Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari yang paling menyakit kan bagi Adira, dunianya telah runtuh seiring kepergian kedua buah hatinya. Sejak semalam Adira tidak pulang kerumah, dia tetap stay di rumah sakit untuk menemani jenazah kedua anaknya, dia tidak tidur, dia terus saja memeluk jenazah kedua anaknya bergantian, hingga pagi menjelang pun Adira masih saja setia membuka matanya.
Kini Adira tengah berada di pemakaman umum dimana kedua anaknya di makan kan, tangis pilu Adira mengiringi pemakaman kedua anaknya, yang lebih miris lagi tiada satu pun anggota keluarga yang menemani nya untuk mengantar kedua buah hatinya ke peristirahatan terahirnya. Bahkan Revan pun selaku ayahnya tidak hadir sama sekali, padahal Adira sudah berkali-kali menghubunginya.
Sebelum kedua anaknya di bawa ke pemakaman, Dira sudah menghubungi Tamara terlebih dahulu untuk meminta ijin supaya dia bisa membawa Jenazah kedua anaknya ke kediaman keluarga Revanga, tapi secara kasar Tamara menolaknya mentah-mentah. Dia tidak mengijinkan Dira untuk membawa Jenazah kedua anaknya kesana.
"Maafkan Mamah sayang. Mamah tidak bisa melindungi kalian, Mamah sangat lemah, Mamah juga sangat bodoh. Maafkan Mamah sayang, andai saja Mamah bisa melawan mereka."ucap Adira sembari berjongkok di depan nisan kedua anaknya.
Langit begitu mendung, seakan dia ikut merasakan kesedihan Adira, dia menangis seorang diri di pemakaman itu setelah petugas rumah sakit yang membantu memakamkan kedua anaknya pergi.
"Sungguh miris sekali nasib kalian sayang, kalian pergi tanpa ada satu pun anggota keluarga yang mengantar kepergian kalian. Bahkan ayah kalian sendiri pun tidak peduli."Air mata Adira terus saja mengalir tanpa henti.
Sakit, perih, Adira sudah tidak mempunyai semangat hidup lagi saat ini. Kedua malaikat kecilnya telah pergi. Apalagi yang harus dia perjuangkan dalam hidup ini sekarang? kebahagiaannya telah pergi, semangat hidupnya telah pergi. Kini tinggalah dirinya sendiri yang ditemani oleh sepi, hampa tiada cinta, yang ada hanyalah air mata.
"Tuhan bawalah aku pergi, biarkan aku ikut dengan mereka. Untuk apalagi sekarang tujuan hidup ku?"lirih Adira.
"Kedua wanita iblis itu, ini semua salah mereka, mereka yang telah membunuh kedua anaku, mereka harus mempertanggung jawab kan semua ini. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal."ucap Dira sembari menghapus air matanya, kemudian dia bangkit dan berdiri dengan tegak.
"Kalian tenang saja ya, Mamah akan membalas kematian kalian dengan setimpal. Mamah akan membuat mereka merasakan apa yang kalian rasakan. Mereka harus menerima akibat dari perbuatanya."Adira berucap dengan kemarahan yang menggebu.
"Sayang, Mamah pamit dulu ya. Mamah janji, Mamah akan kembali lagi kesini untuk menengok kalian. Mamah sangat menyayangi kalian, I love you dear."Adira menghela nafas panjang kemudian dia melangkah pergi meninggalkan pusara kedua anaknya.
Di perjalan menuju kediaman Revan Adira terus saja melamun, kesedihan tergambar jelas di raut wajahnya. Dira berjalan dengan langkah gontai dia tidak punya lagi semangat hidup, ingin rasanya Dira menabrakan dirinya pada kendaraan yang sedang berlalu lalang agar dia bisa pergi menyusul kedua anaknya. Tapi dia berpikir kembali, jika dia mati otomatis para iblis itu akan hidup dengan tenang, tidak. Dia harus membuat mereka menderita, dia harus membuat mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Tapi bagaimana caranya? dia tidak tau harus berbuat apa? harus meminta tolong pada siapa? dia tidak mungkin menghadapi keluarga Revanga seorang diri karna kekuasaan keluarga Revanga cukup besar dia tidak akan sanggup jika melawan seorang diri.
BRAAKKK,
Dira membuka pintu rumah dengan begitu kasar.
"Apa-apaan kamu Dira?"teriak Revan..
"Kamu yang apa-apaan, kenapa kamu tidak hadir di pemakaman anak mu sendiri? kenapa kamu tidak mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir mereka? kau ayah nya Revan, tidak kah kau sedih dan merasa kehilangan atas kepergian mereka?"ucap Dira dengan kemarahan yang menggebu.
"Apa jika aku hadir mereka akan bangkit kembali? tidak kan. Jadi buat apa aku kesana? ada atau tidak nya aku, mereka akan tetap mati dan di kubur juga."ujar Revan santai.
