Di tempat tidur, Marine yang masih menempel di tubuh Hadwin tahu jika Chezy masuk. Dia merasa malu dan ingin berhenti.
Chezy tidak tahan dan pada akhirnya keluar, menutup pintu dengan keras. "Kenapa hidupku begitu sial setelah satu tim dengan mereka?" gumamnya.
Chezy tidak mau peduli. Dia kembali ke kamar dan membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Chezy sudah mengemasi semua barang-barang yang akan dipindahkan. Marine keluar kamar seraya mengusap, melihat keributan apa yang ada di luar.
Hari masih terlalu pagi. Matahari baru saja terbit. Hadwin sendiri ada di dapur, membuat sarapan untuk mereka.
"Kenapa ada koper? Chezy, apakah kamu pindah karena marah padaku?" Marine terkejut. Rasa kantuknya hilang seketika. Dia keluar kamar tanpa memedulikan rambutnya yang seperti sarang burung.
Chezy telah mengemasi semua barang-barangnya. Dia menggelengkan kepala. "Ini tidak ada hubungannya dengan semalam."
"Lalu kenapa kamu mengemasi barang-barang? Jika kamu tidak ingin tinggal satu apartemen dengan kita, aku akan menyewa lantai lain," kata Marine.
"Ini juga tidak ada hubungannya." Chezy menghela napas.
"Tidak? Lalu?"
"Aku sudah menjadi istri kontrak Dallas sekarang. Kamu juga tahu itu. Dia memintaku untuk pindah ke tempatnya."
Marine melebarkan matanya. "Lalu bagaimana dengan misi kita?"
"Berkumpul saja di satu tempat. Lagi pula aku sudah memberi tahu dia bahwa kalian temanku. Aku juga bekerja di toko bunga di masa depan. Datang ke sana dan kita bisa diskusikan rencana selanjutnya."
Hadwin keluar dari dapur sambil memegang panci berisi sup ayam. "Bukankah salah satu target kita ada di keluarga Alston?" tanyanya.
"Ya." Chezy mengangguk.
"Maksudnya Gaines? Apakah keluarga Alston tahu tentang identitas pria itu?"
"Sepertinya tidak." Chezy menggelengkan kepala. "Jika mereka tahu ada pembunuh berantai di keluarga, mungkin suasananya berbeda."
"Baiklah, ini juga berkah bagi kita bisa menemukan salah satu target sebelum satu Minggu di negara ini. Chezy, kamu adalah seorang eksekutor, jangan terlalu mencolok. Hubungi kami jika ada sesuatu." Jelas Marine langsung ke mode serius.
"Aku tahu."
Marine adalah seorang informan organisasi agen rahasia. Dia mengumpulkan banyak informasi dari segala tempat secara diam-diam hanya untuk melancarkan misi mereka, mencari kelompok pembunuh berantai yang lari dari negara K ke negara A.
Sedangkan Hadwin, sebagai seorang penembak jitu, dia selalu membawa senapannya ke mana-mana. Tapi kali ini tidak aman membawa senjata api ke apartemen. Jadi Hadwin menyimpannya di tempat lain.
Kali ini pria berkacamata bening itu hanya membawa pistolnya saja.
Tak lama setelah itu, Chezy mendapat telepon dari Dallas. Pria itu sudah tiba dan menunggunya di halaman.
"Tidakkah kamu sarapan dulu?" Hadwin membuat sup cukup banyak.
"Tidak. Aku akan sarapan di luar. Kalian nikmati hari bersama."
Chezy tidak memiliki banyak barang bawaan selain pakaian dan beberapa aksesoris tambahan. Dia berpamitan dengan Marine dan Hadwin. Keduanya tidak bisa mengantar Chezy ke bawah karena khawatir terlalu mencolok.
Di halaman, Dallas sudah bersandar di mobil mewahnya. Seperti biasa, dia memakai setelan jas hitam rapi dengan sepatu mengkilap. Rambutnya disisir ke belakang serta beberapa potongan rambutnya jatuh ke dahi. Sekilas, Dallas terlihat sangat tampan.
Melihat wanita itu datang sambil menyeret dua koper, dia mengerutkan kening. Kenapa teman wanita itu tidak datang membantu?
"Kopernya tidak berat." Chezy tahu apa yang dipikirkannya.
Lagi pula, Dallas pasti sudah mencari tahu tentang Marine dan Hadwin.
"Ya." Dallas membantu memasukkan koper ke bagasi mobil.
