SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Kita kerumah sakit!" ucap Sean tak terbantahkan sembari menuntun baby untuk memasuki mobilnya.
Beby menganggukkan kepalanya setuju, lebam pada punggung Leon harus segera diobati. Ia takut akan terjadi infeksi atau luka dalam yang berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.
Saat mereka berdua sudah masuk mobil, Jacob yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya juga ikut masuk mobil setelah beberapa menit.
"Lama!" decak Sean malas.
Jacob menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "maafkan saya tuan," sesalnya. "Langsung ke rumah sakit," titahnya pada sang supir.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, keadaan dalam mobil diisi dengan tangisan Leon yang begitu menyakitkan.
Beby yang sibuk menenangkan Leon, Sean yang hanya diam sedari tadi memperhatikan Leon dan Beby, sedangkan Jacob masih sibuk dengan ponselnya, entah hal penting apa yang saat ini Jacob sedang lakukan.
Dua puluh menit berkendara akhirnya mobil yang ditumpangi Sean sampai pada kawasan rumah sakit ternama.
Jacob membukakan pintu mobil untuk tuannya, lalu mereka bersama-sama memasuki rumah sakit yang disambut hangat oleh beberapa suster di sana.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan, nyonya?"
"Tolong tuan muda saya, sus. Dia habis dipukul sama temannya, ada luka lebam di punggung," jelas Beby.
Suster itu menganggukkan kepalanya mengerti, tak berselang lama ada brankar yang datang menghampiri mereka dan ditaruhnya Leon di atas brankar.
"Lebih cepat sedikit, sialan!" umpat Leon pada pegawai rumah sakit pria yang mendorong brankar anaknya.
"Ba–baik tuan," ucap mereka serempak. Sesuai keinginan Sean, brankar yang dinaiki Leon kini berjalan dengan lebih cepat cepat.
Hingga ada seorang dokter wanita yang masuk ke ruangan Leon dan pintu tertutup.
"Orang tua harap tunggu di luar. Kami akan melakukan pengecekan terhadap badan anak kalian." setelah mengatakan itu suster juga ikut masuk untuk membantu sang dokter.
Mereka bertiga, duduk di kursi yang berada diruang tunggu di depan ruang rawat Leon.
Sean memandangi Beby lekat, wanita itu terlihat begitu khawatir. Tanpa sadar Sean tersenyum kecil, tangannya terulur mengelus lembut kepala Beby.
"Ssttt..." Beby melirik ke arah Sean. "Tenanglah Beby, Leon akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat."
Beby menganggukkan kepalanya setuju, "tentu saja dia anak yang kuat. Dia tidak dianggap oleh orangtuanya sendiri, lalu sekarang di bully. Dia sungguh anak yang kuat!" sarkas Beby yang sudah meneteskan air matanya.
Sean mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Beby secara terang-terangan menyindirnya. Hei! aku tidak menganggapnya anak, bukan karena aku tak menyukainya tapi gara-gara anak itu aku hampir kehilangan istriku!.
"Aku akan segera membuat murid-murid itu dikeluarkan dari sekolah. Tidak hanya itu, aku juga akan memblacklist wajah merek agar tidak dapat bersekolah di Negera ini."
Mendengar penuturan Sean, Beby menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Tidak tuan Alejandro, itu berlebihan! Cukup keluarkan saja dari sekolah!"
Tetap saja Sean menggeleng, "tidak berlebihan. Itu akibat karena mereka menyentuh keturunan Alejandro."
"Lalu bagaimana jika mereka ingin bersekolah?"
"Mereka bisa homeschooling, atau bersekolah di Negera lain. Aku hanya akan memblacklist mereka dari Negera ini saja."
Beby menghela nafas panjang, Sean selalu saja melebih-lebihkan masalah. "Oh ya, ada satu hal lagi!" beritahu Beby saat itu baru mengingat sesuatu.
Alis Sean terangkat sebelah, "apa ?"
"Ini soal pengasuh Leon, ternyata dia me–"
"Menyiksa Leon ?" tanya Leon cepat memotong ucapan Beby.
