SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o ...
"Aku akan berangkat sekarang sayang..." Sean mengecup kening istrinya lama. Bergantian dengan kedua tangan milik istrinya.
Setelah selesai melakukan ritual paginya untuk berbicara dengan sang istri, Sean akan turun kebawah untuk sarapan sebelum pergi berangkat bekerja.
Ia menuruni anak tangga dengan cepat dan berhenti tepat dimeja makan. Seperti biasa Sena duduk di kursi bagian kepala keluarga, bersama dengan asistennya yang berada di samping kanannya. Sementara Leon anaknya, duduk di paling ujung kursi yang berada di meja makan itu.
"Siapkan makan!" titah Sean sembari bermain ponsel.
Seorang maid langsung datang, menyiapkan roti dengan selalu coklat kesukaan Sean. Tak lupa ia juga menuangkan susu pada gelas tuannya.
"Silahkan tuan," ucap maid dengan bibir merah seperti tengah selesai menghisap darah.
Sean mengangguk dan mengusir maid itu. "Jadwal!"
"Hari ini anda tidak memiliki jadwal keluar perusahaan, tuan. Hanya ada beberapa dokumen menumpuk di meja karena kemarin anda tidak bekerja," sindir Jacob dengan halus.
Sebelah alis Sean terangkat menatap Jacob tajam. Sedangkan yang ditatap berpura-pura sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Terserah. Itu perusahaan ku!"
Jacob meringis lalu menganggukkan kepalanya singkat. "Tapi ada dua masalah yang terjadi sekarang, tuan."
"Katakan!"
"Tuan muda Leon, terlihat perkelahian dengan temannya kemarin," ujar Jacob melirik Leon yamg duduk di ujung.
Leon bergetar ketakutan di bangkunya, ia takut-takut menatap ayahnya yang sibuk dengan ponsel. Ia ingin melihat ekspresi ayahnya saat tahu ia berkelahi kemarin.
Namun ekspektasinya terlalu tinggi, ia mengharapkan ayahnya akan khawatir atau setidaknya marah dengannya, tapi ayahnya terlihat acuh padannya.
"Guru tuan muda Leon, meminta agar wali murid bisa datang ke sekolah untuk mendapatkan bimbingan–"
"Aku sibuk!" ucap Sean cepat, memotong ucapan Jacob.
Jacob menghela nafas panjang. "Anda tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini tuan, jadi mungkin anda bisa datang ke sekolah. Hanya bicara biasa, tidak mungkin lebih dari satu jam."
Mata Sean menatap asistennya dengan tajam. "Saat aku bilang sibuk, artinya aku sibuk! Aku tidak ada waktu mengurus masalah bocah itu!" jawab Sean final, seolah tak ingin membahas sesuatu tentang Leonardo.
"Astaga pria brengsek ini benar-benar. Bocah itu yang kau maksud adalah anak kandungmu sendiri. Anak dari hasil kerja malam mu dengan Nyonya Clara!" batin Jacob sebal.
Ia melirik tuan mudanya yang nampak murung, mungkin hatinya sedikit tersentil saat mendengar ucapan tak mengenakan dari samg ayah yang ditujukan padannya.
"Dan untuk masalah yang satu lagi, ini masalah keuangan perusahaan kita."
Sean meminum susunya hingga tandas, lalu menatap Jacob dengan penasaran. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada perusahaan kita ?" tanyanya sedikit panik.
Jacob menggelengkan kepalanya, "ini mengenai pria tua itu, sampai saat ini dia belum membayar hutangnya kepada kita. Sudah hampir satu tahun, tapi dia selalu beralasan."
"Jika begini terus, keuangan perusahaan kita akan terkena dampaknya," sambung Jacob cepat.
"Berapa hutangnya ?"
"Tujuh triliun, tuan."
Sean tersenyum menyeringai, mengelap bibir dengan tisu lalu berdiri dari duduknya. "Sebelum ke kantor, aku ingin berkunjung ke perusahaan pria tua itu. Ingin menyapanya singkat!"
"Mari berangkat!" titah Sean yang diangguki oleh Jacob.
...o0o ...
Beby dan keluarganya saat ini sudah resmi keluar dari mansionnya yang megah bak rumah Barbie itu.
Mereka berempat sudah pindah ke rumah mewah tapi tak sebanding dengan mansionnya dulu.
Meskipun begitu, rumah barunya ini memiliki dua lantai dan lebih nyaman dari mansion sebelumnya.
"Ibu simpan semua uang ini kedalam brangkas!" titah Beby sembari menyerahkan sekarung uang hasil dari penjualan ruamhnya kepada Risna.
