PRAS menarik Ana masuk setelah Niko benar-benar pergi. Dia menghempaskan tubuh Ana ke sofa ruang tamu dengan kasar, lalu dia tutup pintu.
Ana berusaha mendekati suaminya, mencoba menyentuh lengan suaminya, tapi langsung ditepis oleh laki-laki itu.
"Aku tidak sudi kamu sentuh!" Hardik Pras.
"Mas, tolong kecilkan suara kamu, anak-anak sedang tidur. Aku tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, Mas." Ana berusaha menjelaskan pada Pras dengan pelan-pelan, tidak mau terbawa emosi.
"Tidak melakukan apa!? Buktinya sudah jelas kamu duduk berdua dengan laki-laki tidak tahu diri itu!?"
"Kami hanya mengobrol, Mas."
"Dia sering datang ke sini, hah!? Jawab, An!?" Pras merasa sangat emosi. Dia tidak suka melihat Ana-nya bersama dengan laki-laki lain, ataukah dia ,,, cemburu?
"Lima hari terakhir, Mas." Jawab Ana pelan.
"Jadi kamu berselingkuh di belakangku selama lima hari terakhir, begitu!?"
Ana menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Aku tidak berselingkuh!"
"Kalau tidak berselingkuh lalu apa!?"
"Tolong percaya padaku, Mas. Aku bersumpah demi Tuhan, Aku tidak--"
"Jangan pernah membawa nama Tuhan dalam perbuatan dosamu!" tukas Pras tajam. "Atau,,, kamu ingin membalas perbuatanku! Begitu!?"
"Tapi aku benar-benar tidak melakukan itu, Mas. Aku sama sekali tidak ada niat untuk melakukan hal yang sama denganmu! Kumohon percaya padaku, Mas." Ana mulai meneteskan air matanya.
"Jika kamu tidak sedang membalasku, lalu apa yang kamu lakukan sekarang, hah!?"
"Aku sudah menyuruhnya pergi, Mas. Aku terpaksa menerima ajakannya mengobrol di luar, asalkan dia tidak masuk rumah."
"Selama lima hari, kamu tidak melakukan apa pun!? Bodoh jika aku percaya padamu!"
"Tapi kami memang tidak melakukan apapun, Mas. Aku bahkan tidak pernah mengijinkan dia masuk ke rumah kita, kami selalu di teras jika akan berbicara."
"Bulshit!!"
Pras berjalan ke luar, Ana pun langsung mengejarnya.
"Mau ke mana kamu, Mas?" Tanya Ana yang terus mengekori langkah suaminya.
"Bukan urusan kamu!"
"Mas, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan pergi, Mas. Kumohon... Bagaimana jika Arzanka menanyakanmu?"
"Katakan saja jika aku sedang berselingkuh!"
"Mas!" Seru Ana berusaha menahan pintu mobil suaminya yang hendak ditutup.
Pras mendorong tubuh Ana hingga terjerembab di paving block halaman rumah mereka. Pras langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah, tidak mempedulikan teriakan istrinya yang mulai terisak.
Ana berdiri lalu membersihkan pasir yang menempel di lengan dan lututnya, ada luka gores yang sedikit mengeluarkan darah di siku kirinya. Dengan masih terisak, Ana masuk rumah. Dia mengabaikan sakit di siku dan lututnya karena hatinya jauh lebih sakit karena dituduh selingkuh oleh suaminya.
🌹🌹🌹
ANA terbangun dengan badan yang terasa sakit dan kaku. Dia membuka mata, mengedarkan pandangannya dan baru menyadari jika dirinya tertidur di sofa depan televisi. Ana baru ingat, dia duduk di sofa itu menunggu suaminya yang mungkin pulang larut malam.
Ana berjalan menuju kamarnya, dia melihat si kecil masih tidur di boks bayi dan,,, suaminya tidak ada di ranjangnya. Ana mendesah pelan. Dimana kamu, Mas? Kenapa kamu tidak pulang?
Ana ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandinya. Dirabanya pipi dan bibirnya, masih bagus belum ada keriput. Apa kamu akan pulang ke rumahnya, Mas?
Setelah membersihkan diri, Ana membereskan rumah. Panggilan si kecil menyadarkan Ana dari lamunannya karena pertengkaran semalam dengan suaminya. Ana langsung mengangkat si kecil dari tempat tidurnya. Tak lama si sulung pun ikut bangun.
Ana memandikan dan mendandani keduanya lalu sarapan.
"Papa mana, Ma?" Tanya Arzanka.