Keduanya segera meninggalkan halaman apartemen. Karena belum sarapan, mereka pergi ke salah satu restoran terlebih dahulu untuk mengisi perut.
Tanpa diduga, mereka bertemu dengan seorang pria yang setidaknya berusia tiga puluh tahunan. Pria itu memiliki wajah yang hampir mirip dengan Dallas. Mata biru lautnya tampak jernih dan memancarkan sentuhan dewasa. Hanya saja perawakannya lebih besar dari Dallas.
Chezy menduga jika pria di depannya saat ini adalah Gaines Alston, kakak dari Dallas. Dia langsung mengenalinya karena ada bekas sayatan pisau di dekat mata kirinya. Namun dia berpura-pura tidak mengenalnya saat ini.
"Kenapa adikku ada di sini? Tidak biasanya," ujar Gaines ketika melihat Dallas datang bersama seorang wanita.
Dia menaikkan sebelah alisnya. Apakah pria ini benar-benar tidak berniat melanjutkan hubungan pertunangannya dengan Sonya? Jika begini, akan sangat sulit untuk meyakinkan Dallas di masa depan.
"Datanglah untuk sarapan bersama istriku," jawab Dallas tanpa basa-basi.
Gaines terkejut. Istri? Kapan keduanya menikah?
Dia menatap Chezy yang berdiri di samping Dallas sambil tersenyum sopan, menyapanya. Wanita itu sedikit lebih pendek daripada Sonya, tunangan Dallas saat ini. Rambut hitamnya menjuntai hingga ke pinggang, memakai bando sederhana serta memakai gaun selutut yang tidak terlalu mencolok.
Tapi Gaines akui jika wanita itu sangat cantik. Terlebih lagi ini bukan jenis kecantikan yang bisa membuat pria berpikir untuk menggodanya.
Chezy di mata Gaines terlihat murni dan polos. Iris mata kecokelatan wanita itu berbeda dengan wanita bermata biru lainnya yang umum di negara A ini.
Dallas merangkul Chezy, memperkenalkan kakaknya. "Ini kakakku, Gaines Alston."
Chezy mengangguk pada Gaines. "Halo, Tuan Gaines. Namaku Chezy Edelmar." Suaranya terdengar sangat manis.
"Jangan terlalu sopan, nona Chezy." Gaines tersenyum sedikit tersembunyi.
Pandangan Gaines tertuju lagi pada adiknya. "Lalu bagaimana dengan Sonya? Kamu buang begitu saja?" tanyanya menggoda tapi ini memberi tahu Chezy jika Dallas masih memiliki tunangan yang belum putus.
Dallas menatapnya acuh tak acuh. "Wanita kotor itu tidak perlu kupikirkan. Bukankah begitu, Kakak?" Ada sentuhan dingin di matanya.
Chezy hanya menunduk saat kedua bersaudara itu mulai mengatakan beberapa kata yang memiliki makna lagi. Tapi Gaines adalah target nya kali ini. Siapa yang menduga jika penampilannya sangat biasa. Tidak terlihat seperti bagian dari orang-orang itu.
Yang dikhawatirkan, anggota pembunuh berantai yang lain menyamar menjadi orang biasa, lalu mengikuti Gaines.
Meski kakak dan adik itu bicara dengan nada biasa, tapi tatapan dingin di antara keduanya tak bisa disembunyikan. Chezy mengagumi keduanya. Sungguh tampan. Memang dari gen yang sama.
Tidak heran tunangan Dallas akan berselingkuh dengan Gaines. Keduanya sama-sama tampan. Yang satu merupakan pewaris keluarga Alston serta yang satunya lagi lebih dewasa dan menggoda. Memukul dua burung dengan satu batu, wanita bernama Sonya ini pasti senang memiliki keduanya.
Terkadang, menjadi serakah tidak baik.
"Karena adikku sibuk dengan istrinya, aku tidak akan menggangu waktu sarapan kalian." Gaines tidak melanjutkan obrolan canggungnya dengan Dallas. Dia melirik Chezy dan tersenyum ramah. "Nona Chezy, datanglah ke rumah Alston di masa depan untuk bertemu dengan anggota keluarga yang lain. Pasti akan sangat menyenangkan bertemu mereka."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
ceria selalu
2022-09-16
0
el_shiraz
chezy" ya,,aku akan..." 😁
2022-02-21
0
Molly
Semangat thorr 💪🌹
2022-02-19
1