Biar kau saja yang ku sembelih.

Setelah membuat kedua iblis itu terikat, Dira membawa kedua anaknya keluar dari gudang itu.

"Mas,"lirih Dira.

Baru saja hatinya merasa puas karna telah memberi pelajaran kepada dua iblis yang telah menyakiti anaknya, kini hatinya kembali tersayat, sakit sekali rasanya saat melihat Revan masuk kedalam rumah dengan merangkul wanita lain.

"Dimana ibu sama Mbak Nata?"tanya Revan santai tanpa memikirkan perasaan Adira.

"Jawab Dira."ucap Revan karna dia melihat Dira hanya diam saja.

"Kenapa kamu membawa wanita itu kesini, Mas?"Dira menatap tajam Revan.

"Karna dia kekasihku."Jawab Revan tanpa dosa.

"Aku ini istri mu, Mas. Bisakah kau menghargai ku sedikit saja, aku juga punya hati mas, hatiku sakit saat melihat mu merangkul wanita lain, sakit Mas, sakit sekali."ucap Dira sembari memegangang dadanya.

"Aku tidak peduli, ayok sayang kita temui ibuku."dengan santainya Revan melewati Dira sembari merangkul bahu Maudy.

"Tega kamu, Revan."Dira menatap nanar punggung Revan.

"Mah, siapa tante itu?"tanya Naina.

"Itu teman nya Papah, sayang."Jawab Dira sembari menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

"Mamah bohong, dia kekasih Papah kan. Papa jahat, dia tega menghianati Mamah. Abang benci Papah."Abian berucap dengan mata yang memancarkan kilatan amarah.

"Papah tidak jahat, bang. Jangan membencinya, bagaimanapun dia adalah Papah, mu."Dira menatap manik mata penuh amarah itu dengan lembut.

"Abang tidak membenci Papah, tapi abang sangat benci dengan sipat Papah yang sekarang. Papah sudah berubah, dia bukan lagi Papah yang dulu."ujar Abian sedih.

"Papah mu tidak pernah berubah, kebaikannya dulu hanyalah sandiwara semata."lirih Dira dalam hatinya.

"Kita do'akan saja, semoga Papah kembali seperti dulu."

"DIIRAAA."teriak Revan begitu menggelegar sembari menghampirinya.

"Ada apa, Mas?"tanya Dira lembut.

"Dimana ibu sama Mbak Nata."

"Aku tidak tau, Mas."kilah Dira.

"Jawab, jujur."ucap Revan penuh penekanan sembari mencengkram erat dagu Dira.

"Mereka ada di gudang, Mas."Jawab Dira gugup.

Revan pun langsung melepas kasar cengkraman itu, lalu dia segera berlari menuju ke gudang belakang.

"Apa Papah akan marah? karna kita sudah mengikat mereka, Mah."ucap Abian.

"Entahlah, sayang. Semoga saja tidak, kita jelaskan saja apa yang terjadi."Dira berusaha untuk tenang.

"Ayok mandi sana, lalu ganti baju kalian yang kotor itu. Apalagi baju mu bang, pasti lengket sekali karna air jus tadi."ujar Dira.

"Baik, Mah. Kita mandi dulu."kedua anak Dira pun melangkah pergi menuju kamar mereka.

"ADIRAAAA,"sekali lagi teriakan Revan mengagetkan Dira, telinganya pun ikut berdengung saking kerasnya teriakan itu.

"Ke..napa Mas?"ucap Dira gugup karna melihat raut wajah Revan yang nampak sangat murka, apalagi Revan datang bersama Tamara dan juga Renata.

"Kenapa kau menyekap ibu dan juga kakak ku, hah?"Revan mencengkram erat dagu Dira seperti tadi.

"Karna mereka telah menyekap anak kita, Mas. Mereka juga memperlakukan anak kita dengan kasar, dan mengikat mereka tanpa perasaan. Aku hanya membalas apa yang mereka lakukan pada anak kita."jelas Dira jujur.

"Kita melakukan itu, karna ingin mendidik mereka agar sopan, dan tidak menjadi anak pembangkang. Kau tau Revan anak mu itu, tumbuh seperti pereman karna didikan wanita sialan ini."bela Tamara,

"Kau dengar kan? mereka hanya mendidik anak mu agar menjadi lebih baik, harusnya kau berterimakasih pada mereka, bukannya berbuat seperti ini."ucap Revan penuh emosi sembari melepas kasar cengkraman nya.

"Aku, harus berterimakasih pada orang yang telah menyakiti anaku? TIDAK. Aku masih waras Revan, tidak ada seorang ibu yang ingin anaknya disakiti. Hanya orang tidak waras lah yang berpikiran demikian."Dira menatap mereka satu-persatu dengat kilatan amarah.

"Rupanya kau sudah berani melawan ku, Adira."Revan kini mencekik leher Dira dengan sangat emosi hingga membuat nafas Dira tercekat.

