PAGI yang sibuk seperti biasanya. Ana mondar-mandir di dapur untuk membuat dan menyiapkan sarapan dengan menggendong si kecil. Itu sudah biasa dia lakukan, dan dia lakukan tanpa mengeluh karena merasa itu adalah kewajibannya. Penampilan Ana pun seperti biasa, hanya daster selutut dan rambut yang dicepol asal.
Ana mendengar Arzanka merengek pada Papanya untuk main, tapi Ana sangat terkejut saat mendengar suara bentakan dari arah ruang keluarga. Ana yang baru saja selesai menyiapkan sarapan di meja makan, tergopoh ke arah ruang keluarga.
"Ada apa, Kak?" Tanya Ana dan si sulung segera berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Urus anak kamu baik-baik! Aku sedang buru-buru ke kantor!" Bentak Prasetya.
"Aku cuma ingin main sama Papa, Ma..." Rengek Arzanka di sela tangisannya.
"Dia kangen mungkin sama kamu, Mas. Kamu belakangan kan sibuk banget dengan urusan kantor." Ana berusaha tenang.
"Aku memang sibuk karena kerjaan! Aku pusing ngurus kerjaan sampe malam dan ditambah lagi anak ini minta main!" Dalih Prasetya.
"Mumpung hari ini hari minggu, kamu ga ke kantor kan? Jadi ga ada salahnya kalau kamu ngajak main anak-anak, Mas.."
"Dan kamu tiduran, begitu!? Kamu saja yang main dengan mereka! Aku capek dan mau istirhat!" Prasetya pun masuk ke kamarnya.
Ana hanya bisa menghela napas melihat sikap Prasetya. Akhir-akhir ini Prasetya sangat jauh berbeda, dia tidak hanya berkata kasar padanya tapi pada anak-anak juga. Ana khawatir dengan kondisi psikis kedua anaknya. Tapi setiap kali Ana mencoba bicara baik-baik pada suaminya agar tidak berkata kasar pada anak-anak, ujung-ujungnya Prasetya akan menghina penampilannya.
***
TIADA hari tanpa kesibukan bagi Ana, tidak ada akhir pekan atau pun hari libur. Sejak Prasetya mulai berubah padanya, semua hari sama bagi Ana. Tidak ada canda tawa bersama suaminya, tidak ada jalan-jalan mengajak anak-anak berekreasi.
Ana sedang memilah pakaian yang akan dimasukkan ke mesin cuci sementara kedua anaknya sedang bermain di depan televisi. Ana melihat sesuatu yang mencurigakan pada lengan kemeja suaminya.
Sebuah goresan lipstik dengan warna yang tidak pernah dimilikinya. Ana mulai berprasangka buruk pada suaminya. Belakangan ini Prasetya sudah berubah sangat drastis. Apa Mas Pras selingkuh ya? Ana menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
Ana melanjutkan acara mencucinya sebelum anak-anaknya rewel dan minta ditemani main.
Semakin hari Ana semakin sering menemukan hal yang mencurigakan dari pakaian Prasetya, mulai dari goresan lipstik, aroma parfum wanita, setruk makan di restoran, hingga dia menemukan setruk belanja pakaian wanita dan tas wanita di saku celana suaminya itu.
Ana sudah habis kesabarannya, dia selama ini diam karena dia tidak mau bertengkar dan dihina oleh suaminya. Itu sangat menyakitkan! Ana mengambil kertas putih panjang itu lalu memasukkannya dalam kantong dasternya. Dia harus meminta penjelasan pada suaminya itu.
Seperti biasa, Prasetya pulang saat malam sudah larut dan anak-anak sudah ke alam mimpinya. Ana membukakan pintu untuk suaminya, dia menunggu sampai mereka berada di ruang keluarga.
"Mas, kita harus bicara." Ucap Ana tegas.
"Lain kali aja, aku capek!" Jawab Prasetya dingin.
"Mas!"
"Apa sih!?"
"Ini apa, Mas?" Tanya Ana memelankan suaranya yang sempat meninggi seraya menunjukkan kertas putih panjang yang pagi tadi ditemukannya di kantong celana suaminya.
"Bukan urusan kamu." Tukas Prasetya tajam.
"Aku istrimu, Mas. Jadi ini urusanku." Balas Ana tegas.
"Istri yang penampilannya bikin suami ga betah di rumah! Jadi wajarlah kalau aku mencari yang lebih sedap dipandang."
