SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Dengan kacamata besar yang bertengger pada hidung mancungnya, Beby keluar dari mobil Alphard milik Leon saat pintu itu sudah terbuka secara otomatis.
Setelah Beby keluar, Leon dengan kaki kecilnya mengikuti pengasuh barunya itu untuk keluar dari mobil.
"Kakak kenapa kita di sini ? Bukannya Leon harus ke sekolah?" tanyanya bingung.
Beby menundukkan tubuhnya, lalu mengangkat tubuh mungil Leon untuk digendongnya dipinggul kiri.
"Kata siapa hari ini kita ke sekolah ?" jawab Beby seraya melangkahkan kakinya memasuki mall. "Hari ini kakak bakal rubah Leon jadi ganteng, biar Mommy sama Daddy mu yang gendeng itu bisa sadar. Punya anak kok ditelantarin!" sambung Beby mendengus malas, ia menggelengkan kepalanya masih berfikir heran.
Bisa-bisanya ada anak konglomerat yang mempunyai anak yang sangat tidak terawat begini. Bukan hanya tidak terawat tapi anak Sean ini benar-benar seperti kekurangan gizi!!!
Sedangkan Leon yang mendengarkan penuturan Beby dengan bahasa yang tak ia mengerti itu hanya melongo digendonggan Beby. "Daddy gendeng ? Gendeng itu apa ?" batinnya bingung.
Tak terasa langkah kaki Beby sudah menapaki lantai dua Mall super megah ini. Beby berdecak kagum, tak menyangka ada Mall semewah ini, di Indonesia biasanya tak sebesar ini....
OMG pasti Beby akan sangat banyak menghabiskan uang di sini. Tapi tak apa, ayah Leon kan mesin ATM berjalan.
"Nah Leon, ayo kita pertama ke barbershop, kamu harus potong rambut kamu yang ngegimbal ini!!"
Leon menganggukkan kepalanya patuh saat Beby sudah membawakan masuk ke sebuah salon pria dan didudukkan kesalah satu kursi khusus anak-anak.
"Bisa saya bantu, nyonya ?" tanya seorang barber–tukang cukur rambut saat Beby langsung mendudukkan Leon dikursi tanpa menuju kasir terlebih dahulu.
Beby menatap barber itu dengan senyum tipis, lalu ia menyentuh rambut Leon yang menggimbal. "Ini tolong di rapihkan, potong aja terserah modelnya apa aja. Yang penting rapih dan kelihatan fresh."
Barber pria itu mengangguk, dan mulai mengerjakan rambut bocah dihadapannya ini, ia menyemprotkan spray agar rambut Leon lebih lemas dan mulai memotong.
Sementara Beby duduk di kursi tepat pada belakang Leon dan mulai membaca majalah yang tersedia di sana.
Sayup-sayup Beby mendengar ada suara yang membicarakan tentang Leon, ia melirik kesamping, ada dua orang ibu-ibu yang nampaknya sedang menunggu anak mereka selesai cukur rambut sambil bergosip.
"Kasian yang anak yang rambutnya panjang itu," unjuk ibu 1 pada tubuh Leon diam-diam. "Kayaknya korban broken home deh..." sambungnya sembari berbisik ke Ibu 2.
Ibu 2 menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Ibu 1. "Bener Bun, padahal anaknya ganteng loh itu. Kok bisa tidak dirawat ya."
"Jangan-jangan ibunya hamil diluar nikah lagi, terus ayahnya gak mau tanggung jawab kayaknya di sinetron itu Bun...."
Mata Beby sontak membulat, ia menatap Leon juga dengan pandangan prihatin. "Kayaknya benar deh kata ibu-ibu itu, Leon anak hamil di luar nikah. Terus Sean gak mau sama anaknya, dan jadinya Leon diabaikan dan hanya diurus pengasuh."
"Kalo menurut saya nih Bun, kayanya itu anak hasil perselingkuhan ibunya. Jadi ibunya hamil sama orang lain terus suaminya sahnya benci sama ank itu, soalnya bukan anak kandungnya!"
Sekali lagi mata Beby melotot mendengar dugaan-dugaan yang mungkin saja benar mengenai Leon.
Secara anak itu benar-benar tidak diurus oleh kedua orangtuanya. Apalagi tadi pagi Beby tidak melihat ibu Leon. Hanya Sean saja selaku ayahnya.
Tanpa sadar badan Beby kian mendekat dengan wajah yang masih tertutupi oleh majalah kearah ibu-ibu itu, saat suara mereka mulai mengecil. P4ntatnya tak terasa kian menggeser menuju ibu-ibu yang masih satu kursi dengannya, hingga tanpa sadar badan Beby sudah sangat mepet dengan salah satu ibu tadi.
"Haduh kenapa kok jadi duduknya mepet saya begini ya ?" tanya Ibu 1.
