Happy reading💕💕💕
Seperti biasa pagi-pagi sekali Dira sudah berkutat dengan pekerjaan rumah, lelah? itu pasti karna Dira juga seorang manusia, Dira bukan robot yang tidak mengenal lelah meski bekerja sepanjang waktu.
Tapi kali ini terlihat ada yang berbeda pada Dira, kini Dira terlihat lebih terawat, tidak sedekil biasanya. Dan Dira juga terlihat acuh ketika Tamara dan juga Renata menatapnya sinis, biasanya dia akan langsung menunduk jika di tatap seperti itu.
"Udik, ambilkan ponsel ku di kamar."perintah Renata.
"Pekerjaan ku belum selesai, Mbak bisa ambil sendiri kan? lagi pula Mbak tidak sedang melakukan aktipitas apa pun."ujar Dira.
"Oh, sudah berani melawan ya kamu sekarang?"Renata menghampiri Dira dengan bersidekap dada.
"Memang kenyataannya begitu Mbak, aku sedang sibuk, lihat pekerjaanku masih menumpuk. Sedangkan Mbak hanya ongkang-ongkang kaki saja sedari tadi. Apakah untuk mengambil ponsel harus aku juga?"Dira berucap tanpa rasa takut.
"Aku bebas mau ngapain aja disini, dan aku juga bebas mau menyuruh mu apa pun itu dan juga kapan pun. Kamu ingat tuan rumah disini adalah aku, kamu cuma numpang. Jadi jangan sok berkuasa."ucap Renata sambil mengangkat tangannya.
"Maaf Mbak, aku tidak sok berkuasa disini. Dan aku juga sadar kok bahwa aku hanya menumpang di rumah ini."Dira menahan tangan Renata yang hendak melayang ke pipinya.
"Bagus kalau kamu sadar, jadi kamu harus menuruti apa saja perintah ku."Renata menatap Dira remeh.
"Aku permisi dulu Mbak, pekerjaan di belakang masih banyak."Dira berlalu pergi dari hadapan Renata, dia tidak mau terus berdebat dengan Renata.
Matahari telah besinar begitu terik, membuat Dira yang sedang mengambil jemuran kepanasan. Keringat mulai bercucuran di dahinya matanya juga terasa silau karna pantulan cahaya matahari tepat mengenai wajahnya.
Setelah selesai mengambil jemuran, Dira langsung saja pergi keruang setrika, untuk menyetrika tumpukan kain itu. Cukup lama Dira berkutat dengan setrikaan, hingga satu jam berlalu akhirnya tumpukan kain itu telah selesai di setrika oleh Dira.
"Badan ku terasa sakit semua, dari bangun tidur sampai sekarang pekerjaan belum beres juga. Belum lagi aku harus masak untuk makan siang."gumam Dira sambil meregangkan kedua tangannya.
Dira menatap lurus ke arah jendele yang ada di ruangan itu, Disana ada sebuah taman yang cukup luas. Dulu Dira bersama Revan selalu menghabiskan waktu di sana sebelum mereka di karuniai buah hati, Revan selalu memberikan Dira sebuah kado yang selalu membuat Dira meleleh.
"Aku masih tidak menyangka, Mas. Ternyata semua yang kamu lakukan padaku hanyalah sebuah sandiwara. Padahal aku mencintai mu dengan tulus Mas."Dira mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Sakit? tentu saja hati Dira sangat sakit, bahkan jika hatinya adalah sebuah benda mungkin kini hatinya sudah hancur berkeping-keping. Apalagi di kala malam tiba dan Revan pulang kerumah, dia selalu melihat tanda percintaan di leher putih Revan. Hati Dira berdenyut sakit, sejauh manakah hubungan suaminya dengan wanita itu? pernah sekali Dira menanyakan tentang wanita itu pada Revan, tapi dia malah mendapat tamparan yang begitu keras dari Revan, karna Revan berpikir Dira telah mencampuri urusannya.
Cukup lama Dira merenung di dalam ruangan itu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan pergi ke dapur untuk memasak.
"Dira cuci sepatu saya, tadi saya habis dari luar dan tidak sengaja menginjak kotoran ayam. Kamu cucinya yang bersih jangan sampai kotoran itu masih menempel."Tamara melempar sepatu yang di tentengnya kepada Dira.
"Bu, ini sepatunya kotor. Kenapa di lemparkan padaku?"ucap Dira sembari mengambil sepatu itu dan menaruhnya di lantai.
"Terserah saya dong, mau di lempar kek ditendang kek. Tangan-tangan saya kenapa kamu yang sewot."ujar Tamara sinis.
"Karna ibu melemparkannya padaku, ibu tidak lihat aku ini mau masak? bagaimana jika kotoran itu menempel padaku dan nanti akan terjatuh juga pada makanan yang sedang aku masak."Dira benar-benar sudah jengah dengan kelakuan ibu mertuanya yang selalu saja mencari gara-gara..
"Itu bukan urusan saya, yang penting makanan yang akan kamu hidangkan nanti, harus bersih dan juga enak. Kamu kan bisa mandi dahulu sebelum memasak."ucap Tamara sembari bersidekap dada.