"Mmm,,, Papa,,, sudah berangkat, Kak. Pagi-pagi." Maaf, Sayang. Mama bohong padamu.
"Papa kok ga nunggu aku belangkatnya." keluh Arzanka.
"Maafin Papa ya, Kak. Papa buru-buru."
Mereka pun sarapan hanya bertiga. Ana melamun kembali saat anak-anaknya asik bermain. Dia takut, jika suami yang baru saja kembali ke pelukannya itu akan berpindah lagi ke pelukan wanita lain. Dia tidak ingin rumah tangganya hancur berantakan. Dia tidak ingin kejiwaan putranya kembali seperti beberapa wakti lalu.
Apakah aku harus menggoda Mas Pras lagi? Apa kali ini aku harus lebih berani dan genit seperti kata Deby?
Ana mendesah panjang. Apakah dia sanggup melakukannya? Yang kemarin saja, yang tidak terlalu genit, cukup menguras keberaniannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Lalu jika harus lebih genit, apakah aku sanggup?
Pras tidak pulang semalam. Pemikiran buruk selalu berkelebatan di kepala cantiknya, menggoda Ana untuk berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya.
Apa Mas Pras kembali bersama wanita itu? Apa Mas Pras bermalam di rumah wanita itu? Apa Mas Pras tidur di ranjang wanita itu?
Ana menggeleng keras, berusaha menepis pikiran buruk tentang suaminya. Tidak! Aku harus percaya jika Mas Pras tidak kembali pada wanita itu.
Ana terus mensugesti dirinya agar tidak berpikiran buruk terhadap suaminya sendiri. Ana harus tetap berpikir positif tentang suaminya, setidaknya untuk buah hatinya.
"Mama kenapa melamun telus? Tadi Mama geleng-geleng." Tanya putranya yang ternyata sedari tadi memperhatikannya.
"Tidak, Sayang. Mama tidak apa-apa." Ana berusaha tersenyum di hadapan kedua anaknya.
Ana memutuskan bermain dengan kedua buah hatinya dari pada terus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Menjelang sore, Ibu mertua Ana datang ke rumahnya dengan terisak. Ana sempat bingung, apa yang terjadi pada mertuanya itu?
"Ana..." Panggil mertuanya dengan berurai air mata.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama nangis?" Tanya Ana membimbing ibu mertuanya masuk dan duduk di sofa.
"Oma kenapa?" Tanya Arzanka.
"Oma tidak apa-apa, Kak. Kakak ajak adek main di kamar aja ya, Sayang."
Arzanka pun mengangguk, dia menuntun adiknya yang baru 2 bulan lalu bisa berjalan masuk ke kamarnya. Kini, hanya ada Ana dan Ibu mertuanya. Ana mengambilakan air putih untuk Bu Lili.
"Minum dulu, Ma. Biar tenang." Ana memberikan air putih itu.
Bu Lili meminum air itu beberapa teguk.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis?" Tanya Ana pelan.
"Papa, An." Kembali wanita itu menangis
"Ada apa dengan Papa? Apa Papa sakit?"
"Papa,,, Papa selingkuh, An." Kembali Bu Lili menangis.
Ana diam sejenak, dia sedang mencerna apa yang barusan dikatakan Ibu mertuanya. Ana tidak percaya pada apa yang didengarnya. Selama ini, Ibu mertuanya selalu mengatakan jika hubungannya dan suami masih harmonis. Dia selalu menyindir penampilan Ana dulu hingga membuat Pras berpaling darinya.
"Mungkin Mama salah, Ma."
"Mama melihatnya sendiri, An! Dia merangkul bahu wanita itu mesra." Sanggah Bu Lili.
"Mungkin saja, hubungan Papa dan wanita itu ha--"
"Papa mencium kening wanita itu!" seru Bu Lili memotong ucapan Ana.
Ana menarik napas dalam. "Itulah yang aku rasakan dulu, Ma. Saat Mas Pras memiliki wanita lain di luar rumah, dan Mama juga malah ikut memojokkanku."
"Jadi kamu mau membalikkan ini pada Mama!"
"Bukan seperti itu, Ma. Tapi tepatnya, kita tidak boleh menyudutkan apalagi mencibir sesama wanita jika seorang wanita sedang mengalami kekeruhan dalam hubungan rumah tangganya."
**Cirebon, 9 Maret 2022
Baca juga karya teman Emak yaa dijamin ceritanya bagus dan menarik. Sok atuh kepoin 👇**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments