SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Melihat Leon di bully, hingga di caci maki oleh teman sebaya-nya membuat emosi Beby meradang.
Ia segera menghampiri sang anak yang berjongkok di sudut ruang kelasnya dan segera menggendong ala koala.
Beby menatap tajam para guru dan murid yang hanya diam memperhatikan Leon di bully tanpa ada niat membantu.
"Tolong segera panggil wali murid dari siswa yang membully Leon untuk datang ke sini sekarang! Saya akan hubungi Daddynya Leon untuk datang kemari! Saya tidak terima anak saya dibully begini!" ucap Beby dengan nafas memburu.
Tanpa menunggu jawaban guru tersebut Beby langsung berjalan keluar ruangan sembari mengubungi Sean melalu telfon.
Bersama dengan Vany yang menuntut Beby berjalan menuju ruang kepala sekolah.
"Jangan ganggu! aku bekerja!"
Suara Sean terkesan dingin disebrang telfon, yang membuat Beby mendidih di tempat. Baru aja dia akan membalas ucapan Sean, telfon sudah dimatikan sepihak oleh pria itu.
Tut...Tut....Tut...
Beby berdecak sebal, ia menghubungi Sean berkali-kali namun tak ada satupun panggilannya yang diangkat oleh pria dingin itu.
"Belok kanan, Mom," ucap Vany pelan ditengah-tengah perjalanan mereka.
Beby tak putus asa, panggilan yang ketujuh akhirnya telfonnya diangkat oleh Daddynya Leon itu.
"Aku rapat, jangan meng–"
"Datang ke sekolah secepatnya sekarang kalo tuan masih menganggap Leon anak anda! Dia dibully dan terdapat luka memar yang cukup serius ditubuhnya!"
Tut....
Setelah mengatakan itu, Beby memutuskan telfonnya. Ia sangat berharap Sean bisa datang ke sekolah Leon, setidaknya meluangkan sedikit waktu sibuknya untuk mengurus masalah Leon.
"Nah ini kantor kepala sekolah, kita masuk saja. Tunggu suami kamu di sini, Mom." Vany tersenyum membukakan pintu ruangan itu kepada Beby.
"Baik, mom...." jawab Beby lirih, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Leon.
...o0o...
Kring....kring....kring....
Sean menulikan pendengaran saat ringtone ponselnya lagi-lagi berbunyi nyaring. Ia tetap fokus pada rapat pentingnya hari ini.
Meskipun jauh dalam lubuk hatinya juga penasaran, kenapa Beby menelfonnya berulangkali.
Tapi ia tidak bisa melakukan itu, ia harus tetap profesional. Dan tetap mengikuti rapat ini dengan selektif.
Hingga panggilan keempat ponsel itu terus berbunyi, akhirnya dengan perasaan kesal di dadanya Sean mengangkat ponselnya secara kasar diatas meja.
"Jangan ganggu! aku bekerja!" ucapnya lalu buru-buru mematikan telfonnya kembali fokus pada perbincangan rapat yang dihadiri saat ini.
Saat sudah menutup telepon dan menaruh ponselnya kembali di atas meja ponsel milik siang kembali berdering beberapa kali, hingga membuat para peserta rapat lain dan Jacob merasa terganggu.
"Ekhem," bisik Jacob yang duduk di sebelah kanan Sean. "Angkat saja telfonnya. Beby menelfon berkali-kali mungkin memang ada yang penting. Bagaimana bisa Jacob tahu yang menelfon itu adalah Beby ? Maafkanlah mata penasaran Jacob yang begitu kepo dengan apa yang dibalik ponsel tuannya.
"Tidak!" ucap Sean untuk menjawab pertanyaan Jacob.
"Siapa tau penting tuan, mungkin ada hubungannya dengan tuan muda Leon..."
Kring....kring...kring....
Telfon Sean kembali berdering nyaring, tapi Sean acuh dan fokus mendengarkan sang moderator rapat.
"Apa peduliku soal Leon ? Dia kan sudah ada pengasuhnya, jadi aku tak perlu lagi mengurusi hidup bocah itu!"
Jacob menghembuskan nafas panjang. "Saya kan hanya bilang mungkin, jadi tidak pasti apakah Beby menelpon karena masalah tuan muda Leon, bisa saja karena dengan Beby sendiri atau hal lain yang benar-benar penting," jelas Jacob pelan.
Kring...kring...kring....
Sean diam, ia menatap ponselnya yang masih menyala. Ia mendesah lelah mengangkat ponsel itu kembali untuk menjawab telfon Beby.
