Asrama militer kini tampak ramai dengan anggota yang bersiap diri. Tiba-tiba saja pagi tadi jendral besar mengabarkan jika para anggota yang akan berangkat ke perbatasan negara beberapa hari lagi harus di percepat lantaran kondisi yang tak memungkinkan.
"Mesya ayo cepet!" ucap Ica yang menatap Mesya sedang mengemas barangnya.
"Iya-iya ini udah!" ujar Mesya.
Mereka lahirnya berlari keluar dari kamar, sementara Viola dan Lia sudah lebih dulu sampai di lapangan.
"Beberapa akan naik Helikopter dan beberapa akan menaiki mobil menuju bandara, jadi saya harap kalian semua mematuhi perintah ketua kalian paham!" titah Ezra sambil menatap semua anggotanya.
"Paham jendral!" ucap mereka serentak.
Mereka semua masuk ke dalam mobil, sementara beberapa yang terpilih hanya akan menunggu Helikopter datang.
"Lia!" panggil Lio sambil berlari mendekati kembarannya yang akan menaiki mobil.
Lia menoleh, dia mengerutkan keningnya ketika Lio menarik tangannya entah kemana.
"Apa sih Lio, entar keburu mobilnya jalan," geritu Lia.
"Kita gak naik mobil tapi naik helikopter, jendral Ezra yang merintah," terang Lio.
Seketika Lia menghentikan langkahnya, dia menatap Ezra yang berdiri tak jauh darinya.
"Gue gak mau naik heli! mending kalian aja!" ketus Lia, dia masih merasa kesal karena kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya terkena bogeman Clara karena Ezra.
Lio menghela nafasnya, dia juga tak bisa melawan perintah Ezra. Dirinya juga tidak mau jika Lia berdekatan dengan Ezra, entah alasan apa tetapi Lio belum juga memberi tahu yang sebenarnya.
"Lepasin Lio! gue mau naik mobil bareng mereka!" kesal Lia.
"Kalau lu bareng mereka, gue gak bisa pantau lu!" balas Lio.
Ezra yang menyadari situasi segera mendekati Lia, netranya menajam sempurna ketika melihat Lia yang membuang pandangannya.
"Bukan saatnya kamu mencampuri urusan pribadi saat ini! turuti perintah saya sebagai jendral!" tekan Ezra.
Lia terlonjak kaget ketika mendengar suara Ezra yang terdengar marah. Akhirnya dia menuruti untuk naik helikopter bersama Lio.
Tak lama beberapa mobil keluar dari akademi, setelah itu terdengar juga suara beberapa helikopter yang berbunyi.
"Mereka sudah sampai, ayo sekarang bersiap Lia." ucap Lio sambil membawa tasnya yang sempat dia taruh tadi.
Lia mengangguk pasrah, akhirnya mereka bertiga menaiki helikopter begitu pula dengan yang lain dan meninggalkan akademi yang mungkin sebentar lagi akan heboh dengan kedatangan seseorang.
Helikopter mereka pun melaju dengan kecepatan sedang, tetapi netra Lio menangkap helikopter lain yang menuju ke akademinya.
"Daddy?" gumam Lio.
"Kau menyebut daddy?" tanya Lia yang mendengar ucapan Lio.
Lio menggeleng, dia kembali melihat depan sementara pikirannya tengah bertanya-tanya apa yang daddynya lakukan?
Perjalanan mereka hanya diisi keheningan, Lia pun bosan dengan keadaan sekitarnya.
Netra Lia beralih menatap Ezra yang tertidur, mungkin pria itu sangat lelah, pikir Lia. Tatapannya jatuh pada kalung yang berbandul kunci.
Tak lama tatapannya beralih menatap gelangnya yang tertera nama Zanna dan Leon
Ide tercetak jelas di pikirannya dan itu membiat Lia tersenyum.
"Lu mau ngapain?" heran Lio ketika melihat kembarannya yang mengarahkan tangannya pada dada Ezra.