"Jangan-jangan nguping nih pasti, mbaknya!" seru ibu 2 dengan semangat.
Beby menurunkan majalah dari wajahnya lalu tersenyum manis kearah ibu-ibu itu. "Oh astaga, ini kayaknya kursinya licin deh," jawabnya dengan pura-pura terkejut. "Tadi aku duduk di situ kenapa jadi sekarang aku di sini ?" imbuhnya berbohong. Ia masih mempertahankan mimik terkejutnya.
Sementara kedua ibu-ibu itu hanya memutar bola matanya malas, baru saja ingin mencela omongan Beby, tapi malah ada dua orang barber mendatangi meja mereka dan mengatakan jika kedua anak mereka sudah selesai cukur rambut.
Saat kedua ibu-ibu itu pergi keluar salon, baru Beby bisa bernafas lega. "Bego, bego, bego!!!" umpatnya pada dirinya sendiri, ia memukul-mukul kepalanya kesal. "Bisa-bisanya nguping ketahuan!!" sambungnya.
"Nyonya, anaknya sudah selesai." Barber itu mendatangi meja Beby.
Beby menganggukkan kepalanya, menutup majalah dan berjalan menuju Leon. Matanya berbinar dan terkejut saat mendapati wajah Leon sudah nampak bercahaya dan lebih bersinar.
"Oh Tuhan, kamu benar-benar tampan Leon!!" pekik histeris.
Tak kunjung menghilang keterkejutannya, Beby langsung menggendong Leon kembali keluar dari salon pria itu setelah membayar.
Kaki jenjangnya langsung masuk kesalah satu toko penjual pakaian anak-anak yang sangat besar. Ia menyuruh Leon untuk mencoba berbagai macam pakaian.
Hingga tidak sadar jika mereka sudah berada di toko pakaian itu selama 5 jam. Dan membuat para pegawai menjadi kelimpungan dengan hot mother Beby and Baby Leon yang memborong pakaian-pakaian di toko itu.
"Kakak sudah, Leon capek...." ucapnya lirih.
Beby meringis melihat jam dipergelangan tangan kirinya, jam 6 petang. Beby memanggil beberapa pelayan di toko pakaian itu.
"Bawa ke kasir semua ya !" suruhnya.
Mata pegawai toko itu mengerjap. "Se–semua nyonya ? 7 troli ini ?" tanyanya tergugu-gugu dan Beby menganggukkan kepalanya cepat.
Sontak pegawai toko itu langsung bergerak cepat membawa barang-barang Beby menuju kasir disusul Beby yang sudah menggendong Leon dibelakangnya. "Untung masih ada uang di yang diberikan oleh Pak Arjuna, nanti saat pulang aku akan meminta ganti lima kali lipat!" batinnya sepakat.
Cekk....
Cekk....
Cekk....
Cekk....
Cekk....
Cekk.... (..100x)
Suara mesin kasir itu terdengar berulangkali, Beby tersenyum puas melihat pakaian-pakaian baru Leon dimasukkan kedalam paper bag.
"Totalnya 20 ribu euro, nyonya."
***dua ratus lima puluh juta rupiah***
Beby menganggukkan kepalanya, baru saja ia ingin mengeluarkan kartu kredit dari dalam tasnya. Leon lebih dulu menyerahkan sebuah kartu warna hitam dari balik saku seragam sekolahnya.
Beby dibuat melongo saat Leon menyerahkan black card itu kepada kasir. "Kata paman Jacob, kalo belanja pakaian kartu itu saja, kak. Itu diberikan Daddy pada Leon!"
Tanpa sadar, Beby menganggukkan kepalanya–membiarkan Leon membayar seluruh belanjaan mereka.
Saat sudah selesai membayar, Beby menurunkan Leon dari gendongannya. Ia membawa 7 paper bag, sementara Leon membawa 2 paper bag yang ukurannya sama-sama besar.
Walau susah payah, akhirnya Leon bis membawa belanjaan itu hingga masuk kedalam mobil.
Mobil mereka kini mulai bergerak meninggalkan Mall. Hingga disuatu jalan mata Beby menatap ada sebuah apotek yang masih buka.
"Pak, tolong berhenti di sebrang jalan itu!" pinta Beby sembari menunjuk apotek.
Supir itu segera menuruti permintaan Beby dan berhenti tepat didepan apotek. "Kamu tunggu di sini, kakak mau beli obat sebentar!" ucapnya pada Leon, dan bocah itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tanpa menunggu lagi, Beby segera memasuki apotek itu. "Ada yang bisa saya bantu, kak ?"
Beby tersenyum manis, "aku mau vitamin untuk anak-anak dan obat penambah nafsu makan."
