SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
FOLLOW AKUN RATU DONG 🥺
...o0o...
ITALIA, 2020
Disebuah ruangan kamar yang sangat luas itu, ada seorang pria dengan pakaian jas lengkapnya tengah menatap seseorang yang terbaring lemas dengan mata terpejam diatas ranjang yang sangat empuk.
Pria itu tampan sangat tampan bahkan.
Namun sayang seribu kali sayang, wajah tampannya selalu saja menampilkan raut kesedihan yang begitu dalam.
Tidak pernah ada tawa, dan senyum dihidupnya. Yang selalu ada di otak tampannya itu hanya bagaimana kesembuhan seseorang yang berada diatas ranjang itu.
"Sayang, kapan kamu mau membuka matamu ? Anak kita sudah berusia lima tahun," ucapnya lirih.
Caleo Sean Alejandro, nama pria tampan itu. Sean, tak henti-hentinya menatap wajah sang istri yang nampak pucat diatas ranjang. Dengan tangan kiri yang diberi suntikan infus.
"Bangunlah Clara! Aku sangat merindukanmu....." bisiknya lirih ditelinga sang istri.
Pria berusia 36 tahun itu menahan air mati-matian air matanya yang siap keluar. Tepat pada hari ini, istrinya telah menjalani koma selama 5 tahun.
Dan itu benar-benar membuatnya frustasi.
Sebenarnya sifat Sean itu sangat ramah, murah senyum dan mudah berbaur. Tapi karena ia kehilangan setengah jiwanya, ia merasakan kekosongan batin yang begitu menyiksa.
Sejak 5 tahun lalu saat istrinya mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan dan berakibat koma, Sean berubah menjadi pria dingin yang tak tersentuh. Bahkan pada orangtua dan anak kandungnya sendiri, Sean menjaga jarak.
"Bangunlah sayang, apa mimpimu itu jauh lebih indah daripada aku ?" tanyanya dengan senyum getir.
Tangan Sean tak ada henti-hentinya mengelus lembut pipi sang istri, Clara. Meskipun wajah Clara pucat dan tampak mengerikan karena kantong matanya yang besar dan rambut yang tak terurus. Tapi bagi Sean, tak ada satupun wanita yang bisa menandingi istrinya.
"Apa kamu gak mau gendong Leon ? Dulu siapa yang mau minta anak ?" tanya Sean, "padahal aku dulu bilang gak usah punya anak aja, lihat kan gara-gara Leon jadi kamu yang harus jadi korban!"
"Lebih baik aku gak punya anak, asal kamu selalu sehat sayang," sambungnya.
Tidak ada respon sama sekali, tapi Sean akan tetap berbicara pada sang istri.
"Hari ini kita akan berpisah beberapa hari sayang, aku harus ke Indonesia untuk menghadiri rapat penting bersama presiden di sana. Aku harap kamu gak marah ya sama aku..." Sean menggenggam tangan Clara yang begitu kecil dan rapuh. "Sebenarnya aku malas sekali datang ke negara itu, tapi karena aku mendapat undangan khusus dari presiden langsung, jadi aku tidak bisa untuk tidak hadir sayang...."
Sean senang melakukan ini, meskipun tak mendapatkan respon istrinya tapi Sean akan terus berceloteh.
Setidaknya menceritakan masalah hidupnya kepada sang istri akan membuatnya sedikit merasakan kelegaan.
"–ya gitu lah, kamu tahu kan di sana terkenal sama macet. Apa aku harus bawa private jetku ke sana ya ? Buat jadi kendaraan pribadiku..."
Ceklek....
Tiba-tiba seorang pria yang nampak lebih muda dari Sean nampak memasuki kamar itu. Pria dengan setelan jas mahal sama seperti milik Sean.
"Maaf menganggu waktu anda dengan Nyonya, tuan. Tapi satu jam lagi, pesawat kita akan berangkat," ucap asisten pribadi Sean, Jacob.
Sean melirik Jacob singkat dengan wajah dinginnya yang mampu membuat sang tangan kanan itu berkeringat dingin.
