Dendam

ANA dan Pras menikmati malam mereka dengan makan malam romantis meski di dalam rumah. Karena sama-sama sudah makan malam, Ana hanya membuat puding sebagai menu sweet dinner mereka. Hanya untuk menikmati quality time mereka yang sempat hilang beberapa waktu lalu.

Pras mengangkat tubuh Ana masuk ke kamar setelah sweet dinner yang cukup romantis. Dia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan perlahan.

"Setelah menikmati puding buatanmu, izinkan aku untuk menikmatimu sebagai dessert." bisik Pras di depan wajah Ana.

"Nikmati dessert-mu dengan sepuasnya." balas Ana berbisik.

🌹🌹🌹

PAGI yang ceria seperti dulu. Ana sangat bahagia melihat Pras yang berguling-guling di karpet depan televisi karena digelitiki kedua anak mereka. Arzanka yang sudah normal suhu tubuhnya, serta wajah lucu dan menggemaskan Arzetta yang tertawa hingga pipi gembulnya naik turun.

Semua pemandangan itu terlihat lebih indah dari menara Eifell. Ana memanggil suami dan anaknya untuk sarapan bersama. Seperti biasa, dengan jiwa keibuannya, Ana menyuapi kedua anaknya sementara dirinya akan sarapan setelah kedua anaknya kenyang.

🌹🌹🌹

"SIAPA kamu!? Kenapa kamu duduk di kursiku!?" bentak Una saat dia datang kembali ke kantor dan sudah ada seorang pemuda yang menduduki kursi tempatnya dulu.

"Saya Ilham, Mba. Sekretarisnya Pak Pras." pemuda itu memperkenalkan diri.

"Apa!? Sekretaris Pak Pras!?" suara Una meninggi. "Aku yang sekretaris Pak Pras! Kenapa kamu yang duduk di sini!?"

"Tapi Pak Pras yang memintaku menjadi sekretarisnya."

"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Ini mejaku! Ini kursiku! Aku tidak sudi kursi dan mejaku ditempati orang lain!"

Una mengobrak abrik semua yang ada di atas meja, melemparnya hingga berserakan di lantai. Kursinya pun dia banting hingga terbalik. Dia juga berteriak-teriak mengutarakan unek-uneknya yang tidak rela jika dia dipecat

Saat pintu lift terbuka, Pras melihat pemandangan yang membuatnya terkejut dan marah. "Apa yang kamu lakukan!!" bentak Pras pada Una.

"Aku tidak rela posisiku digantikan oleh orang lain! Aku ingin posisiku kembali!" seru Una.

"Kamu sudah kupecat kemarin! Jadi kamu tidak berhak lagi untuk menginjakkan kaki di sini!" Pras balas berseru. "Ilham! Panggil keamanan!"

"Baik, Pak."

Ilham pun memanggil petugas keamanan lewat sambungan interkom. Tak berapa lama, dua orang petugas keamanan sampai di tempat itu. Mereka langsung menahan tangan Una agar tidak merusak sarana kantor lebih banyak lagi.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Una meronta.

Petugas keamanan menarik tubuh Una agar masuk lift. Una berhenti tepat di depan Pras. "Aku akan buat perhitungan denganmu! Aku pastikan kau akan menyesal karena sudah memecatku!" teriak Una mengancam Pras.

Pras tidak mau ambil pusing tentang ancaman Una. Dia yakin jika wanita itu hanya menggertaknya. Dia lalu menyuruh Ilham untuk memanggil cleaning service.

Pras memasuki ruangannya. "Huffhhh... Pagi-pagi sudah dibuat bad mood." Dia lalu memulai pekerjaannya.

Pras melewati hari yang sedikit sibuk, rangkaian pertemuan harus dia lewati. Selain itu, dia sudah meminta Bu Lili untuk mencarikan asisten rumah tangga untuknya.

Dia tidak ingin Ana terlalu lelah hingga tak memperhatikan dirinya lagi. Cukup dengan mengurus anak-anak dan memasak saja.

Pras sudah mendapatkan kabar dari Bu Lili jika sudah mendapatkan ART. Dia meminta agar ART itu bertemu dengan Ana, dan membiarkan istrinya memilih. Apakah sang istri akan menerimanya, atau menolaknya.

🌹🌹🌹

"KAMU siapa?" tanya Pras pada seorang wanita yang usianya kira-kira diatasnya saat sampai di rumah.

"Saya Siti, Pak." jawab wanita itu.

"Siti?" ulang Pras dan wanita itu mengangguk.

"Kamu sudah pulang, Mas?" Ana menyambut suaminya dengan senyuman.

"Siapa dia, Sayang?" tanya Pras setelah mencium kening istrinya.

"Dia Bi Siti. ART yang Mama kamu kirim ke sini." Pras mengangguk faham.

Memasuki rumah, Pras disambut oleh kedua buah hatinya.

"Papa!"

Pras langsung menangkap dua sosok mungil yang berlari ke arahnya dan menggendong keduanya. Dengan gemas dia menciumi kedua anaknya.

"Nanti lagi mainnya ya, Sayang. Papa mandi dulu." ucap Pras menurunkan kedua anaknya.

"Papa bau!" seru Arzanka seraya menjepit hidungnya dengan dua jari.

Arzetta melihat apa yang dilakukan kakaknya pun ikut-ikutan menjepit hidungnya.

