Menggodamu Boleh, Kan?

PRASETYA keluar kamar, dia melihat istrinya sedang menyusui Arzetta di sofa. Sementara Arzanka sedang asik bermain mobil-mobilan di lantai. Dia menatap lekat bagian tubuh istrinya yang menyembul keluar untuk dihisap si kecil. Jakunnya naik turun dengan napas yang mulai berat. Beberapa kali dia harus menelan salivanya susah payah.

Wanita yang sedang menjadi pusat perhatian suaminya itu belum menyadari jika di ambang pintu sana, sepasang mata tak pernah lepas dari sosoknya terutama bagian tubuhnya yang sengaja dia keluarkan.

Prasetya hampir saja meneteskan air liurnya jika dia tidak segera mengatupkan kedua bibirnya. Apa dia masih mau ku sentuh setelah apa yang kulakukan padanya? Apa dia masih baik padaku hanya demi anak-anak?

Ana baru menyadari jika sedari tadi suaminya menatap lekat padanya. Dia tersenyum simpul, dan malah dengan sengaja membiarkan pria itu memperhatikan dirinya yang sedang menyusui Arzetta. Aku akan membuatmu tergoda, Mas. Aku akan pastikan jika malam ini kau akan tergoda dan berakhir di ranjang tanpa busana.

"Kamu sudah selesai, Mas?" Tanya Ana pura-pura baru melihat Prasetya.

"I-iya." Jawab Prasetya gugup.

Mendengar suara Papanya membuat bayi 1 tahun itu segera melepaskan ****** Ana dan menoleh ke arah Prasetya. Ana tidak segera memasukkan asetnya ke dalam pakaian saat menurunkan si kecil dari pangkuannya. Ini siasatnya untuk menggoda sang suami. Bukankah seluruh tubuh istri itu halal dilihat oleh suaminya? Ana menepis rasa malu dan canggungnya memperlihatkan bagian tubuhnya yang sudah lama tak dijamah sang suami. Beruntung karena si sulung tidak melihat aksinya yang sedang menggoda ayah anak itu karena dia sibuk bermain.

Dengan gerakan perlahan, Ana memasukkan kembali asetnya ke dalam pakaian. "Kalau begitu aku masak dulu buat makan malam."

"Ga usah, An." cegah Pras.

"Kenapa, Mas? Kamu mau keluar lagi?" Tanya Ana sedikit kecewa.

"Aku memang mau keluar," wajah Ana tampak semakin kecewa. "Kita makan malam di luar."

Ucapan Prasetya membuat Ana hampir meneteskan air mata. Entah berapa bulan, bahkan tahun, Ana hanya berada di rumah. Prasetya tidak pernah mengajaknya makan malam di luar atau menghadiri undangan pesta bersama karena merasa malu dengan penampilan istrinya.

Dan baru saja, Prasetya mengajak Ana makan malam di luar, sesuatu yang sangat dirindukannya selama ini. Mata Ana langsung berbinar mendengar ajakan itu bagai musafir yang tersesat di gurun Sahara dan melihat oase.

"Ayo anak-anak, ganti baju dulu." Ajak Ana pada kedua buah hatinya.

"Mau apa, Ma?" Arzanka bertanya.

"Papa mengajak kita makan malam di restoran."

"Lestolan, apa Ma?"

"Terserah Papa nanti."

Ana pun segera mengganti pakaian kedua buah hatinya, lalu dirinya pun berganti pakaian. Mereka berangkat menjelang malam. Rencananya, Prasetya ingin mengajak anak-anaknya ke taman bermain lebih dulu sebelum makan malam.

Mereka ke sebuah mall, mengajak anak-anak bermain. Saat melihat betapa bahagianya si sulung dan juga Ana, dia baru menyadari, jika dia terlalu lama mengabaikan istri dan anak-anaknya. Dia ikut membaur bersama mereka.

"Oh, jadi kamu menolak ajakanku dan memilih bersama mereka, Mas?" suara seorang wanita menyela kebersamaan mereka.

Prasetya terkejut saat mengetahui siapa yang barusan bicara. "Kamu sedang apa di sini?"

"Aku sedang apa di sini? Harusnya aku yang bertanya padamu, Mas. Kamu sedang apa di sini!?" seru wanita itu marah.

Ana merasa geram dengan wanita itu, dia tidak ingin diremehkan oleh orang lain, apalagi dihina dan ditindas. "Mas Pras sedang menjalankan perannya sebagai seorang AYAH, dan SUAMI." Ana menekankan kaliamat terakhirnya agar wanita itu sadar di mana posisinya.

"Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada Mas Pras!" Serunya penuh penekanan.

"Sudah hentikan! Jangan bertengkar di sini!" Prasetya menggeram, menahan agar suaranya tak didengar banyak orang.