Mendengar itu Beby menganggukkan kepalanya, untuk membenarkan ucapan Sean. "Benar, apa tuan juga menghukum pengasuh itu ?" tanyanya takut-takut.
Sean tersenyum miring, "pengasuh sialan itu sudah mati. Jika kau ingin melihat kepalanya, akan ku tunjukkan. Tapi hanya kepala saja, karena tubuhnya sudah di makan harimau."
Beby bergidik ngeri, pria yang duduk disebelahnya ini ternyata adalah seorang monster.
"Tidak," jawabnya cepat.
Tidak ada obrolan lagi di depan ruangan Leon. Dokter juga belum keluar dari ruangan yang membuat Beby semakin berfikir buruk.
Sementara Jacob sedari tadi hanya diam, pria itu masih asik bergelut dengan ponsel ditangannya.
Sean yang melihat itu mulai curiga, apa dengan asistennya. Tak biasanya ia didepan Sean berani memegang ponsel jika tidak ada yang penting atau sangat mendesak.
"Kau memainkan ponsel terus, ada apa ?" tanya Sean pada akhirnya saat pria itu tak bisa membendung lagi rasa penasaran.
Jacob mengalihkan pandangannya kearah Sean sembari menyengir takut. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "A–anu tuan..."
"Katakan dengan jelas!"
"Tuan besar dan Nyonya datang..." beri tahunya pada Sean.
Mata Sean membulat terkejut, ayah dan Ibunya datang ke Italia ? "Kenapa kau tak memberitahu ku sialan!" desisnya tajam.
"Tuan masih sibuk mengurus Leon, dan tuan Besar serta Nyonya minta di jemput dari bandara. Jadi saya segera menyiapkan supir..." elaknya.
Sean memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Jangan beritahu Mom dan Dad jika cucu kesayangan masuk rumah sakit!" pintanya dengan tegas.
Jacob menggigit bibir bawahnya, menatap Sean dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan kesalahan saya tuan, tapi––"
Bersamaan dengan ucapan Jacob, lampu ruang rawat Leon seketika mati dan pintu ruangan itu terbuka.
Dokter itu muncul bersama dengan dua suster di sisi kanan dan kirinya.
"Bagaimana kondisi tuan muda saya, dok ?" tanya Beby yang langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri dokter itu.
"Syukurlah luka memar pada tubuh anak tersebut tidak terlalu dalam. Keadaannya juga sudah stabil. Nanti saya resepkan obat untuk tuan muda anda agar bisa cepat hilang luka lebamnya."
"Tidak ada yang parah, jadi hari ini bisa langsung pulang setelah sadar dari obat biusnya. Terima kasih..."
Beby menganggukkan kepalanya seraya mempersilahkan dokter dan suster itu untuk berjalan kembali ke ruangannya.
"Jacob, tolong kamu datangi ruangan dokter itu ya. Ambil resep obat untuk Leon, aku akan menjaga Leon di kamar."
Jacob menganggukkan kepalanya, dan mengikuti dokter itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
Sementara Beby dan Sean kini sudah masuk ke ruangan Leon. "Astaga, dia terlihat begitu mengenaskan," ujar Beby sembari menggenggam tangan mungil Leon.
"Jangan menangis, sebentar lagi dia juga akan sadar," ucap Sean yang sudah duduk di sofa yang berada di ruang rawat Leon.
Beby mendengus sebal, ia menatap Sean tajam. "Dasar tidak punya hati! Anak sendiri tidak dikasihani!"
BRAKK....
Baru saja akan menimpali ucapan Beby tapi suara pintu ruangan dibuka secara kasar mengalihkan perhatian mereka berdua.
"ASTAGAA!! CUCUKU!" pekik seorang wanita paruh baya yang berlari kecil untuk memeluk tubuh Leon diatas ranjang rumah sakit yang masih tak sadar karena pengaruh obat bius.
Wanita paruh baya itu menangis, hingga membuat Beby tersikap, wanita itu melepaskan pegangan tangannya dari Leon dan berjalan mundur.
"Hiks...hiks...sayang bangun...ini Oma...." sambungnya lirih.
