SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Dengan pakaian ketat menutup tubuh moleknya, Beby keluar dari mobilnya yang terparkir cantik diparkiran universitasnya. Banyak sekali pasang mata, tidak hanya pria tapi wanita yang begitu mengagumi tubuhnya yang benar-benar sangat menggoda iman itu.
Meski begitu, Beby sama sekali tak memperdulikan tatapan kagum mereka. Kaki jenjangnya terus membawanya memasuki gedung jurusannya.
"Pagi Beby, yang cantik...." seru salah satu temannya yang duduk di kursi paling pojok dalam kelas itu.
Beby tersenyum singkat, mendengar sapaan dari sahabatnya itu. Ia mendekatkan dirinya untuk duduk di samping temannya.
"Gila Beb, aku lihat-lihat badanmu makin asoy semlehoy banget..." ucap Sabrina dengan mata menilai tubuh Beby dari atas sampai bawah.
"Enggak lah, biasa aja." Beby nampak begitu malas mendengar ucapan sang sahabat.
"Enggak dari mana sih, orang kamu makin hari makin cantik. Badan kamu makin bagus. Aku jadi bayangin berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk merawat tubuh indahmu!"
Beby meringis, ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Dalam hati ia mengumpati kebiasaannya yang selalu memanjakan tubuhnya dengan perawatan mahal.
Sebulan untuk tubuh dan wajahnya saja Beby bisa menghabiskan dana sebesar satu unit mobil.
"Banyak lah, Sab! Sabrina kan kaya, pasti biaya perawatannya jauh banget kalo dibandingkan dengan kita," sela Raisa, anak dari sekretaris manager di salah satu perusahaan terkenal.
"Kalo dilihat dari pakaiannya Beby yang setiap hari branded sih pasti perawatannya jauh lebih mahal dari harga outfitnya!" Pica, anak seorang dosen ikut menimpali. Yang langsung diangguki oleh beberapa orang yang mendengar ucapannya diruang kelas itu.
"Heran deh, Ayah kamu kerja apa sih Beb ? Kalo emang kamu anak pengusaha kenapa kita gak tahu ?"
"Jangan-jangan Beby simpanan sugar Daddy lagi!"
"Hahahha...."
Tawa teman-temannya terdengar begitu memuakkan ditelinga Beby. Selalu saja begitu.
Tidak ada yang tahu jika Beby ini anak konglomerat di Negera lain. Dan mereka menganggap barang-barang mewah serta perawatan tubuh Beby adalah hasil dari ia bekerja diatas ranjang untung memenuhi hasrat hidung para pria belang.
Apalagi pakaiannya yang khas serba ketat dan terbuka. Ia selalu menjadi bulan-bulanan ledekan dari temannya. Dan mengganggap dirinya adalah seorang sugar baby.
"Tuh kan Beby gak jawab! Berarti benar dia simpanan pria kaya!" celetuk seorang mahasiswi yang lagi-lagi disambut gelak tawa oleh yang lain.
Beby tersenyum tipis, baru saja ia akan menjawab segala tuduhan temannya. Seorang dosen dengan uban yang menghiasi kepalanya memasuki ruangan.
Semua mahasiswa/i berbondong-bondong masuk kelas dan duduk dengan damai di kursi mereka.
"Hari ini kita akan mengadakan kuis!" ucapnya yang mendapat sorakan dari semua mahasiswa.
"Siapkan selembar kertas dan bolpoin!" sambungnya tanpa menghiraukan sorakan tidak terima dari beberapa muridnya.
Sama halnya dengan Beby, wanita itu mengumpati dosen tua yang tiba-tiba mengadakan kuis–ujian dadakan–karena ia masih belum terlalu mengerti dengan materi yang diberikan oleh pria tua dengan perut buncit itu.
Setelah 35 menit mengerjakan kuis, dosen itu melanjutkan acara pengajarannya dengan materi.
"Baiklah, waktu saja sudah habis. Kalian boleh keluar dari kelas! Dan untuk Beby segera datangi saya ke ruangan saya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan!" titahnya.
