Sudah hampir tiga bulan Adira meninggalkan rumah besar Revanga, Revan juga sudah tidak mencari Adira lagi, dia berpikir mungkin Adira sudah mati bunuh diri karena dia depresi. Kehidupan Revan begitu tenang setelah Adira pergi, dia hidup bahagia dengan istri keduanya, dia juga telah di karuniai anak kembali dari istri keduanya, maka dari itu Revan begitu memanjakan Maudy, begitu juga dengan Tamara, dia begitu antusias saat mendengar Maudy tengah berbadan dua, baginya ini adalah cucu pertamanya. Tamara juga kini mempekerjakan kembali beberapa pelayan seperti dulu sebelum Adira hadir di kelurga Revanga.
"Jaga kandungan mu baik-baik ya, Maudy. Jangan sampai kamu kecapean."ucap Tamara dengan bahagia.
"Bener tuh Maudy, kamu juga harus banyak makan makanan yang bergizi, supaya bayi mu sehat."timpal Renata.
"Iya, bu, Mbak. Aku akan menjaga anak ini dengan baik."ujar Maudy.
"Harus dong, itu kan cucu pertama ibu."ucap Tamara.
"Kamu juga harus banyak istirahat sayang dan juga jangan terlalu banyak pikiran."Revan mengelus sayang kepala Maudy.
"Iya, Mas."
*************
Di tempat lain.
Adira kini terlihat sangat berbeda, dia sekarang sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan juga elegan. Kulit kusam dan juga berjerawatnya kini tidak ada lagi, yang ada hanya kulit putih bersih dan juga mulus. Tubuhnya juga begitu indah di pandang, tubuh yang dulu kurus dan bergelambir itu kini sudah menjadi padat dan berisi.
Adira begitu senang melihat penampakan dirinya di cermin, dia begitu pangling bahkan nyaris tidak di kenali.
Adira sangat bersukur atas perubahannya saat ini, itu semua berkat bantuan Aderald dan juga Mira, mereka berdua telah membantu Adira berubah total dalam waktu tiga bulan ini, mereka juga tidak pernah bosan untuk selalu menyemangati nya, mereka dengan sabar mengajarkan Adira banyak hal, dari mulai hal kecil sampai ke dunia bisnis. Karna rencananya Adira akan terjun ke dunia bisnis, dia akan memimpin salah satu kantor cabang milik Aderald, itu juga untuk menyempurnakan aksi balas dendam nya, karna di situlah awal mula pertemuan nya kembali dengan Revan. Aderald sudah mengatur pertemuan itu, dia menjadikan Revan sebagai rekan bisnisnya dan mereka akan bekerja sama, otomatis akan ada pertemuan antara Revanga Group dan juga Laleigh Company, kemudian Aderald akan mengutus Adira untuk menghadiri pertemuan itu.
"Apa kamu siap bertemu kembali dengan nya?"tanya Aderald, kini mereka berdua sedang berada di taman belakang Mansion.
"Siap tidak siap, tapi aku harus siap. Supaya perjuangan ku selama ini tidak sia-sia."Jawab Adira.
"Apa kamu akan kembali padanya? secara kan kalian belum berpisah, kalian masih sah sebagai pasangan suami istri."ujar Aderald.
"Aku tidak mungkin jatuh kembali ke lubang yang sama, setelah tujuan utama ku berhasil, aku akan segera berpisah darinya."ucap Adira yakin.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Rasa itu sudah lama tergantikan oleh rasa benci, rasa benci ku lebih besar daripada rasa cinta ku, aku tidak mungkin terus mencintai orang yang telah membuat aku dan juga kedua anaku menderita sampai mereka meregang nyawa."Adira berucap dengan berkaca-kaca karna dia teringat kembali pada kedua anaknya.
"Apa kamu merindukan mereka?"tanya Aderald.
"Sangat, aku sangat merindukan mereka."Jawab Adira lirih.
"Kalau begitu ayok kita kunjungi makam mereka."Ajak Aderald.
"Kamu serius?"
"Ya, aku sangat serius, ayok berangkat."
"Ah, terimakasih Derald, kau selalu baik kepadaku dan juga selalu mengerti diriku."Adira begitu bahagia sampai dia tidak sadar bahwa dia telah memeluk tubuh kekar Aderald.
"Em, maaf."ucap Adira yang telah sadar dengan apa yang dirinya lakukan.
"Tidak papa, kau bebas memeluku jika kau suka."Aderald tersenyum tipis.
"Tidak mau, nanti kekasih mu akan marah padaku."cebik Adira.