Tak berselang lama dari kedatangan wanita paruh baya itu, datang lagi seorang pria paruh baya yang sayangnya masih sangat tampan bersama beberapa bodyguardnya.
"Sean, apa yang terjadi dengan cucuku!" desis pria paruh baya itu tajam.
Sean berdiri dari duduknya, dan memeluk singkat pria paruh baya itu. "Dia di bully sama temannya, Dad. Tapi aku ud–"
"APAA ??? DIBULLY ?? BAGAIMANA BISA SEORANG KETURUNAN ALEJANDRO DI BULLY..." teriak wanita paruh baya yang yang memeluk tubuh Leon itu terkejut.
Sean meringis melihat tatapan tajam yang diberikan oleh ibunya itu kepadanya. "Mom, tenanglah. Aku sudah mengurus bocah-bocah itu."
Daddy Sean yang berjalan menggunakan tongkat itu duduk tepat di sofa yang tadi Sean duduki dengan dibantu Sean.
Pria paruh baya itu terus saja menceramahi anaknya yang tidak bisa menjaga cucunya dengan baik, begitu pula dengan Mommy Sean yang juga ikut mengompori.
Hingga mereka tak sadar jika ada seorang wanita yang memperhatikan mereka sedari tadi di pojok ruangan.
"Daddy gak mau tahu, kalo kamu masih gak becus jaga Leon gara-gara wanita yang diambang kematian itu, mending biar Dad sama Mommymu saja yang merawat Leon!"
"Dad! Jangan bawa-bawa Clara di sini! Di sini memang kelalaian Sean yang tak bisa menjaga Leon dengan benar. Tapi ini bukan sama sekali karena Clara!" jawab Sean cepat.
"Ya itu karena Clara! Gara-gara wanita itu kamu–
"Uhukkk....uhuk...." ucapan Mommy Sean terhenti saat mendengar suara batuk yang berasal di dekatnya.
Ia merebahkan tubuh Leon yang mulai terbuka matanya untuk kembali ke posisi tidurnya. "Astaga, cucu Oma sudah bangun sayang ..."
"Hiks...hiks...Mami....Mami..."
"Mami Beby mana ?" tanyanya lirih. Bukannya mencari sang ayah, hal pertama yang Leon cari saat membuka mata adalah keberadaan Beby–sang pengasuh.
Beby yang mendengar namanya disebut, langsung menghampiri Leon dan kembali menggenggam tangan mungil tuan mudanya itu.
"Beby di sini, Leon tenang yaa...." ucapnya dengan lembut.
Melihat ada orang lain di ruangan ini membuat Daddy dan Mommy Sean terkejut, terlebih lagi wanita itu dipanggil Mami oleh Sean.
Tolong maafkan mata tua kedua orang tua Sean yang tidak memperhatikan jika ada orang lain di ruangan ini. Ia begitu bersemangat menjenguk cucunya hingga tak memperdulikan jika ada orang lain.
"Mami....hiks...mami...." tangis Leon pecah dan langsung di bawa ke pelukan oleh Beby untuk di tenangkan.
"Ma–mi ??" Mommy Sean menatap anaknya tajam. "Kamu menikah lagi Sean ???"
"Kamu menikah lagi dan tidak mengundang kami berdua ? Kau pikir kami berdua sudah mati? Dasar anak durhaka!!"
Sean menghembuskan nafas lelah, ia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Bukan Mom, dia bukan istriku, aku tidak mungkin menikah dengan perempuan lain saat masih ada Clara di sisiku!"
"Lalu dia siapa ?" tanya Daddy Sean yang juga penasaran.
"Dia pengasuh baru Leon..."
Mata Daddy dan Mommy Sean menelisik penampilan Beby dari atas sampai bawah sembari berfikir keras.
"MANA ADA PENGASUH YANG MEMAKAI PAKAIAN BRANDED DARI UJUNG RAMBUT HINGGA KAKI!!??"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
susi_berlianaqu
ada tuh momm.. Baby namanya😂😂
2022-05-05
0
Gauri Utama
Ada.. itu loh yg di depan Oma 😂🤣
2022-04-08
0
Maria Tuhalauruw
seruuuu Thor
2022-03-11
1