BAB 13

Matahari sudah mulai meredup menandakan sore hari telah tiba, tapi Adira masih saja belum keluar dari dalam kamar. Kini dia sedang mengajarkan kedua anaknya tentang pelajaran matematika yang tidak di mengerti oleh mereka.

"Sekarang Nai sudah mengerti kan?"tanya Adira kepada putri bungsunya.

"Ngerti Mah, ternyata matematika tak sesulit yang Nai bayangin."ujar Naina.

"Bagus, kalau abang bagaimana?"Adira ber alih menatap sang putra sulung.

"Abang juga ngerti kok, Mah."Jawab Abian sembari tersenyum tipis.

"Abang sebenarnya kenapa, hm? dari tadi Mamah lihat-lihat abang nampak murung tidak seceria biasanya."tanya Adira sembari menatap lembut anak sulungnya.

"Abang hanya takut, Mah."

"Takut kenapa? apa ada yang jahatin abang di sekolah?"

"Abang takut tidak bisa membela Mamah lagi saat mereka nyakitin Mamah."ujar Abian dengan menatap mata sang ibu yang terlihat sembab dan juga merah tanda habis menangis.

"Tidak papa, Mamah bisa mengatasi mereka sendiri. Abang fokus saja belajar ya."Adira mengelus lembut kepala Abian.

"Mamah kenapa tidak pergi saja dari sini? supaya Mamah tidak lagi disakiti oleh mereka."Abian berbicara dengan nada yang serius.

"Mamah ingin sekali pergi darisini, tapi tidak untuk sekarang."Jawab Adira.

"Kenapa?"

"Karna Mamah ingin mengungkap sebuah kebenaran terlebih dahulu, selain itu Mamah tidak tau harus membawa kalian kemana? Mamah tidak punya keluarga atau pun sanak saudara. Jadi Mamah harus mempersiapkan semuanya dengan matang terlebih dahulu sebelum membawa kalian pergi darisini."Jelas Adira.

"Baiklah jika itu keinginan Mamah, tapi satu yang abang minta, berbahagialah jangan terus menerus larut dalam kesedihan. Apa pun yang terjadi nanti Mamah harus selalu ingat, bahwa abang sangat menyayangi Mamah dan akan selalu berada disini di hati Mamah."ucap Abian tersenyum manis sembari menunjuk dada Adira.

"Kenapa dihati Mamah? harusnya kan abang akan selalu berada di samping Mamah."tanya Adira heran.

"Abang kan gak bisa selamanya terus berada di samping Mamah, tapi meskipun Abang tidak ada disamping Mamah, abang akan selalu berada dihati Mamah kan?"ujar Abian.

"Tentu saja abang akan selalu berada di samping Mamah, meskipun abang sedang tidak berada di samping Mamah. Sedang sekolah contohnya bersama Nai."

Abian hanya membalas ucapan Adira dengan senyuman, sementara Naina dia tidak menyimak apa yang sedang di bicarakan oleh ibu dan juga abangnya, dia terlalu fokus pada pelajaran matematika yang sepertinya mulai sekarang itu akan menjadi pelajaran favoritnya.

"DIRA, keluar kamu."panggil Revan di luar puntu kamar.

"Bentar yah, Mamah keluar dulu."ucap Adira kepada kedua anaknya,

"Iya Mah."

Adira pun berjalan ke arah pintu, lalu dia pun membukanya.

Ceklek.

"Ada apa?"tanya Adira dengan wajah datarnya.

"Cepat kau siapkan makanan untuk makan malam nanti."perintah Revan.

"Tidak mau, aku bukan pembantu mu. Suruh saja istri baru mu yang melakukannya."tolak Adira.

"Sudah berani melawan kau rupanya, cepat kerjakan tugas mu, tidak mungkin aku menyuruh Maudy memasak, dia sangat kelelahan karna melayani ku."ucap Revan dengan menatap Dira tajam.

"Karna kelelahan melayani mu di ranjang? makannya tunda dulu sampai nanti malam, ini masih siang."ujar Dira dengan hati yang berdenyut sakit.

"Sudah jangan banyak bicara, cepat masak sana kalau tidak aku tidak mau membiayai sekolah anak mu lagi. Biar saja mereka jadi orang yang bodoh."ancam Revan.

"Keterlaluan kau Revan, mereka juga anak mu."ujar Dira emosi.

"Aku tidak peduli, cepat kerjakan perintah ku atau..."

"Aku akan memasak, puas."

Dira langsung bergegas pergi meninggalkan Revan menuju kedapur.

