Tampil Cantik

ANA sudah meninggalkan kebiasaan lamanya yang suka mencepol rambut. Kini dia hanya menjepit rambutnya ke belakang saat mengerjakan pekerjaan rumah. Dia juga selalu memakai kosmetik dan parfum untuk menyempurnakan penampilannya. Mengistirahatkan busana kebangsaan para emak-emak jika suaminya berada di rumah juga menjadi taktiknya untuk merebut kembali perhatian suaminya.

Prasetya kembali dibuat terpesona pada wanita 27 tahun itu. Wanita itu memasak dan menanggapi setiap pertanyaan si sulung dengan cekatan dan sabar, sementara si kecil berada di pangkuannya yang awalnya digendong Ana sembari wanita itu membuat sarapan.

"Kakak mainan sama Papa aja yuk, jangan ganggu Mama masak." ajak Prasetya pada si sulung.

Bukan luapan kegembiraan yang ditampilkan putra sulungnya seperti yang diharapkan, melainkan ekspresi ketakutan dan ketegangan yang Prasetya lihat di wajah putranya yang tampak memucat dan kaku.

Ana yang sedang membuat nasi goreng tersenyum mendengar ajakan suaminya pada putra mereka. Tapi senyum itu memudar saat dia melihat wajah putranya yang pucat dan kaku. Ana berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan sang putra.

"Ada apa, Sayang?" Tanya Ana lembut seraya membelai lembut puncak kepala balita itu.

"Mama.." Balita 3 tahun itu memeluk Ana erat.

"Ga apa-apa, Sayang. Papa ingin main sama Kakak." Ana menggendong tubuh mungil putranya yang masih menyembunyikan wajah di ceruk leher Ana. Dia kembali melanjutkan masak sembari menggendong si sulung.

Prasetya merasakan udara disekitarnya menyusut, ruangan pun terasa mengerucut. Apa ini dampak dari sikapku? Maafkan Papa, Nak..

Prasetya melangkahkan kakinya mendekati Ana, dia ingin mendapatkan kembali cinta putranya. "Kak, ayo sama Papa."

Tanpa menoleh, Arzanka menggeleng dalam pelukan Ana.

"Kak... Papa minta maaf." Ucapnya penuh sesal tapi balita itu tetap tidak mau melihatnya.

Ana mematikan kompor lalu berbalik. "Biarkan Arzanka tenang dulu, Mas."

Prasetya membelai rambut putranya. Tapi seakan tahu, dia menepis tangan sang ayah yang berada di kepalanya. Prasetya menarik napas dalam dengan rahang mengeras.

Untuk mengurangi ketegangan, Ana segera menyajikan nasi goreng yang barusan dimasaknya serta telor ceplok untuk segera disantap selagi hangat. "Sarapan dulu, Mas. Sebentar lagi kamu berangkat, kan? Nanti terlambat."

Mereka sudah duduk mengelilingi meja makan, Arzanka masih berada dipelukan Ana dengan wajah menghadap dada Ana, sementara Arzetta di pangkuan Prasetya.

"Kak, sarapan dulu yuk." ajak Ana, tapi balita itu menggeleng tanpa menoleh. "Kamu bisa sakit, Sayang. Mama ga mau kamu sakit."

"Nanti Papa pelgi."

Prasetya merasa kesulitan menelan makanannya setelah mendengar ucapan putranya. Ana menatap suaminya sendu. Dia tahu, pasti Prasetya baru menyadari dampak dari sikapnya akhir-akhir ini.

"Sudah siang, Mas. Kamu harus ke kantor."

Ana mengambil si kecil dari pangkuan suaminya. Sebelum masuk mobil, Prasetya kembali menoleh untuk melihat putranya yang masih dalam gendongan Ana. Wanita itu menggendong kedua buah hatinya.

"Papa kerja dulu. Tapi janji, Kakak harus makan."

Ingin sekali Prasetya mengusap dan mencium rambut putranya. Tapi penolakan balita itu beberapa saat lalu membuatnya mengurungkan niat.

"Papa sudah berangkat. Yuk makan."

Arzanka turun dari gendongan Ana. Setelah selesai makan, Ana mulai mengajak bicara putranya. "Kakak kenapa?"

"Takut Papa."

"Kenapa takut, Sayang?"

"Papa nakal. Jahat." Jawab balita itu polos.

🌹🌹🌹

SEPANJANG perjalanan ke kantor hingga sampai, Prasetya selalu merenung tentang putranya. Dia merasa sangat bersalah pada balita 3 tahun itu. Karena terlalu memikirkan putranya, dia mengacuhkan sekretarisnya yang menyambut penuh senyuman.

Prasetya memasuki ruangannya. Una kesal karena atasannya itu tidak membalas sapaannya. Dia masuk ke ruangan Prasetya, dilihatnya pria itu sedang melamun di kursi kebesarannya.

"Kok diam saja, Pak?" Tanya Una.

Prasetya tidak menjawab, dia masih fokus memikirkan anaknya. Una kesal melihat atasan sekaligus kekasihnya itu mengacuhkannya.

"Mas..." Una merajuk.

"Aku lagi pusing memikirkan anakku!" Sentak Prasetya.

"Memikirkan anak atau ibu dari anak itu?" Tanya Una ketus.

"Anak." Dan Ana, dia berbeda. Berubah. "Arzanka ketakutan padaku hingga wajahnya memucat." Prasetya mendesah frustasi.

"Ya udah biarkan saja, namanya juga anak-anak."

"Dia anakku! Dan dia seperti itu karena aku!"

"Kok kamu marah sama aku sih! Harusnya kamu marah-marahnya sama Ana! Ini berawal dari dia, jadi semua kesalahan dia!" Hasut Una.

Prasetya diam, dia sedikit setuju dengan jalan pikiran Una. Semua gara-gara Ana!

