ANA berlari menuju IGD sembari menggendong Arzetta, sementara Arzanka, digendong oleh sopir taksi yang ditumpanginya. Sopir itu merasa kasihan melihat Ana menggendong 2 anak balita. Ana sudah menelepon Ibunya untuk datang menemaninya di rumah sakit.
Air mata Ana kembali mengalir saat dia berusaha menghubungi Pras lagi, tapi masih belum berhasil. Ana menangis sembari memeluk Arzetta yang ada di pangkuannya.
Di mana kamu, Mas? Arzanka sakit dan kamu tidak ada di sini!
"Keluarga pasien anak Arzanka!" Seru dokter yang baru saja memeriksa Arzanka.
Mendengar nama putranya disebut, Ana langsung berdiri. "Saya, Dok. Saya Ibunya."
"Begini, Bu. Putra Anda mengalami demam tinggi, jadi untuk menghindari kemungkinan kejang, anak Anda harus dirawat." Ucap Dokter itu.
Ana bingung, apakah dia akan memutuskannya sendiri? Tapi jika menunggu Pras, entah kapan suaminya itu bisa dihubungi.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok." Ucap Ana kemudian.
Dia tidak peduli jika nanti Pras menyalahkannya karena tidak berunding lebih dulu, yang ada dipikirannya hanyalah, bagaimana caranya agar panas tubuh si sulung cepat turun dan sehat kembali. Urusan Pras marah atau menyalahkannya itu belakangan.
Arzanka sudah dipindah ke ruang rawat inap, Ana segera menidurkan Arzetta di ranjang kosong yang memang disediakan untuk penunggu pasien. Ana mendekati Arzanka yang sudah tidur. Dibelainya rambut hitam nan lebat milik putranya. Tak terasa cairan bening itu mengalir begitu saja.
"Maafin Mama, Kak. Apa Kakak kangen Papa, Sayang?" Diciumnya kening putranya.
"Ana.."
Suara panggilan membuat Ana tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu. Dari pintu pasangan yang sudah cukup usia memasuki kamar rawat Arzanka dengan tergesa.
"Mama... Ayah..."
"Arzanka sakit apa, Nak?" tanya Ibu Ana.
"Dia demam tinggi, Ma?"
"Pras mana? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Ayah.
"Mas Pras,,. sedang keluar kota, Yah." Jawab Ana pelan. Maaf, Yah.
"Sejak kapan Arzanka panas?" Tanya Ayah lagi.
"Saat akan tidur, Yah."
"Lalu kenapa kamu tidak menghubungi Ayah? Apalagi saat suamimu tidak ada di rumah."
"Maaf, Yah. Aku panik, jadi langsung menelepon taksi dan ke sini."
"Kamu yang sabar ya, An. Semoga besok Arzanka sudah turun panasnya. Lebih baik kamu tidur, nanti kalau Arzanka bangun terus rewel dan kamu belum tidur, bisa-bisa kamu juga ikut sakit." Nasihat Ibu.
🌹🌹🌹
PAGI hari Ana mencoba menghubungi Pras lagi, tapi hasilnya sama. Pras tidak menjawab teleponnya, pesan yang dikirimnya pun tak dibalas oleh laki-laki itu. Ibu sudah pulang setelah menginap semalam menemaninya, karena harus menyiapkan segala keperluan Ayahnya sebelum bekerja.
Ponsel Ana berdering saat dia sedang menyusui Arzetta, Ana buru-buru mengangkatnya, berharap itu Ayah dari anak-anaknya. Tapi ternyata, Ibu mertuanya yang menelepon.
"Kamu di mana, An? Mama ke rumah kok kosong?"
"Arzanka demam tinggi, Mah. Dan Dokter menyarankan untuk dirawat."
"Jadi kamu di rumah sakit sekarang?"
"Iya, Mah."
Ana pun memberi tahu di rumah sakit mana putranya dirawat. Selang setengah jam kemudian, Ibu Lili sampai di rumah sakit dan langsung menengok keadaan cucunya.
"Sakit apa, An?" tanya Bu Lili.
"Demam tinggi, Ma. Dokter menyarankan dirawat untuk menghindari kejang."
"Pras mana?"
Ana diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diam, An? Apa Pras kembali pada wanita itu?" tanya Bu Lili tajam.
"Semoga saja tidak, Ma."
"Lalu di mana dia sekarang? Apa dia tahu jika Arzanka di rumah sakit?"
Ana menggeleng. "Aku sudah menghubungi Mas Pras sejak kemarin, tapi panggilanku tak pernah diangkat oleh Mas Pras. Chatku juga tak dibalas, hanya dibaca."
"Ada masalah apa antara kamu dan Pras?"
"Tiga hari yang lalu Mas Pras melihatku ngobrol dengan teman kuliahku dulu dan Mas Pras salah faham. Kami hanya sekedar ngobrol, itu pun di teras karena aku tidak mengizinkan dia masuk ke rumah. Tapi Mas Pras marah dan menuduhku yang tidak-tidak." Papar Ana.
