Rencana Una

PRAS merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Dia merasa gelisah, resah, panas dan,,, bergairah.

Ya, bergairah. Pras menyadari hal itu, jika dia sekarang merasa bergairah. Ah, tepatnya sangat bergairah! Dia mendekati Una yang tersenyum manis padanya, tapi dia tahu jika senyum itu senyum licik yang penuh siasat.

"Apa yang kau masukkan pada kopiku."

Niat hati ingin menggertak wanita itu, tapi yang keluar malah suara rendah seorang pria yang menahan hasrat.

Una merangkul leher Pras, dia terus menggoda laki-laki itu dengan gerakan-gerakan sensual di dadanya yang masih tertutup kemeja. Pras memejamkan mata menikmati sentuhan sekretarisnya itu. Dia merasa sangat terangsang dan bergairah.

Bayangan wajah Ana yang terpejam penuh kenikmatan serta desisan dan erangan wanita itu berkelebat dalam pikirannya, hingga dia mendorong wanita di depannya saat bibir mereka tinggal sesenti lagi saling bersentuhan.

Una terhenyak ke sofa, dia menatap tak suka pada laki-laki yang dipujanya. "Kenapa, Mas? Kamu menginginkan ini kan? Aku akan berikan, Mas. Di sofa ini juga tidak masalah." Ucap Una seraya membuka kancing blusnya.

Pras merasakan panas di tubuhnya semakin menjadi, dia ingin segera menyalurkan hasratnya karena juniornya meronta. Tapi saat dia melihat wanita yang sedang bersamanya bukanlah Ana, istrinya, dia mencoba menepis hasratnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin keluargaku semakin hancur dan diriku semakin lebur dalam dosa.

Una mencoba meraih wajah laki-laki yang sangat dicintainya itu dan berusaha memeluknya. "Ayolah, Mas. Di sini sudah tidak ada orang, kita bebas melakukannya.

Dengan kesadaran yang mulai menipis, Pras mendorong tubuh Una hingga wanita itu terhempas ke sofa.

"Aww!" Pekik wanita itu. "Mas, aku bisa menghilangkan rasa panas di tubuhmu, aku bisa membawamu melayang hingga langit ke tujuh." Kembali Una menggoda atasannya.

"Aku ingin menghilangkan panas di tubuhku juga hasratku, tapi bukan dengan menambah dosaku bersamamu. Kau benar-benar seperti wanita tak bermoral." Desis Pras tajam lalu keluar dari ruangannya setelah menyambar tas kerja serta jasnya.

Una lagi-lagi dibuat kecewa dan marah oleh laki-laki itu. Dia berteriak untuk melampiaskan kekecewaannya pada laki-laki yang sangat dipujanya.

🌹🌹🌹

PRAS masuk ke rumah dengan tergesa. Dia melihat Ana yang datang dari arah dapur dengan membawa segelas air putih dan lihat, apa yang dipakai wanita itu?

Wanita yang mampu membuat hatinya bergetar dengan debar jantung yang tak beraturan itu memakai linggeri super seksi berwarna marun, kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Jakunnya naik turun saat mendengar suara wanita yang dinikahinya 4 tahun lalu itu.

"Mas, kamu sudah pulang.."

Pras mendekati istrinya, dia mengambil gelas yang ada di genggaman wanita itu lalu meletakkannya di meja makan. Dia langsung meraih tubuh istrinya dan menciumnya dengan menggebu.

Ana terkejut melihat perilaku suaminya. Dia gelagapan saat mendapat serangan tak terduga dan sangat membara dari sang suami.

🌹🌹🌹

ANA bangun di pagi hari dengan tubuh terasa remuk akibat serangan dari suaminya yang menggila semalam. Dia melihat tubuhnya bercorak polkadot di mana-mana. Ana merasa bahagia karena suaminya kembali berselera padanya, tapi dia sedikit meringis saat merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.

Ana berjalan perlahan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket dan pegal-pegal, mungkin berendam sejenak dengan air hangat sebelum anak-anak bangun bisa mengurangi rasa pegal dan nyeri di tubuhnya.

Ana membuat roti bakar sebagai sarapan untuk keluarganya karena hari ini dia bangun agak siang dari biasanya. Saat dia sedang membuat telur ceplok, sepasang tangan yang lumayan berotot memeluknya dari belakang.