"Apa dia menggodamu, Mas? Dan kamu tergoda? Hingga kamu membatalkan janji kita?" tuntut wanita itu.

"Sudahlah, Una." Prasetya mendesah frustasi. Una, wanita itu, selalu menuntut lebih.

Ana tidak tinggal diam, mumpung anak-anaknya sedang bermain, dia menggandeng mesra lengan suaminya dan meletakkan dagunya di bahu sang suami. "Jika aku menggoda Mas Pras pun, aku tidak salah. Karena aku ISTRINYA. Sedangkan kau, apa hakmu menggoda suami orang? Aku berhak karena aku ISTRINYA dan Mas Pras, SUAMIKU."

Ucapan Ana penuh dengan penekanan dan sindiran bagi Una, meski pun tidak berupa bentakan dan hardikan.

Para pengunjung yang berada di dekat mereka menunjuk-nunjuk Una dan menyebutnya sebagai PELAKOR. Una sangat marah! Malu juga tentunya. Dia lalu pergi.

Ana melepaskan rangkulannya pada lengan Pras, dia mendekati anak-anaknya lalu menggendong si kecil.

"Mama ngantuk, lapal." rengek Arzanka.

"Kita makan, terus pulang, bobo."

Ana menuntun Arzanka yang sudah terlihat mengantuk. Pras langsung mengangkat tubuh kecil balita itu dan menggendongnya.

"Kakak mau makan apa?" Tanya Pras pada anak laki-lakinya.

"Pizza.."

Mereka langsung menuju ke gerai pizza di mall itu. Pras tersenyum melihat putranya memakan pizza dengan lahap. Dia sadar, sudah banyak yang dia lewatkan tentang keluarga kecilnya. Dia melihat Ana yang dengan telaten menyuapi Arzetta.

Pras menatap lekat wanita yang menjadi ibu dari dua anaknya. Dia tersenyum sendiri saat ingat perdebatan Ana dan Una. Diantara dua wanita itu, siapa yang akan dipilihnya?

Pras pamit ke toilet dan meninggalkan ponselnya di meja. Tidak lama setelah Pras pergi, ponsel itu berdenting pertanda pesan masuk. Ana melihat sekilas, dari Una.

Aku tunggu kamu malam ini, Mas.

Ana tersenyum penuh siasat setelah membacanya, tanpa membuka notif. Tunggu saja, aku punya rencana.

Anak-anak sudah tidur saat sampai di rumah, mereka masing-masing menggendong 1. Ana tahu jika Pras sudah membaca chat dari Una, dan dia mulai menjalankan rencananya.

Setelah menidurkan kedua buah hatinya dan mereka masuk kamar, Ana meminta Pras untuk membukakan resleting dressnya yang ada di bagian belakang. Pras pun menurut.

Ana berbalik, gerakannya membuat dress yang sudah terbuka resletingnya itu melorot sampai lengan. Dia memberanikan diri meletakkan tangannya di dada sang suami, memainkan jemarinya di sana dengan sensual.

Prasetya diam menikmati sentuhan istrinya. Dia memejamkan kedua matanya. Perlahan, Ana mendorong suaminya hingga jatuh ke ranjang. Dia masih terus melancarkan serangannya pada tubuh pasrah suaminya yang memejam dan sesekali mengerang. Dicumbunya sang suami untuk membangkitkan gairahnya serta melupakan janjinya pada wanita selingkuhannya.

Ana terus menghembuskan napas-napas surgawi untuk membuat Pras semakin tegang. Dia duduk mengangkangi tubuh suaminya dengan terus bergerak sensual. Hingga tepat di atas resleting celana panjang sang suami, dia menghentikan gerakannya dan mendongak menatap suaminya yang sudah pasrah.

"Menggodamu boleh kan, Mas?"

Prasetya hanya mengangguk pasrah tak mampu berucap karena yang keluar hanya erangan dan desisan saat tangan istrinya membelai aset paling berharganya.

**Cirebon, 4 Maret 2022

Baca juga karya Emak yang lain yaaa siapa tau ada cerita kesukaanmu di sana 😘😘😘**

Terpopuler

Comments

NFIA

NFIA

dia suka karena wajah.jika suatu saat kamu tua pasti dia pindah ke lain hati. ayolah ,pakai akal sehatmu.cantik tidak abadi.berapa lama suamimu bisa bertahan dgn kecantikanmu yg hanya sesaat.

2022-04-04

0

~🌹eveliniq🌹~

~🌹eveliniq🌹~

semangat lanjut Thor

2022-03-13

0

Riena El Fairuz

Riena El Fairuz

semangat kak, salam dari Mawar tak bermahkota

2022-03-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!