"Harusnya kamu bisa menjaga perasaan Pras, tidak perlu bicara dengan laki-laki lain. Dulu kamu kumal dan kusam hingga Pras berpaling pada wanita lain, sekarang kamu tidak bisa menjaga Pras agar tetap bersamamu dan memancing emosinya dengan cara bicara dengan laki-laki lain." Sindir Bu Lili.
"Ma, aku sedang kalut! Anakku sakit sementara Mas Pras tidak mau mendengarku! Harusnya Mama menenangkanku bukan malah mencibirku! Mungkin apa yang dilakukan Papa itu sebagai balasan dari Tuhan, agar Mama juga merasakan apa yang aku rasakan!"
"Kamu nyindir Mama?" Bu Lili merasa tersinggung dengan ucapan Ana.
"Bukan, Ma. Tapi harusnya Mama bersimpati padaku sebagai sesama wanita, bukan malah menyudutkanku atas perlakuan Mas Pras padaku."
Ana mendekati Ibu mertuanya dan duduk di sampingnya. "Ma, kita sesama wanita. Aku tau Mama pasti sedih melihat kelakuan Papa sekarang karena aku juga pernah merasakan apa yang Mama rasakan. Aku harap Papa segera menyadari kekhilafannya. Yang aku takutkan, Mas Pras kembali bersama wanita itu dan melupakan anak-anaknya. Mas Pras sudah 3 malam tidak pulang, Ma. Aku tidak bisa menghubunginya." Suara Ana memelan seraya menggenggam tangan Ibu mertuanya.
"Tiga malam?" Ana mengangguk. "Di mana dia tidur selama 3 malam itu? Dia juga tidak pulang ke rumah Mama."
Ana menggeleng lemah. "Aku tidak tau, Ma. Aku takut jika Mas Pras kembali dengan wanita itu, atau wanita itu akan kembali menggoda Mas Pras saat dia tau kondisi keluargaku yang sedang kacau."
Ana menangis di depan Ibu mertuanya. Akhirnya mereka saling berpelukan, untuk saling menguatkan karena merasa sependeritaan. Sebenarnya, Bu Lili datang ke rumah Ana untuk mengadu jika suaminya sekarang sering pulang larut malam, tapi ternyata kondisi keluarga anak dan menantunya pun sama dengannya. Apakah ini benar-benar karma karena dulu dia mencibir dan menyindir Ana saat anaknya berselingkuh dengan wanita lain?
Bu Lili segera mengambil ponselnya dan menelepon anak laki-lakinya. "Di mana kamu sekarang?" tanya Bu Lili langsung dengan suara tajam.
"Ya di kantor, Ma. Ini jam kerja." jawab Pras.
"Ke rumah sakit sekarang!" Perintah Bu Lili.
"Ada apa, Ma? Mama sakit? Atau Papa?" suara Pras tampak panik.
"Bukan Mama atau Papa, tapi anakmu! Arzanka dirawat sejak semalam. Jadi cepat ke sini!" Bu Lili langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, Ma? Apa Mas Pras akan ke sini?" Tanya Ana tak sabar.
"Pras pasti ke sini. Mama yakin."
Ana tersenyum penuh harap, semoga apa yang dikatakan Ibu mertuanya itu benar. Dia tidak ingin anak-anaknya kehilangan kasih sayang Ayah mereka.
Satu jam kemudian, Pras datang ke rumah sakit. Dia langsung menuju brankar di mana anak pertamanya terbaring lemah. Balita itu tersenyum dan segera membalas pelukan Papanya.
"Papa kenapa ga pulang-pulang? Kakak kangen." tanya Arzanka.
"Maafin Papa ya, Sayang." Pras membelai sayang rambut hitam putranya lalu mencium keningnya. Terasa panas seperti saat dia menyeruput kopi.
"Mama bilang, Papa lagi kelja kelual kota."
Pras menoleh pada Ana, tapi wanita itu membuang muka. Dia beralih menatap putranya lagi. "Maafin Papa ya?"
"Papa ga akan pelgi lagi, kan?"
Pras tersenyum, "enggak. Papa akan temani Kakak di sini."
"Asik..."
Senyum putranya membuat Ana ikut tersenyum, senyum yang beberapa hari ini hilang dari wajahnya. Bu Lili pamit pulang, tinggal Pras dan keluarga kecilnya. Pras keluar untuk membeli makan karena sudah waktunya makan siang.
Setelah makan dan Arzanka meminum obatnya, kedua anak mereka tidur.
"Kamu egois, Mas!"
**Hai hai,,, Mas Pras hadir lagi.. Mas Prasnya udah pulang yaaa.
Cirebon, 12 Marer 2022
Baca juga karya teman Emak ya. Dijamin menarik dan seru loh ceritanya. Yuk mampir ke karya kak **Emy yang berjudul : It's Me
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Vlink Bataragunadi 👑
ini mertua minta dihajar ya, gregetan aku  ̄へ ̄
2023-01-17
0
Mayya_zha
wah jangan jangan di kurung si pelakor.
saking dukung kita kakak
2022-03-14
0
Artini
lanjut ka
It's Me hadir, makasih ka
2022-03-12
0