BAB 12.

"Saya mohon lepaskan saya tuan, saya hanya di perintah kan oleh tuan Mike saja,"mohon orang itu dengan begitu memelas.

"Tidak semudah itu saya akan melepaskan mu, Dave kau urus bajingan kecil ini. Bawa dia kedalam ruang tahanan."perintah pria itu kepada David tangan kanannya.

"Baik, King."David segera melakukan printah sang King.

"Kau pikir mudah untuk mencari celah kelemahan ku, Mike. Aku tidak sebodoh itu, kau lihat saja nanti pembalasan ku."ucap pria itu menyeringai tajam.

*******

Back to Adira.

Pagi-pagi sekali Adira sudah terbangun, tapi dia tidak melakukan aktipitas seperti biasanya. Dia hanya berdiam diri saja di dalam kamar anaknya, terdengar suara keributan dari luar, entah apa yang sedang mereka lakukan, Adira tidak peduli.

"Mah, hari ini Mamah antar kami kesekolah ya."pinta Naina.

"Boleh sayang, ya sudah ayok kita bersiap."Adira pun langsung membantu kedua anaknya untuk bersiap pergi ke sekolah.

Setelah membantu kedua anaknya bersiap, kini giliran dirinya.

"Ayok sayang, kita langsung berangkat. Untuk sarapan, kita sarapan di luar aja ya! Mamah tidak masak."ucap Adira.

"Kita sarapan bubur yang di depan sekolah Nai aja, Mah. Disana buburnya enak."ujar Naina.

"Iya, kita sarapan disana. Ayok sekarang kita berangkat."Ajak Adira.

Mereka bertiga pun keluar dari kamar itu dengan Adira memgandeng tangan kedua anaknya.

Saat Dira melewati ruang tengah, terlihat disana begitu banyak orang yang berlalu lalang, di dapur juga nampak sangat ramai sekali, tanpa menaruh curiga apa pun Adira hanya melewati mereka begitu saja tanpa bertanya.

Mereka berangkat dengan di antar sopir yang biasa mengantar jemput Abian dan juga Naina, di sepanjang perjalanan Naina begitu antusias bercerita kepada Adira tentang sekolahnya, berbeda dengan Abian yang hanya diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Abang kenapa? Mamah lihat sedari tadi abang hanya diam saja."tanya Adira sembari menatap Abian.

"Abang tidak papa Mah."Jawab Abian sembari tersenyum tipis.

"Benar, tapi Mamah lihat abang sepertinya sedang memikirkan sesuatu."

"Benar Mah, abang tidak papa, abang baik-baik saja."

"Kalau ada apa-apa ceritakan sama Mamah, ya."pinta Adira.

"Baik, Mah."

Beberapa saat kemudian Mereka telah sampai di depan sekolah dasar yang cukup populer di kota itu. Mereka pun segera turun dan langsung saja berjalan menuju kedai bubur yang di maksud oleh Naina.

"Tiga porsi ya, Pak."ucap Dira.

"Baik, Neng. Tunggu sebentar ya."

Dira pun kembali ke meja tempat kedua anaknya berada, setelah beberapa saat menunggu akhirnya pesanan mereka pun datang. Mereka begitu menikmati buburnya dengan lahap. Setelah selesai sarapan bubur kedua anak Dira pun langsung saja masuk kedalam sekolah. Sementara Dira langsung saja pulang bersama pak sopir.

"Kenapa ramai sekali?"gumam Dira saat dirinya baru saja menginjakan kakinya di halaman rumah keluarga Revanga.

Tanpa rasa curiga apa pun, Dira langsung saja masuk kedalam rumah.

Deg!

Jantung Dira serasa berhenti berdetak, dia mematung dengan air mata yang mengalir begitu deras, dadanya sesak dan juga sakit bak dihantam ribuan belati tajam.

"APA-APAAN INI."teriak Adira begitu dia tersadar dari keterkejutan nya.

"Oh, kau sudah pulang rupanya. Ayok ucapkan selamat pada suami mu dan juga istri barunya."ucap Renata tertawa penuh kemenangan.

"Kenapa kau menikahi wanita ini tanpa izin dariku Revan? aku ini masih istri mu. Istri sah mu."marah Adira dengan wajah yang memerah.

"Izin mu bagiku tidak lah penting, karna bagiku kau itu hanyalah sebuah angin yang tak terlihat. Lagi pula aku adalah laki-laki, jadi bebas saja jika aku ingin mempunyai istri lebih dari satu."Revan menatap Adira dengan tatapan tidak suka.