Malam hari setelah anak-anak tidur, Ana dan Pras duduk berdua di sofa depan televisi. Mereka duduk berdempetan dengan tangan Pras yang melingkari bahu istrinya.

Ana mengenakan linggeri yang dulu diberikan Deby untuk menggoda suaminya.

"Sejak kapan pakai pakaian minim dan seksi seperti ini?" tanya Pras menarik tali yang ada dibahu istrinya.

"Sejak kamu jarang di rumah. Aku ingin menggodamu lagi agar kamu betah di rumah."

"Tapi ini terlalu seksi, Sayang." Pras menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Ana, sesekali meniup bahkan mencium leher istrinya lembut.

"Yang ini,,, pemberian,,, Deby." susah payah Ana menyelesaikan kalimatnya karena Pras sudah bergerilya menjelajahi tubuhnya.

🌹🌹🌹

"BI, tolong jaga anak-anak sebentar ya." pinta Ana pada Bi Siti.

"Iya, Bu."

"Mama mau ke mana?" tanya si sulung melihat Mamanya rapi.

"Mau belanja, Sayang. Persediaan makanan dan kebutuhan dapur sudah hampir habis. Kakak sama adek di rumah ya sama Bi Siti."

Ana pergi setelah mendapat anggukan dari si sulung.

SEMENTARA itu di kantor, Pras merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Sejak beberapa menit yang lalu, dia merasa resah dan gelisah. Dia meminta OB untuk membuatkan secangkir kopi sebagai penghilang kegalauannya.

Pertemuan dengan klien yang diadakan di kantornya pun dia tidak terlalu memperhatikan karena gelisah. Untung dia didampingi Ilham, sekretaris barunya yang bisa diandalkan.

Pras sudah kembali ke ruangannya setelah kliennya pergi.

"Ada apa, Pak? Saya lihat dari tadi Pak Pras tidak fokus dan terlihat gelisah." tanya Ilham yang ikut masuk ke ruangan Pras untuk memberikan kesimpulan hasil rapat.

"Saya tidak tau, Ham. Saya merasa resah, cemas, gelisah, entahlah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati dan pikiran saya."

"Apa Bapak pernah mengalami ini sebelumnya?"

Pras mengerutkan keningnya berpikir, mengingat-ingat apa dia pernah mengalaminya atau tidak. "Ya. Saya pernah mengalaminya."

"Jika Bapak pernah mengalaminya, waktu itu, apa yang membuat Bapak merasa tenang kembali? Mungkin dengan menelepon seseorang atau berbicara langsung dengan seseorang? Bapak juga bisa melakukannya sekarang." saran Ilham.

"Waktu itu, saya menghubungi Ana istri saya."

"Kalau begitu, Bapak bisa hubungi Ibu." Pras mengangguk. "Saya permisi, Pak." pamit Ilham saat Pras sudah mengeluarjan ponsel dari saku celananya.

"Ada apa, Mas?" terdengar suara merdu istrinya.

"Kamu sedang di mana?"

"Aku baru nyampe supermarket, mau belanja kebutuhan dapur dan rumah. Ada apa?"

"Sama siapa?"

"Sendiri."

"Hati-hati. Nanti sore siap-siap ya, kita makan malam di luar."

"Baik, Mas. Bye."

🌹🌹🌹

ANA baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas, saat sebuah mobil van berhenti di depannya. Karena merasa tidak kenal dan mungkin mereka juga akan berbelanja, Ana pun melanjutkan langkahnya.

Saat kaki Ana baru saja mendarat di teras supermarket, dari arah belakangnya ada seseorang yang membekap mulut dan hidungnya. Ana berusaha berontak semampunya, tapi lama kelamaan tenaganya seperti habis dan akhirnya terkulai tak sadarkan diri.

Si pembekap memasukkan tubuh tak berdaya Ana ke mobil van yang tak jauh dari tempat terakhir Ana berdiri. Di dalam mobil van, ada seseorang yang membantu si pembekap untuk memasukkan tubuh Ana dan mobil itu langsung melaju meninggalkan area supermarket.

**Cirebon, 15 Maret 2022

Sambil menunggu siapa yang sudah menculik Ana, yuk baca karya teman Emak.

Novel : Masa Lalu Sang Presdir (21+)

Author : Enis Sudrajat

"Aaah... kamu bikin aku cemas aja, Sayang." Richard memeluk Anneth dan menelusupkan wajahnya kedada Anneth yang terbuka.

"Rich, sakit! Pelan dong, bulu dimuka kamu baru tumbuh itu." Anneth membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.

"Aku ga tahan, Sayang. Aku ingat kamu sejak di gym tadi, entah kenapa jagoanku ini nggak bisa dikompromi sama sekali. Coba lihat sendiri." pinta Richard.

"Wow! Maksimal banget, Rich!" seru Anneth dan mengelusnya perlahan.

"Kamu harus tanggung jawab! Pakaikan sarung pelindungnya, jagoanku sudah ga tahan mencari tempat berendam."

Anneth tersenyum, mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard.

...____...

Hareudang ya blurb-nya 😄😄**

Terpopuler

Comments

Vivi Bidadari

Vivi Bidadari

Ini mah perbuatan pelakor dan pebinor

2023-02-14

0

Enis Sudrajat

Enis Sudrajat

makasih say love deh ❤️❤️❤️❤️

2022-03-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!