"KAMU EGOIS, MAS!"
Perkataan Ana membuat Pras menoleh seketika, dia meninggalkan brankar Arzanka dan mendekat pada istrinya.
"Siapa yang egois?" tanya Pras tajam.
"Kamu!"
"Aku atau kamu yang egois, An!?"
"Ke mana kamu selama tiga hari ini? Kamu tidak pernah mengangkat teleponku! Kamu juga tidak pernah membalas pesanku! Bahkan saat aku memberi tahu jika Arzanka sakit pun kamu tidak membalasnya, Mas! Apa itu bukan egois!?" cecar Ana yang sudah sangat lelah dengan sikap Pras.
"Karena aku kecewa padamu! Karena kupikir kau sengaja menggunakan Arzanka agat aku kembali ke rumah!"
"Aku tidak sepicik itu, Mas! Aku tidak akan mengatakan anakku sakit padahal dia sehat!"
"Siapa tahu otakmu sudah dicuci oleh laki-laki brengsek itu!"
"Aku bukan wanita seperti itu, Mas! Yang dengan mudahnya percaya pada omongan orang tanpa tahu hal yang sebenarnya. Ternyata dekat dengan sekretarismu membuatmu lupa siapa aku. Mungkin otakmu yang sudah dicuci olehnya agar kau membenciku!"
"Jaga bicaramu, An!"
Mereka bertengkar hebat, beradu argumen untuk saling membenarkan diri masing-masing. Untungnya mereka sadar jika mereka berada di kamar rawat inap putra mereka, jadi mereka mengontrol emosi dan suara mereka ditekan sedemikian rupa agar kedua buah hatinya tidak bangun.
Ana menghempaskan tubuhnya pada sofa rumah sakit. Dihembuskan napas lelahnya dalam menghadapi segala cobaan hidup seraya memejamkan mata. Setetes cairan bening mengalir dari sudut matanya. Dan itu semua tidak luput dari tatapan Pras yang memilih duduk di kursi dekat brankar putra mereka.
Pras baru sadar jika kantung mata Ana sedikit hitam pertanda wanita itu kurang tidur. Tak lama, dia melihat napas istrinya mulai teratur, pertanda wanita itu tertidur. Dia menatap lekat wajah lelah istrinya. Saat sudah cukup waktu yang diperkirakan olehnya jika istrinya tertidur pulas, Pras mendekati wanita itu.
Pras duduk di samping raga Ana yang terlelap, tatapannya tak pernah luput dari wajah cantik wanita yang dinikahinya 4 tahun lalu itu.
"Jika kamu melakukan itu untuk membalas perbuatanku dan membuatku cemburu, kamu sudah berhasil, An. Kamu pasti ingat, dia saingan terberatku untuk mendapatkan kamu dulu. Tapi kenapa sekarang kamu malah dekat dengannya? Aku mencintaimu, An. Aku tidak ingin keluarga kita berantakan."
Mata Pras berkaca-kaca. Dia menyandarkan kepala Ana ke bahunya agar lebih nyaman, dan menggenggam tangan wanita itu.
"Tidurlah yang nyenyak, An. Aku akan menjagamu juga anak-anak kita." Diciumnya kening istrinya cukup lama.
Apa aku benar-benar egois? Seegois apa diriku, yang tega memarahi wanita yang sangat kucintai hanya karena dia berbicara dengan laki-laki yang sudah menjadi sainganku sejak dulu? Andai kamu tahu, An. Aku menyesal meninggalkan rumah yang bisa saja membuat laki-laki itu bebas datang ke rumah kita. Aku sangat marah jika pikiran itu terlintas di kepalaku. Mungkin memang aku egois. Egoku sebagai seorang laki-laki sangat tinggi.
Pras mengirim pesan pada sekretarisnya untuk membatalkan pertemuannya dengan seorang klien jam 2 siang ini dan mengatakan tidak akan kembali ke kantor karena putranya sedang dirawat di rumah sakit.
