"Mas, kamu sudah pulang?"tanya Dira sambil menghampiri Revan.
"Iya, aku ingin makan siang dirumah."Jawab Revan dingin, Dira heran kenapa suaminya menjadi dingin seperti ini.
"Maaf Mas, aku belum sempat masak."ucap Dira merasa bersalah.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan makan siang di luar."ujar Revan yang hendak melangkah.
"Tunggu, Mas. Biar aku masakin."cegah Dira.
"Tidak usah, biar aku makan diluar saja."Revan segera pergi meninggalkan Dira yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kenapa Mas Revan menjadi dingin seperti ini?"lirih Dira.
"Udikk, sini kamu."panggil Renata.
"Iya Mbak."Dira segera menghampiri Renata.
"Belikan kita makanan, di restoran yang sedang Viral itu."perintah Renata.
"Baik, Mbak sama ibu mau di belikan makanan apa?"tanya Dira.
"Apa saja, yang penting menu yang paling sepesial disana."Jawab Renata.
"Dan uangnya, pakai uang kamu saja."timpal Tamara.
"Baik bu, aku permisi."Dira melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Adira pergi menuju restoran dengan menaiki angkot, meskipun di rumah besar Revanga terdapat banyak mobil, tapi Dira tidak di perbolehkan untuk menggunakannya.
Dira sudah terbiasa berdesak-desakan di dalam angkot seperti ini, meskipun dia selama ini hidup di rumah mewah, tapi dia tetaplah Dira yang dulu. Dira yang penuh dengan kesederhanaan, hanya saja sekarang dia sudah menjadi lebih dewasa.
Sesampainya Dira di restoran itu, dia langsung saja melangkahkan kalinya menuju kedalam.
Deg!
Jantung Dira berdetak begitu kencang, tubuhnya juga melemas seketika, saat dia melihat pemandangan yang begitu menyakitkan tepat di hadapan matanya.
"Mas Revan."lirih Dira saat dia melihat suaminya tengah menyuapi seorang wanita yang sangat cantik.
"Apakah ini alasan mu menjadi dingin kepadaku?"sambung Dira dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
Perlahan-lahan Dira melangkahkan kakinya untuk menghampiri Revan yang tidak menyadari akan kehadiran dirinya.
"Mas,"panggil Dira begitu lirih.
"Dira, sedang apa kamu disini?"Revan melirik orang yang memanggilnya dan ternyata itu adalah istrinya.
"Kamu yang sedang apa disini, Mas? kenapa kamu bermesraan dengan wanita itu."ucap Dira sambil menunjuk wanita yang sedang bersama Revan.
"Aku sedang makan siang disini. Dan oh ya, kenalkan, dia adalah Maudy. Kekasihku."ujar Revan santai.
"A-apa, kekasih? jadi, selama ini kamu menghianatiku Mas?"Dira menatap Revan dengan berkaca-kaca.
"Kalau iya, memangnya kenapa? kamu keberatan?"Revan menatap Dira dengan begitu dingin.
"Jahat, kamu Mas. Kamu tega menghianati pernikahan kita. Kenapa kamu melakukan ini, Mas? kenapa?"ucap Dira sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
"Kamu tau, kenapa aku melakukan ini?"
"Kenapa, Mas?"
"Itu, karna kamu. Karna kamu yang tidak bisa merawat diri, kamu sadar tidak, kalau kamu itu sangat jelek, dekil, dan juga kampungan. Aku malu mempunyai istri seperti mu Dira."ujar Revan penuh penekanan.
"Aku juga ingin, merawat diri, Mas. Tapi kamu tau kan? seperti apa aku dirumah. Aku diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh ibu mu, bahkan sampai aku tidak punya waktu untuk mengurus diriku sendiri."tutur Dira.
"Kamu jangan menjadikan pekerjaan Rumah sebagai alasan, karna itu adalah tugas seorang istri. Bilang saja jika kamu itu tidak becus."sahut Maudy kekasih Revan.
"DIAM, KAMU."bentak Dira menatap nyalang Maudy.
"KAMU YANG DIAM."balas Revan dengan menatap Dira tajam.
"Benar apa kata Maudy, pekerjaan rumah adalah tugas seorang istri. Jadi, jangan pernah kamu jadikan itu sebagai alasan."hardik Revan.
"Kamu tega Mas, kamu bentak aku? demi wanita itu."ucap Dira tidak percaya.
"Iya, karna aku mencintai Maudy."
"Ini semua tidak benar kan, Mas? kamu tidak mungkin mencintai wanita itu, kamu hanya mencintaiku, kan Mas?"Dira mengenggam tangan Revan.
"Apa? mencintai kamu? Mimpi. Dengarkan aku baik-baik Adira. Aku tidak pernah mencintai wanita seperti kamu, aku ini masih waras, tidak mungkin pria sukses dan tampan sepertiku mencintai wanita jelek dan juga tidak jelas asal-usulnya seperti mu. Punya otak itu di pakai, apa mungkin? seorang pangeran sepertiku mencintai upik abu, seperti dirimu."jelas Revan sambil menghempaskan tangan Dira kasar.
"Lantas, kenapa kamu menikahiku, Mas? jika kamu tidak mencintaiku?"tanya Dira yang sudah berlinang air mata.
"Aku menikahimu karna sebuah alasan. Dan jangan tanyakan apa alasan itu, karna sampai kapan pun, aku tidak akan memberitahumu."Jawab Revan dengan mencengkram dagu Dira begitu kuat.
