BAB 14.

"ADIRAAA,"teriak Revan begitu menggema di ruangan itu sehingga Adira yang sedang menyuapi Naina pun langsung terburu-buru keluar.

"Ada apa."tanya Dira bingung karna dia melihat kemarahan yang begitu besar pada raut wajah Mereka, kecuali Maudy dia sedang meringis kesakitan.

"Kenapa kau meracuni Maudy hah? kau dendam padanya, iya? kau sungguh keterlaluan sikap mu sungguh kekanak-kanakan sekali Dira."ucap Revan murka.

"Aku tidak meracuni dia, aku tidak mungkin sejahat itu Revan."ujar Adira.

"Jika kau tidak meracuninya, lantas mengapa dia begitu kesakitan, hah?"bentak Revan.

"Aku tidak tahu, mungkin saja dia hanya berpura-pura."Jawab Dira.

"Aku tidak berpura-pura, ini sangat sakit sekali."ucap Maudy sembari meringis dan memegangi perutnya.

"Kau lihat itu, Maudy begitu kesakitan. Tidak mungkin dia berpura-pura, untuk apa? tidak ada gunanya juga."

"Supaya kau membenciku, mungkin."

"Sudah dari pada ribut begini, lebih baik kita buktikan. Salad itu beracun atau tidak, jika iya, maka ibu sendiri yang akan menghukum wanita ini."ujar Tamara,

"Baiklah, aku akan menelpon dokter Albert supaya dia datang kesini untuk mengecek makanan ini sekaligus memeriksa keadaan Maudy."ucap Revan.

"Bukannya jika melakukan tes seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama? dan juga harus di bawa ke lab terlebih dahulu bukan?"tanya Renata.

"Mbak lupa siapa dokter Albert, dia dokter sekaligus ilmuan yang sangat cerdik. Jadi dia bisa menciptakan sebuah alat yang bisa mengetes kadar racun dalam apa pun itu termasuk dalam makanan dengan secepat kilat."Jelas Revan.

"Ah, iya. Aku lupa, ya sudah cepat kau panggil dia kesini."ujar Renata.

Revan pun segera menelpone dokter Albert untuk memintanya datang kesini.

Tidak menunggu lama dokter Albert sudah sampai di kediaman keluarga Revanga, dia langsung saja memeriksa makanan itu dengan alat yang di bawanya dan benar saja salad itu terbukti beracun. Setelah itu dia juga memeriksa keadaan Maudy.

"Untung saja racun yang masuk kedalam pencernaannya hanya sedikit, jadi dengan meminum obat ini saja dia akan pulih kembali."ucap Dokter Albert sembari memberikan beberapa lembar obat.

"Untung saja kamu tidak terlalu banyak makan salad itu sayang."ujar Revan.

"Iya untung saja, ya."Maudy memang sempat memakan sepotong buah yang telah dia taburi racun itu, dia takut jika Revan akan memeriksa kan nya pada dokter

"Semuanya sudah beres, kalau begitu saya permisi."pamit dokter Albert.

"Iya dok, terimakasih."

Setelah dokter Albert pergi, Revan langsung saja menghampiri Dira yang masih berdiri mematung.

Plak,

Plak,

Revan mendaratkan dua tamparan yang begitu keras di kedua pipi Dira.

"Wanita keparat, wanita sialan. Beginikah caramu membalas semua kebaikan ku selama ini, hah?"bentak Revan dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.

"Tapi aku tidak meracuninya Revan, aku tidak sekeji itu. Aku masih punya hati, aku bukan pembunuh."bela Dira.

"Halah, bulsyt. Jangan percaya dengan bualannya Revan. Lebih baik kau pergi saja bawa Maudy ke kamar, biar saja wanita ini jadi urusan kami."ucap Renata.

"Baiklah, Mbak urus wanita ini, berikan dia pelajaran yang setimpal."ujar Revan.

"Ayok sayang kita ke kamar, kamu harus istirahat."sambung Revan sembari merangkul Maudy kemudian membawanya pergi menuju kamar mereka.

"Renata, kau ambil peralatannya. Kita berikan pelajaran berharga kepada wanita sialan ini."ucap Tamara.

"Siap bu, tanganku sudah gatal ingin mencabiknya."ujar Renata sembari melangkah pergi entah kemana.

"Eits, mau kemana."Tamara langsung mencekal Dira yang hendak melangkah.

"Lepaskan aku bu, aku tidak bersalah. Aku tidak pernah menaruh racun itu di salad Maudy."ujar Dira dengan memelas.

"Tidak semudah itu saya akan melepaskan mu, saya akan memberimu pelajaran terlebih dahulu."ucap Tamara menyeringai.

"Aku mohon lepaskan aku bu."Dira berusaha untuk berontak.

"DIAM."

Plakk,

Plakk,

Tamara menampar kedua pipi Adira dengan begitu keras, tamparan Revan yang tadi pun masih terasa, kini ditambah lagi dengan tamparan Tamara. Pipi Adira terasa semakin panas dan berdenyut juga perih karna sudut bibirnya nampak mengeluarkan darah segar.