"Aku sudah curiga sejak beberapa minggu lalu, Mas. Kebiasan kamu yang berubah, goresan lipstik di kemeja kamu, wangi parfum wanita, setruk makan di restoran dan tadi pagi, aku melihat ini ada di kantong celana kamu. Kamu selingkuh kan, Mas?" Tuntut Ana.
"Laki-laki itu butuh sajian yang menggoda, Ana. Jadi wajarlah kalau aku mencari yang lebih menggoda dari pada kamu."
"Ingat anak-anak, Mas! Dulu kamu yang minta aku berhenti kerja dan fokus pada anak-anak dan rumah. Sekarang kamu bilang kamu mencari yang lebih menggoda karena aku tidak menggoda!"
"Karena kamu memang tidak menggoda! Kamu seperti babu! Sudahlah! Aku capek dan mau istirahat!" Prasetya berlalu ke kamar tanpa mempedulikan lagi istrinya.
***
HARI-HARI Ana lalui dengan mencoba bersabar dan bertahan demi kedua buah hatinya, Arzanka dan Arzetta. Ana sudah lelah jika harus berdebat setiap hari yang ujungnya pasti dirinya akan sakit hati.
Karena sudah lama tidak keluar rumah meski hanya untuk ke mall, hari ini Ana menerima ajakan Deby pergi ke mall. Ana menggendong Arzetta sementara Arzanka digandengnya.
Tak sengaja mata Ana menangkap sosok yang sangat dikenalnya hingga mata Ana melebar sempurna. Di sana, di sebuah butik dalam mall, dia meliat sang suami sedang memilih pakaian wanita dengan seorang wanita yang selalu bergelayut manja di lengan kirinya.
Ana semakin ternganga saat mengenali siapa wanita yang bersama suaminya, yaitu sekretaris suaminya. Deby melihat ke arah yang ditatap Ana tanpa berkedip karena dari tadi dia memanggil Ana, sahabatnya itu tidak menyahut.
Ana meradang! Marah, kecewa dan cemburu menjadi satu. Ingin sekali dia melabrak sang suami bersama wanita itu, tapi tangannya dicekal oleh Deby.
"Jangan, An." Cegah Deby. "Jangan permalukan diri kamu di depan banyak orang."
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Deb?"
"Mana ponsel kamu?"
Ana memberikan ponselnya pada Deby. Deby mengambil gambar Prsetya bersama wanita itu menggunakan ponsel Ana lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Kamu bisa menunjukkan foto itu jika dia mengelak dari tuntutanmu! Dan satu lagi. Kamu tidak boleh menyerah pada wanita itu! Kamu istrinya, kamu lebih berhak atas dirinya dari pada dia! Dan ingat! Kamu harus memperjuangkannya bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk anak-anakmu!" Ucap Deby sebelum Ana sempat bertanya.
"Apa yang harus aku lakukan, Deb?"
"Kamu harus bisa merebut kembali cinta suamimu dalam waktu 30 hari!" Saran Deby.
"Ha!? 30 hari!? cepet banget!"
"Kamu mau, suami kamu lebih lama dekat dengan wanita lain?" Ana menggeleng. "Makanya, kamu harus bisa merebut cinta suamimu dalam waktu 30 hari!"
"Caranya?"
"Kamu harus berubah, An. Kamu harus merubah penampilan kamu agar suami kamu tergoda sama kamu. Pakai kosmetik, pakai parfum, pakai pakian yang menarik kalau bisa yang seksi sekalian. Kamu juga harus menggoda suami kamu agar dia tidak keluyuran!"
"Pakaian seksi? Goda suami?"
"Iya, kenapa?"
"Aku malu, Deb." Jawab Ana pelan.
"Dia saja tidak tahu malu menggoda suami orang, masa kamu yang istrinya malu menggoda suami sendiri? Kamu harus bisa merebut suami kamu lagi sebelum rumah tanggamu hancur, An. Kalau kamu tidak ingin anak-anakmu terlantar!"
Ana merenung, mencerna kata-kata Deby. Ya, dia harus berubah! Bukan hanya untuk dirinya yang masih mencintai suaminya, tetapi juga demi kedua anaknya agar tidak kehilangan sosok seorang ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
dite
nah bener tuh omongan sk deby
2023-02-23
0
Riena El Fairuz
hai kak, like ,dan love sertaa bunga sudah mendarat cantik
2022-03-10
1
Bhebz
semangat Ana
2022-03-06
0