"Sudah ku bilang, aku tidak mempunyai kekasih dan juga tidak pernah punya."ucap Aderald penuh penekanan.
"Iya, iya. Kau kan jomblo."cibir Adira sembari berlari kearah mobil Aderald.
"Awas kau, ya."Aderald pura-pura kesal.
"Wle, ayok tangkap aku."Adira malah meledek Aderald dengan menjulurkan lidahnya kemudian dia berlari dengan begitu terbirit.
"Lihat saja aku akan menangkap mu."kaki jenjang Aderald mulai menyusul Adira yang tengah berlari.
Cukup lama mereka bermain kejar-kejaran sehingga Aderald berhasil menangkap Adira dengan memeluknya dari belakang.
Deg,
Jantung Aderal berdetak dengan begitu kencang ketika dirinya memeluk Adira.
"Ada apa dengan jantung ku? tidak biasanya seperti ini."batin Aderald.
"Kamu kenapa?"Adira membalikan tubuhnya sehingha menghadap Aderald, dia menatap lekat netra biru Aderald yang sedang melamun.
"Hey, kamu tidak papa kan?"Adira menggoyangkan tangan Aderald.
"Ah, aku tidak papa, ya tidak papa. Ayok kita berangkat keburu panas."Aderald langsung saja masuk kedalam mobilnya lalu di susul oleh Adira.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Aderald pun melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana kedua anak Adira di makam kan. Di tengah perjalanan Aderald merasa canggung, bahkan dia sampai tidak mengeluarkan suara dia hanya diam saja sembari fokus ke jalanan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di pemakaman umum, mereka langsung saja masuk, sebelumnya mereka telah membeli bunga terlebih dahulu.
"Hay Boy, hay Prinses, Mamah datang kembali menjenguk kalian."ucap Adira sembari berjongkok.
"Kalian apa kabar? kalian pasti sudah bahagia ya di surga sana. Abang Mamah udah nepatin janji Mamah kepada abang, sekarang Mamah tidak menangis lagi, sekarang Mamah sudah bisa tersenyum saat mengunjungi kalian."Adira berusaha tersenyum walau hatinya masih terasa perih.
"Ucapan abang benar, kini Mamah sudah punya seseorang yang menjaga Mamah sebagai pengganti abang. Kenalin namanya om Derald."sambungnya sembari melirik Aderald sekilas.
"Hay putra-putrinya Mamah Adira yang cantik dan juga tampan, kenalin nama om Aderald, om janji pada kalian, om akan menjaga Mamah kalian dengan baik. Jadi kalian tenang ya di surga sana, jangan menghawatirkan Mamah kalian lagi, karna sudah ada om yang akan menjaganya."ucap Aderald sembari mengusap kedua nisan itu secara bergantian.
Cukup lama mereka berada di pemakaman itu, Adira sangat bahagia karna bisa berkunjung kesana, dia banyak sekali menceritakan hal yang dia alami selama ini kepada kedua anaknya. Dia juga menceritakan tentang kebaikan Aderald dan juga Mira yang selalu membantunya, rencana balas dendam terhadap keluarga Revanga pun tak luput di ceritakan olehnya.
"Ayok kita pulang, kamu harus mempersiapkan diri untuk mulai berkecimplung di dunia bisnis besok."Ajak Revan.
"Ah, iya. Besok kan aku sudah mulai masuk kantor."ucap Adira.
"Iya, dunia mu yang baru akan segera di mulai esok."Aderald menatap lembut manik mata indah Adira.
"Tunggulah para manusia biadab, pembalasan ku akan segera di mulai."ucap Adira menyeringai.
Memang Adira sudah menguasai beberapa ilmu beladiri dan juga senjata, dia sangat cepat sekali tanggap, jadi dengan beberapa bulan dia sudah menguasai beladiri dan juga berbagai jenis senjata. Itu semua dia lakukan dengan bimbingan Aderald tentunya.
"Tunggulah kehancuran mu Revan, Adira yang baru akan segera kembali untuk menuntut balas padamu dan juga keluargamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Semoga Revan meroyan gila talak,,Adira balas semua perilaku mereka semua ke kamu,biar tau rasa mereka terutama Maudy,,,
2023-01-02
0
Dyah Shinta
Kayaknya kalau bergelambir ga mungkin deh thor... secara semua pekerjaan rumah tangga Adira yang kerjakan. Ototnya pasti kenceng semua tuh...
2022-11-03
0
Anonymous
ini cerita mafia tp kok lebay dan garing gini
2022-05-15
1