Risna menganggukkan kepalanya, lalu membawa uang itu kedalam kamarnya yang berada pada lantai dua.
Robert dan Mina saat ini tengah sarapan di meja makan kecil di rumah itu. Semetara Beny dan Ibunya sejak kemarin sudah sibuk menata rumah ini.
"Beby, kamu makan dulu nak. Sebentar lagi kita ke perusahaan Ayah!" titah Robert dengan berteriak kecil, agar anaknya yang berada diruang tamu bisa mendengar suaranya.
Tak lama, Beby akhirnya datang ke meja makan itu. Ia duduk berhadapan dengan neneknya dan mengambil nasi goreng serta telur untuk ia isikan dalam piring kosongnya.
Beberapa menit kemudian, Risna juga sudah duduk disamping Mina–nenek Beby untuk ikut sarapan.
"Ayah nanti juga ikut ke perusahaan ?"
Robert menganggukkan kepalanya, "tentu sayang, nanti akan Ayah jelaskan bagaimana asal mula masalah ini terjadi agar kamu bisa paham dan melan––"
Kring....kring...kring....
Robert mengambil ponsel yang berdering yang berada pada saku jasnya. Ia mengerutkan dahinya bingung menatap siapa yang menelfonnya pagi-pagi begini.
"Halo, ada apa Rei ?"
"Tu–tuan cepatlah datang kemari. Mr. Alejandro datang ke perusahaan kita..."
"A–APA!!" Robert berdiri dafi duduknya. "Baiklah, aku akan datang dalam setengah jam."
Tut....
Tanpa menunggu jawaban Rei, Robert sudah mematikan sambungan telfonnya. Dan memasukkan lagi ponselnya kedalam saku jasnya.
"A–ada apa Yah ?" tanya Beby yang nampak terkejut. Bukan hanya Beby tapi nenek dan ibunya juga sangat terkejut.
"Ayah harus ke kantor sekarang. Pengusaha yang ayah pinjam uangnya datang ke kantor .." jawabnya dengan raut wajah cemas yang begitu ketara.
"Beby ikut!" ucapnya sembari meminum minumannya hingga tandas.
Ia menatap ibu dan neneknya yang juga nampak pucat dan cemas. "Tidak perlu khawatir. Beby pasti bisa menyelesaikan masalahnya!"
"Baiklah, hati-hati dijalan..." Risna menimpali ucapan sang anak.
Robert serta Beby langsung berlari kecil untuk menaiki mobilnya menuju perusahaan. Tak ada obrolan di dalam mobil, pikiran kedua orang itu melayang entah kemana.
Hingga dua puluh menit kemudian, Ayah Beby yang membawa mobil itu dengan sangat cepat akhirnya sampai pada perusahaan.
Tak menunggu lagi, Beby dan Robert langsung berjalan memasuki perusahaan setelah memarkirkan mobil mereka asal.
Baru sampai di koridor perusahaan, ia sudah disambut oleh Rei–sekretaris ayahnya. "Tuan, Mr. Alejandro saat ini sudah menunggu anda di ruang kerja anda...."
Roberto menganggukkan kepalanya mengerti, lalu berjalan lebih dulu memasuki lift yang dilanjutkan dengan Beby dan Rei di belakang.
Ting....
Saat pintu lift terbuka, mereka bertiga langsung keluar dan berjalan menuju ruangan Robert yang berada diujung koridor.
"Tuan Roberto, Mr. Alejandro sudah menunggu didepan," ucap asisten Mr. Alejandro seraya membuka pintu ruang kerja Robert kepada ketiga orang itu.
Saat Robert dan Beby sudah masuk ke dalam. Pintu itu kembali ditutup rapat oleh sang asisten.
"Mr. Alejandro..." panggil Robert pada seseorang yang duduk dikursi kerjanya dengan membelakanginya.
"Jika anda datang kemari untuk menagih soal hutang maka saya belum bisa membayarnya. Berikan saya waktu lebih lama lagi agar bisa membayarnya. Saya berjanji akan membayar seluruh hutang–"
"Janji, janji, janji. Ini sudah setahun Robert, aku tidak butuh janji aku hanya ingin uang 7 triliun ada di depan mataku sekarang," ucap pria yang duduk membelakangi Robert dan Beby itu.
Robert menatap anaknya bingung, seolah mengerti maksud tatapan sang ayah akhirnya Beby membuka mulutnya untuk bernegosiasi dengan pria itu.