Lalu ia menatap sang istri kembali dengan senyum kecil. "Aku berangkat, love...." ucap Sean mengecup kening istrinya lama.
Sean berdiri dari duduknya, dan berjalan keluar dari kamar dengan perasaan tak rela. Ini pertama kalinya ia harus meninggalkan istrinya dalam jangka waktu yang lama.
Sementara di atas ranjang, wanita yang tertidur lemas di atas ranjang mulai mengeluarkan air matanya. Tubuhnya tak bisa digerakkan, tapi ia selalu setia mendengarkan cerita suaminya.
...o0o...
Sean berjalan menuruni tangga rumahnya sembari mengancingkan kancingan yang berada di pergelangan tangan kirinya.
Matanya menelisik ruang makan ini, ada bocah berumur 5 tahun yang sedang makan sembari menundukkan kepalanya takut.
Tubuh bocah laki-laki itu bergetar hebat saat tahu ayahnya ikut makan bersamanya pagi ini di meja makan.
"Siapkan aku makan!" pinta Sean sembari duduk di meja makan.
Dengan segera seorang maid wanita muda yang terlihat cantik dengan lipstik merah menyala berlari kecil ke arah meja makan.
Mengoleskan selai pada roti Sean dengan wajah merah merona–malu, sedangkan Sean kini fokus sibuk memainkan ponselnya.
"Silahkan dimakan tuan," ucap Maid itu, Sean melirik maid dengan pakai super ketat itu lalu menganggukkan kepalanya.
Maid tersenyum sumringah setelah di tatap Sean dan segera bekerja kembali ke dapur.
Sean memakan makanannya dalam diam, ditemani sang asisten yang sedang membaca majalah disampingnya.
"Da–daddy akan pe–pergi bekerja ?" tanya seorang bocah laki-laki yang berada paling ujung kursi di meja makan itu.
Mendengar suara anak kecil, sontak kedua pria dewasa itu mengalihkan perhatian mereka pada bocah itu.
Sean menatapnya tanpa minat lalu melanjutkan makannya lagi, tanpa harua repot-repot menjawab pertanyaan konyol anaknya.
Berbeda dengan Jacob yang tersenyum tipis mendengar pertanyaan tuan mudanya. Ia menatap Leonardo dengan meringis kecil, ia menyumpahi dirinya sendiri karena tidak sadar dengan keberadaan tuan mudanya karena tubuh Leon yang kecil dan lagi pria muda itu duduk dikursi paling ujung. "Benar tuan muda, Daddy anda akan bekerja ke luar negeri. Jadi tuan Leon harus bisa menjaga Mommy ya selama Daddy pergi..."
Leon menganggukkan kepalanya kecilnya–menggemaskan. "Ba–baiklah, Leon akan jaga Mom–"
BRAKK....
Sean memundurkan kursinya dengan begitu keras hingga suara kecil Leon terhenti. Bocah laki-laki itu menatap takut ayahnya.
"Selesai!" ucapnya mencoba mengatakan pada sang asisten bahwa ia selesai makan. "Berangkat!"
Tanpa menunggu jawaban Jacob, Sean sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan.
Sementara Jacob menatap tuan mudanya dengan iba. Tuannya masih belum menerima fakta jika bukan Leon yang menyebabkan istrinya koma.
Koma yang dialami Camilla murni takdir! Dan tidak ada sangkut pautnya dengan anak kandung mereka.
Jacob berdiri dari duduknya sembari memberikan Leon senyuman hangat. "Paman berangkat dulu ya, jangan lupa pesan paman untuk menjaga Mommy ya..." Leon menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Baik paman!" jawabnya lantang.
Jacob tersenyum lalu pamit kepada Leon untuk segera menyusul Sean. Ia tidak mau mejadi sasaran amukan bos dinginnya itu.
"Semoga Daddy mu segera berubah ya, tuan muda ....."
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Yantisejati
,lanjut tor,pgn tau kelanjutanya
2022-03-05
1
Liedya
ouh gallardive
2022-02-16
1
Triiyyaazz Ajuach
omegat ada visualnya daddynya blue train 😄😄
2022-02-11
5