Asisten Jill sedikit berkeringat dingin di tangannya dan mengangguk. "Ya, Bos. Tidak ada yang kurang atau lebih. Kami hanya bisa menemukan yang ini," jawabnya.
Apa yang dipegang Dallas saat ini adalah informasi seorang wanita yang disanderanya saat di toilet bandara internasional.
Tapi tidak banyak yang bisa dilakukan Asisten Jill saat memeriksa informasi wanita yang dimaksud Dallas karena pihak lain berasal dari Negara K. Di negara itu, privasi sangat dijaga. Bahkan jika tahu namanya, belum tentu akan tahu keluarga dan pekerjaannya.
Semua informasi bisa saja salah.
"Bos, wanita itu menunggu di sana. Sepertinya sedang menunggu seseorang." Asisten Jill buka suara lagi, sedikit tidak nyaman dengan keheningan bosnya.
Dallas juga tahu itu. "Pergi dan hampiri dia. Sudah diputuskan, aku akan memilihnya."
Asisten Jill tidak banyak bertanya dan mengemudikan mobilnya ke sisi Chezy berada.
Ketika Chezy yang sedang menunggu seseorang melihat sebuah mobil berhenti, dia pikir itu kedua rekannya. Jadi dia langsung membuka pintu belakang mobil dan duduk dengan santai.
"Kenapa kalian begitu lama? Apakah kalian sengaja ingin membuatku marah?" Chezy belum melihat siapa pihak lain dan menyimpan tas di sampingnya.
Tapi ... Dia menyadari jika saat ini ada yang salah. Dia segera menatap seseorang yang duduk di sampingnya. Lalu membelalakkan mata.
"Ahh?! Siapa kamu? Apa aku salah masuk mobil?" Chezy melihat si pengemudi. Ini bukan Hadwin. Orang yang di sampingnya juga bukan Marine, rekan kerjanya. Tapi seorang pria tampan.
"Kamu tidak salah orang." Dallas mencoba untuk berkomunikasi dengan wanita di sampingnya.
"Tidak? Tapi aku tidak mengenalmu. Aku sedang menunggu kedua temanku." Chezy berusaha untuk terlihat seperti wanita polos tanpa kekuatan.
Asisten Jill melihat keduanya dari kaca spion dalam laku berkata pada Chezy. "Nona ini ... Tempat tersebut biasanya digunakan para wanita malam dijemput oleh pelanggan nya."
"Tapi aku bukan wanita malam! Aku ini seorang—" Chezy langsung terdiam. Dia hampir saja keceplosan. "Aku seorang pelayan baru di toko bunga ...," imbuhnya pelan.
Aku adalah seorang agen rahasia, batinnya jujur.
"Alasan yang bagus!" Dallas sama sekali tidak mempercayainya.
"Tampan, percayalah padaku. Aku benar-benar seorang pelayan di toko bunga."
"Penampilanmu di bandara sudah terlihat sebagai wanita malam. Apakah ada yang salah dengan kata-kata ku?" Dallas menjelaskan, tidak menyembunyikan apa yang terjadi di bandara seminggu lalu.
Chezy akhirnya menatap Dallas dengan ekspresi terkejut. "Mungkinkah kamu yang dicari sekelompok orang dan memasuki toilet wanita, menyanderaku di bilik toilet sambil menodongkan pistol?" tebaknya.
Yah, siapa yang menyangka jika pria itu akan sangat tampan. Malam itu Chezy hanya melihat wajahnya dipenuhi oleh cipratan darah. Tapi kali ini berpakaian rapi. Sungguh tidak terduga.
Bisakah pria ini seorang pembunuh? Mafia? Gangster? Polisi? Tentara?
"Ini memang aku."
"Lalu kenapa menangkapku?"
"Kamu masuk mobil dengan sukarela sekarang. Kapan aku menangkap mu?" Dallas menyesap rokoknya lagi.
"Kamu!" Chezy memelototinya. Kenapa dia begitu sial malam ini?
Di hari biasa, Chezy bukan orang pemalu. Dia sebenarnya sedikit tak tahu malu, agak kasar dan juga sering berpura-pura bodoh.
Pria jenis apa yang belum pernah dia hadapi? Untuk menyelesaikan misi, Chezy telah berlatih untuk menjadi seorang wanita berdarah dingin, tidak mengasihi ketampanan atau pun menerima kasih sayang.
Dallas memiliki potongan rambut rapi, garis rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis, jakunnya menonjol sempurna—mencerminkan sebagai pria dewasa. Sepasang mata biru laut pria itu menatap Chezy tanpa ekspresi.
