Kapan kah kau berikan kebahagiaan?

Tubuh Dira menggigil kedinginan, sakit pisiknya tidak seberapa di bandingkan dengan luka hatinya. Sudah banyak persakitan yang Revan toreh kan padanya, Dira ingin menyerah dengan pernikahan ini, Dira ingin sekali pergi meninggalkan rumah yang bak neraka ini. Tapi dia belum bisa, dia harus bertahan sebentar lagi, dia belum mengetahui apa alasan Revan menikahinya. Dira yakin ada rahasia yang tersembunyi di balik pernikahan mereka.

"Aku benci kamu Revan, aku benci. Hiks tuhan kapan kah kau berikan kebahagiaan untuku? mengapa hanya persakitan yang kurasakan selama ini. Apa aku tidak pantas untuk bahagia? apa aku juga tidak pantas untuk di cintai? apakah pelangi setelah hujan itu ada? atau hanyalah angan semu semata."lirih Dira sembari memeluk tubuhnya sendiri yang terasa begitu dingin dan juga ngilu.

"Kenapa rasanya sakit sekali?"Dira merasa kan sakit yang begitu mendera di bagian punggungnya akibat benturan pada tembok tadi.

Tubuh Dira semakin menggigil, dingin, pusing, ngilu. Bercampur menjadi satu.

"Akh, kenapa kepalaku pusing sekali."ucap Dira sembari memegangi kepalanya.

Dira menggeleng pelan guna mempejelas pengelihatan nya yang mulai kabur. Dira berusaha untuk tetap terjaga, tapi sia-sia perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang, Dira pun terkulai lemas tak sadarkan diri di lantai kamar mandi yang begitu dingin.

Sementara itu kini Revan tengah berada di taman belakang rumah bersama dengan Maudy, mereka terlihat sangat bahagia, banyak sekali gurauan yang di lontarkan Revan pada Maudy sehingga membuat Maudy tertawa terbahak-bahak.

"Kau sangat lucu sekali, sayang."ucap Maudy setelah dia menghentikan tawanya.

"Kamu baru tau, hm. Selain tampan aku juga lucu dan pandai mengambil hati peremuan, termasuk hatimu."Revan mencubit pipi Maudy gemas.

"Sakit."rengek Maudy.

"Uluh, sakit ya? sini aku tiupin."Revan mendekat pada Maudy.

"Ih, kamu modus."cebik Maudy.

"Tapi suka kan?"

"Suka, lah. Oh ya sayang, bagaimana dengan wanita itu? kamu apakan dia?"tanya Maudy.

"Dia sudah aku aman kan, sayang. Jadi dia tidak akan menggangu kebersamaan kita."Jawab Revan.

"Baguslah, jadi hari ini aku bisa puas menghabiskan waktu bersama mu."girang Maudy.

"Kenapa hanya hari ini? hari esok dan seterusnya pun kita akan menghabiskan waktu bersama."ujar Revan.

"Tapi kau masih mempunyai istri Revan. Kenapa kau tidak menceraikan nya? lalu menikah denganku."

"Aku tidak bisa menceraikan nya."

"Kenapa?"

"Aku mempunyai alasan tersendiri."

"Apa alasan itu juga yang membuat mu menikahinya?"

"Ya, jika bukan karna itu aku tidak sudi menikahi wanita kampungan itu. Menyentuhnya saja aku jijik."

"Lalu bagaimana denganku? kau tidak akan menikahi ku?"

"Aku akan menikahi mu sayang, secepatnya. Tapi nikah siri tidak apa-apa kan?"

"Ok, tidak masalah. Yang penting aku menjadi istrimu."ucap Maudy senang.

Revan pun ikut tersenyum, dia mulai mendekati Maudy dan merengkuh mesra tubuh wanita itu, Revan juga mendaratkan bibirnya di bibir ranum Maudy, cukup lama mereka saling terpaut tanpa memikir kan bagaimana nasib Dira.

Malam semakin larut, tapi tidak ada satu pun orang yang membuka kunci kamar mandi tempat Dira di kurung. Tiada satu pun yang perduli padanya, bahkan Revan pun entah lupa atau sengaja dia membiarkan Dira tetap berada di sana dengan malam yang sangat dingin ini. Sudah bisa bisa di bayangkan bagaimana dinginnya di dalam kamar mandi sana dengan kondisi tubuh yang basah kuyup belum lagi cuaca malam yang begitu sejuk nan dingin hingga menusuk kedalam kulit.

Di tengah malam yang menjelang dini hari, barulah Dira mengerejapkan matanya. Dia mulai tersadar dari pingsan nya. Dira membuka matanya perlahan dan hatinya begitu teriris ternyata dia masih berada di tempat yang sama, tempat yang begitu dingin hingga membuat bibir Dira membiru saking dinginnya.

