Pria berkacamata bening yang dipanggil Hadwin mengerutkan kening. Dia melihat jika Chezy marah tapi Marine memiliki sifat jail yang kadang melewati batas. Dia merasa kasihan pada Chezy.
"Aku sudah berkata padamu jangan berlebihan." Hadwin mengangkat kedua pundaknya sedikit. Tidak berdaya. Dia kembali ke dapur untuk membuat mi instan tanpa telur.
Akhirnya, suara teriakan Chezy dan tawa Marine memenuhi ruangan. Hadwin yang dan di dapur segera melepas kacamata lalu menghela napas lagi.
"Kapan harimau betina dan kucing hutan itu akan berdamai?" gumamnya.
Terlebih lagi, Marine adalah kekasih Hadwin.
......................
Pada malam harinya, Chezy memilih untuk belanja ke supermarket terdekat yang ada di samping apartemen. Belum lagi, Dallas menelepon, memintanya untuk makan malam bersama.
Seberapa enggan nya Chezy, dia sudah memiliki perjanjian istri kontrak. Jadi dia berdandan, meninggalkan pasangan itu di apartemen.
"Sayangku akan berkencan dengan tuan Alston yang perkasa. Sayang, semoga berhasil," goda Marine.
Chezy memelototi wanita itu dan pergi meninggalkan apartemen. Jika bukan karena temannya yang jahil ini, dia tidak akan bernasib buruk?
Hanya saja Marine seperti orang tua, mengkhawatirkan masa mudanya yang selalu sendirian. Jadi Marine sengaja membiarkan Chezy menunggu di pinggir jalan yang selalu digunakan para wanita malam untuk dijemput 'pelanggan'.
Setelah Chezy pergi, suasana di apartemen sedikit membosankan. Hadwin tiba-tiba saja datang dari belakang dan memeluk Marine, mencium lehernya.
"Dia pergi, kita bebas sekarang," bisik pria itu.
"Sayang, apakah kamu begitu tidak tahan dengan tubuhku?" Marine tersenyum pada kekasihnya.
Penampilan Hadwin sangat berbeda jauh dengan sifatnya yang selalu terlihat malas dan cupu. Pria jangkung itu sebenarnya tampan tanpa kacamata, apalagi jika rambutnya ditata. Ekspresi serius Hadwin selalu membius mata Marine.
"Hadwin, kenapa kita tidak menikah saja?" tanya Marine.
"Okay, kalau begitu kita akan menikah setelah menyelesaikan misi ini." Pria itu tersenyum datar padanya.
Menikah bukan masalah. Dia siap kapan saja jika Marine menginginkannya.
Keduanya berciuman dengan terampil hingga satu persatu pakaian keduanya bertebaran di lantai. Suhu di ruang tamu sedikit meningkat. Keduanya sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
Hadwin membawa wanita itu ke kamar tidur yang ada di sebelah kamar Chezy. Lalu keduanya mulai bermain dengan gembira selama beberapa waktu.
Mereka hanya bisa melakukan hal ini di saat Chezy tidak ada. Karena Chezy masih cukup muda untuk melihat adegan dewasa itu, Hadwin dan Marine tentu saja tahu mana yang baik dan buruk.
"Bisakah kita bermain lama malam ini?" pinta Marine.
Hadwin sudah mulai berkeringat. "Chezy mungkin akan pulang lebih cepat nanti. Kita bisa melanjutkannya setelah dia tidur pulas," bisiknya.
"Kita seperti orang tua yang khawatir dipergoki anaknya saat bercinta," canda Marine yang langsung mengerang. Dia meremas bantal di sampingnya dengan mata sesekali terpejam. "Sayang, sedikit lebih cepat, please!" pintanya.
"Sesuai permintaanmu." Pria itu kembali menjatuhkan ciuman di bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah restoran mewah, Chezy duduk berhadapan dengan Dallas. Pria itu memakai setelan jas rapi seperti sebelumnya. Keduanya makan malam dengan tenang sambil membicarakan beberapa hal penting.
"Kamu akan pindah ke rumahku besok. Berkemaslah dan aku akan menjemputmu besok pagi," kata Dallas datar. Dia memegang pisau meja dan garpu. Mengiris steak daging sapi di piringnya yang terlihat sangat enak dan mahal.
"Haruskah pindah?" Chezy enggan meninggalkan apartemen.
Marine dan Hadwin telah mencari informasi tentang keluarga Alston. Chezy tahu lebih banyak saat ini dan secara diam-diam memahami kondisi keluarga Alston.
Keluarga Alston merupakan marga bangsawan nomor satu di ibu kota negara A saat ini. Mereka mendirikan Alston Group yang cabang perubahannya tersebar di mana-mana.