Belum lagi, Dallas memegang rokok yang sudah agak pendek. Asap rokok menyebar di dalam mobil hingga pria itu akhirnya membuka jendela pintu mobil di sampingnya agar udara segar masuk.
"Pergi ke hotel termewah di kota ini," kata pria itu pada Asisten Jill.
"Baik, Bos." Pria berkacamata hitam yang dengan menyetir mengangguk sedikit.
"Kenapa pergi ke hotel?" tanya Chezy terkejut.
"Selama kamu mengambil beberapa foto intim denganku di hotel, bayarannya akan sesuai," jelas Dallas masih bernada dingin,
Chezy akhirnya tak bisa tinggal diam lagi.
"Ini ... Aku hanya sedang menunggu rekanku datang menjemput."
"Jangan berpura-pura bersih."
"Jelas aku masih perawan! Ciuman pertamaku juga belum hilang. Tuan, tolong hormati dirimu sendiri," kata Chezy. Dia ingin mengeluarkan smartphone nya dari tas bahu yang dibawanya.
Tiba-tiba saja Chezy merasa seseorang di sampingnya mencondongkan tubuh ke arahnya dan mengembuskan asap rokok ke wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya curiga.
Dallas tersenyum aneh pada Chezy. "Bertele-tele. Kalau begitu buktikan di tempat tidur."
Untuk pertama kalinya, Chezy bertemu dengan pria yang begitu terus terang ingin meniduri wanita.
"Kamu yakin?" Chezy sedang menimbang-nimbang. Pria ini sebenarnya tidak buruk, pikirnya.
"Ya."
"Kurasa kamu terlihat seperti pria yang diputuskan cintanya dan mencari pengganti," kata Chezy.
"..." Dallas tidak menjawab.
Pada akhirnya, suasana di dalam mobil kembali hening. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitar, masih terasing dan dingin. Memulai obrolan lain saja tidak mau.
Tak lama kemudian, mobil hitam itu tiba di halaman hotel mewah.
"Tuan, kita sudah sampai," ujar Asisten Jill.
Dallas akhirnya mematikan puntung rokok, melirik Chezy tanpa ekspresi.
"Turun dan jangan lari," katanya.
Chezy sama sekali tidak berniat lari.
Di sinilah, Chezy mulai gelisah. Keduanya pun memasuki hotel dan memesan sebuah kamar paling mahal yang ada di lantai teratas.
Ketika memasuki kamar dan mengunci pintu, pria itu langsung mendorong Chezy ke tempat tidur.
Chezy merasakan napas hangat pria itu menggelitik lehernya mulai basah oleh sapuan lidah dan beberapa kecupan. Wanita itu terkejut. Baru saja masuk tapi sudah menyerangnya tanpa berkata apa-apa?
Apakah pria ini begitu tidak sabar untuk memperkosa dirinya?
"Uhh ... Tunggu! Tunggu! Mari kita bicara dulu." Suara Chezy agak terputus-putus. Sapuan lidah pria itu di lehernya membuat pikiran Chezy agak kosong.
Dallas mengangkat kepalanya, melonggarkan dasi serta membuka dua kancing kemeja bagian atas. Jasnya sudah dilepas sejak awal memasukinya hotel.
Melihat wajah Chezy yang sedikit malu, Dallas sama sekali tidak merasa berbaik hati.
"Wanita, mari kita buat kesepakatan. Tapi setelah malam ini, aku ingin memutuskan sesuatu yang bisa menguntungkan mu dan aku nantinya," ucapnya masih dingin dan tidak berperasaan.
"Kamu—" Chezy hilang kesabaran.
Chezy menggertakkan gigi. Dia mencoba untuk melawan dan menendang pria itu.
Ekspresi Dallas berubah serius. Dia segera menangkap tangan Chezy yang hendak memukulnya. Lalu menindih kedua kaki rampingnya agar tidak menendang sembarangan.
Akhirnya Dallas menyeringai. Awalnya dia pikir ini hanya akan membosankan. Namun setelah melihat seberapa kuat tenaga wanita ini untuk melepaskan diri, darah di tubuhnya semakin mendidih.
"Bagus sekali. Sepertinya kamu suka bermain kasar di tempat tidur. Kalau begitu, aku bahkan tidak akan sungkan untuk mencobanya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Vevy Dyana
mulai panas
2022-11-26
0
Vevy Dyana
mau di perkosa tapi kenapa di slow respon 😭
2022-11-26
1
Risti Dani
.
2022-10-22
0