"An.."
Sebuah panggilan membuat Pras menoleh ke arah pintu sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. Dilihatnya Bu Maya, mertuanya, datang dengan membawa kantong berisi makanan.
Bu Maya mengangguk mengerti, dengan pelan dia meletakkan kantong itu di meja depan Ana dan Pras duduk.
"Syukurlah kamu sudah pulang dari luar kota. Ana sangat panik semalam. Dia juga kerepotan karena harus menggendong keduanya serta membawa tas berisi pakaian ganti saat membawa Arzanka ke rumah sakit." Ucap Bu Maya pelan agar tidak mengganggu tidur Ana.
Luar kota? Jadi Ana tidak mengatakan keadaan rumah tangganya pada Ibunya? Dia bukan hanya membohongi Arzanka, tapi juga orang tuanya agar terlihat baik-baik saja.
Tanpa sadar Pras mengeratkan genggamannya pada tangan Ana. Bu Maya tersenyum melihat menantunya sangat menyayangi anaknya.
Jam 4 lewat 5 menit Ana membuka matanya dengan Pras yang masih setia di sampingnya dan menggenggam tangannya. Pras salah tingkah saat merasa tertangkap basah menggenggam erat tangan istrinya hingga langsung melepaskan genggamannya.
"Maaf, aku lama ya tidurnya?" Tanya Ana dengan suara serak dan mata yang mengerjap beberapa kali.
"Kamu sepertinya kurang tidur, jadi kubiarkan kamu tidur sepuasmu."
Ana tersenyum samar mendengar jawaban suaminya. Dia berdiri dan mendekat ke brankar di mana putranya terbaring. Dia meletakkan punggung tangannya pada kening balita itu. Merasa tidak puas, Ana menempelkan pipinya pada kening putranya.
"Sudah mendingan." gumamnya.
"Syukurlah kalau sudah turun."
🌹🌹🌹
ARZANKA sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat selama 4 hari. Pras pun ikut pulang demi anak-anaknya. Dia masih gengsi jika harus mengakui di depan Ana, jika dia ingin kembali pada wanita itu. Kedua orang tua Ana dan Pras menyambut kepulangan Arzanka dari rumah sakit.
Saat hari sudah sore, kedua orang tua mereka pamit pulang. Tinggallah Ana dan Pras serta kedua anak mereka.
"Aku ada pertemuan dengan klien siang ini." Ucap Pras yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
Ana hanya mengangguk, dia masih malas menanggapi Pras. Dia malas berbicara dengan Pras karena akhirnya akan terjadi perdebatan antara dirinya dan suaminya.
"Papa mau ke mana?" tanya Arzanka saat melihat Papanya akan keluar rumah.
"Papa ada rapat sebentar, Kakak jangan rewel ya?" pesan Pras.
"Papa pulang, kan?"
"Iya, Sayang. Papa pasti pulang." Jawab Pras tersenyum. Dia mengusap puncak kepala dan mencium kening putranya serta si kecil Arzetta. Sementara pada Ana, dia hanya melayangkan pandangannya dengan sorot mata yang tak dapat dimengerti Ana.
Pras masuk ke restoran mewah, di tempat itulah dia berjanji bertemu dengan sekretarisnya dan juga kliennya untuk membicarakan perihal kerja sama perusahaan mereka.
Una sudah datang lebih dulu, begitu pun kliennya beserta sekretarisnya. Mereka berempat sudah duduk mengitari meja bundar di sudut restoran. Pembicaraan tentang kerja sama mereka berjalan lancar, tak perlu negosiasi panjang dan lama untuk mencapai kata sepakat.
Setelah pembicaraan bisnis, mereka melanjutkan makan malam di restoran itu. Pras hanya menanggapi sesekali obrolan mereka.
"Pak Pras sepertinya pendiam ya?" Tanya sekretaris kliennya.
