Chezy mengangguk malu. Senang apanya? Mungkin itu akan menjadi pertengkaran antara ibu mertua dan menantu.
Setelah mencari tahu tentang keluarga Alston, Chezy menyadari jika ibu Alston terkenal sombong dan menyukai wajah. Tidak mungkin akan menyetujui hubungannya dengan Dallas jika tahu dirinya hanyalah seorang pelayan di toko bunga.
Ini akan menjadi lelucon di mata nyonya rumah Alston.
Selepas kepergian Gaines, Chezy dan Dallas akhirnya bisa sarapan dengan tenang. Chezy berpura-pura sedikit tertarik dengan luka di wajah Gaines.
"Apakah kakakmu pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Aku melihat bekas luka di dekat mata kirinya, sangat berbahaya jika sampai melukai mata," kata Chezy.
"Tampaknya kamu sangat memperhatikan wajah kakakku? Jangan memiliki ide apapun!" Dallas berbicara dengan nada dingin, menatap Chezy seperti memperingati sesuatu.
Chezy tidak menanggapinya lagi. Pria itu menatapnya begitu dingin. Apakah dia marah karena tunangannya selingkuh dengan kakaknya sendiri?
"Lalu tentang tunangan mu itu ...."
Dallas menatapnya sekali lagi, kali ini tidak ada kehangatan pada sorot matanya. "Sepertinya kamu sangat ingin tahu tentangku?"
"Hanya penasaran," jawab Chezy pelan.
"Ingatlah untuk tidak banyak bertanya tentang ini. Pernikahan ini hanya kontrak. Aku hanya merasa puas dengan tubuhmu, jadi jangan memikirkan hal lain."
Chezy tidak berkata apa-apa lagi. Benar saja, pernikahan ini hanya mainan di mata pria itu. Menjadi istri kontrak hanya untuk memuaskan hawa nafsu tubuhnya saja, ini penghinaan!
Tapi sebagai seorang agen rahasia, Chezy harus mengesampingkan segala emosi yang tidak penting dan fokus pada misi utamanya untuk menemukan sarang pembunuh berantai.
Dallas tidak merasa ada yang salah dengan kata-katanya. Tapi entah kenapa hatinya sedikit terganggu. Wanita mendadak menjadi diam setelah dia berkata demikian. Apakah merasa tersinggung?
Dallas tidak pernah mengenal cinta selama 28 tahun terakhir. Sejak kecil, orang tuanya juga tidak terlalu memperhatikan. Jadi dia tidak terlalu mengerti perasaan orang lain, terutama wanita.
Oleh karena itu, Dallas lebih suka berkata terus terang daripada berpura-pura untuk menyenangkan wanita.
Jika begitu lemah, maka tidak layak menjadi istrinya. Bahkan jika statusnya istri kontrak.
Setelah sarapan, keduanya melanjutkan perjalanan.
Ketika mobil memasuki halaman luas yang dipenuhi oleh tanaman, Chezy sedikit kagum. Ternyata Dallas memiliki rumah besar tiga lantai bergaya kaum bangsawan pada umumnya.
Tinggal di rumah sebesar ini sendirian, bukankah terlalu sepi?
"Rumah mu sangat besar," katanya.
Dallas hanya memberikan tanggapan acuh tak acuh. Wajar jika Chezy terkejut melihat rumah sebesar ini. Diperkirakan, wanita itu belum pernah tinggal di tempat yang dikelilingi oleh kemewahan. Meski apartemen yang ditinggali Chezy juga tidak murah, namun masih jauh dari kata mahal oleh para bangsawan.
"Itu wajar. Jika kamu punya uang, lalu kenapa tidak digunakan?" gumam Chezy.
Untungnya Dallas sudah berjalan lebih dulu sehingga tidak mendengar gumaman Chezy.
Saat Dallas memasuki rumah, beberapa pelayan sudah berjajar rapi dan sedikit membungkuk pada tuan rumah.
"Selamat pagi, Tuan Muda Kedua," sapa para pelayan sangat kompak dan sopan.
Dallas hanya mengangguk. Dia menghentikan langkahnya dan memperkenalkan Chezy pada mereka.
Para pelayan sebenarnya penasaran dengan wanita muda yang dibawa olehnya. Lebih tepatnya lagi, mereka terkejut. Selama ini, mereka yang telah bekerja di rumah besar tersebut tahu jika Dallas tidak pernah membawa wanita mana pun. Bahkan tunangannya sendiri dilarang menginjakkan kaki.