Saat makan siang, Una kembali menghasut Prasetya agar pria itu tidak merasa bersalah atas perubahan Arzanka dan menumpahkan kesalahan pada Ana. Una mengajak Prasetya ke puncak akhir pekan ini dan pria itu mengiyakan begitu saja.

🌹🌹🌹

PRASETYA pulang saat hari sudah larut malam. Dia memasuki rumah dan disambut oleh Ana yang menutupi tubuhnya dengan kimono tidur.

"Lembur lagi?" Tanya Ana pelan.

"Sudah tau jadi tidak perlu bertanya." Jawab Prasetya dingin.

"Kita harus bicara, Mas."

"Aku ---"

"Ini tentang Arzanka!" potong Ana tegas. Ana tidak ingin perhatian suaminya untuk anak-anaknya direnggut oleh wanita tidak tahu diri itu.

"Jangan menjadikan Arzanka sebagai alasan." desis Prasetya tajam.

"Aku tidak menggunakan Arzanka sebagai alasan! Tapi dia melihatmu seperti melihat monster! Apa kamu tidak merasa sedih? Anakmu sendiri melihatmu dengan wajah pucat penuh ketakutan! Kamu sudah menjadi ayah paling menyedihkan di dunia, Mas! Ayah yang mungkin tidak diinginkan oleh anaknya sendiri!"

Entah mendapatkan kekuatan dari mana sehingga Ana mampu menghujat suaminya sendiri. Dia tidak rela jika anak-anaknya diabaikan oleh suaminya karena wanita itu! Dia juga tidak rela jika posisinya digantikan oleh wanita itu. Aku masih mencintaimu, Mas.

"Ini yang aku takutkan saat kau membentak Arzanka, Mas. Aku selalu mengatakan jika itu akan merusak psikisnya, dan sekarang terjadi. Dia ketakutan melihatmu, hingga dia tidak ingin melihatmu."

Pasetya diam tak membalas perkataan Ana, dia melangkah linglung memasuki kamarnya. Perkataan Ana membuatnya sangat tertohok, bayangan wajah pucat putranya tadi pagi kembali berkelebat dimatanya. Apa Arzanka tidak menginginkanku? Apa dia membenciku? Apa aku sudah melakukan kesalahan besar?

Prasetya tidak bisa memejamkan matanya. Raut ketakutan putranya dan perkataan Ana terus menghantui pikirannya. Dia melihat istrinya sudah pulas dengan tali linggeri yang merosot hingga memperlihatkan bahu wanita itu yang masih mulus. Dia menatap lekat wajah lelap penuh damai itu.

Prasetya memilih keluar kamar dan memasuki kamar putranya. Arzanka terlihat tenang. Dibelainya lembut rambut balita 3 tahun itu. Maafkan Papa, Nak..

🌹🌹🌹

PRASETYA berusaha meraih kepercayaan putranya lagi. Dia tidak ingin menjadi ayah yang paling menyedihkan. Akhirnya dia memutuskan untuk di rumah akhir pekan ini. Apalagi sekarang Ana juga sudah tampil cantik, tidak seperti asisten rumah tangga lagi.

Setelah sarapan, Prasetya mengajak si kecil bermain sementara si sulung terus saja menempel pada Ana. Balita 3 tahun itu selalu memegangi pakaian yang Ana kenakan dan menolak ajakannya.

"Kak, kita jalan pagi yuk." Ajak Prasetya.

Bukannya menjawab, balita itu malah bersembunyi di belakang Ana. Hati Prasetya kembali teriris oleh pisau tak kasat mata.

"Papa ngajak jalan pagi. Yuk kita pergi. Ini hari minggu loh kak, banyak anak-anak bermain di taman komplek. Dodi juga biasanya ke sana." Ana membujuk putranya.

"Gak mau." Jawab Arzanka pelan tapi Prasetya bisa mendengar.

"Kenapa, Sayang?"

"Ada Papa."

DEGG!!

Prasetya merasa mendapat pukulan telak dari seorang petinju kelas dunia, atau mungkin lebih dari itu. PUTRANYA TIDAK MENGINGINKANNYA!

Ponsel Prastya berdering. Dia terlihat kesal saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia langsung mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya.

Dan keesokan harinya Prasetya bertengkar dengan Una karena pria itu membatalkan janji kencan ke puncak secara sepihak. Una yang terus merongrong membuatnya terkadang membandingkan wanita itu dengan istrinya.

🌹🌹🌹

BERHARI-HARI Prasetya berusaha meraih cinta putranya. Di sisi lain, Ana menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan perhatian suaminya lagi. Prasetya menyadari perubahan istrinya yang kini tampil sangat cantik.

Sejujurnya, Prasetya tergoda melihat istrinya yang semakin mempesona, tapi egonya mengalahkan ketertarikannya.

Di sisi lain lagi, Una mulai curiga dengan sikap Prasetya yang acuh padanya. Dia pun menyelidiki pria itu hingga ke rumahnya. Dia melihat pamandangan di seberang sana dengan raut marah.

Jadi kamu mangacuhkanku karena istrimu sudah cantik, Mas? Lihat saja Ana, aku pasti akan mendapatkan suamimu!

**Cirebon, 3 Maret 2022

Promo lagi, promo terus... Jangan bosan yaa baca karya picisanku yang lain juga ya kakak-kakak... 😘😘😘**

Terpopuler

Comments

Lee

Lee

dccil dlu kka..
semangatt..

2022-03-05

0

~🌹eveliniq🌹~

~🌹eveliniq🌹~

harus tuh tampil cantik ..biar byk yg ngelirik termasuk mantan hehe

2022-03-05

0

Nonny

Nonny

ana kamu pasti bisa

2022-03-04

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!