Ana sempat berjengit karena terkejut. "Mas.."

"Sedang masak apa?" Tanya Pras mencium rambut istrinya yang masih basah.

"Telur ceplok. Sarapannya roti bakar sama telur atau selai aja ya? Aku bangun kesiangan dan badan rasanya capek banget." Jawab Ana.

"Apa aku kasar semalam?" Tanya Pras membelai rambut Ana. "Maaf ya.. Kita cari ART saja supaya kamu tidak terlalu capek. Ya meskipun hanya untuk cuci dan bersih-bersih rumah karena kalau masak, aku maunya masakan kamu."

Ana tersenyum mendengar usul suaminya. "Terserah Mas saja."

🌹🌹🌹

UNA sudah menunggu kedatangan Pras di depan meja kerjanya. Saat dia melihat laki-laki itu keluar dari lift, dia tampak sedikit gugup tapi tetap mendekatinya. Pras menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.

"Aku minta ma'af soal semalam, Mas. Aku khilaf, aku tidak tahu harus bagaimana lagi agar kamu tahu aku sangat mencintaimu." Ucapnya mengikuti langkah Pras ke ruangannya.

"Mas, aku mohon bicara padaku. Aku benar-benar minta ma'af.." Una memohon karena Pras tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Kamu sudah melewati batas, Una." Suara Pras menggeram menahan emosi.

"Itu karena aku mencintaimu, Mas. Aku juga ingin menjadi milikmu." mohon Una.

"Aku sudah memikirkannya. Keputusanku, aku ingin hubungan kita seperti dulu, sebagai atasan dan bawahan. Aku tidak ingin mengorbankan anak-anakku."

"Apa maksud kamu, Mas? Kita berakhir?"

Pras mengangguk.

"Tidak, Mas. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Tidak." Una menggeleng beberapa kali, memohon pada laki-laki di depannya.

"Pergi dari hadapanku."

"Mas!" Air mata Una mulai menetes.

"KELUAR." Perintah Pras penuh penekanan.

🌹🌹🌹

ANA sudah meminta izin pada Pras untuk bertemu Deby, dia juga membawa kedua anaknya seperti biasa. Mereka jalan di mall dan tanpa sengaja bertemu dengan teman kuliah mereka, Niko.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, An." Ucap Niko sambil duduk di kursi depan Ana.

Mereka duduk di foodcourt mall itu sementara kedua anak Ana dan Deby bermain di arena permainan tak jauh dari tempat duduk mereka.

"Apa kabar, An?" Tanya Niko.

"Baik." Jawab Ana datar.

"Kamu masih cantik seperti dulu." Puji Niko.

"Terima kasih."

Seorang pelayan datang membawa pesanan Ana dan Deby. Ana mengucapkan terima kasih setelah pelayan itu selesai menyajikan pesanan mereka.

"Aku pesan seperti Mba yang ini." Niko menunjuk makanan Ana.

Ana hanya memutar bola matanya jengah. Deby mengerti jika Ana merasa tidak nyaman dengan kehadiran Niko. Saat kuliah dulu, Niko selalu mengejar cinta Ana, tapi Ana sudah memiliki tambatan hati, Prasetya.

"Apa kamu bahagia, An?" Tanya Niko.

"Apa kamu melihat aku menderita?" Ana balik bertanya dengan nada tajam.

"Barangkali kamu tidak bahagia, aku siap membahagiakan kamu."

"Sudahlah, Nik."

"Perasaanku masih sama, An." Niko tidak mau menyerah.

"Dan jawabanku juga masih sama!" Jawab Ana didetik berikutnya.

"Aku sanggup memberikan lebih dari apa yang suamimu berikan."

"Aku tidak menginginkannya."

"Ayolah, An. Aku rela menunggumu menjadi janda."

"Aku tidak ingin menjadi janda diusia muda!"

"Hentikan, Nik!" Seru Deby menyela perdebatan Ana dan Niko. Dia tidak bisa tinggal diam. "Bagaimana jika kamu punya istri lalu istrimu digoda oleh laki-laki lain seperti kamu menggoda Ana saat ini!?" Tanya Deby tajam.

Tanpa mereka ketahui, seseorang tersenyum licik mendengar pembicaraan mereka.

**Cirebon, 7 Maret 2022

Baca karya Emak yang lain juga yaaa**

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!