Lalu siapa wanita yang dirangkul tuan mereka?
"Ini Chezy Edelmar. Mulai sekarang dia akan menjadi nyonya rumah di sini. Perlakuan dengan cara yang sama seperti kalian menghormatiku. Apakah kalian mengerti?" Dallas menatap para pelayan setia yang telah mengurus rumah ini selama beberapa tahun terakhir.
Meski para pelayan terkejut, namun dengan cepat mengangguk paham. Wajah mereka sedikit pucat. Dallas memang tampan dan ideal tapi terlalu dingin.
"Selamat datang, Nyonya," sapa mereka sekali lagi.
Chezy tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh begitu banyak pelayan. Dia sedikit canggung dan menanggapinya dengan tenang.
Pelayan segera membantu Chezy membawa koper ke lantai dua, tempat di mana kamar Dallas berada. Setelah itu, Chezy membereskan barang-barangnya sendiri.
Kamar Dallas dominan dengan warna gelap yang tidak terlalu mencolok. Warna abu-abu biasanya cocok untuk selera pria yang tidak terlalu terbuka pada banyak hal.
Tanpa diduga, saat Chezy menata pakaiannya, sudah ada beberapa pakaian atau gaun wanita di lemari.
"Apakah kamu membeli ini?" tanyanya pada Dallas yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di sofa malas.
Pria itu mengetik sesuatu dengan cepat di laptopnya dan mengangguk tanpa menoleh. "Ya. Pakai itu lain kali."
"Apakah pas di tubuhku? Bagaimana kamu tahu ukuran baju yang kupakai?"
"Aku mengukur nya sendiri malam itu. Tubuhmu kurus dan tidak banyak daging, tidak perlu repot memikirkan ukuran baju." Dallas tidak peduli dengan perasaan wanita itu, berterus terang lagi dan lagi.
Chezy menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Ini, ambilah dan gunakan." Dallas tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya.
"Apakah kamu yakin ingin memberikanku kartu ini? Kamu tidak khawatir aku akan menghambur-hamburkan uang?"
Dia memegang kartu hitam itu sedikit erat, agak panas. Benar-benar layak untuk keluarga Alston yang kaya di negara A. Uang ada di mana-mana.
Dallas kini mengalihkan pandangannya dari layar laptop pada wanita itu. "Ini salah atau perjanjian dalam kontrak. Jika tidak, apa yang akan orang lain pikirkan tentang aku yang tidak memberi nafkah istrinya?"
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu ... Aku akan pergi dulu membeli sesuatu," kata Chezy segera mencari alasan untuk keluar rumah.
Dia berbalik dan meninggalkan kamar.
Dallas melihatnya pergi tergesa-gesa, segera tersenyum mengejek. Benar saja, uang masih menjadi alasan untuk wanita menjadi lebih bahagia.
Namun memiliki foto yang diambilnya pada malam itu, Dallas kembali berwajah dingin. Dia memeriksa smartphone-nya, mengecek pesan dari beberapa teman terdekatnya.
Dallas bangkit dari duduknya dan meninggalkan rumah tanpa mengatakan apa-apa. Para pelayan juga sudah terbiasa dengan rutinitasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di salah satu ruangan bar dengan cahaya agak redup, Dallas sudah duduk sambil memegang segelas anggur merah terbaik. Dia menggoyangkan gelas beberapa kali dan meminumnya seraya mendengarkan beberapa diskusi teman-teman satu lingkungannya.
Dia jarang bicara, jadi mereka sudah terbiasa.
"Dallas, apakah kamu yakin? Aku hanya memintamu untuk mengambil foto intim di tempat tidur dengan seorang wanita dan biarkan tunanganmu ditampar oleh fakta jika Dallas Alston bukan pria yang menghargai wanita. Tapi kamu ... menjadikannya istri kontrak?" Seorang pria berkemeja putih duduk tak jauh dari Dallas, memegang sebatang rokok yang tinggal setengah.
Ruangan itu penuh dengan asap rokok.
"Miley Wiz, ini yang kamu inginkan bukan? Jadi penuhi saja perjanjiannya," kata Dallas tidak memberikan alasan lebih lanjut. Dia tidak mau berbasa-basi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Anjay Kerot
pada awalnya ku kira pemeran utama bodoh tapi ternyata hanya demi misi
2023-11-13
1
fifid dwi ariani
semangat selalu
2022-09-16
1
👑☘ɴͪᴏͦᴠᷤɪͭᴛͤᴀᷝ💣
another mistery... lanjutttt😚😚
2022-03-26
0