Menjadi Genit

UNA tersenyum licik membayangkan rencananya untuk mendapatkan Prasetya. Dia meninggalkan tempat itu menuju ke sebuah mall. Dia membeli pakaian kerja yang seksi, serta ke salon untuk mengubah gaya rambutnya seperti gaya rambut Ana.

Sudah cukup lama aku mengalah dan membiarkan Mas Pras bersama wanita itu. Aku tidak ingin mengalah, aku harus bisa mendapatkan Mas Pras.

Una sudah bertekad untuk bertarung melawan Ana dalam memperebutkan Prasetya.

Pagi ini Una ke kantor dengan rok span yang lebih pendek dari biasanya, dipadu dengan atasan ketat yang menonjolkan area kesukaan kaum Adam dengan belahan yang mengintip diantara kancing blusnya.

Dia mengetuk pintu ruangan Prasetya, tanpa menunggu pemiliknya mempersilakan dia memasuki ruangan itu dengan secangkir kopi di tangan. Dia melenggangkan kakinya agar pinggul dan pantatnya ikut bergoyang.

"Ah, Mas sudah datang. Kuat sekali feeling-ku. Aku membuat kopi karena merasa kamu sebentar lagi datang." Ucapnya disertai ******* agar Prasetya tergoda.

Prasetya mendongak dan terkejut melihat penampilan sekretarisnya itu. Pakaian yang super ketat, lipstik dengan warna merah menyala serta rambut berwarna burgundi.

Una mendekati atasannya, menaruh kopi di meja dengan sebelah tangan membelai punggung Prasetya. "Diminum dulu kopinya, Mas.."

Prasetya menyeruput kopi itu sedikit.

"Mas, akhir pekan ini kita menginap di puncak ya? Akhir pekan kemarin kan ga jadi." rayu Una dengan manja.

"Lihat kondisi nanti."

Una cemberut mendengar jawaban Prasetya. Dia lalu keluar dari ruangan Prasetya.

🌹🌹🌹

PULANG ke rumah Prasetya disuguhkan dengan pemandangan yang menyegarkan matanya. Istrinya sedang bermain bersama kedua anaknya di teras dengan penuh tawa. Dan lihat apa yang dikenakan istrinya..

Dress selutut tanpa lengan dengan belahan dada yang sedikit rendah memperlihatkan bagian atas dadanya yang mulus, serta rambut panjang bergelombangnya dibiarkan terurai.

"Asik sekali mainnya.." Ucap Prasetya menyapa keluarganya

"Tuh, Papa sudah pulang." tunjuk Ana.

Arzetta langsung mengulurkan tangannya pada sang ayah, tapi berbeda dengan Arzanka. Balita 3 tahun itu langsung memeluk Ana dengan erat sembari menyembunyikan wajahnya diceruk leher Ana.

Prasetya sedih melihat sambutan putranya yang masih ketakutan padanya.

"Kak, Papa pulang sore loh. Katanya Kakak ingin jalan-jalan..: Ana berusaha membujuk putranya.

Prasetya tersenyum lebar. "Kakak ingin jalan-ja---"

"Enggak sama Papa!" Tolak Arzanka sebelum Prasetya menyelesaikan ucapannya.

Prasetya hendak berucap lagi tapi Ana menyuruhnya diam.

"Kak, kenapa ga mau sama Papa. Papa ingin ngajak Kakak dan Adik jalan-jalan, mau kan?" bujuk Ana.

"Enggak mau."

"Kenapa, Sayang? Dulu Kakak katanya ingin main sama Papa, kenapa sekarang ga mau?"

"Papa sekalang nakal, malah-malah telus."

Prasetya mendekati Arzanka yang berada di pelukan Ana. Dibelainya rambut hitam putranya. "Maafin Papa, Kak. Papa janji ga akan marah-marah sama Kakak lagi. Kakak mau kan, main sama Papa lagi?"

Prasetya menghela napas dalam. "Kakak mau kan, maafin Papa?"

Bocah 3 tahun itu mengangkat wajahnya, menoleh agar bisa melihat laki-laki yang berstatus sebagai ayah kandungnya. Prasetya mengangguk untuk meyakinkan.

"Papa ga nakal lagi?" Prasetya menggeleng. "Ga malah-malah lagi?"

Kembali Prasetya menggeleng. "Papa janji!"

Arzanka menatap Ana meminta pendapat dan Ana mengangguk, mengerti arti tatapan putranya. Arzanka menoleh lagi melihat Papanya. Prasetya mengulurkan tangannya, berharap putranya berpindah ke pelukannya.

Arzanka mendekati Prasetya. Balita 3 tahun itu kini berada di pangkuan Prasetya. Prasetya memeluk dan mencium putranya berulang kali.

