Di usir dari kamar

Happy reading💕💕💕

Setelah kedua anaknya berangkat sekolah, Dira pun langsung saja bergegas untuk membereskan kamarnya yang bak kapal pecah itu. Sakit? tentu saja, siapa yang tidak sakit ketika harus membereskan bekas percintaan suami sendiri dengan wanita lain.

"Sudah rapih dan juga wangi, tiada lagi bau menyengat bekas percintaan mereka. Sekarang tinggal mandi."ucap Adira kemudian dia berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi.

Kini Adira sudah terlihat lebih segar, tidak sepucat tadi. Seperti biasa Dira berpenampilan sangat sederhana sangat jauh dari kata mewah, tapi kali ini meskipun penampilan nya sederhana Dira cukup terlihat cantik apalagi dia mengenakan make up tipis dan tidak terlalu mencolok pada wajahnya.

"DIRAA."teriak Tamara dari luar kamarnya.

"Huff, semoga tidak ada lagi derama yang menyesakan."Dira menghela nafas panjang sebelum dirinya membuka pintu.

Ceklek,

"Ada apa bu?"tanya Dira saat dirinya sudah membuka pintu.

"Ada apa, ada apa. Kamu itu bego apa gimana hah? ini sudah hampir siang kenapa kamu belum masak? kami semua sudah lapar."bentak Tamara.

"Bukannya disini ada calon istrinya Revan, kenapa tidak menyuruhnya saja untuk memasak?"ucap Dira enteng.

"Dia itu tamu disini, bukan pembantu. Kenapa harus menyuruhnya masak?"Tamara menatap tajam Dira dengan mata yang hampir keluar.

"Aku juga menantu disini, bukan pembantu. Kenapa kalian menyuruhku memasak?"balas Dira.

"Karna itu memang tugas kamu, seorang istri itu harus pandai dalam memasak dan juga mengurus rumah."

"Memang, tapi istri yang seperti apa dulu? apakah istri yang tidak di hargai dan selalu di tindas oleh suami dan juga keluarganya harus berbakti kepada orang-orang itu, sehingga dia harus patuh dan juga tunduk seperti seorang pembantu pada majikannya? oh tidak. Sekarang aku tidak mau lagi menjadi babu kalian."Dira berkata dengan lantang sepertinya persakitan membuatnya menjadi lebih berani.

"Dasar wanita tidak tau berterimakasih, beginikah caramu membalas kebaikan kami. Ingat Dira kami telah mengeluarkan mu dari lubang kemiskinan, dan kami juga telah mengangkat derajatmu dengan menjadikan mu menantu keluarga Revanga."marah Tamara sembari berkacak pinggang..

"Berterimakasih pada kalian? aku tidak sudi. Jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak ingin mengenal keluarga ini. Apalagi menjadi menantu dari keluarga iblis seperti kalian. Lebih baik aku miskin seumur hidupku, dan di pandang rendah. Daripada kayak tapi tersiksa, di hormati orang tapi tidak dihargai oleh keluarga suami sendiri."

"Baiklah, jika kau lebih memilih menjadi gembel. Maka sebentar lagi keinginan mu akan terwujud, Revan akan menceraikan mu dan menendang mu jauh-jauh dari keluarga ini."

"Aku akan menunggu saat itu, saat-saat dimana aku akan terbebas dari siksa neraka ini."ucapnya kemudian berbalik lalu masuk kedalam kamarnya.

Brakkk,

Dira membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.

"Dasar menantu sialan, menantu kurang ajar. Mati saja kau."Dira yang sedang berdiri dibalik pintu pun mendengar jelas berbagai umpatan yang keluar dari mulut Tamara.

Seharian ini Dira tidak keluar kamar, dia sangat malas sekali untuk bertemu dengan orang-orang biadab itu. Dira hanya merenung saja seorang diri, dia berpikir tentang masa depannya bagaimana kehidupan dia dan anak-anaknya nanti, karna cepat atau lambat mereka pasti akan ter usir dari rumah ini, apalagi sekarang Revan sudah mempunyai pengganti dirinya.

"Apa aku bisa berjuang seorang diri untuk menghidupi mereka?"lirih Dira sembari memandang lurus kearah jendela kamarnya.

Hari sudah mulai sore, pasti kedua anaknya telah pulang sekolah dan juga les, Dira pun langsung saja bergegas keluar untuk menemui mereka.

"Bagus ya, sudah berasa jadi tuan putri sekarang, sehingga kamu tidak mengerjakan tugas rumah sama sekali. Kau lihat rumah sangat berantakan dan juga kotor, makanan tidak ada. Sadar woy kamu itu hanya menumpang disini, seharusnya kamu itu tau Diri."Dira berpapasan dengan Renata saat dirinya hendak pergi ke kamar kedua anaknya.