"Hm, jangan berharap yang tidak-tidak. Tidak mungkin akan ada orang yang menolong mu. Mereka semua tidak ada yang perduli padamu, meskipun kamu mati sekalipun, mereka hanya akan tertawa. Jadi nikmatilah penderitaan ini sendiri."ucap Dira pada dirinya sendiri.

"Kamu tidak boleh lemah Dira, kamu harus bisa bangkit dan melawan mereka. Semua yang mereka lakukan harus kau balas dengan setimpal. Jika mereka tidak menghargaiku untuk apa aku menghargai mereka. Aku capek terus-terusan mereka tindas, aku capek menjadi lemah. Tuhan berikan lah aku kekuatan, jangan biarkan diri ini lemah sehingga mudah sekali untuk mereka tindas."lirih Dira sembari menghapus air matanya yang terus mengalir.

Dari dini hari hingga pagi hari, Dira tetap terjaga, dia sama sekali tidak memejamkan matanya. Tiada rasa kantuk yang ia rasakan yang ada hanyalah rasa sakit yang begitu mendera di relum hatinya.

Ceklek,

Revan datang dan membuka kunci pintu kamar mandi itu, setelahnya dia pergi berlalu begitu saja tanpa menanyakan keadaan Dira.

"Segitu tidak berarti nyah aku?"lirih Dira sembari menatap punggung Revan yang mulai menjauh.

Dira pun perlahan bangkit dan mulai melangkah keluar dari kamar mandi itu dengan tibuh yang begitu lemas, dia merasa tidak punya lagi tenaga untuk menompang tubuhnya.

Kini Dira sudah masuk kedalam kamarnya, karna Revan mengurungnya di kamar mandi untuk tamu, bukan dikamar mandi yang ada di kamar mereka.

"Biadab kamu Revan, kau mengurung istri mu di dalam kamar mandi dan kau bercinta dengan wanita lain di kamar kita. Kau jahat, kau kejam. Aku benci padamu Revan."teriak Dira dengan air mata yang mengalir deras manakala dia melihat pemandangan kamarnya yang begitu berantakan, baju berserakan dimana-mana dengan ranjang yang tak karuan tak hanya itu kotak pengaman juga berjejer di atas nakas dengan berbagai merek.

"Ahk, aku benci semua ini. Aku benci diriku yang lemah ini. Harusnya aku bisa melawan mereka, tapi kenapa aku lemah seperti ini."lirih Dira sembari menjatuh kan dirinya ke lantai.

Membayangkan mereka bercinta di kamarnya di malam yang begitu dingin, membuat hati Dira berdenyut sakit. Sesak sekali rasanya dan seperti ada gumpalan besar di dalam dadanya yang hendak meledak. Dira memukul-mukul kuat dadanya supaya rasa sakit itu berkurang, tapi tetap saja rasa sakit itu bersarang di dalam hatinya.

"Mamah,"teriakan Naina membuat Dira segera menghapus air matanya.

"Iya, sayang."Dira mendongkak supaya bisa melihat wajah kedua anaknya.

"Mamah kenapa nangis?"tanya Abian sembari mendekati Dira.

"Mamah tidak papa, hanya kelilipan saja."kilah Dira.

"Mamah bohong, pasti Papah nyakitin Mamah lagi kan?"Abian menatap Dira.

"Emang Papah jahat ya, bang? kok Papah nyakitin Mamah terus sampai Mamah menangis."tanya Naina polos.

"Papah gak jahat kok, sayang."ucap Dira.

"Kalau Papah gak jahat, kenapa Papah suka marahin Mamah?"tanya Naina lagi.

"Karna Mamah nakal, jadi Papah marahin Mamah."Dira berusaha untuk tersenyum.

"Kalian berangkat sekolah sana, nanti telat. Maaf ya tadi Mamah tidak bantu kalian bersiap."sambung Dira.

"Tidak papa Mah, kami sudah bisa bersiap sendiri. Mamah pasti capek seharian mengurus rumah tanpa henti."ujar Abian.

"Mamah bangga mempunyai anak seperti kalian."

"Kami juga bangga mempunyai ibu, yang hebat seperti Mamah. Kami pamit berangkat sekolah dulu ya Mah."

"Iya sana, kasian pak supir lama menunggu. Hati-hati dijalannya ya."

Terpopuler

Comments

NurH5h

NurH5h

Nggak sabar nunggu pembalasan dari Adira

2022-04-15

1

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

iya, kapan ni balas dendamnya😑


berat kan, di bawa kesana kemari...


lanjuuut

2022-03-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!