"Kar..na kau mem..bela orang yang salah, Re..van."ucap Dira dengan nafas yang tersenggal.

"Sayang, apa yang terjadi?"ucapan Maudy yang baru saja menghampiri mereka seketika membuat Revan melepaskan tangannya dari leher Adira.

"Yaampun sayang, maaf aku melupakan mu. Pasti kamu sangat bosan menunggu ku."Revan langsung saja menghampiri Maudy dan merangkul bahu wanita itu tanpa memikirkan perasaan Dira.

Dira hanya bisa menatap nanar suaminya sambil mengatur nafasnya yang tersenggal. Sakit sekali hati Dira, sudah sakit atas perlakuan kelurga Revan tambah lagi kini penderitaannya dengan penghianatan Revan.

"Ini kekasihmu itu, Ya Van?"tanya Tamara.

"Iya, bu. Ini kekasih ku, Namanya Maudy."Jawab Revan sambil mengenalkan Maudy.

"Hallo sayang, kamu sangat cantik sekali."sapa Tamara.

"Hallo juga tante, Terimakasih atas pujiannya."Maudy tersenyum begitu ramah.

"Kau pandai sekali Van mencari kekasih, dia begitu cantik dan juga sopan."ujar Renata.

"Mbak juga sangat cantik."puji Maudy kepada Renata.

"Kau bisa saja, Revan ayok ajak maudy untuk duduk, kasihan jika kelamaan berdiri nanti kakinya pegal."ucap Renata.

"Ayok sayang kita duduk."Revan merangkul Maudy dan membawanya ke sopa yang berada di ruang tamu.

"Dan kau Udik, buatkan minuman untuk kekasih Revan."Renata menunjuk wajah Dira.

Dira pun melangkah pergi tanpa menjawab ucapan Renata, hatinya begitu hancur, mengapa hidupnya menjadi seperti ini? mengapa tidak ada satu pun orang di rumah ini yang menghargai dirinya?

Dira saat ini sedang berada di dapur, dia tetap membuatkan minuman untuk kekasih Revan dengan perasaan yang tak menentu, setelah selesai Dira pun mengantarkannya ke ruang tamu.

Hati Dira kembali tercubit, manakala dia mihat pemandangan yang sangat menyesakan dada. Renata dan juga Tamara sangat antusias sekali dengan kedatangan Maudy, bahkan dengan terang-terangan Tamara menyuruh Revan untuk secepatnya menikahi Maudy. Mereka benar-benar tidak punya perasaan, mereka anggap apa? kehadiran Dira ini, apa Dira hanyalah seorang pembantu di mata meraka? bukan istri sah dari Revan.

"Ini minumannya, silahkan."Adira menaruh minuman itu dengan tangan yang bergetar.

"Setelah ini kamu masak untuk Maudy. Kasihan dia, pasti belum makan."ucap Tamara.

"Oh, ya Maudy. Kamu mau di masakan apa?"sambung Tamara melirik Maudy.

"Apa saja, tante."Jawab Maudy.

"Kamu bilang saja, sayang. Apa makanan kesukaan mu? biar nanti Dira yang masakin."ucap Revan sambil mengelus lembut rambut belakang Maudy.

Apa-apaan Revan ini, dia pikir Dira adalah pembantu, apa? ingin sekali Dira melempar wajah Revan dengan air mendidih, tapi sayang dia tidak mempunyai keberanian untuk itu.

"Em, Dira aku mau di masakin ayam bakar sama ikan bakar. Aku sangat suka itu."ujar Maudy sembari menatap Dira sinis.

"Baik,"

"Tapi, aku ingin ayam dan ikannya yang masih fres."Dira yang sedang melangkah pun sontak saja langsung berhenti dan membalikan badannya.

"Jam segini pasar sudah tutup, ada juga di supermarket dan itu sama saja dengan yang berada di rumah ini, beku."ujar Dira penuh penekanan..

"Aku tidak mau ayam dan ikan yang sudah beku, sayang. Aku maunya yang masih fres belum dimasukan kedalam frezer."Rengek Maudy kepada Revan.

"Dira, cepat kau penuhi permintaan Maudy."Revan menatap Dira tajam.

"Aku harus mencarinya kemana Revan?"Dira sangat benci sekali dengan situasi. ini.

"Kemana saja, kau cari peternakan ayam dan sekalian kau minta pada orang disana untuk menyembelihnya."ujar Revan.

"Kenapa harus jauh-jauh mencari peternakan ayam. Biar kau saja yang ku sembelih."Dira menatap Revan nyalang.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

jahat sekali kau Revan,, suatu saat kau pasti menyeaal

2023-03-28

0

Shuhairi Nafsir

Shuhairi Nafsir

benci ya Aku dengan perempuan yg goblok. Thor. tinggal aje terus pergi jauh jauh.

2022-12-28

0

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

sunat abis aja!


😤😤😤

2022-03-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!