BAB 11.

"Hari ini aku hanya membuat mu ter usir dari kamar ini, suatu saat nanti aku akan membuat mu di tendang dari keluarga Revanga. Dan aku yang akan menggantikan posisi mu."gumam Maudy yang kini sedang duduk di tepi ranjang yang berada di kamar Revan.

Maudy benar-benar bahagia akhirnya dia bisa menguasai Revan dan sebentar lagi dirinya pasti bisa menguasai harta milik Revan. Maudy memang mencintai Revan, tapi dia lebih cinta lagi pada harta Revan. Baginya harta lebih berharga dari apa pun jadi dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa menguasai harta Revan, termasuk menyingkirkan Dira.

"Sedang melamunkan apa, hm."Revan yang baru saja masuk kedalam kamar langsung saja menghampiri Maudy.

"Aku hanya berpikir mungkin aku akan bahagia jika aku terus berada disini bersama mu."Jawab Maudy.

"Kamu bisa terus berada disini, disampingku sampai kapan pun itu, sepuas mu sayang."ujar Revan sembari mendekati Maudy lalu memeluknya dari samping.

"Aku tidak bisa tinggal disini lebih lama, Revan."

"Kenapa? katanya kamu akan bahagia bila terus berada disini bersamaku."

"Iya, tapi aku bukan istri mu. Jadi aku tidak bisa terus-terusan berada disini."

"Ya sudah, kalau begitu besok kita akan menikah supaya kamu bisa bebas tinggal disini."ucap Revan.

"Kamu serius?"tanya Maudy tidak percaya.

"Serius sayang, besok kita akan menikah. Apakah kamu bersedia."Jawab Revan yang semakin mempererat pelukannya.

"Tentu aku bersedia, sangat bersedia."ujar Maudy senang..

"Kalau begitu kamu puaskan aku dahulu malam ini, sebelum esok kita menikah."ucap Revan.

"Dengan senang hati."

Maudy mulai melancarkan aksinya, dia memang sangat pandai untuk urusan yang satu ini. Karna bukan hanya Revan pria yang ia puaskan tapi juga para pria kesepian di luar sana.

Jika di dalam kamar ini ada kedua insan yang sedang memadu kasih dengan begitu bahagia, lain halnya di dalam kamar yang lain. Disana nampak Dira sedang bersandar di pinggir ranjang, air matanya tak hentinya menetes membasahi pipinya, hatinya begitu terluka dengan kenyataan ini, kenyataan yang tak bisa ia terima tapi dengan terpaksa harus dijalani nya.

"Hidup ini memang tak adil, disaat orang lain meregup manisnya kehidupan tapi aku harus menelan pahitnya. Tiada setitik pun cahaya kehidupan yang menerangiku aku hanya berjalan dalam kegelapan yang tanpa arah. Harta tahta maupun cinta tak aku dapati, hanya luka dusta dan air mata yang aku lalui. Bisakah kau memberiku setitik bahagia? agar aku tau bagaimana meregup manisnya dunia. Bisakah kau hadirkan tawa, bukan kepiluan dan juga nestapa. Aku lelah tuhan, lelah dengan semua ini, lelah dengan takdir yang selalu mempermainkan ku tanpa memberiku bahagia."lirih Dira sembari memangku lututnya.

Dia tidak punya tempat untuk mengadu dan juga berkeluh kesah, dia tidak mempunyai keluarga, satu-satunya keluarga yang Dira punya hanya ibu panti, tapi sayang dia telah berpulang terlebih dahulu. Kini Dira benar-benar merasa sendiri, dia tidak punya tempat untuk bersandar, dia tidak punya tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Dia hanya bisa menangis dalam kepiluan.

"Kenapa kau pertemukan aku dengannya? jika hadirnya dia hanya untuk memberiku luka. Hidup ini memang tidak adil, mengapa hanya aku yang harus merasakan semua kepedihan ini. Mengapa hanya aku yang menanggung semua persakitan ini? apa salahku tuhan? apa? mengapa kau hukum aku dengan sekejam ini."tangis Dira begitu pilu dia terisak seorang diri dengan begitu tersedu.

Awalnya Dira menangis tanpa suara, tetapi karna sakitnya begitu mendera menghunus kedalam relum jiwa membuatnya tak kuasa menahan gejolak amarah dalam hatinya sehingga membuat tangisnya pecah begitu kencang dengan isakan pilu, tangis kesakitan dan juga amarah bercampur menjadi satu.