"Jadi, kata cinta yang kamu ucapkan selama ini? adalah kebohongan semata. Dan pembelaan kamu, hanyalah sandiwara saja."Dira menatap Revan penuh kekecewaan.
"Kamu benar sekali, makannya jadi orang jangan terlalu bodoh. Jadi, gampang kan di kibulin. Revan itu hanya mencintaiku, mana mungkin dia mencintai wanita sepertimu? sadar woy, ini dunia nyata. Bukan sebuah dongeng tentang sang pangeran yang mencintai seorang upik abu."ucap Renata sembari bergelayut manja ditangan Revan.
"Ya, selama ini aku memang bodoh. Aku bodoh karna telah mempercayai bajingan seperti mu Revan."Dira menatap Revan penuh kebencian.
"Baru sadar, kalau kamu itu bodoh, hah. Selama ini kemana saja. Yuk sayang kita pergi darisini, kita cari restoran lain saja."ucap Revan sambil merangkul bahu Maudy, lalu dia melangkah pergi darisana meninggalkan Dira yang masih mematung.
"Sayang? selama ini dia tidak pernah memanggilku sayang. Yah aku memang bodoh, kamu sangat bodoh Dira. Hiks, mengapa semua ini terjadi padaku? mengapa?"tangis Dira pecah, dia tidak peduli dengan orang-orang yang tengah menatapnya.
Dira pun melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu, dia berjalan tak tentu arah. Pikirannya saat ini sangatlah kacau, dia tidak percaya suami yang begitu dia sayangi dan dia cintai tega menghianatinya. Dan lebih parahnya lagi, ternyata cinta dan kebaikan Revan selama ini hanyalah sandiwara semata, dia sangat bodoh sekali sehingga bisa mempercayai cinta palsu Revan. Selama ini dia pikir Revan tulus mencintainya, tapi nyatanya, tidak.
"Sebenarnya apa alasan Revan menikahiku?"gumam Dira.
"Aku tidak boleh lemah seperti ini, aku harus bisa bangkit. Aku akan buktikan pada Revan kalau aku juga bisa cantik, bahkan lebih cantik dari wanita itu."ucap Adira sambil menghapus air matanya.
"Lihat saja, Revan. Aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku, dan aku juga akan mencari tau apa alasan mu menikahiku."tekad Dira yakin.
Setela dia merasa cukup tenang, dia pun melangkahkan kakinya menuju ke sebuah salon ternama di kota itu.
Dira melangkahkan kakinya masuk kedalam salon itu, dia menemui manajer salon itu untuk berkonsultasi supaya dirinya bisa secepatnya berubah menjadi cantik, dan juga menawan.
"Kulit kamu hanya perlu perawatan saja, supaya kulit kamu menjadi lembut dan juga mulus. Karna kulit kamu kering, kekurangan nutrisi. Kamu tenang saja, dengan beberapa bulan. Kamu bisa mendapatkan hasil yang memuaskan."Jelas manajer salon itu.
"Apa aku bisa cantik, Mbak?"tanya Dira.
"Tentu saja, wajah kamu memang cantik pada dasarnya. Hanya saja kamu tidak pernah merawatnya, jadi wajahmu sangat berminyak, dan itu juga yang memicu jerawat-jerawat tumbuh di wajahmu."Jawab manajer itu.
"Apa, bekas jerawat ini akan hilang Mbak?"tanya Dira lagi.
"Panggil saja, aku Mira. Sepertinya kita seumuran. Dan untuk bekas jerawat kamu, itu pasti akan hilang, jika kamu rajin perawatan."ujar Mira.
"Baiklah, Mira. Kalau boleh tau berapa harga yang harus ku bayar jika perawatan disini?"
"Kamu tenang saja, aku akan kasih diskon khusus untukmu."
"Wah, benarkah? terimakasih Mira."Dira sangat bahagia.
"Iya, dan satu lagi. Kamu juga harus olah raga, supaya tubuh kamu bisa terbentuk dengan sempurna."ujar Mira.
"Harus olah raga juga?"
"Ya, supaya tubuh mu padat dan berisi, juga tidak bergelambir. Aku yakin kamu akan berubah menjadi cantik dan juga sempurna."
"Terimakasih Mira, kau sudah membantuku."
"Sama-sama, Dira. Aku pernah berada di posisimu. Aku senang kau datang kesini, jadi aku bisa membantumu."ujar Mira.
"Kau tau masalahku, Mira?"tanya Dira kaget.
"Tentu saja, bahkan aku menyaksikan pertengkaranmu dari awal sampai akhir. Hingga membuatku tidak selera makan, Karna melihat tingkah suamimu dan juga selingkuhannya itu."jelas Mira.
"Yaampun, maafkan aku Mir, aku tidak sadar kalau tadi aku bertengkar di tempar umum."ujar Dira.
"Tidak papa Dir, justru aku sangat kasihan sekali padamu. Suamimu benar-benar biadab, aku janji, aku akan membantumu berubah menjadi cantik. Supaya dia menyesal karna telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu."
"Terimakasih."
***Mohon dukunganya kakak-kakak. karna novel ini sedang ikut event🙏
jadi di mohon untuk meninggalkan jejak setelah membaca😊
Like 👍 and Comen juga kritikannya💕 Vote juga ya☺***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
pergi saja Dira,,bawa anak² mu..
selepas itu kembali kan wajah mu supaya terlihat cantik dan juga bentuk tubuh mu..
2023-03-28
0
Assyiffa Nur
Nyicil dulu ya teh susi
2022-03-03
2
💮Aroe🌸
wew😎 making over...
lanjoooot😋
2022-03-01
2