"Aku rapat, jangan meng–"
"Datang ke sekolah secepatnya sekarang kalo tuan masih menganggap Leon anak anda! Dia dibully dan terdapat luka memar yang cukup serius ditubuhnya!"
Ucapan Sean terpotong saat Beby mencela ucapannya dengan cepat.
Sean menatap layar ponselnya yang sudah mati, dengan otaknya yang masih mencerna baik-baik ucapan Beby.
Leon di bully ? batinnya mencoba menelaah maksud Beby.
Rahangnya seketika mengeras dan tak lupa tangan Sean yang meremat ponselnya saat akhirnya otaknya paham arah pembicaraan Beby. Leon anaknya menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya! Brengsek sekali.
Tiba-tiba Sean berdiri dari duduknya dengan kemarahan yang masih menguasai dirinya, sementara Jacob yang melihat tuannya tiba-tiba berdiri juga ikut berdiri.
"Rapat kita tunda, bisa di lanjut dua hari lagi di tempat dan jam yang sama!"
"Dimengerti, Mr. Alejandro!" ucap mereka serempak.
Sean menganggukkan kepalanya, lalu berjalan bersamaan dengan Jacob untuk keluar dari ruang rapat menuju mobilnya yang berada diluar perusahaan.
Saat mereka sedang menaiki lift, Jacob diam-diam melirik tuannya. Rahang pria itu mengeras hingga urat-urat lehernya tercetak jelas, belum lagi tangan kanan bosnya juga terkepal kuat–menandakan jika diri Sean saat ini tengah dikuasi amarah.
"Apa ada, tuan ? Ada masalah ?" tanyanya pada akhirnya saat mereka sudah keluar dari perusahaan dan kini tengah berjalan menuju mobil Sean.
"Leon di bully, dia di pukul sampai memar," jawab Sean singkat yang membuat Jacob membulatkan matanya terkejut.
"Berani sekali mereka menyakiti tuan muda ku!" jawab Jacob dengan menggebu-gebu.
"Langsung ke sekolah Leon!" titah Sean kepada sang supir.
Supir itu menganggukkan kepalanya mengerti dan segera menyalakan mesin mobilnya menuju sekolah Leon.
Eh tapi tunggu, Jacob baru menyadari sesuatu. Bukankah tadi tuannya bilang tidak peduli dengan Leon ? Lalu mengapa dia sangat marah saat tahu Leon dibully ?
Jacob melirik Sean dari kaca spion dalam mobil, amarah Sean masih tercetak dengan jelas di raut wajahnya.
Diam-diam Jacob tersenyum miring. Dasar tuan gengsi! Sok-sokan gak peduli, aslinya juga sayang banget sama tuan muda Leon!
...o0o...
Sementara Beby kini tengah adu bicara dengan beberapa wali murid yang ikut andil dalam pembullyan Leon.
Ada tujuh orang wali murid yang berada di ruang kepala sekolah ini. 1 vs 7 orang? Beby masih bisa membantai mereka semua.
"Kenapa saya dipanggil kemari, Bu ?" tanya Raisa, wali murid Rehan yang mengata-ngatai Leon dengan ucapan jahat.
"Masih nanya ngapain ?" tanya Beby dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. "Ajarkan anak anda sopan santun! Kenapa bisa anak berumur 5 tahun berkata yang tidak sopan kepada temannya sendiri!"
"Astaga Mami Leon, tenanglah! Seperti katamu tadi mereka hanya anak-anak. Pasti mereka hanya bergurau saja, benarkah Leon ?" jawab Fara, wali murid Robby.
Beby mendengus sebal mendengar ucapan Fara, hanya anak-anak, hanya lelucon ? Dasar sunting! "Mana ada lelucon sampai anak saya memar begini, Mom ?" tanya Beby yang sudang mengangkat baju seragam Leon di bagian punggung yang terdapat luka memar kebiruan yang lumayan besar.
Salah seorang wali murid bernama Chika menyentuh punggung Leon yang terdapat memar.
"Ahh...shh...sakit Mi....hiks..hiks..."
Beby segera menepis kasar tangan Chika dari punggung tuan mudanya. "Mom tangannya tolong, anak saya kesakitan!" ucap Beby dengan nada ketus, ia merapikan kembali seragam Leon.
"Astaga, luka kecil begitu saja dia menangis. Pantas saja di bully, anak laki-laki tidak boleh menangis. Anakku laki-laki tidak pernah menangis loh, Mom."
"Benar, dia memang pantas di bully oleh anakku. Laki-laki kenapa gampang sekali menangis? Sepertinya perempuan saja!"