"Mamah kenapa nangis?"tanya Naina yang terbangun dari mimpi indahnya.

"Nai, kamu kebangun gara-gara Mamah berisik ya? maaf ya sayang."ucap Adira serak sembari menghapus air matanya.

"Nai kebangun bukan gara-gara Mamah, tapi Nai bobonya udah kelamaan, makannya kebangun deh."Naina tersenyum manis dengan muka bantalnya kearah Dira.

"Sekarang kamu bobo lagi ya, ini masih larut malam."ucap Dira..

"Nai sudah tidak mengantuk, Nai mau nemenin Mamah aja. Mamah pasti sedih ya, karna sekarang Papah udah di rebut sama tante jahat."ujar Naina.

Dira tidak menjawab, dia langsung saja memeluk erat tubuh mungil Naina, dia kembali menangis di punggung Naina.

"Mamah jangan sedih, meskipun Papah udah direbut sama tante jahat, tapi Mamah masih punya Nai sama abang."Naina mengelus lembut punggung ibunya yang nampak bergetar karna sedang menangis.

"Benar Mah, Mamah jangan sedih lagi ya. Kan Mamah masih punya kita."Abian yang tempat tidurnya bersebelahan dengan Naina pun ikut terbangun.

"Maafin Mamah ya, selama ini Mamah belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian."Dira melepaskan pelukannya laly dia menatap intens kedua anaknya.

"Mamah adalah ibu terbaik yang pernah ada, kami sangat beruntung bisa terlahir dari wanita sebaik Mamah."ucap Abian tersenyum tulus.

"Kalian berdua adalah penyemangat hidup Mamah, Mamah tidak tau seperti apa jadinya hidup Mamah bila tanpa kalian."Dira mengelus kepala kedua anaknya.

"Sekarang Mamah jangan merasa sendiri lagi, Mamah punya kita. Jadi Mamah bisa menumpahkan semua keluh kesah dan juga kesedihan Mamah pada kita, meskipun kita hanyalah seorang bocah yang tidak mengerti urusan orang dewasa, tapi setidaknya dengan bercerita hati Mamah bisa menjadi lebih lega."tutur Abian terlihat seperti orang dewasa.

"Terimakasih, sayang."Adira mendekap erat kedua anaknya.

Malam semakin larut, kini Adira sudah tertidur dengan memeluk kedua anaknya. Matanya begitu sembab dengan wajah yang memerah penampilan aut-autan, rambut berantakan, menggambarkan kesedihan Dira yang begitu mendalam.

**********

"Tambah satu ronde lagi ya sayang."ucap Revan memohon.

"Apa kau tidak lelah?"tanya Maudy, jujur saja ia sangat kewalahan mengimbangi permainan Revan.

"Tidak, tenagaku masih banyak. Bahkan aku sanggup jika kita melakukan tiga ronde lagi sekalipun."Jawab Revan dengan tatapan nakalnya..

"Besok saja ya, badanku sudah remuk rasanya. Lagian besok kan kita mau menikah, jadi kita harus tidur cepat supaya tenaga kita kembali pulih."ujar Maudy.

"Kau benar sayang, besok kita kan mau menikah. Ya sudah kita tidur saja."Revan menarik Maudy kedalam pelukannya lalu mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.

Disisi lain.

Seorang pria berperawakan kekar dengan kulit putih, tinggi dan juga tampan tentunya. Dia tengah memainkan pistol di jari telunjuknya, dia memutar-mutarkan pistol itu di hadapan seseorang yang tubuhnya terlihat bergetar begitu hebat.

"Siapa yang menyuruhmu memata-mataiku?"tanya pria itu dingin tapi terlihat sangat menakutkan.

"Jawab, atau timah panas akan segera bersarang di otak dangkal mu."emosi pria itu karna orang yang berada di hadapannya sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan dia menatap dirinya pun enggan.

"Sa-ya hanya di suruh tuan Mike, saya mohon, jangan bunuh saya."ucap pria itu memelas..

"Rupanya kau ingin bermain-main denganku Mike."Pria itu menyeringai dengan aura yang sangat menyeramkan.

Mohon dukungannya dengan meninggalkan jejak.

Like, Comen and Vote😘😘.

Terpopuler

Comments

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

siapa itu cowonya😎


penasaran...


lanjuuut

2022-03-01

1

Mak Aul

Mak Aul

makin seru ih....
Jahat nya revan...ternyata dia hyper sama kayak seno🙄

2022-02-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!