Saat ini, Dallas Alston adalah pewaris keluarga. Pria itu memiliki kakak laki-laki bernama Gaines Alston. Lebih mengejutkannya lagi, Gaines merupakan salah satu target mereka saat ini. Entah ini takdir atau kebetulan, Chezy sedikit berduka dengan keluarga Alston.
Cepat atau lambat, keluarga Alston pasti akan bermasalah.
"Kamu istriku sekarang. Pindah ke rumahku dibenarkan." Dallas menyipitkan mata, memakan steaknya dengan gaya bangsawan biasanya.
"Baiklah, kamu menang!" Chezy kesal lagi.
Dallas hanya tersenyum. Dia suka wanita yang patuh.
"Kamu baru saja bekerja di toko bunga?" tanyanya.
"Kamu mencari tahu tentang aku?"
Dia punya identitas palsu yang dibuat, itu hanya untuk formalitas di lingkungan baru.
"Sebagai suamimu, sudah sewajarnya."
Lagi-lagi pria itu menggunakan alasan ini untuk menjawab. Chezy merasa bosan.
Setelah makan malam, Dallas mengantarnya ke supermarket untuk belanja kebutuhan.
"Temanmu itu pria atau wanita?" tanya Dallas saat mendorong keranjang belanjaan.
"Keduanya." Chezy tidak berbohong.
Memikirkan Marine dan Hadwin di apartemennya saat ini, Chezy kesal lagi. Terutama pada Marine.
"Jadi keputusanku untuk membiarkan mu pindah lebih tepat lagi." Dallas tersenyum datar.
Chezy mendengkus. Keputusan yang tepat adalah membiarkan pasangan itu pindah dari apartemennya. Tapi ini malah sebaliknya. Sungguh nasib malang yang berlipat ganda.
"Jangan lupa untuk membeli itu," kata Dallas.
"Apa?" Chezy melirik ke arah yang ditunjuk pria itu.
Ada sebuah rak khusus tak jauh dari mereka. Chezy belum pernah melihatnya karena malah orang baru di tempat tersebut. Saat dia mengambil salah satu barang kecil dari rak, wajahnya tiba-tiba saja memerah.
Dia ingin meletakkan kembali barang di tangannya, namun dicegah oleh Dallas. Pria itu melihat ukuran batang tersebut. Tiba-tiba saja terkekeh.
"Kamu benar-benar tahu ukuran milikku bahkan jika baru pertama kali melakukannya. Ambil yang ini saja. Ambil beberapa, satu kotak tidak cukup," jelasnya.
"Kamu!" Chezy menggertakkan gigi. Barang di tangannya seperti benda panas saat ini.
Apa lagi jika bukan 'pengaman' untuk pria. Karena Dallas tidak ingin Chezy meminum obat kontrasepsi, jadi dia memilih untuk melakukan cara ini.
Setelah membayar semua belanjaan, Dallas mengantarkan Chezy kembali ke apartemennya. Pria itu hanya menyimpan beberapa kotak 'pengaman' untuk dibawa pulang. Sisanya, Chezy membawanya ke apartemen.
"Aku akan menjemputmu besok. Bersiap-siaplah malam ini," kata Dallas saat melihat wanita itu sudah menurunkan semua barang belanjaannya.
"Aku tahu."
Setelah itu, Dallas mengangguk kecil dan meninggalkan halaman apartemen tanpa memikirkan apa Chezy bisa membawa semua batang belanjaannya atau tidak.
Pria tak berperasaan! Chezy mendengkus lagi.
Meski barangnya tidak terlalu banyak tapi cukup berat. Chezy membawanya ke lantai apartemen miliknya.
Entah kenapa, ketika tiba di dalam, suasananya agak salah. Chezy membawa semua belanjaannya ke dapur, menatanya dengan benar di kulkas. Hingga saat berniat untuk mandi dan beranjak tidur, dia melihat beberapa pakaian bertebaran di lantai ruang tamu.
Apakah pasangan itu berbuat mesum di tempatnya?
"Ahh! Jangan terlalu kasar!" teriakan Marine dari sebelah kamar Chezy sedikit menggema.
Chezy mengerutkan kening. Melihat jam dinding, ini baru pukul sepuluh malam. Sepertinya pasangan itu sedang bercumbu lagi selagi dirinya tidak ada.
Dia segera pergi dan mendobrak pintu kamar tamu. Ruangan remang-remang itu menampilkan sebuah adegan ambigu yang tak seharusnya anak-anak lihat. Bahkan Chezy sendiri yang sudah dewasa merasa tidak nyaman ketika melihatnya.
"Sialan! Momennya tidak pas!" Chezy langsung balik badan, menepis pikiran gilanya barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Risti Dani
Chezy yg dobrak, dianya juga yg malu
2022-10-22
1
fifid dwi ariani
bahagia selalu
2022-09-16
0
" sarmila"
pkknya bnr2 best best best n the best
2022-03-30
0