Sesampainya disana Dira mulai mempersiap kan bahan-bahan untuk menu makanan yang akan dimasaknya.

"Aku harus segera mengungkap rahasia yang disembunyikan oleh Revan, agar aku bisa segera pergi dari tempat ini. Tapi sebelum itu, aku harus mengumpulkan uang untuk bertahan hidup diluaran sana sebelum aku mendapat kan pekerjaan."gumam Adira sembari mencuci beberapa sayur yang akan di masaknya.

Dira mulai memasak beberapa macam hidangan untuk makan malam nanti, cukup lama dia berkutat dengan alat tempur, eh alat dapur.

"Akhirnya selesai juga, tinggal aku tata deh di meja makan."ucap Adira.

Dia pun membawa macam-macam masakan itu ke meja makan dan mulai menatanya satu-persatu dengan sangat rapih.

"Dira, aku mau minta tolong. Buatin aku salad buah dong, aku sedang diet, aku tidak bisa memakan makanan seperti ini yang mengandung banyak lemak dan juga karbo. Jadi minta tolong ya untuk di buatkan."ucap Maudy yang baru saja datang dengan rambut yang kelimis..

"Kamu punya tangan kan? kalo punya pake tuh tangan supaya berguna. Dandan aja di duluin, masak ogah. Emang kenyang Mbak makan bedak, tetap saja kan minta makanan."ujar Dira sinis.

"Cepat kerjakan, atau aku bakalan ngaduin kamu ke Revan."

"Cih, dasar tukang ngadu."ucap Adira sembari pergi untuk mengerjakan perintah dari Maudy.

"Suami istri sama saja, bisanya hanya mengancam."Dira ngedumel sendiri saat dirinya tengah memotong buah-buahan yang akan di jadikan salad pesanan Maudy.

Beberapa saat kemudian salad pesanan Maudy pun jadi, Dira pun segera bergegas segera mengantar salad itu.

"Tuh, saladnya. Abisin sekalian sama piringnya."ujar Dira sembari menaruh sepiring salad di hadapan Maudy.

"Ok, kamu boleh pergi."ucap Maudy.

Tanpa basa-basi Dira langsung saja pergi ke dapur untuk mengambil makanan, kemudian dia membawanya ke dalam kamar kedua anaknya, tak lupa juga dia membawa dua botol air putih.

"Bagus, dia sudah pergi."gumam Maudy.

Dia pun buru-buru mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya kemudian dia taburkan kedalam piring berisi salad itu, tapi dia menyisakan sedikit salad yang tidak di campurnya dengan serbuk itu dan menaruhnya di pinggiran piring.

"Hai sayang."sapa Revan sembari menghampiri Maudy.

"Hai, sini duduk kita makan bersama."ucap Maudy sembari menepuk kursi di sampingnya.

"Kamu kenapa makannya salad?"tanya Revan sembari menundukan dirinya di kursi.

"Lagi pengen aja."Jawab Maudy.

"Nah kalo gini kan enak, makan malam pun juga tenang. Jika para gembel itu tidak ikut makan malam disini."ucap Tamara yang baru saja datang dan langsung saja duduk di kursi yang berhadapan dengan Revan.

"Bener banget bu, apalagi kalau mereka enyah selamanya dari hidup kita."timpal Renata.

"Nanti saja ngobrolnya sekarang kita makan, aku sudah sangat lapar."ujar Revan.

"Iya, Mamah juga lapar. Ayok Maudy makan yang banyak,"ucap Tamara.

"Iya bu, aku makan salad aja."

"Kenapa hanya makan salad?"

"Lagi pengen aja, bu."

"Yasudah kalau gitu ayok kita makan."

Mereka pun makan dengan tenang tanpa bersuara.

"Aw."suara rintihan Maudy seketika menghentikan aktipitas mereka.

"Sayang kamu kenapa?"tanya Revan panik.

"Kenapa perut ku sakit ya? sehabis makan salad ini."ujar Maudy dengan wajah seperti orang kesakitan.

"Siapa yang membuat salad ini?"tanya Tamara.

"Adira, bu."Jawab Maudy.

"Pantas saja, pasti wanita itu meracuni salad Maudy Revan."ujar Tamara.

Brakk,

"KURANG AJAR SEKALI WANITA ITU."teriak Revan sembari menggebrak meja.

Terpopuler

Comments

Mhila Amhilawhaty

Mhila Amhilawhaty

cikk lagi2 pemain utamanya lemah

2022-03-23

1

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

fitnah lagi?😑
bakar aja, bakar rumahnya!

sebel😤

2022-03-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!