Ana menatap haru, hampir saja air matanya terjatuh melihat suami dan anak laki-lakinya berpelukan. Dia berharap, Prasetya juga mau memeluknya. Belakangan ini laki-laki itu sudah tak berkata kasar lagi padanya, tapi laki-laki itu juga belum menyentuhnya lagi.

Merindukan belaian? Tentu saja. Ana sudah beberapa bulan terakhir tidak mendapatkan nafkah batin dari sang suami. Lalu, apakah suaminya tidak membutuhkan pelepasan? Apakah seorang laki-laki mampu bertahan selama itu? Sekelebat bayangan melintas dipikiran Ana.

Bagaimana jika suaminya melakukannya bersama wanita lain? Bagaimana jika hubungan suaminya dan sekretarisnya sudah sejauh itu? Bagaimana jika suatu hari nanti wanita idaman lain suaminya meminta pertanggungjawaban? Bagaimana jika suaminya lebih memilih wanita itu dari pada dirinya? Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?!

"An, kenapa melamun? Ayo masuk."

Ana dikejutkan oleh sentuhan di bahu kirinya. Ana berjengit dan membuang napas kasar saat mengetahui siapa yang menyadarkannya dari pemikiran-pemikiran yang menakutkannya. Napas Ana memburu saat membayangkan semuanya.

"Ada apa?" Tanya Prasetya yang masih menggendong Arzetta dan menurunkan Arzanka sejenak. "Apa yang kamu pikirkan? Aku memanggilmu berkali-kali."

"Ah, tidak, tidak apa-apa, Mas. Maaf."

Ana mengambil tas kerja Prasetya yang tergeletak di teras lalu masuk. Ana memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya. Tidak, aku tidak boleh menyerah dan kalah dari wanita itu. Aku akan melakulan apa pun untuk mempertahankan rumah tanggaku, suamiku. Benar kata Deby, aku harus menggoda Mas Pras jika aku tidak ingin kehilangan dia. Dia saja yang hanya kekasih gelap suamiku tidak tahu malu menggoda suami orang, kenapa aku harus malu menggoda suamiku?

Ana mengikuti langkah Prasetya memasuki rumah. Dia menaruh tas kerja Prasetya di ruang kerja sang suami. Dia melihat suami dan anak-anaknya duduk bersama menonton televisi.

"Papa mau mandi dulu, Kakak dan Adik nonton televisi dulu ya.." Prasetya masuk kamar.

Ana ikut masuk ke kamar, hanya untuk menanyakan, "mau kubuatkan kopi, Mas?"

Ana memberanikan diri membuka kancing kemeja Prasetya dengan tatapan yang menggoda, dan itu sanggup membuat Prasetya menegang. Ana membelai dada sang suami yang masih tertutup kemeja.

"Ada apa, An?" suara Prasetya rendah dan terdengar,,, bergairah?

"Tidak apa-apa, Mas... Aku hanya merindukan saat-saat seperti ini." Apakah aku sudah cukup genit?

Ana masih membelai dada suaminya dengan gerakan sensual, berusaha mengalirkan godaan dan rayuan dalam setiap gerak tangannya. Matanyya menatap penuh damba dan harap pada sang suami.

Prasetya semakin tegang, dia berusaha bertahan dari godaan istrinya, tapi dia tak sanggup. Tangannya bergerak membelai rambut panjang wanita di depannya, dan lama kelamaan tangan itu menekan kepala istrinya agar lebih dekat, lebih dekat, dan akhirnya mereka menyalurkan hasrat untuk melembabkan bibir mereka yang kering bahkan mingkin sudah pecah-pecah.

Mereka saling berlomba untuk memenuhi kebutuhan mereka yang merasakan dahaga, karena entah sudah berapa purnama bibir mereka tak mendapatkan nutrisi. Hingga suara tangisan si kecil menyadarkan mereka.

Ana segera menghentikan kegiatan mereka, mengatur napasnya yang tersengal sebelum keluar kamar. "Arzetta menangis..."

Prasetya harus rela melepaskan istrinya untuk anak-anaknya. Dadanya bergemuruh, berdebar dan bergetar. Aku merasakannya lagi, padamu... Dan mungkin,,, hanya padamu...

Cirebon, 3 Maret 2022

Terpopuler

Comments

Vivi Bidadari

Vivi Bidadari

Namanya aja pelakor ya begitu lah kelakuannya yg tak tau mau mau lebih diprioritaskan lebih dari istrinya

2023-02-14

0

Riena El Fairuz

Riena El Fairuz

pelakor itu tidak tahu diri ya

2022-03-10

2

Nila Suteja

Nila Suteja

hadir kak... semangat up ya kak 😍

2022-03-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!