"Bukan kah kaliain bilang aku itu tidak becus dalam hal apapun? dan kalian begitu membangga banggakan kekasih Revan yang sangat pandai itu? kenapa kalian tidak menyuruhnya saja untuk melakukan semu tugas ini?"balas Dira dengan air muka yang nampak tidak bersahabat.

"Dia itu calon istri Revan, tidak mungkin kami memperlakukan dia layaknya seorang pembantu. Dia adalah calon nyonya dirumah ini, jadi kami harus memperlakukan nya dengan baik."sengit Renata.

"Dia itu hanya calon, sedangkan aku yang istri sah nya Revan, mengapa kalian perlakukan layaknya seorang pembantu, hah?"marah Dira.

"Karna kau memang pembantu, Revan saja tidak mengakui mu sebagai istri. Jadi cepatlah kau bereskan pekerjaan rumah, dan segera memasak untuk kami."perintah Renata.

"Memasak untuk kalian? aku tidak sudi."ucap Dira sembari berlalu pergi dari hadapan Renata.

"UDIIKK, KURANG AJAR KAMU YA."teriakan Renata begitu menggelegar, tapi Dira tidak peduli, dia santai saja melangkah menuju kamar anaknya.

"Sayang, kalian sudah pulang."sapa Dira pada kedua anaknya yang entah sedang melakukan apa.

"Iya, Mah. Kami juga sudah mandi, kami wangi kan?"ujar Naina.

"Wangi sekali. Mamah senang semakin hari kalian semakin mandiri, tapi jika kalian merasa tidak bisa bilang saja pada Mamah ya."ucap Dira.

"Kami tidak mau merepotkan Mamah, sudah cukup mereka saja yang membuat Mamah lelah, kami ingin meringankan beban Mamah."ujar Abian.

"Terimakasih tuhan, kau telah menitipkan kedua malaikat ini kepadaku."lirih Dira sembari memeluk kedua anaknya.

"Mamah keluar dulu , ya. Mamah mau memasak makan malam untuk kalian."ucap Dira.

"Iya, Mah."

Dira pun melangkah pergi keluar untuk menuju Dapur.

"Dira, kau bereskan semua barang-barang mu dari kamar itu, dan bawa semuanya keluar."perintah Revan saat dirinya berpapasan dengan Dira.

"Loh, kenapa memangnya, Mas?"tanya Dira.

"Karna Maudy akan tidur di kamar itu, dia akan menginap lagi disini. Dan semua barang jelek mu membuatnya tidak nyaman, jadi cepatlah kau bawa semua barangmu."Jawab Revan dingin.

"Kenapa aku yang harus keluar dari kamar itu? aku ini istri sah mu. Sedangkan dia, dia itu hanya orang luar Revan, biarkan saja dia tidur dikamar tamu."ujar Dira.

"Dia itu bukan orang luar, tapi kekasihku calon istriku, kau ingat itu baik-baik. Dan aku juga tidak ingin tidur bersama mu, aku hanya ingin tidur bersama Maudy, jadi cepatlah bawa semua barang jelek mu."Revan mencengkram pergelangan tangan Dira dengan begitu kuat.

"Sayang, sudah belum?"tanya Maudy menghampiri Revan.

"Sudah sayang, wanita ini akan membereskan semua barangnya. Dan kamu akan tidur denganku."Jawab Revan sambil melepas tangan Adira dan langsung merangkul Maudy.

"Terimakasih sayang, kau selalu menuruti keinginan ku."Maudy memeluk mesra Revan.

"Tentu saja, apa pun untukmu."Revan membalas pelukan Maudy.

"Oh, jadi pelakor ini yang menyuruh mu untuk mengusirku dari kamar?"ucap Dira dengan dada yang begitu sesak.

"Jaga ucapan mu itu, dia bukan pelakor, kami bersama karna kami saling mencintai. Lebih baik kau segera bereskan barang mu saja."marah Revan.

Dira pun berlalu pergi meninggalkan dua sejoli itu dengan perasaan hancur, dia berjalan menuju kamarnya dan segera membereskan seluruh barang-barangnya yang ada di kamar itu, lalu memindahkan nya kekamar anaknya.

Jangan lupa tinggalkan jejak😍

Terpopuler

Comments

Puriah

Puriah

goblok banget sih Dira pergi aja bego, bertahan buat apa,,, bikin trauma anak namanya

2023-08-29

0

LeoRani

LeoRani

pasti pen nguliti dia idup²

2022-03-05

1

Novianita

Novianita

baca ceritanya ampe ga napas aku, gedeg bener dah!

2022-03-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!