Dosen tua itu membereskan buku-bukunya lalu segera keluar dari kelas.
Sementara Beby menatap bingung dosen itu, kenapa hanya dia yang disuruh keruangan itu ? Padahal ia sudah mengerjakan tugas yang diberikan dosen, dan tidak membuat kesalahan saat dosen itu mengajar.
"Beb, kita ke kantin dulu ya. Kamu hati-hati sama pak Juna nanti kamu di-ngap sama dia!" ucap Sabrina menakut-nakutinya dengan gerakan tangan yang membentuk buaya yang membuka lebar mulutnya.
Beby bergidik ngeri, memukul lengan Sabrina singkat sembari berdiri dari duduknya. "Gila kamu Sab!" jawabnya lalu keluar dari kelas.
Selama perjalanannya ke ruangan dosen itu yang berada dilantai 3, Beby berusaha menulikan indra pendengarannya saat kupingnya tak sengaja mendengar bisik-bisik beberapa mahasiswi yang membicarakan buruk tentangnya.
"Tapi pagi, dia pakai mobil baru. Perasaan seminggu lalu dia pakai mobil warna merah, sekarang warna hitam dan jauh lebih mahal dari sebelumnya!"
"Udah pasti sih Beby itu simpanan om-om. Lihat aja tuh badannya, masa ada per4w4n bodynya kayak janda anak 2!"
"Tapi body dia bagus banget! Kayak gitar Spanyol gitu...."
"Percuma badan bagus kalo dibuat hal yang negatif!"
Beby memutar bola matanya malas, ia sungguh heran dengan orang yang menjadi mahasiswa di sini. Sejak ia masuk pertama kali untuk kuliah di sini, tidak ada sehari pun mereka tidak membicarakan Beby.
Selalu Beby yang menjadi sasaran bahan omongan mereka. Padahal Beby hanya diam saja, entah mereka iri atau ingin hidup seperti Beby, dia pun tidak tahu.
Lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Beby sampai di sebuah ruangan dosen itu.
Tok...tok...tok...
"Masuk!"
Dengan senyum kecil di pipinya, Beby memasuki ruangan dosen tua yang tadi memanggilnya.
"Ada perlu apa ya pak, manggil Beby kesini ?" tanyanya to the point.
Dosen tua dengan perut buncit itu tersenyum mengerikan, ia menatap Beby dari atas sampai bawah. "Kamu duduk di sofa Beb, bapak mau periksa tugas dulu," titahnya.
Mendengar permintaan dosennya, tentu Beby menurut. Ia duduk di sofa kecil yang hanya bisa menampung dua orang itu dengan perasaan cemas.
Matanya beberapa kali melirik dosennya yang masih berkutat dengan banyak sekali buku tugas yang menumpuk di meja kerjanya.
Hingga hampir setengah jam, akhirnya dosen paruh baya itu berdiri dari duduknya dan menghampiri Beby.
"Jadi gini, Beb..." ucapannya memulai pembicaraan, ia duduk tepat disamping.
Karena sofa itu kecil, jadinya mereka harus duduk saling berdempetan dan itu sangat membuat Beby tidak nyaman. "A–ada apa ya, pak ?" tanyanya gugup.
"Tadi sebelum bapak mengajar dikelas kamu, bapak keruang adminstrasi untuk mengambil sesuatu. Tanpa sengaja, bapak mendengar keluhan dari salah satu staff administrasi yang membicarakan kamu," ucap dosen bernama Arjuna itu.
"Bi–bicara apa pak, kalau boleh saya tahu..." tanyanya, ia terus menghempas dengan sopan tangan Arjuna yang bergerak mengelus pahanya yang terpampang. Namun bukannya menyingkir, tangan Arjuna malah semakin menggoda tubuh Beby hingga meremang.
Arjuna, dosen tua itu tersenyum miring, melihat respon tubuh Beby yang nampak mulai menikmati godaannya yang diberikan oleh sentuhan tangannya.