"Kenapa kau tega sekali Revan? apa salah ku padamu Revan? APA?"

"Salahmu karna kau telah hadir dalam kehidupan ku, dan membuat hidup ku hancur."

"Bukan kah kau yang membawa ku kedalam kehidupan mu? kenapa kau menyalahkan ku seolah-olah aku yang memaksa untuk masuk kedalam kehidupan mu?"

"Jika bukan karna Papah ku.... Ah sudah lah kau terima saja kenyataan ini. Yang penting aku masih membiayai mu dan juga kedua anak mu."tukas Revan.

"Tunggu, jika bukan karna Papah mu apa? jelaskan Revan. Apa pernikahan kita ada hubungannya dengan Papah mu? jawab Revan."ucap Adira penuh curiga.

"Sudah lah, aku sangat lelah. Ayok sayang kita ke kamar, lagian acaranya juga sudah selesai."ujar Revan sembari menggandeng tangan Maudy.

"Revan tunggu, jelaskan dulu padaku apa yang sebenarnya terjadi."teriak Dira saat Revan mulai menjauh darinya.

"Sudah lah, terima saja kenyataan. Lagian pernikahan mu dengan Revan tidak mungkin ada hubungannya dengan Papah ku, beliau sudah meninggal cukup lama. Sekarang kau ratapi saja nasib hidup mu yang sangat menyedih kan itu."ujar Renata sembari bersidekap dada dan memandang Dira penuh ejekan.

"Kau memang tak punya hati, pantas saja suami mu meninggalkan mu. Karna dia tidak sudi mempunyai istri yang tak punya hati seperti dirimu."balas Dira sengit.

"Kau, apa mulut mu itu tidak pernah di sekolah kan? kau seharusnya menghormati ku, bagaimanapun aku adalah kakak ipar mu."marah Renata dengan wajah yang memerah.

"Tidak, karna tidak ada yang menyediakan sekolah mulut. Lagi pula apa yang harus ku hormati darimu? kejahatan dan juga kepicikan mu? begitu. Selama ini aku diam bukan berati aku takut padamu, tapi karna aku masih menghargai mu sebagai kakak ipar ku. Tapi sekarang aku tidak mau lagi menghargai orang sepertimu, yang hidupnya hanya di penuhi oleh ambisi dan juga kejahatan, otak mu sangat picik hati mu sekeras batu dan kelakuan mu seperti iblis, tidak punya hati dan juga tidak berprikemanusiaan. Apa pantas aku menghargai orang seperti itu? tidak. Jadi, jika kau ingin dihargai, maka hargailah orang lain terlebih dahulu."Setelah mengatakan itu Dira pun segera pergi meninggalkan Renata yang terlihat sangat murka dan juga malu, karna disana masih banyak orang yang berlalu lalang.

"Akhhh, dasar Udik. Kau lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu."teriak Renata kesal bercampur marah.

Kini Dira sedang merenung di dalam kamar anaknya seorang diri. Wajah Adira terlihat sangat memprihatin kan, pipi tirus mata hitam bibir pucat, rambutnya pun begitu kusut tak beraturan.

"Hiks, tuhan ini sakit sekali. Mengapa kau biarkan aku mencintainya sampai sedalam ini tuhan?"lirih Adira begitu pilu.

"Kadang aku tak percaya akan ada pelangi setelah hujan, karna sampai sekarang kesedihan ku tak kunjung berubah menjadi kebahagiaan."

Dira membenamkan wajahnya di bagian celah lututnya dia menangis pilu disana sembari memeluk lututnya. Kapan luka dihatinya akan mengering? jika setiap hari mereka menambah luka itu sehingga kian menganga.

Jejak😘😘😘

Terpopuler

Comments

Shuhairi Nafsir

Shuhairi Nafsir

Thor kejam nga ada rasa perikemanusian langsung. sama Dira dengan anàk anak nya. ceraikan aje.sama Revan agar kapok Revan nanti dan menyesal diselingkuhi oleh Maudy

2022-12-28

0

Ninong Aisah

Ninong Aisah

Dirq bego bgt sih bukannya kabur dari rumah bawa anak2

2022-11-05

0

Dyah Shinta

Dyah Shinta

Yaelaaa... ga ngaruh coy...
Betah amat menderita...
Demi rahasia?
Takut anak2 ga bisa makan ga bisa sekolah?
Lha tu anak yang satunya udah mulai banyak mikir loh. Bentar lagi bisa jadi anak2 broken home...

2022-11-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!