Salon

ANA memikirkan ucapan Deby tadi siang. Dia ingin sekali membuat Prasetya kembali padanya, tapi jika harus menggodanya dengan pakaian seksi Ana tidak tahu. Apa dia mempunyai keberanian untuk melakukan itu?

Prasetya pulang larut seperti kebiasaannya akhir-akhir ini. Duduk di sofa hingga ketiduran juga menjadi kebiasaan Ana sejak suaminya sering pulang larut. Ana terjaga saat mendengar suara ketukan di pintu depan. Dia berjalan ke arah pintu sambil menguap.

Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran yang semakin cepat dan keras. Ana melangkah tergesa ke pintu, memutar kuncinya dan menurunkan gagang pintu.

"Lama banget!"

Hardikan seperti itu sudah biasa didengar Ana. Bahkan saat pulang, bukan ucapan salam yang dilontarkan Prasetya melainkan hardikan. Ana menarik napas dalam, mengumpukan keberanian.

"Tadi siang kamu dari mana, Mas?"

"Pertanyaan ga mutu." Jawab Prasetya dingin.

"Apa maksudmu dengan pertanyaan ga mutu?"

"Siang kan aku kerja, dan kamu tanya tadi siang aku kemana? Ya pertanyaan ga mutu! Sudah jelas aku kerja kok ditanyakan!"

"Tapi aku melihatmu di mall, Mas." Balas Ana tegas, dia tidak ingin terlihat lemah.

"Di mall apanya? Jangan nga--"

"Dengan sekretarismu!" Ana memotong ucapan Prasetya. Dia genggam erat-erat ponselnya.

"Aku capek! Mau istirahat!" Ucap Prasetya ketus. "Dan jangan ngaco!"

"Apa ini ngaco? Dan apa bisa kamu menjelaskan ini?" Tuntut Ana seraya menunjukkan foto Prasetya dan sekretarisnya pada layar ponselnya.

Prasetya yang sudah mulai melangkahkan kaki menuju kamar berbalik badan lagi, penasaran dengan apa yang ditunjukkan istrinya. Matanya menatap lekat layar ponsel istrinya. "Dapat dari mana kamu? Jangan percaya pada sembarang orang." Tanyanya tajam.

"Sayangnya aku dapatkan ini bukan dari orang lain. Aku melihatnya sendiri, Mas."

"Kamu bo--"

"Bahkan Arzanka pun melihatnya! Dan bertanya, 'itu Papa sama siapa, Ma?'" Ana mengatur napasnya yang memburu karena menahan emosi.

Selama perdebatan, Ana menekan suaranya agar kedua anaknya tidak terbangun. "Apa aku harus mengatakan kalau Papanya sedang berselingkuh?"

"Jangan berani macam-macam, Ana!" Geram Prasetya emosi. "Jangan merusak mereka dengan segala ocehanmu!"

"Kamu yang sudah merusak mereka, Mas! Merusak psikis mereka! Kamu selalu berkata kasar pada mereka dan tidak punya waktu untuk mereka, itu sudah membuat psikis mereka rusak. Merasa tidak dianggap, merasa tidak dipedulikan, merasa tidak diinginkan, merasa tidak disayangi, merasa tidak dicintai. Dan perbuatanmu tadi siang menambah luka bukan hanya di hatiku, tapi di hati mereka juga. Terutama Arzanka." Papar Ana panjang.

Prasetya merasa tertohok dengan ucapan Ana, tapi jiwa lelakinya yang tidak ingin disalahkan lebih mendominasi. "Itu salahmu!"

"Kenapa menjadi salahku?"

"Karena kamu membosankan! Kamu kusam, kumal dan bau!" Hardik Prasetya tanpa perasaan.

"Bukankah dulu kamu yang minta aku fokus pada anak-anak dan rumah? Lalu setelah aku berjuang untuk mengurus rumah, menjaga, merawat, dan mengasuh anak-anak, inikah balasan yang aku terima? Pengkhianatan dan perselingkuhan!?"

"Kamu yang membuatku tidak betah di rumah! Jadi jangan membalikkan fakta seolah ini salahku!"

"Oke, aku tidak menyalahkanmu. Fine!" Ana menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya. Semangat Ana! Demi keutuhan rumah tanggamu! Demi anak-anakmu! "Aku akan merebut hati dan perhatianmu kembali dalam waktu 30 hari!"

Tekad Ana sudah bulat! Dia harus menyelamatkan bahtera rumah tangganya yang sudah dia bina bersama laki-laki di depannya selama 4 tahun itu. Dia tidak ingin rumah tangganya kandas begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Dia tidak ingin kejiwaan anak-anaknya terganggu karena perpisahan orang tuanya.

"Apa maksudmu?" Tanya Prasetya tidak mengerti.

"Aku akan menggodamu, Mas. Aku akan membuatmu tertarik lagi padaku dan melupakan sekretarismu itu dalam waktu 30 hari!" Janji Ana.

"Kita lihat saja, huh!" Ucap Prasetya sinis lalu masuk kamar.

Ana menghembuskan napasnya, merasa lega setelah mengeluarkan semua unek-uneknya dan mengungkapkan tantangannya pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

***

SETELAH Prasetya berangkat kerja, Ana pergi ke rumah orang tuanya untuk menitipkan kedua anaknya pada Ibunya. Dia sudah menyiapkan bekal untuk kedua anaknya serta asi untuk si kecil. Ana lalu berangkat ke salon.

Ana memilih pelayanan spa lebih dulu, dia ingin merilekskan otot-otot di tubuhnya agar tidak tegang. Menghadapi sikap suaminya membuat Ana selalu merasakan ketegangan.

Ini pertama kalinya Ana melakukan perawatan di salon dan spa setelah mempunyai anak. Ana sangat menikmati setiap pijatan yang dilakukan oleh terapis di spa itu. Apalagi tidak mendengarkan suara Prasetya yang selalu membuatnya sakit hati, semakin menambah rileks jiwa dan raganya.

Selesai perawatan tubuh di spa, Ana menikmati perawatan wajahnya. Dia melakukan facial agar wajahnya terlihat lebih segar dan cerah. Setelah itu, dia mengubah model rambutnya.

Dulu rambut panjangnya selalu dicepol asal dan paling tidak dikuncir kuda saat dia keluar rumah. Kini rambut panjang itu sudah berubah model. Ana tak hanya melakukan creambath dan pewarnaan pada rambutnya, tetapi juga membuat gelombang pada ujung rambut panjangnya.

Ana tidak sabar melihat ekspresi Prasetya saat melihatnya nanti. Dia tersenyum sendiri membayangkannya.

Cirwbon, 2 Maret 2022

Terpopuler

Comments

dite

dite

lha suaminya banyak duit, dia gak nyari art aja..
kadang wanita tuh pada gt, menolak pakai art, pda akhirnya gak keurusan diri sendiri

2023-02-23

0

SoVay

SoVay

langsung banyak ni mak up nya..kesayangan entun kalo begitu

2022-03-03

1

SoVay

SoVay

typo mak

2022-03-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!