Kali ini, suara gaun yang dirobek oleh pria itu memenuhi ruangan tersebut. Disertai dengan teriakan Chezy yang penuh kutukan dan juga makian untuk pria itu.
"Ahh! Sakit! Pelanlah sedikit," rintih Chezy sedikit menitikkan air mata.
Pertama kali kehilangan keperawanannya, rasanya tidak nyaman.
Dallas tidak kehilangan pikirannya. Dia juga tidak mabuk. Melihat wanita di bawahnya menahan rasa sakit, dia berhenti sejenak. Dia benar-benar tidak pengalaman tentang ini.
Namun napas Dallas masih sedikit berantakan. "Maaf," bisiknya.
Memperhatikan wajah Chezy yang masih menunjukkan rasa sakit, Dallas bergerak pelan-pelan. Selama 28 tahun terakhir, dia akhirnya tahu bagaimana rasanya menyentuh wanita.
Rasanya cukup geli dan aneh. Awalnya tersentak beberapa kali hingga hampir tak bisa mengontrol dirinya. Namun setelah itu dia mulai terbiasa.
Sebelumnya, Dallas mengambil beberapa foto keduanya yang cukup intim. Tapi tidak memperlihatkan bagian penting tubuhnya. Setidaknya, Dallas masih menyembunyikan privasi Chezy.
Melihat Chezy yang merintih di bawahnya, dia memperlambat gerakannya sedikit dan mencium bibirnya sekilas.
"Apakah masih sakit?" bisiknya.
"Tentu saja. Ini pertama kalinya bagiku. Bagaimana mungkin tidak sakit." Chezy memerah. Pada akhirnya, dia kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya di tangan pria sombong ini.
"Tidak apa-apa. Aku akan bertanggungjawab untukmu. Ingatlah, namaku Dallas Alston," bisiknya di telinga Chezy.
Bagaimana bisa Chezy peduli dengan namanya?
Saat ini, dia merasa jika tubuhnya remuk, seperti terlindas sesuatu. Rasa sakit di bagian tubuh bawahnya masih ada. Namun rasa sakit itu berangsur-angsur berkurang.
Pikirannya bingung. Meski dia tidak malu untuk belajar tentang hubungan pria dan wanita dalam artian aktivitas ranjang, namun mengalaminya secara langsung sungguh tidak terduga.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup banyak, Dallas sedikit tidak terkontrol. Rasanya ada sesuatu yang akan meledak di tubuhnya.
......................
Keesokan paginya.
Chezy terbangun oleh sinar matahari yang menerpa wajahnya. Wanita itu mengerutkan kening, membuka matanya perlahan. Samar-samar, dia melihat sosok jangkung yang memakai jubah mandi hotel berdiri di depan jendela besar hotel.
Dia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya.
"Oh, sakit!" Dia terkejut saat menyadari jika tubuhnya lemah sulit bergerak. Kedua kakinya lemas. Dia akhirnya ingat apa yang terjadi semalam.
"Bangun?" Pria itu menoleh dan menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi cabul seperti semalam.
Ternyata pria itu sedang merokok.
Chezy tidak menjawab, hanya memelototinya seperti harimau betina yang menuntut utang jutaan dolar.
Tanda merah di tubuhnya hampir membuatnya merinding. Chezy berusaha untuk mengambil duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Gaunnya yang dirobek pria itu tergeletak di tepi tempat tidur tak jauh darinya.
Dallas mematikan puntung rokok di asbak yang ada di meja tak jauh dari dirinya. Lalu mengambil selembar kertas HVS, menyerahkan nya pada Chezy.
"Apa ini?" tanya wanita itu enggan menerimanya.
"Lihat dan pikirkan baik-baik." Dallas sama sekali tidak mengubah ekspresinya.
Chezy mengambil selembar kertas HVS tersebut. Ada beberapa baris kalimat di atas kertas putih tersebut. Semuanya mencantumkan poin penting, isi perjanjian serta tulisan 'Kontrak' terpampang jelas di bagian paling atas.
Semakin Chezy membaca, wajahnya mulai memerah oleh amarah. Dia langsung merobek kertas tersebut dan melemparnya pada Dallas.
"Bast*rd! Kamu pikir aku wanita bayaran untuk pemuas nafsumu?!" teriaknya.
Selama dua puluh tiga tahun hidup sebagai wanita perawan, dia belum pernah diperlakukan seperti ini.
Isi dari kertas tersebut jelas menyebutkan kontrak kerja sama kedua belah pihak. Dallas memintanya untuk menjadi istri kontrak selama satu tahun.
Jika Chezy setuju, Dallas akan memberinya uang, status nyonya rumah, kehormatan sebagai wanita kaya serta kebutuhannya terpenuhi.
"Dengan status dan tampang mu, tidak sulit untuk mendapatkan wanita yang mau bermain kuda denganmu di ranjang! Tapi aku tidak mau! Aku masih wanita terhormat!" Chezy tidak memedulikan apakah tubuhnya sakit atau tidak, kemarahan nya tidak terbendung.
"Kamu harusnya terhormat bisa menjadi istri dan tidur denganku," ucap Dallas tidak peduli.
Terhormat pantatku! Teriak Chezy dalam hati. Napasnya terengah-engah.
"Kenapa Tuan Alston begitu ngotot untuk memilihku? Tidak takut aku akan mencoba memanfaatkan hartamu untuk berfoya-foya dan bercinta dengan pria lain?"
