**Budayakan like, setelah membaca👍👍
Happy reading💕💕💕💕**
Setelah cukup lama Adira berkeliling, akhirnya dia mendapatkan pesanan Maudy. Dia pun langsung saja membawanya pulang kerumah.
Saat dirinya sampai dirumah, lagi-lagi hatinya berdenyut sakit. Kala dia melihat Revan tengah bermanja pada Maudy, Revan sedang tiduran di paha wanita itu.
"Kenapa sakit sekali."lirih Dira sembari meremas kuat dadanya.
Tak mau menyaksikan pemandangan itu lebih lama lagi, Dira pun langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Sesampainya disana dia segera membersihkan ayam dan juga ikan yang dibawanya tadi, Setelah bersih, Dira mengambil beberapa bumbu lalu meraciknya dan menuangkannya kedalam ayam dan juga ikan tersebut.
Cukup lama Dira berkutat di dapur seorang diri, dia membakar ikan dan juga ayam sesuai permintaan Maudy. Tak lupa juga dia membuat sambel dan juga lalapan. Setelah semuanya siap dia pun langsung saja menghidangkannya di meja makan.
"Maaf, makanannya sudah siap."ucap Adira saat dirinya menemui orang-orang yang sedang berada di ruang keluarga.
"Baguslah, saya sudah lapar. Dan ingat ya, kamu dan anak-anak mu tidak boleh ikut makan bersama kami."ujar Tamara.
"Kenapa begitu bu? kan biasanya kita selalu makan bersama."tanya Dira.
"Karna sekarang keluarga Revanga mempunyai anggota keluarga baru, dan kami tidak ingin kamu dan anak-anak mu membuat rusuh sehingga membuat makam malam kami berantakan."Jawab Tamara penuh penekanan.
"Tapi bu, kami juga kan keluarga ibu."
"Keluarga? mimpi. Saya tidak sudi mempunyai keluarga seperti kalian."hardik Tamara.
"Sudah lah jangan berdebat, kamu juga Dira, turuti saja apa mau ibu. Tinggal makan saja apa susahnya sih? kamu kan bisa makan di dapur di gudang kek. Masih banyak tempat yang lainnya tidak hanya di meja makan."ucap Revan jengah..
Tanpa berkata apa pun lagi, Dira langsung saja melangkah pergi dari hadapan mereka dengan raut wajah yang di penuhi oleh amarah.
"Kamu jahat Revan, jahat. Kamu lebih mementingkan wanita itu daripada aku dan juga kedua anakmu."lirih Dira sembari mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi..
Dira terus saja melangkah dengan air mata yang bercucuran, dia baru menghentikan tangisnya saat dirinya sampai di depan pintu kamar kedua anaknya.
"Abang, adek. Makan dulu yu."ajak Dira pada kedua anaknya yang sepertinya baru selesai belajar.
"Ayok Mah, Nai laper banget."ucap Naina.
Dira pun langsung saja menggandeng kedua anaknya untuk keluar dari kamar..
"Loh, kok kita ke dapur sih, Mah?"tanya Abian karna Adira membawa mereka ke dapur bukan ke meja makan.
"Kita makannya di dapur ya, sayang."Jawab Dira.
"Kenapa? apa nenek melarangnya?"Abian menatap manik mata sang Mamah.
"Nai tadi laper kan? ayok kita makan. Nanti makanan nya keburu dingin."Adira tidak mau menjawab pertanyaan Abian.
Mereka pun makan dengan lahap meskipun berlesehan di lantai dapur. Abian tidak mau lagi banyak bertanya dan membuat Mamahnya sedih, dia memilih diam saja. Berbeda dengan Naina yang polos, dia tidak mengerti apa pun kenapa mereka makan disini, bagi Nai yang penting dia makan mau dimana pun itu dia tidak akan protes.
"Sekarang kalian pergi ke kamar, dan langsung tidur jangan mengobrol. Nanti bangunnya kesiangan, kan besok sekolah."ucap Adira pada kedua anaknya setelah mereka selesai makan.
"Baik, Mah. Selamat malam."ucap mereka berdua.
