ANA membuka mata perlahan. Pandangannya buram hingga dia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Semakin lama semakin jelas. Dan saat semuanya terlihat jelas, dia baru sadar jika dirinya terbaring di atas ranjang dengan kaki dan tangan terikat.
"Di mana ini?" tanyanya pelan pada diri sendiri.
Ana berusaha menggerakkan kaki dan tangannya agar bisa lepas, tapi hingga keringat bercucuran ikatannya tak terlepas. Matanya memandang berkeliling, dia merasa asing dengan kamar yang ditempatinya.
Ana meringis saat merasakan perih dipergelangan tangannya karena berusaha melepaskan diri.
"Kamu sudah sadar."
Ana langsung menoleh kearah pintu, dari mana suara itu berasal. "Kamu." ucapnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ya. Kenapa?" tanya laki-laki itu melangkah mendekati ranjang di mana Ana berada.
"Lepaskan aku! Aku mau pulang!" teriak Ana.
"Pulang? Ini rumahmu, An. Kita akan tinggal disini."
"Aku punya rumah sendiri! Aku mau pulang! Lepaskan aku!"
Laki-laki itu tertawa melihat Ana terus meronta dan berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. "Kamu tidak akan bisa melepaskan ikatan itu, seperti kamu tidak akan bisa lepas dariku."
"Kumohon jangan lakukan ini, Nik. Anak-anakku masih membutuhkanku, Arzetta masih ASI padaku." mohon Ana pada laki-laki itu.
"Aku bisa membawa kedua anakmu ke sini, kita tinggal bersama. Asal kamu meninggalkan Pras." ucap laki-laki bernama Niko itu tajam. Ya, Niko yang sudah membekap Ana saat di depan supermarket.
Ana menggeleng, air mata semakin banyak mengalir dipipinya. "Anak-anakku tak hanya membutuhkanku, mereka juga butuh Mas Pras. Jadi kami tidak bisa berpisah."
"Pilihannya hanya ada dua. Kamu tinggalkan Pras dan bawa anak-anakmu ke sini, atau kamu juga meninggalkan anak-anakmu bersama suamimu."
Ana kembali menggeleng. Dia tidak mungkin memilih salah satu diantara dua pilihan yang diberikan Niko. Dia tidak mungkin hanya mengambil anak-anaknya dan meninggalkan Pras, begitu pun juga dia tidak mungkin meninggalkan anak dan suaminya untuk hidup bersama laki-laki itu.
Ana masih mencintai suaminya, dia tidak mungkin meninggalkan laki-laki yang dicintainya sampai kapan pun. Dia juga tidak mungkin meninggalkan anak-anaknya. Ucapan Pras saat ditelepon siang tadi kembali terngiang di telinganya.
'*Hati-hati'
Apa Mas Pras merasa jika sesuatu yang buruk akan menimpaku? Mas, tolong aku*.
"Kamu tinggalkan Pras, maka aku akan melepaskan ikatanmu." ucap Niko tajam.
Ana menggeleng lemah. Niko mencengkeram dagu Ana dan menengadahkan kepalanya.
"Apa kamu lebih suka pilihan terakhir? Tinggalkan Pras atau Pras akan mati."
"Jangan lakukan ini padaku, Nik." lirih Ana memohon.
🌹🌹🌹
DISISI lain, Pras kelimpungan mencari istrinya setelah mendapat telepon dari Bi Siti bahwa wanita itu belum kembali sejak siang. Pras sudah menelepon orang tua Ana serta Deby, menanyakan keberadaan istrinya tapi nihil.
Pras menghubungi teman-teman Ana dengan bantuan Deby, berharap istrinya ada bersama salah satu dari mereka. Tapi kembali dia harus menelan kekecewaan karena istrinya ternyata tidak bersama mereka.
Lapor polisi pun percuma karena Ana menghilang kurang dari 24 jam. Pras, orang tuanya, orang tua Ana, serta Deby berpencar mencari Ana. Sementara Arzetta terus menangis karena biasanya, jam seperti saat ini bayi satu tahun itu akan menyusu pada sang Ibu.
Langit sudah gelap, Pras masih menyusuri jalanan ibukota berharap menemukan wanita yang dicintainya itu.
Apa ini ulah Una? Kemarin dia mengancam akan membalas apa yang sudah aku lakukan padanya.
Pras mendatangi rumah Una, tapi wanita itu tak menampakkan wujudnya setelah lama dia mengetuk pintu. Rumahnya pun tampak gelap. Pras memiliki dugaan kuat jika benar Una lah dalang dibalik menghilangnya Ana.
🌹🌹🌹
DISEBUAH rumah yang terketak di pinggiran kota, Ana masih meringkuk di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat. Di sampingnya ada nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih.
Di kursi yang terletak tak jauh dari ranjang, Niko duuk memperhatikan Ana yang masih enggan menyentuh makanannya.
"Cepat makam jika kamu tidak ingin sakit!" perintah Niko.
"Aku ingin pulang! Aku ingin bertemu dengan keluargaku!" seru Ana dengan sisa-sisa keberaniannya.
Niko menaiki ranjang di mana Ana meringkuk. Dia membelai pipi Ana dengan gerakan perlahan. Ana menoleh kasar untuk menghindari sentuhan Niko di wajahnya.
Niko mendekatkan wajahnya pada wajah Ana, bahkan berusaha mencium wanita tidak berdaya itu.
"Jangan sentuh aku! Jauhkan tangan kotormu itu dari tubuhku!" teriak Ana.
Niko tidak mempedulikannya, dia tetap berusaha mencium Ana. Ditahannya kepala wanita tahanannya agar lebih mudah melakukan niat busuknya. Ana menggerakkan kepalanya ke sana ke mari agar tidak tercium oleh Niko.