"Jika aku mandi dulu, itu akan membuang waktu bu. Sementara jam makan siang sebentar lagi, dan Mas Revan pasti akan pulang."Jelas Dira.
"Makannya kerjanya jangan lelet."cibir Tamara.
"Bagaimana tidak lelet, jika semua pekerjaan rumah ini semuanya aku yang kerjakan. Aku ini menantu ibu, bu. Bukan pembantu, mengapa ibu membebankan semua ini kepadaku bu?"ucap Dira sembari menatap Tamara.
"Sampai kapan pun, saya tidak akan menganggap mu sebagai menantu. Saya tidak sudi mempunyai menantu seperti mu, bahkan hanya dalam mimpi pun saya enggan, apalagi di dunia nyata? mustahil saya akan menerima wanita seperti mu. Bagi saya kamu hanyalah seorang pembantu, tidak lebih."ujar Tamara penuh penekanan.
"Apa karna aku berasal dari panti? sehingga ibu tidak sudi mempunyai menantu seperti ku?"tanya Dira.
"Ya, dan bukan hanya itu. Saya juga tidak menyukai mu karna kamu itu tidak jelas asal-usulnya, dan juga sangat tidak sepadan dengan keluarga Revanga."Jawab Tamara.
"Kenapa ibu selalu memandang seseorang berdasarkan kasta? bukan kah semua manusia sama saja di mata tuhan?"
"Karna bagi saya kasta dan derajat di atas segalanya. Dan kamu tidak mempunyai semua itu dalam dirimu, jadi jangan pernah berharap jika saya akan menerima mu!"sarkas Tamara lalu pergi meninggalkan Dira.
"Ternyata harta dan tahta di atas segalanya."lirih Dira.
Tak ingin berlarut dengan kesedihan, Dira pun kembali melanjutkan aktipitasnya yaitu memasak. Hari ini dia banyak sekali memasak menu makanan, dari mulai kesukaan Revan hingga anak-anaknya. Tak lupa juga dia membuat masakan kesukaan Tamara dan juga Renata.
"Mamah, kami pulang."teriak Naina menghampiri Dira bersama dengan sang abang Abian.
"Eh, anak-anak Mamah udah pulang, gimana tadi di sekolah nakal tidak?"Dira langsung memeluk kedua anaknya dan mendaratkan kecupan di kening mereka.
"Nai gak nakal kok, Mah."ucap Naina.
"Bagus, kalau abang bagaimana."Dira menatap anak sulungnya.
"Jelas lah, abang mah gak nakal Mah. Kan abang ingin memberikan contoh yang baik untuk adek."ujar Abian.
"Top lah, anak-anak Mamah memang the best."Dira mengacungkan kedua jempolnya.
"Iya dong Mah, anaknya siapa dulu dong?"
"Anak Mamah lah, ya sudah kalau begitu kalian cepat mandi sana, nanti kita makan siang bersama."ujar Dira.
"Asiyaapp, Mah."ucap mereka sembari berlalu pergi dari hadapan Dira.
"Kalian lah penyemangat Mamah, entah lah jika tak ada kalian. Mungkin Mamah tidak akan bertahan sampai sejauh ini."lirih Dira sembari melanjutkan pekerjaannya.
Semua masakan sudah terhidang di meja makan, Dira juga menatanya dengan begitu rapih. Tapi Dira heran mengapa Revan belum juga pulang? biasanya jam segini dia sudah berada di rumah..
"Ambilin dong, Dik. Laper nih."perintah Renata.
"Sekalian punya saya."timpal Tamara.
Dira pun menuruti permintaan mereka, dia mulai mengambil nasi beserta lauk pauknya.
"Mah, kok Papah belum pulang?"tanya Naina karna Revan biasanya selalu pulang jam segini untuk makan siang.
"Mungkin Papah masih sibuk bekerja, sayang."Jawab Dira.
"Bukan sibuk kerja, tapi Revan itu sedang makan siang bersama kekasihnya di luar."ucap Renata menyeringai.
Deg!
"Apa kalian tau, jika Mas Revan mempunyai kekasih?"Dira menatap Renara dan Tamara secara bergantian.
"Tentu."Jawab Tamara enteng.
"Dan kalian membiarkannya begitu saja! apa kalian lupa jika Mas Revan sudah mempunyai istri dan juga anak. Kenapa kalian membiarkan dia memiliki kekasih."Dira menatap mereka penuh kekecewaan.
"Kami bukan lupa jika Revan sudah mempunyai istri, tapi kami memang sengaja membiarkan Revan memiliki kekasih, supaya kamu secepatnya tersingkir dari rumah ini. Dan saya akan mempunyai menantu yang sederajat dengan keluarga Revanga."Jelas Tamara.
"Kalian semua benar-benar tidak punya hati."teriak Dira.
Brakkk!
Mohon dukungannya teman-teman😊
Like👍Comen saran dan kritiknya dan jangan lupa Vote juga ya💕💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Bungsu Sajalah
aku mampir Thor ,aku like juga, mampir yu ka di novel baru ku " keikhlasan hati "
2022-08-23
0
Aquilaliza
Nyicil ya kak
2022-03-11
1
💮Aroe🌸
ternyata keluarga lucknut😟
lanjuuut
2022-03-01
2