"Malam juga, sayang."balas Adira sembari mengelus kepala kedua anaknya.
Setelah kedua anaknya masuk kedalam kamar, Dira pun langsung saja pergi menuju meja makan untuk membereskan bekas makan mereka sekaligus mengambil piring kotor.
"Biar aku bantu."ucap Maudy sok baik saat melihat Dira kesusahan membawa piring kotor yang lumayan banyak.
"Tidak usah sayang, biarkan saja dia yang mengerjakan semua itu. lagi pula dia sudah terbiasa."Revan langsung memegang tangan Maudy yang hendak bangkit.
"Aku kan mau belajar jadi istri yang baik buat kamu. Jadi aku harus pintar dalam hal apa pun, termasuk mengurus pekerjaan rumah."ucap Maudy sambil menggenggam tangan Revan.
"Tuh, dengerin Dira. Jadi istri itu harus seperti Maudy, dia pintar dalam hal apa pun. Tidak seperti kamu yang lelet dan tidak berguna, mengurus pekerjaan rumah saja tidak becus."sahut Tamara dengan memandang Dira sinis.
Kalau dia tidak becus dalam mengurus pekerjaan rumah, lantas siapa yang mengerjakan nya selama ini? sehingga rumah selalu rapih dan juga bersih, siapa juga yang memasak makanan untuk mereka makan? bukan kah dirinya. Lalu mengapa mereka selalu berkata jika Dia tidak becus dalam hal apa pun, pikir Dira. Tapi dia sedang malas berdebat jadi dia memilih diam saja dan melangkah pergi menuju dapur dengan membawa piring kotor.
"Jika bukan aku yang mengerjakan semua ini? lantas siapa? setan! kenapa mereka selalu saja mengataiku tidak becus. Ingin sekali ku sumpel mulut mereka dengan lahar panas supaya melepuh agar mereka tidak lagi berbicara hal yang menyakitkan."gerutu Dira sembari mencuci piring.
"Kamu itu lebih pantas menjadi pembantu, dari pada seorang istri dari Revan Erlangga."
Dira langsung berbalik dan menatap orang yang sedang berbicara di belakangnya dan ternyata itu adalah Maudy.
"Itu masih mending, dari pada kamu, seorang pelakor. Setidaknya seorang pembantu lebih terhormat daripada seorang pelakor."balas Dira dengan tatapan tajamnya.
"Aku sangat hebat bukan? aku bisa merebut suamimu dengan mudah, bahkan sampai membuatnya bertekuk lutut padaku."ucap Maudy bangga.
"Menjadi pelakor saja bangga, apa kau tau? perbuatan mu itu sangat terhina."
"Aku tidak peduli, yang terpenting aku bisa mendapatkan apa yang aku mau."
"Kau memang wanita yang tidak punya hati, seharusnya sebagai seorang wanita kau mengerti bagaimana rasanya ketika orang yang kita cintai di rebut oleh orang lain."
"Aku tidak merebutnya, dia sendiri yang datang kepadaku. Dan asal kau tau, dia itu tidak mencintaimu, sadarlah, cintamu itu tidak terbalaskan."
"Dia datang karna kau yang menggodanya bukan, dasar perempuan penggoda."marah Dira sembari mengangkat tangannya hendak menampar Maudy.
"Eits, selow dong. Brutal sekali ya, anda. Kamu lihat saja nanti, sebentar lagi aku akan merebut posisi mu dan menyingkirkan mu darisini."ucap Maudy menyeringai.
"Ka...."belum sempat Dira berbicara, Maudy sudah menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan begitu keras sehingga membuat Dira menjadi bingung.
"Ahkkk, sakit. Kenapa kamu mendorongku?"teriak Maudy dengan wajah meringis bak orang kesakitan.
"Siapa yang mendorong mu?"bingung Dira.
"APA YANG KAU LAKUKAN, DIRA?"teriak Revan di ambang pintu dapur, lalu dia berjalan menghampiri mereka.
"Sayang, dia mendorong ku. Padahal aku hanya ingin membantunya."bohong Maudy dengan manja.