"Penambah nafsu makan ada, kalo vitaminnya itu vitamin apa kak ? Vitamin A, B atau–"
"Semua vitamin kak, dari vitamin A sampai Z!" jawab Beby lantang tanpa ada nada bercanda dalam ucapannya.
...o0o...
Entah sudah berapa lama Sean berada didalam mobilnya. Ia terus saja merapikan jas nya dam tak lupa menyemprotkan parfum yang ia bawa dari perusahaan.
Sementara wajah sang supir sudah mulai memerah karena tak kuat dengan aroma parfum yang dikeluarkan Sean ditambah mesin mobil ini sudah mati dan tidak ada AC yang menyala.
"Oh tidak, aku rasa rambutnya terlalu miring ke kiri..."
"Bagaimana jika kita ganti ke sebelah kanan ?"
"Tidak-tidak, sebelah kiri lebih baik!"
Supir itu menutup mulutnya, saat merasakan ada cairan dalam kerongkongannya yang mendesak ingin keluar.
"Apa aku sudah tampan ?" tanya Sean sembari menatap cermin depan yang ada didalam mobil itu.
Ia tersenyum menyeringai saat melihat pantulan dari kaca yang memperlihatkan wajah tampannya.
"Aku sudah tampan, hanya tinggal sedikit parfum lagi dan ak–"
"TIDAK TUAN!!" jawab supir itu dengan berteriak, jangan lupakan wajah memerahnya yang terkesan membuatnya sangat marah. Padahal sebenarnya ini hanya ingin muntah!
Mata Sean menajam, melihat supir itu yang berani memotong ucapannya dan lagi berteriak tepat didepan wajahnya.
"Ma–maksud saya, a–anda sudah sangat tampan tuan. Tidak perlu ditambahkan apapun, karena anda sudah sangat perfect!" jawabnya cepat dengan hati-hati.
Raut wajah Sean yang menajam tiba-tiba mengendur, ia perlahan tersenyum tipis. "Tentu aku tampan!"
Supir itu tersenyum lega, saat Sean tak lagi marah. "Pasti tuan, memang anda ingin menemui siapa hingga berdandan rapi begini ?" tanya supir itu bingung.
Otak Sean serasa kosong mendengar penuturan supir sialan itu. Untuk siapa memang dirinya berdandan rapi begini ? batinnya ikut bertanya.
"Ekhem..." Sean berdehem, "tentu untuk Clara, siapa lagi wanitaku ?" tanyanya ketus.
Tak ingin bersama lagi dengan supirnya, Sean segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
Entah mengapa, tapi jantungnya seketika berdebar hebat, padahal tidak ada hal baru di rumahnya ini.
Hingga saat kakinya menapak di meja makan, ia melihat ada seorang wanita menggunakan kain satin hitam tipis duduk bersebelahan dengan anaknya.
Jantung Sean kian berdebar dengan gilanya.
Ia berjalan mendekat kearah mereka, untuk ikut makan malam. Dan mengabaikan Beby yang berhasil menarik perhatiannya untuk sesaat.
"Aku dengar hari ini Leon tidak mas–"
"Hatcim....hatcim...."
Sean menatap Beby seraya duduk dikursinya yang nampak bersin-bersin setelah kedatangannya.
"Leon tidak masuk seko–"
"Hatcim....hatcim...."
"Hatcim....hatcim...."
Beby terus menerus bersin, gerakan tangannya yang akan mengambilkan Leon makanan terhenti diudara.
"Astaga, manusia mana yang memakai parfum bau begini?" tanyanya ketus.
"Hatcim....hatcim...."
Lagi-lagi Beby bersin, dan itu membuat tubuh Sean menegang. "Berapa banyak orang itu memakai parfum dalam tubuhnya? Dasar norak?" ejek Beby.
"Ekhem, aku ke atas dulu untuk mandi. Jangan mulai makan malam tanpa aku!" pinta Sean.
Setelah mengatakan itu, ia langsung lari terbirit-birit menuju kamarnya seraya melepas jas yang ia kenakan.
Melihat Sean berlari, membuat Beby dan Sean saling pandang. "Ada apa dengan Daddy mu itu .....hatcim...." tanya Beby.
Leon menggelengkan kepalanya, "tidak tahu kak. Ini pertama kalinya, aku lihat Daddy bersikap aneh begitu..."
...o0o ...
LEON YANG DULU...
LEON HABIS POTONG RAMBUT SAMA BEBY
SANGAT BERBEDA BUKAN 😭🙏
jangan lupa like+komen+giftnya kakak 😘
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Ass Yfa
Sean kena virus cinta... 😂😂
2022-07-29
0
susi_berlianaqu
nah kan enak dilihatnya kalo rambut dan badannya terawat jd kelihatan ganteng😂😂😍😍
2022-05-05
0
Momy Victory 🏆👑🌹
diluar negeri ada sinetron ya?
2022-04-12
0