Sembilan tahun sudah usia pernikahan Dira dan juga Revan, Dira yang sekarang bukan lagi Dira yang dulu, kini Dira bukan lagi seorang gadis remaja yang sangat periang, dia telah menjelma menjadi seorang wanita dewasa. Usianya kini sudah menginjak 26 tahun, Karna dulu dia menikah saat usianya baru 17 tahun.
Saat ini Dira telah di karuniai dua orang anak, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan. Dira sangat bersukur karna telah menjadi seorang ibu di usianya yang masih muda, dia juga bersyukur karna tuhan telah memberinya dua malaikat yang begitu berharga dalam hidupnya. Meskipun kehadiran mereka tidak diinginkan oleh sang ibu mertua, bahkan kini kedua anaknya ikut serta menjadi sasaran kebencian mertuanya.
Tambah lagi sekarang ada Renata, kakak perempuan dari Revan yang tinggal bersama mereka, karna dia telah diceraikan oleh suaminya. Kehadiran Renata membuat Dira semakin tertekan berada dirumah itu, karna Renata juga tidak menyukainya bahkan Renata begitu membenci Dira.
Seperti inilah keseharian seorang Adira. Bangun pagi-pagi sekali, langsung beres-beres, lalu dia membuat sarapan, lanjut lagi mencuci baju seluruh penghuni rumah besar itu. Tidak hanya sampai disitu, saat menjelang siang pun dia masih saja berkutat dengan pekerjaan rumah yang lainnya.
"Lelah sekali rasanya,"lirih Dira sambil mengambil jemuran yang sudah kering.
"Banyak sekali, Kapan kelarnya kalau nyetrika sebanyak ini."lirihnya lagi sambil melangkahkan kakinya menuju keruangan tempat menyetrika pakaian.
Sesampainya disana, Dira segera menyetrika baju yang di bawanya tadi. Dengan gesit dan juga telaten Dira menyetrika tumpukan baju itu satu persatu.
"Woy, udik. Setrikakan baju ku, jangan lama-lama. Karna aku ingin memakainya sekarang."ucap Renata melempar bajunya tepat di wajah Dira.
"Iya, Mbak."Dira mengambil baju yang berada di wajahnya.
Renata pun berlalu pergi darisana, setelah Renata pergi Dira segera menyetrika baju yang Renata lemparkan tadi dengan pelan dan juga hati-hati.
Setelah selesai menyetrika baju Renata, Dira langsung menggantung baju itu. Lalu dia kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Beberapa saat kemudian.
"UDIIIKKK."teriak Renata begitu menggelegar di ruangan itu.
"Iya, Mbak. Kenapa?"Dira langsung menghentikan kegiatannya, lalu dia menatap ke arah Renata.
"Kenapa kamu tidak mengantarkan bajuku, hah? kamu sengaja ya? Supaya aku telat pergi, iya?"Renata menatap tajam Dira.
"Bukan begitu Mbak, aku pikir Mbak yang mau mengambilnya kesini."ujar Dira.
"Kamu, pikir! aku tidak punya pekerjaan lain, hah? Sampai aku harus bulak-balik kesini."bentak Renata.
"Maaf, Mbak."Dira menunduk.
"Maaf, kamu bilang? gak semudah itu!"Renata berjalan mendekati Dira dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dengarkan aku baik-baik, perempuan udik! aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang berada dirumah ini, aku akan membuat kamu semakin menderita."ucap Renata kemudian dia meraih setrikaan panas yang berada dihadapannya, dan..
"Aw, panas Mbak."ringis Dira kepanasan, saat setrikaan itu mengenai punggung tangannya.
"Panas, ya? Kalau begini bagaimana?"Renata tersenyum puas, sambil menekan kuat setrikaan yang masih menyala itu.
"Ampun, Mbak. Ini panas sekali, stop Mbak, aku mohon. Ampun Mbak!"lirih Dira memohon.
"Ini belum seberapa, aku akan melakukan hal yang lebih kejam daripada ini. Selama kamu masih berada dirumah ini, camkan itu!"Renata menghempaskan setrikaan itu dengan kasar, lalu dia segera beranjak pergi darisana.
"Aw, panas sekali, mana perih lagi."lirih Dira, sambil mencabut colokan setrikaan itu, lalu dia segera pergi dari sana menuju ke dapur.
Setelah sampai di dapur, Dira segera membuka keran air, lalu dia menaruh tangannya di kucuran air itu.
"Diraa."teriak Tamara begitu menggelegar hingga membuat telinga Dira berdengung.
"Iya, bu."Dira segera mematikan keran, lalu dia terburu-buru menghampiri Tamara.
"Kenapa, bu?"tanya Dira saat dirinya sudah berada dihadapan Tamara yang sedang berada diruang keluarga.
"Pijat kaki, saya!"perintah Tamara yang sudah menyelonjorkan kakinya.
"Tapi bu, tangan aku lagi sakit. Boleh tidak mijatnya nanti saja?"pinta Dira karna punggung tangannya terasa begitu panas dan juga perih.
"Saya nyuruhnya sekarang! bukan nanti. Lagian kamu itu lemah sekali, luka segitu saja sakit! Dasar cengeng."cibir Tamara.
"Tapi ini perih sekali bu."bela Dira.
"Saya tidak peduli, cepet pijet kaki saya!"Tamara menatap nyalang Dira.
"Baik, bu."dengan terpaksa Dira mengiyakan.
Dira pun duduk disamping kaki Tamara, dia mulai memijat kaki itu perlahan, sakit dan juga ngilu rasanya saat tanganya di gerakan, Sesekali dia juga meringis.
"Lebih keras, kamu itu mijet kok kayak siput."ledek Tamara.
Dira menuruti apa yang Tamara katakan.