"Lagian kan dia sering dipukul sama pengasuhnya dulu, masa hanya dipukul sedikit sama anak kita nangis sih. Lebay banget."
Tangan Beby terkepal kuat, telinganya panas mendengar ucapan tak masuk akal ibu-ibu sosialita ini. "Menangis tidak memandang gender, Mom. Mau laki-laki atau perempuan semua bisa merasakan rasa sakit, bisa menangis, bisa melupakan emosinya dari berbagai emosi. Malah yang dipendam itu bahaya, Mom, bisa kena mentalnya nanti." beritahu Beby pelan.
"Sudah-sudah, lebih baik kita lupakan saja masalah ini. Toh ternyata luka Leon hanya memar sedikit, tak perlu diperpanjang," ucap sang kepala sekolah yang nampak begitu malas mendengar perdebatan ibu-ibu ini.
Mata Beby melotot kepala sekolah pria yang setengah botak ini. "Lupakan ? Anak saya memar, pak!" suara Beby meninggi.
Kepala sekolah itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Iya Mom saya mengerti, tapi ia ini kan hanya anak-anak saja. Mereka hanya bergurau tapi sedikit kelewatan. Memang apa yang Mom mau ? Bocah umur lima tahun itu masuk penjara ?" tanyanya disertai tawa kecil.
"Hahaha.... ada-ada saja..."
"Hahaha maminya Leon terlalu lebay.."
"Sudahlah lupakan saja! Aku ingin pergi ke salon, bukan malah mengurus masalah tidak penting ini!"
Kepala sekolah derhemen singikat, "ekhem," ia menatap satu-satu wali murid yang datang ke kantornya. "Saya rasa sudah cukup, dan masalah sampai di sini saja. Jadi saya persilahkan para Mommy sekalian untuk pul–"
BRAKK....
Pintu ruangan kepala sekolah itu di tendang oleh satu kaki kekar yang terbalut celana kain yang terlihat sekali jika itu memiliki harga yang sangat mahal.
Mata para ibu-ibu menatap Sean yang baru saja memasuki ruang guru itu bersama dengan Jacob di belakangnya.
Sean terlihat sangat tampan dan begitu mempesona dengan jas buatan designer terkenal dan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Saya Sean Alejandro, Daddynya Leon." tanpa di suruh ia duduk di samping Beby yang sedang memangku Leon yang menangis.
Mata ibu-ibu itu masih terpaku melihat ketampanan Sean.
"Se–sean Alejandro ya–yang pebisnis pertambangan yang kaya raya itu ?" bisik salah seorang wali murid.
"I–iya dipunya tambang emas sendiri di pulau pribadinya..."
"Konon katanya, kekayaannya tak akan habis walau 7 kali 7 turunan.."
"Mana yang lebam ?" tanya Sean dingin tanpa memperdulikan bisikan-bisikan tentangnya.
Beby menyingkap kembali atasan seragam Leon dan memperlihatkan sekali lagi luka kebiruan di punggung Leon.
Rahang Sean mengeras melihat itu, lalu matanya menatap sang kepala sekolah sembari melepas kacamata.
"Keluarkan murid yang memukul Leon!" pintanya langsung.
Sang kepala sekolah menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan permintaan seorang bisnis tambang emas di hadapannya ini. "Maafkan saya Mr. Alejandro, tapi ini hanya masalah anak kecil. Mereka baru berumur 5 tahun. Jangan dianggap serius. Mungkin mereka hanya sedang bermain lalu Leon tak sengaja terbentur sudut meja," jawab kepala sekolah itu dengan tersenyum kikuk.
"Tidak!!" Beby membantah langsung. "Tidak Sean, saat aku datang ke kelas Leon, dia berada di sudut kelas dan berjongkok di sana. Teman-teman mengatainya anak haram dan lainnya. Leon menangis keras!! Ini pembullyan bukan bercanda sesama teman!"
Sean menatap mata Beby lalu menganggukkan kepala mengerti. "Keluarkan semua bocah itu, atau sebelum matahari terbit besok sekolah ini akan hancur berkeping-keping dan rata dengan tanah!" ucapnya final.
Setelah mengatakan itu, Sean menuntun Beby yang sedang menggendong anaknya keluar dari ruang kepala sekolah, meninggalkan sang kepala sekolah yang sudah pucat pasi.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
susi_berlianaqu
sukurin pd di keluarin dr sekolah, anak² gak akan berbicara lancang kalo orang tuanya mendidiknya dgn benar😏
2022-05-05
0
Dewi Fitri
the best bingit Beby
2022-03-13
0
Maria Tuhalauruw
mantap 👍 sean
2022-03-11
1