingat bahwa kamu adalah istriku?" Dallas mengembuskan asap rokoknya ke udara. Dasi kemejanya telah dilonggarkan dan dua kancing dibuka.
Chezy tidak menimpalinya.
Dallas mematikan puntung rokok di asbak dan menghampiri Chezy. Wanita itu mundur beberapa langkah kecil namun Dallas segera menarik pinggangnya.
Mata mereka saling bertabrakan. Iris mata biru laut bertemu dengan iris mata kecokelatan, sangat menarik.
Chezy sedikit kaku di pelukan pria itu. Dia tidak terbiasa dengan adegan semacam ini dan segera menunduk. Namun Dallas lagi-lagi berulah. Dia mencubit lembut dagu wanita itu dan menciumnya.
Chezy terkejut.
Tautan bibir keduanya cukup lama, Chezy tidak menolak. Dia seorang wanita normal pada pikiran pertama lalu juga berstatus istri kontraknya pada pikiran kedua.
Bahkan jika ini hanyalah istri kontrak pria yang tak tahu malu, Chezy juga harus pandai memanfaatkan keuntungan ini. Meski dia akui, bertemu Dallas juga merupakan salah satu kesialannya saat datang ke negara ini.
Saat ciuman mereka berakhir, Chezy merasakan sedikit canggung. Dia mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Tampaknya Tuan Dallas tidak bisa menahan dirinya," goda Chezy.
Pria yang memiliki tubuh bagus ini pasti rajin olahraga, tapi kenapa tidak bisa menahan diri setelah menciumnya?
Dallas menyipitkan mata, bibirnya kencang dan keningnya sedikit berkerut. "Ini ulahmu," bisiknya.
"Jadi?"
"Jadi kamu harus memadamkan apinya juga."
Chezy merasa kepalanya sedikit pusing saat ini. Ternyata Dallas sudah membopongnya, berjalan cepat ke kamar mereka dan menutup pintu agak keras.
Tidak ada pelayan yang berani masuk sehingga Dallas tidak mengunci pintu. Dia melemparkan wanita itu ke atas ranjang dan segera menindihnya tanpa basa-basi.
Mengetahui jika Dallas memiliki semacam kegilaan lagi, Chezy sedikit merinding.
"Tunggu, tunggu. Kamu tidak bisa melakukan ini begitu saja. Mari kita bicarakan," ujar Chezy ingin bernegosiasi tentang malam ini.
Dallas sudah melepas dasi, kemeja dan juga sabuk mahal yang dipakainya. Lalu beralih untuk melepas pakaian yang dikenakan Chezy. Tenggorokannya sedikit kering saat ini.
"Apa yang harus dijelaskan? Mau menjelaskan bagaimana kamu bisa mengebut di mobil taksi dengan kecepatan yang berbahaya seperti itu? Apakah kamu suka bermain mobil balap saat berada di Negara K?"
"Tentu saja tidak! Aku hanya berbakat." Chezy mengelak.
"Kalau begitu, kamu juga harusnya berbakat di ranjang bukan?"
"...." Tentu saja tidak saja, batin wanita itu.
Awalnya Dallas hanya menyentuh beberapa tempat saja hingga membuat Chezy sedikit tidak nyaman. Tapi tak lama setelah itu, Dallas berubah pikiran. Dia mengambil dasi lalu mulai mengikat kedua tangan Chezy.
Akhirnya Chezy mengubah ekspresinya saat ini. "Apa yang kamu lakukan?!" Dia terkejut dan ingin menolak.
"Terakhir kali kamu suka bermain kasar, mari kita coba."
"Aku belum selesai denganmu!" Chezy pada akhirnya tidak bisa menahan diri untuk berteriak.
Sayangnya Dallas tidak memedulikan teriakan dan kutukan Chezy saat ini. Dia benar-benar bermain cukup keras hingga Chezy sesekali harus meneriaki Dallas dengan kata-kata umpatan.
Setelah waktu berlalu, suasana di kamar secara alami masih naik. Wanita itu tidak tahu ekspresinya saat ini karena membelakanginya. Jika tahu, ia bisa melihat wajah Dallas yang menunjukkan semacam kelembutan di matanya.
Pria itu mencium helaian rambut panjang Chezy yang tergerai bebas. Tapi kegilaan pada dirinya belum berakhir.
"Dallas, bisakah kamu melepaskan ikatan ini," pintanya. "Aku merasa tidak nyaman."
Dallas mengembuskan napas hangatnya di telinga Chezy. "Memohon padaku," bisiknya.
Chezy menggertakkan gigi, sedikit malu dan tidak mau. "Dallas, kumohon lepaskan ikatan ini!"
Wanita itu menoleh, menatapnya sambil menggeram. Pria ini banyak maunya.
Namun Dallas tidak terpengaruh sama sekali dan mengecup bibirnya sekilas. "Panggil aku 'suami' lebih dulu. Jika tidak mau, lupakan saja. Lagi pula, kamu tidak bisa melawanku saat ini."
"Tak tahu malu!" Chezy berteriak frustasi.
Kenapa pria tak tahu malu ini lahir ke dunia?
Apakah semua pria dingin dan berwajah batu sebenarnya lebih mesum dibandingkan seorang pria cabul akut sekalipun?
Tapi Dallas mencibir, "Aku tidak tahu malu, kamu bisa apa?" Dia memprovokasi.
"Aku pasti akan membunuhmu."
"Membunuh suami adalah kekerasan rumah tangga. Itu ilegal dan kamu bisa masuk penjara."
"..."
Lagi-lagi Chezy mengutuk dalam hatinya, pikirannya semakin kacau. Mau tidak mau, dia menggertakkan gigi.
"Suamiku, tolong lepaskan ikatannya," kata Chezy spontan, antara malu dan tidak mau.
Balas dendamnya jadi bertambah satu di hatinya. Dia pasti akan membalas semua ini di masa depan.
Kemudian Dallas melepaskan dasi yang mengikat kedua tangan Chezy tanpa persyaratan apapun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
💞 RAP💞
wkwk tangan nya lepas lari ke kaki
2023-07-15
0
Vevy Dyana
cinta nya kpn
2022-11-26
0
Risti Dani
Balas Dallas berkali-kali lipat Chezy, aku akan mendukungmu
2022-10-22
0