Dering ponsel miliknya menghentikan aksi Niko yang sebentar lagi akan mendaratkan bibirnya pada bibir wanita yang dipujanya sejak masa kuliah itu. Niko melepaskan Ana dengan kasar lalu mengambil ponselnya dari saku celana.
"Ada apa!?" tanya Niko dengan suara yang terlihat sekali menunjukkan kekesalan dan amarahnya.
" ... "
"Lalu apa saja yang kamu lakukan!?" tanyanya lagi.
" ... "
"Ya sudah. Aku segera ke sana." Pras mengakhiri sambungan teleponnya dengan seseorang.
Dia menoleh pada Ana yang menatapnya tajam penuh kebencian. Dia mendekati wanita yang penampilannya sudah berantakan dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aku akan keluar sebentar. Saat aku kembali, aku ingin semua makanan ini sudah habis." pesannya lalu pergi meninggalkan Ana.
🌹🌹🌹
LARUT malam Pras baru kembali ke rumahnya. Di sana ada Ibu dan juga Ibu mertuanya yang edang duduk di sofa menunggu kedatangannya. Penampilannya sangat berantakan.
"Pras, bagaimana, Nak?" tanya Bu Lili.
Pras menggeleng lemah. Bu Lili menuntunnya duduk di sofa. Bu Maya menatap menantunya itu iba. Dia sudah menangis sejak tadi siang setelah mendapat kabar bahwa putrinya menghilang.
"Makan dulu, Pras. Dan istirahat." ucap Bu Maya pelan.
Pras kembali menggeleng lemah.
"Kamu bisa sakit. Jika kamu sakit, siapa yang akan mencari Ana?" tanya Bu Maya.
"Sebaiknya kamu makan dulu, lalu istirahat. Besok setelah tenaga terkumpul lagi, kamu bisa mencari Ana lagi." nasehat Bu Lili.
"Apa Arzanka dan Arzetta rewel, Ma?" tanya Pras pelan.
"Ya, mereka mencari Mamanya. Apalagi Arzetta, dia ingin menyusu pada Mamanya." jawab Bu Maya.
Pras melangkahkan kakinya ke kamar untuk melihat kedua buah hatinya. Dua balita itu tampak nyenyak. Arzetta memasukkan ibu jarinya ke mulut mungil balita itu dan pipinya terlihat sesekali mengempis pertanda dia menghisap jempolnya sendiri.
"Mereka tadi rewel dan tidak mau dipisahkan, akhirnya mereka tidur di ranjangmu." beri tahu Bu Lili.
"Ga apa, Ma. Mungkin di ranjang itu mereka mencium bau Ana yang bisa membuat mereka lebih tenang."
🌹🌹🌹
DIWAKTU yang sama, di sebuah rumah di pinggiran kota. Ana masih meringkuk dengan wajah yang tertutup oleh rambutnya. Perutnya terasa sangat perih karena tak ada makanan yang masuk, hanya air putih yang tadi dibawakan Niko yang diminumnya. Dadanyabpun terasa nyeri karena tidak dihisap Arzetta.
Dia tidak ingin makan, yang dia inginkan hanya berkumpul kembali dengan keluarganya. Dia mendengar suara mobil berhenti di halaman depan, tak lama terdengar pula suara laki-laki dan wanita yang sedang bercengkrama diselingi tawa.
Ana kembali menutup matanya, berpura-pura tidur dan berharap Niko tidak menyentuhnya. Pintu kamar yang ditempatinya terbuka.
Niko memasuki kamar dengan langkah pelan, dia membelai rambut Ana sesaat lalu menyingkap rambut yang menutupi wanita yang dicintainya itu hingga menampakkan wajah cantik wanita itu.
Niko melihat piring yang masih utuh tak tersentuh, hanya air putih yang tinggal setengah gelas. Dia membelai pipi Ana perlahan.
"Kenapa kamu tidak makan? Apa kamu ingin mati kelaparan?" tanyanya pelan tapi terdengar menakutkan.
"Atau aku harus menciummu dulu baru kamu akan makan?"
Niko mendekatkan wajahnya pada wajah Ana. Ana yang merasakan hembusan napas hangat di wajahnya langsung membuka mata lebar-lebar.
"Pergi sialan! Jangan sentuh aku!" teriak Ana berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Niko.
"Niko, ayolah. Tinggalkan dulu dia, aku sudah tidak tahan. Kamu boleh menikmatinya sepuasmu besok, malam ini puaskan aku dengan juniormu yang mengagumkan itu."
Suara wanita di pintu menghentikan gerakan Niko. Ana sendiri merasa jijik dengan suara wanita yang seperti wanita penggoda itu. Niko melepaskan wajah Ana lalu berdiri menjauh.
Ana menoleh ke arah pintu. Di sana dia melihat wanita yang dikenalnya tengah berdiri memakai linggeri super seksi dan tersenyum menggoda pada Niko.
Ana membelalakkan matanya seketika, setelah dia tahu siapa wanita itu. "K-kau!"
**Cirebon, 16 Maret 2022
Sambil menunggu Ana balik lagi, kuy baca karya teman Emak ya. Ceritanya ga kalah seru loh dari Ana dan Mas Pras. Cek langsung ke akunnya yaaa.
Author : Oktiyan
Judul : Bad Wife**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Nurlinda
lagi seru-serunya, eh udah abis toh😂
2022-03-17
0
Mayya_zha
lanjut lanjut.... makin seru...
salam FAKE LOVE...
2022-03-16
0
Mayya_zha
jangan jadi pemaksa niko...
2022-03-16
0