"Kenapa kau mendorong Maudy, hah?"hardik Revan dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak mendorongnya, dia menjatuhkan dirinya sendiri."bela Dira.
"Dia bohong sayang, dia yang mendorongku. Aku tidak mungkin menjatuh kan diriku sendiri, aku tidak segila itu."ucap Maudy dengan wajah memelas.
"Aku percaya padamu sayang. Wanita itu yang salah, dia memang kurang ajar dan tidak tau sopan santun."Revan membantu Maudy untuk berdiri dengan tertatih.
"Kau lebih mempercayai dia daripada aku? jelas-jelas dia berbohong Revan."Dira nampak marah sekaligus kecewa terhadap Revan.
"Karna dia tidak mungkin berbohong, tidak seperti mu yang penuh dengan sandiwara."
"Bukankah yang penuh sandiwara itu adalah kau Revan, hidupmu di penuhi dengan berbagai sandiwara."Dira menunjuk wajah Revan.
"Aw, sakit banget sayang."ucap Maudy meringis.
"Bagian mana yang sakit, hm?"tanya Revan.
"Kaki, sepertinya kaki ku terkilir karna dia terlalu keras mendorongku."Jawab Maudy manja.
"Kamu duduk disini dulu, ya."Revan menuntun Maudy untuk duduk di kursi tunggal yang berada di dapur.
"Dan, kamu. Ikut aku."Revan langsung saja menarik tangan Adira dengan kasar.
"Aku mau dibawa kemana Revan?"Dira berusaha melepaskan diri.
"Diam kamu."
Plak!
Revan menampar pipi Adira.
"Kamu jahat Revan."pekik Adira.
"Itu karna kamu telah berani menyakiti, Maudy ku."ucap Revan penuh penekanan.
"Dia itu hanya orang lain Revan. Aku yang istrimu aku, aku bukan dia."
"Apa katamu? dia orang lain! dia itu bukan orang lain, tapi dia itu adalah wanita yang aku cintai, dan sebentar lagi dia akan menjadi istriku. Dan bagiku kamu itu bukan siapa-siapa, kamu itu hanyalah seongok sampah yang mengotori pemandangan ku."
Brukk!
Revan mendorong Dira dengan begitu kasar, sehingga Dira terbentur ke tembok.
Plak!
Plak!
Setelah Dira terhuyung dilantai, Revan langsung saja menghadiahi Dira dengan tamparan yang begitu keras, sampai bibir Dira sedikit robek dan mengeluarkan darah segar.
"Kau biadab, Revan."lirir Dira.
"Ya, aku memang biadap terhadap sampah sepertimu, menjijikan dan tidak berguna."Revan menarik kerah baju Dira kasar dan memaksa Dira untuk berdiri.
Setelah Dira berdiri Revan langsung saja menendang perut Dira dengan menggunakan lututnya, sontak saja Dira langsung terhuyung kembali dengan memegangi perutnya yang teramat sakit.
"Itu adalah balasan untuk kaki Maudy yang terkilir."ucap Revan sembari menarik Dira untuk berdiri dan menyeretnya kasar menuju kedalam kamar mandi.
Brukk!
Revan menghempas kan kasar tubuh Dira ke lantai kamar mandi yang begitu Dingin, tak hanya sampai disitu Revan juga mengguyur Dira dengan air yang begitu dingin sehingga membut Dira basah kuyup. Lalu dia pun meninggalkan Dira yang sedang kedinginan didalam kamar mandi, Revan juga mengunci kamar mandi itu supaya Dira tidak bisa keluar.
Mohon dukungannya kakak😊 karna karya ini sedang mengikuti lomba💖
Like👍 Comen, Vote and Favorit ya😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Dira bodoh mau nya diseksa terus..pergi saja bawa anakmu
2023-03-28
0
Shuhairi Nafsir
kenapa kamu lembab lagi goblok banget Dira. apa lagi yang kamu ingin mengharapkan sama Revan. dasar goblok
2022-12-28
0
NurH5h
Beri balasan yang setimpal ya Thor buat suami macam Revan😡
2022-04-15
1