Sesampainya di rumah sakit, Adira langsung berteriak memanggil Dokter dan juga suster yang ada disana agar segera menolong anaknya.
"Tolong Dok, selamtkan anak-anaku."ucap Adira yang penampilannya sudah tak karuan,
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menangani anak-anak anda."Dokter itu pun segera masuk kedalam ruangan IGD untuk menangani kedua anak Dira.
Tubuh Dira sangat lemas tak berdaya, dia menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.
"Selamatkan mereka tuhan, hanya merekalah yang aku punya saat ini."lirih Dira kemudian tubuhnya luruh kelantai.
"Kenapa cobaan datang begitu bertubi-tubi kepadaku? tidak puas kah kau melihat penderitaan ku selama ini? mengapa kau tambah lagi penderitaan ku? kenapa harus anaku tuhan? kenapa?"Dira menangis dengan tersedu-sedu sembari memeluk lututnya.
"Kau ini sangat memalukan sekali, lihat orang-orang menatap kearah mu."ucap Revan yang terlihat kesal.
"Kau sungguh tidak punya hati Revan, anak-anak mu sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam. Tapi kau, apa kau tidak punya rasa belas kasih sedikit pun? mereka anak mu Revan, anak mu. Kau memang Ayah yang paling biadab yang ada di muka bumi ini, apa tidak ada sedikit saja rasa sayang dihatimu untuk mereka Revan? sedikit saja."ujar Dira dengan berderai air mata.
"Aku tidak peduli terhadap mereka, mau mereka celaka kek, mati kek. Itu bukan urusan ku, lagi pula aku tidak sudi mempunyai anak darimu, mereka bukan anaku, anaku adalah anak yang akan lahir dari rahim Maudy kelak, wanita yang aku cintai."Jelas Revan yang membuat hati Adira semakin hancur.
"Bagaimanapun mereka tetap anak mu, meskipun mereka terlahir dari rahim wanita yang tidak kau cintai. Tapi mereka adalah darah daging mu Revan. Mereka akan sakit hati Revan, jika mereka tau ayahnya sendiri tidak mengakui mereka. Bukalah sedikit perasaan mu, sayangi mereka dengan tulus, mereka butuh kasih sayang dan juga kehadiran mu."ucap Dira dengan hati yang berdenyut sakit.
"Sudah ku bilang, aku tidak peduli terhadap mereka, jadi jangan sangkut paut kan aku dengan kedua anak mu itu. Kau urus saja mereka sendiri."ujar Revan sembari melangkah pergi meninggalkan Adira yang masih menangis tersedu.
"Kau mau kemana Revan?"
"Pulang, Maudy pasti menunggu ku."Jawabnya yang mulai menjauh.
"Iblis kau Revan, anak mu sedang terbaring lemah. Tapi kau masih saja memikirkan istri baru mu. Aku benci padamu Revan, hiks hiks, tuhan kuatkan lah aku, demi kedua anaku."lirih Adira dengan tangisan pilu.
Cukup lama Adira menunggu di depan IGD seorang Diri, dia terus saja berdo'a supaya kedua anaknya selamat. Air mata juga tak henti-hentinya mengalir di pipi merah dan juga lebah itu.
Ceklek,
Pintu IGD terbuka.
"Dokter bagaimana keadaan kedua anak saya?"Dira langsung bangkit dan menghampiri sang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD.
"Begini bu, anak laki-laki ibu saat ini sedang keritis karna kehilangan banyak darah, untung saja stok darah yang cocok dengan anak ibu masih tersedia di rumah sakit ini. Semoga anak ibu akan segera sadar."ujar sang Dokter kemudian dia menghela nafas panjang.
"Lalu, bagaimana dengan anak perempuan saya, Dok?"
"Maaf bu, anak perempuan ibu tidak dapat kami selamatkan. Tuhan lebih menyayanginya. Saya turut berduka cita, semoga ibu dan keluarga di berikan ketabahan."Jawab Dokter itu.
Duar, bagai tersambar petir di siang bolong saat mendengar penuturan Dokter itu, Adira tidak percaya sang putri telah tiada. Adira menjabak rambutnya kasar, berharap ini hanyalah mimpi.
"Ini tidak benar kan? kamu gak mungkin ninggalin Mamah kan Nai? kamu sudah janji akan selalu menjaga Mamah, melindungi Mamah. Tapi kenapa kamu pergi ninggalin Mamah Nai,"teriak Dira histeris.
"Ibu yang sabar bu, yang tabah. Tuhan lebih menyayangi anak ibu, anak ibu juga pasti akan sedih jika melihat ibunya seperti ini."ucap seorang suster berusaha menenangkan Adira yang tengah histeris.
"Ini hanya mimpi kan, sus? tidak mungkin Naina meninggalkan saya, dia sudah berjanji akan selalu menemani saya. Ini semua tidak benar kan sus? Naina ku masih hidup, dia masih hidup."lirih Adira.
"Anak ibu sudah tiada, ibu iklas kan dia ya bu. Supaya dia tenang. Sekarang ayok temui anak ibu untuk yang terakhir kalinya."ujar suster itu sembari berusaha membantu Adira untuk berdiri.