"Mr. Alejandro," panggil Beby dengan nada lembutnya. Ia memilin-milin tangannya dan berjalan mendekati pria berjas itu.
Semetara orang yang duduk membelakangi Beby itu langsung tersentak saat mendengar suara yang begitu tak asing dalam indra pendengarannya.
"Saya adalah anak dari tuan Roberto. Bisakah saya bernegosiasi dengan anda ?"
Sean semakin yakin setelah mendengar suara wanita itu lagi, ia memegang dadanya yang berdebar kencang. Beby ?
"Saya tahu mungkin Ayah saya meminjam uang dari perusahaan anda dengan nominal yang cukup besar. Dan sudah hampir satu tahun Ayah saya belum bisa melunasi pinjaman itu dari tanggal yang disepakati. Maka dari itu saya mempunyai solusi, bagaimana jika–"
"Bagaimana jika apa Beby ?" Sean memutar kursi yang saat ini ia duduki hingga wajahnya terlihat ke arah Beby dan juga Roberto.
Mata Beby membulat seketika, mulutnya terbuka lebar. "Bu–bule ?" ucapnya terbata-bata.
Sean tersenyum menyeringai menatap Beby, lalu senyumannya luntur saat ia menatap kearah Roberto. "Dia anakmu, Robert ?"
"Masalah anda pada saya tuan, tidak pada anak saya!"
"Tapi aku tertarik pada anakmu, Robert." Sean berdiri dari duduknya mendekati Beby.
Tangannya terukur untuk memegang dagu Beny mengarahkan wajah Beby agar menatap wajahnya.
Debaran jantung Sean semakin menggila, ia berniat menggoda Beby malah dirinya sendiri yang tak kuat menahan pesona wajah Beby yang begitu cantik. Sial!
"ALEJANDRO! JANGAN DEKATI ANAKKU!" teriak Robert yang tak terima anaknya menjadi sasaran Sean.
"Begitukah ? Kalau begitu cepat bawakan uang 7 Triliun cash dalam waktu 30 menit, aku menunggu!" Sean melepas tangannya dari dagu Beby dan berjalan untuk duduk di sofa yang berada pada ruang kerja itu.
Beby yang sedari tadi diam mematung, langsung tersadar saat Sean sudah tidak ada di hadapannya. Ia menatap Sean penuh benci, tangannya terkepal erat.
"Aku sudah bilang, kami tidak memiliki uang sebanyak itu, kumohon beri kami waktu–"
"Baiklah," Sean berdiri dari duduknya. "Persiapkan diri kalian, suruh seluruh pegawai kalian pulang. Aku akan meratakan bangunan perusahaan ini dalam waktu satu jam kedepan." Sean melangkah kakinya untuk keluar dari ruang kerja Robert ini dengan tersenyum miring.
Robert dan Beby lagi-lagi saling tatap, Beby bisa lihat raut wajah kelelahan yang tak bisa ditutupi sang ayah.
"Tunggu, Mr. Alejandro!" panggil Beby yang membuat Sean menghentikan langkahnya dengan senyum puas.
Ia mendaftarkan wajahnya, lalu membalikkan badan menatap Beby dengan alis terangkat.
"Anda tadi bilang tertarik pada saya, maka dari itu sa–"
"Tidak Beby! Ayah tidak rela! Dia sudah memiliki anak dan juga istri. Ayah gak rela kamu jadi simpanan pria itu!" potong Robert dengan cepat.
Beby tak gentar, ia menatap lurus kearah Sean. "Aku akan menjadi suruhanmu, tapi dengan syarat hutang ayahku dengan perusahaan mu, lunas!"
"BEBY!!!" teriak Robert tak terima.
Sementara Sean tak bisa menutupi senyum diwajah tampannya. "Pilihan yang bagus. Aku tidak akan menjadikanmu simpanan atau apalah itu. Karena aku hanya mencintai istriku seorang. Aku tidak sudi menyentuhmu!"
"Aku hanya perlu orang yang setia, bisa bekerja untukku dan merawat anakku dirumah. Hanya dua hal itu, bekerja untukku dan merawat anakku. Sebagai gantinya aku lunasi semua hutang keluarga mu."
Beby menganggukkan kepalanya mantap. "Aku terima kesepakatan ini. Mulai besok aku menjadi orangmu yang setia!"
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Ass Yfa
Leon pasti nyaman sama beby.secara tdk mendapatkan kasih sayang dari ortunya
2022-07-29
0
Sartika
serunya ke bangetan Thor
2022-06-03
0
sri ning
benarkah kamu tdk Sudi menyentuhnya? munafik !!
2022-03-15
0