Dallas terkekeh. Pria mana yang suka wanitanya tidur dengan pria lain, apa lagi menghabiskan uangnya untuk pria lain?
Dallas bukan orang baik atau pria yang benar-benar baik. Jika itu sampai terjadi, mungkin dia akan membunuh orang dan memenjarakan wanita itu.
Semakin Dallas berpikir, memilih Chezy sebagai istri kontraknya merupakan pilihan yang tepat.
"Kamu tidak akan melakukannya karena kamu adalah wanita terhormat," jawabnya.
Senyum Chezy membeku dan kehilangan semua pikirannya lagi. Apakah ini namanya menembak di kakinya sendiri?
"Nona Chezy, apakah sekarang bisa menyepakati perjanjian kita?" tanya Dallas setelah mengeluarkan selembar kertas sama seperti yang tadi.
"Okay, tidak masalah. Tapi aku tidak suka dikekang. Aku ingin kebebasan dan melakukan apa yang kuinginkan," katanya.
"Selama tidak melanggar dari poin-poin di dalamnya, aku tidak peduli." Dallas mengangguk ringan.
Akhirnya, Chezy menandatangani kertas tersebut serta memberikan cap jempol sebagai bukti. Melihat surat perjanjian tersebut disepakati, Dallas tersenyum sedikit lebih lebar.
"Ingat satu hal, selama satu tahun, dilarang untuk berhubungan dengan pria lain begitu intim," katanya.
"Aku tahu, tidak perlu menceramahiku!" Chezy malas untuk mengobrol dengannya.
"Namamu Chezy Edelmar kan?" tanya Dallas tiba-tiba. Nada bicaranya polos, membuat Chezy mengembuskan napas panjang.
Chezy baru saja menandatangani surat kontrak kedua belah pihak.
"Ya, namaku Chezy Edelmar. Salam kenal Tuan Alston."
Dallas menaikkan sebelah alisnya. Keluarga Edelmar? Sepertinya tidak ada nama marga itu di Negara K.
Dia tidak peduli apakah Chezy dari keluarga kaya atau tidak, menjadi istri kontraknya tidak perlu banyak persyaratan.
Cukup untuk tidak mudah ditindas. Yang lebih penting, sedikit lebih pintar. Karena keluarga Alston tidak seperti rumah penuh kehangatan.
Lagi pula, Dallas punya tunangan yang dipilih oleh keluarga.
Omong-omong tentang tunangan yang tidak diakui, Dallas menyipitkan mata. "Jika di masa depan ada wanita yang mengaku sebagai tunanganku, abaikan saja dan jangan pedulikan," katanya.
"Oh, Tuan Dallas sepertinya sangat membenci tunangannya," cibir Chezy.
"Wanita yang bermain dengan kakakku sendiri, apakah layak?" Dallas tidak marah sedikit pun.
Chezy terkejut. Ternyata tunangan pria ini menyukai saudaranya sendiri. Bukankah itu berarti Dallas bukan anak tunggal di keluarga?
Sepertinya Chezy harus mencari informasi keluarga Alston terlebih dahulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chezy kembali ke apartemen yang disewanya setelah mengurus sesuatu dengan Dallas. Terutama setelah pergi ke Biro urusan sipil untuk mengurus surat pernikahan, dia merasa lemas.
"Marine! Kenapa kamu begitu kejam?! Apa kamu ingin membunuhku?" Chezy tidak senang saat melihat wanita berambut pirang duduk di sofa sambil tersenyum licik padanya.
Marine Sanchez, rekan satu tim Chezy dalam misi rahasia nya di negara A. Serta ada satu rekan lagi yang merupakan seorang pria berkacamata—kini pergi ke dapur untuk mencari makanan.
Marine tiga tahun lebih tua dari Chezy sekaligus seniornya di organisasi. Tapi sifatnya lebih kekanak-kanakan dari pada Chezy.
"Oh, ayolah Chezy, biar kutebak, pria itu pasti tampan bukan? Bagaimana rasanya malam pertama bersama pria itu? Apakah enak?" goda Marine sama sekali tidak takut dengan kemarahan rekannya.
Chezy jelas malu. Dia canggung saat ini. "Aku ingin membunuh mu!" teriaknya.
Tap Marine justru tertawa dan terus menggodanya. Hingga akhirnya seorang pria berkacamata dengan rambut agak berantakan muncul dari dari dapur. Pria itu terlihat cupu pada pandangan pertama.
"Apa yang kalian ributkan? Chezy, kenapa kamu tidak memiliki telur di dapurmu? Aku ingin membuat telur mata sapi," kata pria itu.
"Aku baru saja datang, bagaimana mungkin ada waktu untuk membeli kebutuhan dapur?!" Chezy meledakkan kemarahan seperti kucing yang diinjak ekornya.
"Hadwin, wanita kesayangan kita akhirnya melepaskan segelnya." Marine pamer.
"Marine!" Chezy menggertakkan gigi, menatap wanita berambut pirang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Anjay Kerot
udah mulai ya??
2023-11-12
0
💞 RAP💞
wah wah ini pria yg mo di kenalkan ayah nya ,yg sdh bertunangan..
2023-07-14
0
Vevy Dyana
lah dia jg perjaka gtu ta mkstnya
2022-11-26
0