"Katanya begini 'Beby itu gayanya saja yang oke, tapi dia sudah telat membayar UKT saja telat. Ini sudah tanggal 23 dan dia belum bayar UKT untuk semester ini' begitu Beb," jawab Arjuna menirukan suara perempuan berkerudung yang menjabat sebagai salah satu staf administrasi.
****UKT dijelaskan sebagai sebagian biaya kuliah tunggal yang ditanggung setiap mahasiswa per semester berdasarkan kemampuan ekonominya.****
Beby menelan ludahnya sembari memejamkan mata, saat tangan dosen itu hampir saja menyentuh area terlarangnya. Namun sebelum itu terjadi, Beby dengan kuat menahan tangan dosen tua itu. "I–iya pak, sa–saya memang belum membayar UKT bulan ini, karena memang Ayah saya belum mengirim Beby uang.." jawabnya dengan jujur.
Mendengar jawaban Beby, dosen itu tersenyum miring. "Ayah kamu belum transfer uang ?" tanyanya yang dijawab anggukan polos oleh Beby.
Arjuna mendekatkan bibirnya pada telinga Beby dan membisikkan sesuatu. "Jujur saja, pasti bukan Ayah kamu yang kirim uang. Pasti sugar Daddy kamu kan..." sambungnya dengan seringai.
Mata Beby membelalak terkejut mendengar ucapan tak sopan dari dosen tua itu. Ia menghempaskan kasar tangan kriput yang sudah tak sopan bermain di pangkal pahanya. "Pak Arjuna saya mohon agar bapak bisa lebih sopan kepada sa–"
"Nenek kamu sudah tua ya, Beb ?" tanyanya dengan seringai kecil. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana kain yang ia gunakan. "Kalo dia lihat foto ini kayaknya bakalan kena serangan jantung te....terus meninggal deh...." sambungnya Arjuna sembari mengecilkan suaranya saat mengucapkan dua kata terkahir.
Tangan Beby terkepal erat melihat foto dimana ia dengan mantan pacarnya dulu dan para sahabatnya saat masih SMA tengah bermabuk-mabukkan untuk merayakan kelulusannya.
"Anda ingin mengancam saya, pak ? Itu foto 3 tahun yang lalu. Sekarang saya sudah tidak pernah lagi ke club!" jawabnya dengan nafas tersengal-sengal karena menahan emosi.
Arjuna tersenyum miring, memilih memasukkan lagi ponselnya di saku celananya. "Saya tidak mengancam kamu, Beby. Saya hanya tanya bagaimana respon nenek kamu yang sudah renta itu saat saya menunjukkan foto kenakalan kamu saat remaja. Kamu hanya tinggal berdua dengan nenek saja kan? Dari data yang saya tahu, nenek kamu berumur 74 tahun, itu berarti um–"
"Mau bapak apa ?" tanyanya final, matanya berkilat marah menatap dosen tua mesum itu.
"Nanti malam, mungkin jam sembilan saya mau kamu datang ke Club Swing Ash dengan pakaian cantik. Bapak tidak akan melakukan hal buruk terhadap kamu, Beb. Bapak cuma mau ditemani dan berbicara saja. Bagaimana ?" tanyanya dengan senyum lebar dan Beby tidak menjawab.
"Bapak akan lunasi semua biaya kuliah kamu sampai lulus!" sambungnya. "
Beby menghela nafas panjang, sebenernya ia tidak butuh dibiayai, karena memang ayahnya sudah kaya raya. Tapi ia tidak bisa membuat neneknya cemas saat melihat foto itu, ia menyayangi neneknya lebih dari orangtuanya sendiri.
"Baiklah, Beby akan datang!"
...o0o...
GAIS, INI KARYA KETIGA RATU YA....
SEMOGA KALIAN SUKA... 🥺
Selalu KOMEN + LIKE YA SAYANGGG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
cahaya
salah sendiri...
2022-03-13
1
Maya Zivana
dosen kurang ajar,,
2022-03-12
2
Triiyyaazz Ajuach
pasti beby dijebak
2022-02-07
2