Pras tersenyum sebelum menjawab, "maaf, anak saya sedang sakit jadi pikiran saya bercabang kepada anak saya."
"Oh, aku kira Pak Pras belum berkeluarga. Maaf." Ucap sekretaris kliennya yang bernama Dewi.
"Tidak apa-apa."
"Aku juga berpikir sama. Karena kulihat Pak Pras masih muda." Sahut Pak Yono, klien Pras.
"Pak Yono bisa saja. Saya sudah punya dua orang anak." Aku Pras.
"Masa iya!?" Dewi terlihat terkejut. Pras hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." Izin Una menyela pembicaraan mereka setelah menerima pesan di ponselnya.
"Silakan." Balas Pak Yono.
"Aku punya firasat, jika sekretaris Anda menyukai Anda."Ucap Pak Yono lagi.
"Anda jangan mengada-ada. Saya sudah memiliki istri."
"Kadang wanita sekarang lebih suka pria beristri karena merasa tertantang untuk bisa menaklukkan pria beristri." Ucap Pak Yono lagi.
Pras hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan Pak Yono. Pras lalu izin ke toilet untuk mencuci tangan. Dia berjalan menuju toilet pria, tapi sebelum masuk dia mendengar suara orang yang tidak asing baginya.
Perlahan Pras melangkah mendekati suara itu, suara pria dan wanita yang sedang berbincang serius.
"Dia tidak pulang selama seminggu." Ucap suara laki-laki.
"Dari mana kamu tahu?" tanya suara wanita yang terdengar tajam.
"Aku selalu memantau rumahnya."
"Tapi dia sudah pulang ke rumahnya!"
"Itu hanya karena anak mereka sakit. Aku sudah membuat Ana dan Pras bertengkar karena Pras melihatku bersama Ana. Mungkin dia cemburu? Tapi masa bodoh! Yang penting, aku bisa mendapatkan Ana." Ucap suara laki-laki lagi.
"Kenapa kau sangat tertarik pada wanita itu?" Tanya suara wanita, di balik tembok itu.
"Dia wanita istimewa. Aku sudah menyukainya sejak kuliah dulu, tapi dia malah lebih memilih Pras yang tolol itu! Dia tidak tahu jika aku bisa memberikan apapun yang diinginkannya."
"Pras tidak pulang ke rumah? Lalu di mana dia tidur? Dia juga tidak datang padaku."
"Bukan urusanku dia tidur di mana. Rencana kita memisahkan mereka sudah berhasil, lalu mana imbalannya?" suara laki-laki itu menagih janji. "Sesuai perjanjian, kau akan menghangatkan ranjangku."
"Tak masalah, tidak bisa mendapatkan kehangatan Pras, kehangatanmu pun tak apa."
Terdengar suara tawa mereka berdua.
"Tunggu aku, sebentar lagi pertemuan ini akan selesai." kembali suara wanita berucap.
Di balik tembok pembatas menuju toilet, Pras mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan penuh amarah. Dia tidak menyangka jika dua makhluk di balik tembok itu merencanakan kejahatan untuk keluarganya.
**Jumpa lagi dengan Ana dan Pras. Jangan lupa klik like, komen dan mau juga hadiahnya yaaa.
Cirebon, 13 Maret 2022
Baca juga karyaku yang lain yaa. Dijamin ga kalah seru loh sama Ana dan Pras. Yang mengandung bawang ada, yang bikin ngakak juga ada. Cusss merapat ke mariiiii 👇**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Vlink Bataragunadi 👑
baru nyadar pa? untung ana baik ya, kl aku mah ogaaah nerima lg laki tukang selingkuh  ̄へ ̄
2023-01-17
0
Litaalzhaazzila Azzila
itu sekertaris kenapa tidak di pecat
2022-04-30
0
Mayya_zha
wah siapa pelakunya ya
2022-03-14
0