Adira di papah oleh suster itu untuk menemui jenazah Naina.
Tangis Adira kembali pecah manakala dia melihat tubuh kecil sang putri sudah terbujur kaku dengan wajah yang pucat.
"ENGGAK, SEMUA INI TIDAK BENAR."teriak Adira.
"Ibu tenang ya, mari temui anak ibu."suster itu menuntun Dira supaya mendekat pada jenazah Naina.
"Nai, putri Mamah. Kenapa kamu ninggalin Mamah nak? kenapa? hiks hiks hiks, tuhan tolong kembalikan putriku. Jangan ambil dia dariku tuhan."lirih Adira sembari memeluk erat tubuh mungil putrinya, kemudian dia menatap lekat wajah pucat Naina dan mengecup lembut kening yang begitu dingin itu.
"Ma-mah,"lirih Abian yang terbaring lemah di samping brangkar Naina.
"Abi, kamu sudah sadar sayang?"Adira buru-buru menghampiri Abian.
Abian hanya menjawab dengan tersenyum tipis sembari menatap lekat Adira.
"Mana yang sakit, sayang? bilang sama Mamah."Adira menilik seluruh tubuh Abian.
"Abang baik-baik saja, Mah."ucap Abian dengan suara yang sangat lirih.
"Abi, jangan tinggalin Mamah ya. Mamah sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Adek kamu sudah ninggalin Mamah, hanya kamu yang Mamah punya saat ini."Adira menangis dengan tersedu-sedu.
"Mamah jaga diri baik-baik yah, karna sekarang abang gak bisa lagi jagain Mamah."lirih Abian.
"Maksud abang apa?"Dira menatap sang putra dengan berlinang air mata.
"Berbahagialah, jangan biarkan air mata menetes kembali di pipi Mamah. Pergilah cari kebahagiaan baru, tinggalkan semuanya yang membuat Mamah tersiksa. Tinggalkan Papah, jangan lagi kembali padanya, Mamah hanya akan tersiksa berada di tempat itu."bibir munggil nan pucat itu berbicara dengan sangat dewasa.
"Iya, kita akan pergi dari tempat itu. Kita akan mencari kebahagiaan baru. Abang harus sembuh ya."Adira menggenggam lembut tangan mungil itu.
"Abang tidak bisa lagi menjaga Mamah, sekarang abang harus menjaga adek di surga sana. Mamah jaga diri baik-baik."lirih Abian lagi.
"Tidak, abang harus tetap disini, siapa yang akan menjaga Mamah jika abang juga pergi?"tangis Dira begitu pilu.
"Suatu saat, akan ada seseorang yang akan menjaga Mamah dengan tulus. Abang harus pergi menjaga Adek."suara Abian kian melemah.
"Gak abang gak boleh ninggalin Mamah."
"Tersenyumlah, abang tidak mau melihat Mamah terus-terusan menangis, begitu juga Naina. Kami ingin Mamah bahagia. Berjanjilah untuk selalu tersenyum dan bahagia."bibir mungil itu berbicara dengan sedikit bergetar.
"Bagaimana Mamah bisa bahagia? bisa tersenyum? jika kalian tidak ada di samping Mamah."
"Kami Memang tidak ada di samping Mamah. Tapi kami akan selalu berada di hati Mamah, jika Mamah merindukan kami, tatap lah bintang dilangit, jika ada bintang yang cahaya nya paling terang, itu adalah kami."Abian tersenyum begitu manis terhadap Adira.
"Abang sa-yang Mamah,"sambung Abian dengan terbata.
"Mamah juga sayang Abian,"Adira memeluk tubuh mungil Abian dengan begitu erat.
"Ma-mah, adalah ibu ter-baik, terima-kasih, Ma-mah."ucap Abian kemudian dia menutup kedua kelopak matanya dengan bibir yang nampak tersenyum.
"Abi bangun, Abi. ABIII."Adira mengguncangkan tubuh Abian.
"DOKTER, SUSTER. TOLONG ANAK SAYA, DIA KENAPA?"teriak Dira.
Dokter pun segera menghampiri Dira dan langsung memeriksa Abian.
"Bagaimana Dokter? anak saya kenapa?"tanya Adira tidak sabaran.
"Anak ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya, dia sudah tiada."ucap sang Dokter.
"TIDAKKK, KENAPA KALIAN SEMUA NINGGALIN MAMAH, TIDAKKK, INI SEMUA HANYA MIMPI KAN? INI MIMPI, mereka tidak mungkin meninggalkan ku? tidak mungkin."teriak Adira yang di akhiri dengan lirih.
"Ibu yang tabah ya."ucap suster itu prihatin.
"Tidak mungkin."lirih Adira kemudian tak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sedihnya..
2023-03-28
0
Dyah Shinta
Nyesel gak lo..!!!
Mentingin rahasia daripada anak.
Makan tuh rahasia..!!!
(sewot gue.. kesseeellll ... mau berhenti baca udah nanggung... hiihhhh)
2022-11-03
0
Dyah Shinta
Makanya... utamakan keselamatan anak2...
Author bikin aku darting ihhh....
2022-11-03
0