"Ahh, kamu mau bunuh saya, hah?"teriak Tamara.
"Kan tadi ibu, yang minta lebih keras lagi."ujar Dira.
"Saya minta lebih keras, bukan di teken begitu. Dasar tidak becus, menantu tidak berguna! Kamu itu bisanya apa sih? Apa keahlian kamu itu cuma nyusahin orang saja, hah?"Tamara menatap tajam Dira.
"Maaf, bu."ucap Dira.
"Cepat pijat lagi. Sesekali jadi orang itu harus berguna, bukan cuma menyusahkan orang saja bisanya!"ucap Tamara sinis, Dira pun kembali melanjutkan pijatannya kembali.
Satu jam telah berlalu tapi Dira masih saja memijat kaki Tamara, tangannya sudah terasa pegal, Tapi Tamara belum mengijinkannya untuk berhenti, pegal, panas, perih. Semua menjadi satu, sesekali dia meniup punggung tangannya, guna mengurangi rasa panas dan juga perih yang mendera.
"Bu, sudah dulu ya. Aku mau masak untuk makan siang, sebentar lagi pasti Mas Revan pulang!!"ucap Dira.
"Yasudah cepat sana! Tapi sebelum masak kamu bikinin saya salad buah sama jus jeruk."Tamara mengibaskan kakinya, lalu dia duduk di sopa dan langsung menyalakan TV.
"Baik, bu."Dira segera melangkah kan kakinya menuju kedapur.
Sesampainya disana, Dira langsung membuka kulkas lalu dia mengeluarkan beberapa jenis buah-buahan dan segera mencucinya, setelah itu dia lanjut memotong-motong buah-buahan itu untuk di jadikan salad.
Setelah selesai membuat salad, Dira langsung membuat jus jeruk. Setelah semuanya siap Dira langsung mengantarkannya keruang keluarga.
"Ini, bu. Salad dan jus jeruknya!"Dira meletakannya dihadapan Tamara.
"Eits, tunggu dulu. Buatkan aku kentang goreng sama jus jambu, yang enak. Awas kalau tidak enak."ucap Renata saat Dira hendak melangkahkan kakinya menuju kedapur. Sepertinya Renata baru saja tiba dari luar, jika dlihat dari penampilannya.
Dira mengangguk samar sambil melangkahkan kakinya, saat dirinya sudah berada didapur dia segera mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kentang goreng, cukup lama Dira berkutat di dapur, hingga akhirnya kentang goreng pesanan Renata pun jadi. Tinggal satu lagi, yaitu membuat jus jambu.
Setelah semuanya beres, Dira kembali melangkah menuju ruang keluarga dengan membawa sebuah nampan.
"Silahkan Mbak!"Dira menatanya di hadapan Renata.
"Bikinin saya juga, sepertinya enak. Minumnya jus mangga."lagi-lagi Dira berhenti saat dirinya hendak melangkah.
Dira tidak menjawab, dia langsung saja melangkah kedapur untuk membuatnya. Lelah? Tentu saja! Tapi mau bagaimana lagi, mungkin jalan hidupnya memang harus seperti ini, dia akan mengikuti kemana takdir tuhan akan membawanya.
"Silahkan bu."Dira meletakan piring yang berisi kentang goreng dan juga satu gelas jus mangga di hadapan Tamara.
"Cuihh, cuihh, makanan apa ini? Kenapa rasanya asin sekali? Kamu tau kan? Saya itu punya darah tinggi. Kamu sengaja ya! Supaya saya cepet mati, iya?"Tamara memuntahkan kentang yang sedang dia kunyah.
"Maaf, bu. Tadi aku udah cobain dan rasanya pas, kok!"ucap Dira.
"Jadi, kamu pikir ibu aku berbohong begitu?"Renata berdiri lalu dia menjambak Rambut Dira kuat.
"Bukan gitu, Mbak!"ucap Dira meringis.
"Jadi, maksud kamu apa, hah?"Renata semakin memperkuat jambakannya.
"Ampun Mbak! Sakit."mohon Dira.
"Sakit, ya? Makannya, kamu jangan pernah berani macem-macem sama ibu atau pun sama aku. Kalau tidak! kamu akan tau akibatnya!"ancam Renata.
"Iya, Mbak. Aku mohon lepaskan Mbak, ini sakit."lirih Dira.
"Cih, lemah."Renata melepaskan jambakannya dengan kasar, hingga Dira hampir terhuyung.
Plak!
Plak!
Setelah jambakan Renata terlepas, Tamara langsung menyambutnya dengan tamparan yang begitu keras dikedua pipi Dira.
"Itu adalah pringatan, supaya kamu tau siapa yang berkuasa di rumah ini. Jadi jangan pernah kamu membantah, atau pun berani macam-macam terhadap kami."Tamara mencengkram kuat dagu Dira.
"Baik, bu."ucap Dira dengan menahan air matanya yang hendak jatuh, Tamara pun melepaskan cengkramannya.
"Kalau begitu, aku pamit kedapur dulu bu, Mbak. Aku mau masak untuk makan siang."Dira berusaha untuk tetap tersenyum lalu dia segera melangkah menuju kedapur.
Tapi baru saja hendak melangkah, Dira sudah melihat suaminya berada didepan pintu. Dira pun langsung saja menghampiri suaminya.
Mohon dukungannya readersku😊
Like👍 comen and vote ya🙏🙏
Dukungan kalian sangat berarti bagi author💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
pergi saja Dira daripada kamu disakiti terus..apakah tiada pembelaan dari suami mu
2023-03-28
0
neng ani
ihhh,kenapa nggak kabur aja sihh..
2022-12-15
0
Anita_Kim
mampir lagi Kak...
2022-05-07
0