Plakk,
Plakk,
Adira menampar kedua pipi Revan dengan sangat keras.
"Berani sekali kau menampar ku Dira, sudah mulai kurang ajar rupanya kau, hah."Revan mencengkram erat pergelangan tangan Dira.
"Karna kamu sudah keterlaluan, semenjak kamu mengenal wanita itu, kamu berubah menjadi iblis yang tak punya hati. Bahkan aku sangat tidak mengenali dirimu yang sekarang Revan, kamu lebih kejam dari pada binatang, kamu adalah iblis yang berwujud manusia. Harusnya tempat mu bukan disini, tapi di neraka."
"Jangan pernah bawa-bawa Maudy dalam masalah ini, sudah ku bilang dari awal jika perubahan ku tidak ada sangkut pautnya dengan Maudy. Apa kau lupa dengan perkataan ku waktu itu, baiklah jika kau lupa maka akan aku ingatkan kembali. Kau dengar baik-baik Adira, kebaikan ku selama ini hanyalah sandiwara semata, aku tidak pernah mencintaimu, aku mendekati mu dulu hanyalah sebuah keterpaksaan. Sejujurnya aku sangat jijik menyentuh mu, tapi karna aku tidak mau kau mencurigai ku dangan sangat terpaksa aku melakukan itu. Jadi kedua anak mu itu bukan lah anaku, karna aku melakukan itu tanpa cinta."Jelas Revan.
"Kau jahat Revan, kau iblis."Adira memukuli Revan menggunakan kedua tangannya dengan sangat brutal.
"Heh apa-apan kamu? kenapa kamu memukuli anak saya."Tamara datang dengan bersidekap dada.
"Pembunuh, kamu telah membunuh anaku, kau juga harus mati. Kamu harus mati pembunuh."Adira beralih menyerang Tamara, dia menjambak Tamara dengan begitu kuat.
"Lepaskan sialan."teriak Tamara.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Kau harus mati."Adira semakin kuat menjambak Tamara, kemudian dia beralih mencekik leher Tamara.
"Lepaskan ibuku perempuan gila."Revan berusaha menarik tangan Adira yang begitu kuat mencekik leher ibunya.
"Tidak mau, dia harus mati. Dia harus mati dengan mengenaskan seperti anaku, dia pembunuh Revan dia pembunuh."
Bugh,
Renata yang baru saja datang langsung memukul punggung Dira dengan menggunakan balok yang sengaja dibawanya.
"Ibu tidak papa?"Renata langsung menghampiri Tamara yang nafasnya tersenggal-senggal.
"Mi-num."ucap Tamara.
Renata pun segera berlari kedapur untuk mengambil air putih, setelah itu dia langsung saja membantu Tamara untuk minum. Setelah Tamara tenang Revan pun menggendongnya untuk dibawa ke kamar. Sedangkan Renata dia membawa Adira kedalam gudang dengan dibantu oleh Maudy. Mereka menyekap Adira di dalam gudang belakang rumah.
***************
"Apa kau ingin menyerang mereka malam ini juga?"tanya David kepada seorang pria yang tengah duduk di sopa sembari menyeruput segelas wine.
"Tentu saja, lebih cepat lebih baik."Jawab pria itu dingin.
"Yang ku dengar klan itu bekerja sama dengan pemilik perusahaan Revanga group. Perusahaan itu cukup berpengaruh di kota ini."ujar David.
"Aku tau, mereka bekerja sama sudah cukup lama, dulu mereka bekerja sama dengan ayahnya dan sekarang dengan anaknya."Jelas pria itu.
"Kau tau itu?"
"Ya aku tau dari mendiang ayah ku, beliau mengetahui seluruh kejahatan pemimpin Revanga group yang dulu, kau tau perusahaan itu bukan miliknya tapi hasil rampasan."pria itu berucap dengan nada yang sangat serius.
"Maksud mu apa? dia merampas dari siapa?"tanya David.
"Mereka merampasnya dari sepasang suami istri yang telah dibunuh olehnya dengan sadis, tapi dia tidak bisa memiliki hak sepenuhnya atas prusahaan itu."
"Kenapa begitu Rald? bukan kah pasutri itu sudah mati terbunuh, jadi otomatis perusahaan itu menjadi milik dia seutuhnya."
"Pasutri itu masih mempunyai anak dan anak itu masih hidup, tapi ayah ku tidak tau dimana keberadaannya."Jelas Aderald.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Olive Ova Ambitan
huh dira bikin kesel aj bacanya, anaknya mnderita smpe mati ehh gak mau ninggalin rumah itu..
2022-11-06
0
Mhila Amhilawhaty
sok2 mau balas dendam di ancam sedikit langsung ciut nyali nya...lemah, gampagam
2022-03-23
1
💮Aroe🌸
kasian, anak tak berdosa jadi korban😭😭😭😭😭
2022-03-03
1