"Aw,"ringis Dira sembari memegang pipinya..

"Sakit? makannya jadi orang jangan suka membantah."Tamara tersenyum puas.

"Nih bu, alatnya."ucap Renata yang baru saja datang dengan membawa sebuah cambuk dan juga tali tambang.

"Bagus, ayok kita seret wanita ini ke gudang yang ada di lantai dua."ujar Tamara.

"Lepas, aku tidak bersalah."berontak Dira saat kedua wanita itu memegangi kedua tangannya.

"Diam kamu."bentak Tamara.

"Cambuk dulu aja bu, biar dia diem."ujar Renata.

"Ide yang bagusi."

Cetarr,

Cetarr,

Tamara menyambuk Adira beberapa kali hingga membuatnya meringis, setelah cukup puas mencambuk Adira sampai lemas, mereka pun menyeret Adira untuk naik keatas tangga.

"Cepet jalan."ucap Renata saat mereka sedang berada di pertengahan tangga.

"Jangan kurung aku, aku mohon."Dira berucap dengan sangat lemas.

"Seret saja dia, Ta."ujar Tamara yang di angguki oleh Renata.

Mereka pun kembali menyeret tubuh Adira dengan paksa hingga mereka sampai di puncak tangga.

"Berat sekali, kamu kebanyakan dosa sih, makannya badan mu sangat berat."ujar Renata ngos ngosan.

"Ayok kita seret dia kembali."ucap Tamara.

"Jangan bawa Mamah ku, lepaskan dia."ucap Abian lantang sembari memegangi tangan Tamara yang hendak menyeret Dira kembali.

"Lepas bocah sialan, biar kan aku membawa ibumu, dia pantas kami siksa karna dia salah."ucap Tamara sembari berusaha melepas tangan Abian.

"Tante jahat, lepasin Mamah Nai."Naina juga ikut memegang pergelangan tangan Renata.

"Dasar bocah lepas,"marah Renata.

"Sa-yang, kalian lepas ya, Mamah tidak papa kok. Kalian pergi saja ke kamar ya ini sudah malam."ucap Adira lemas, tubuhnya serasa tak berdaya karna memang dirinya sedang tidak sehat di tambah lagi dengan siksaan mereka membuat tubuh Dira semakin drop.

"LEPAS, BOCAH SIALAN."teriak Renata murka.

"Enggak mau, lepaskan dulu Mamahnya Nai."ucap Naina polos.

"AKU BILANG LEPAS, YA LEPAS. DASAR BOCAH SIALAN."murka Renata sembari menghempaskan tubuh Naina dengan kasar sehingga bocah malang itu terjengkang ke bawah tangga.

Abian yang repleks pun langsung saja menyelamatkan sang adik, tapi sayang dirinya malah terpeleset dan ikut tertarik oleh Naina, sehingga kedua kakak beradik itu terjatuh kebawah tangga dengan berguling-guling.

"ABIAN, NAINAA, TIDAAKKKK."teriak Dira yang langsung saja berlari untuk menyelamatkan mereka,

Tapi sayang tubuh kedua anak itu sudah tergeletak di lantai bawah dengan darah segar yang bercucuran dari kepala mereka.

"TIDAKK, NAINA ABIAN."Adira langsung memeluk kedua anaknya begitu dirinya sampai di lantai bawah.

"Abi, Nai, bangun. Mamah mohon bertahanlah."lirih Adira.

"SIAPA PUN TOLONG, TOLONG AKU. BAWA ANAKU KERUMAH SAKIT."teriak Adira, tapi sayang Tamara dan juga Renata tidak peduli mereka malah berlalu pergi begitu saja kedalam kamar mereka.

"REVAN, TOLONG, REVAN KELUAR. AYOK BAWA ANAK KITA KERUMAH SAKIT."teriak Dira lagi.

"Ada apa?"tanya Revan yang menghampiri Dira dengan santainya.

"Ayok bawa mereka ke rumah sakit Revan, aku mohon cepat."ucap Adira sembari berderai air mata.

"Baiklah ayok."ucap Revan masih dengan wajah santainya tanpa ekspresi sedih atau pun khawatir dengan kondisi kedua anaknya.

"Kau gendong Abian, aku akan gendong Naina."ujar Dira sesegukan.

Tanpa banyak bicara Revan pun menggendong Abian dan membawanya ke mobil, begitu juga dengan Dira dia juga menggendong Naina untuk di bawa ke mobil.

Setelah itu Revan pun menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.

Terpopuler

Comments

Puriah

Puriah

dasar bego di piara tu anak jadi korban kan

2023-08-29

0

Shuhairi Nafsir

Shuhairi Nafsir

kapok kamu Dira sampai anak mu jadi korban malah sok nga mahu kabur. benci banget Aku sama Thor goblok

2022-12-28

0

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

kenapa gk kabur aja😭 masih banyak orang baik di kuar sana🤧


kalo kabur, gk jadi cerita~kata otor😜
🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

2022-03-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!