Lia yang tadinya akan membuka gelang dengan kalung Ezra seketika terkejut yang mana membuat Ezra terbangun dan menatapnya.
"Lagi marah tapi modus heh?" ledek Ezra.
Brugh!
Lia memukul dada Ezra dengan keras hingga berbunyi, Lio pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka.
Dertt
Dertt
Ponsel Lio berbunyi, tangannya terulur untuk mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.
"Daddy?" gumam Lio.
Lio mematikan ponselnya, percuma saja dirinya menjawab telpon sang daddy karena suara heli sangatlah berisik.
Sementara Alden kini tengah menahan kesal karena Lio tak mengangkat telponnya.
"Si4l!" gumam Alden.
"Bagaimana? apa dia bisa di hubungi?" tanya Amora yang berada di samping suaminya.
Alden menggeleng, tak lama ada seorang wanita yang menepuk bahu Amora.
"Maaf, kalian siapa yah?" tanya wanita tersebut.
"Oh, kami keluarga Lia dan Lio. Kami akan menjemput Lio untuk mendonorkan darahnya untuk kakak suami saya. Tapi kami terlambat, mereka sudah pergi menuju perbatasan," terang Amora.
Wanita itu yang tak lain adalah Clara mengangguk, dia menatap Alden yang tengah sibuk menghubungi Lio.
"Memang apa golongan darah kakak suami tante?" tanya Clara.
"O rhesus negatif, suami saya memilikinya tapi dia penderita hemofilia." terang Amora sambil menatap Clara yang juga tengah menatapnya.
"Ehm maaf jika saya lancang, saya bisa mendonorkannya karena saya memiliki golongan darah yang sama," ucap Clara.
Seketika atensi Alden beralih menatap Clara, dia buru-buru memasukkan ponselnya dan mendekati Clara.
"Benarkah? kalau gitu kita bisa meminta tolong padamu untuk mendonorkan darahmu itu?" tanya Alden.
Clara tampak berpikir, tetapi sedetik kemudian dia mengangguk. Amora sangat senang, dia menyuruh Clara untuk mengikuti mereka menaiki helikopter.
Alden sudah tenang, walau bukan Lio yang mendonorkan tetapi Clara datang menolong mereka.
Helikopter mereka kembali lepas landas menuju rumah sakit yang Zidan tempati.
Setengah jam kemudian mereka sampai di atas gedung rumah sakit, Alden segera menarik Clara menuju lift. Sementara Amora dan Aurora beserta Ravin mengikuti mereka di belakang.
Cklek!
Alden langsung masuk begitu saja ke dalam ruang transfusi dara, dia memanggil dokter untuk mengecek darah Clara.
"Dok, dia yang akan mendonorkan darahnya." terang Alden sambil menunjuk Clara.
Dokter tersebut mengangguk dan memulai tugasnya. Setelah itu Alden keluar menemui istri beserta anak-anaknya.
"Gimana sudah?" tanya Amora.
"Lagi proses," jawab Alden.
Amora mengangguk, dia menatap Ravin yang baru saja bangun tidur di gendongannya.
"Daddy," panggil Ravin.
Alden menatap sang putra, dia mengambil Ravin dari gendongan sang istri.
"Kenapa hm?"
"Haus," lirih Ravin.
Amora mengerti, dia segera mengambil botol susu Ravin yang berada di tasnya.
"Nih." ucap Amora sambil memberi botol susu itu pada Alden.
Alden langsung memasukkan dot susu itu dalam mulut mungil sang anak. Begitu pula Ravin yang langsung menyedot kencang susu tersebut karena dia sangat haus. Kepala bocah itu dia sandarkan pada dada bidang sang daddy.
"Oh ya yang, kita lupa mengabari Leon. Kenapa tadi kita tidak tanya perempuan itu saja yah?" ucap Alden.
Seketika Amora terdiam, dirinya tak tau harus berbuat apa. Dia kembali mengingat saat dia bertanya tentang Leon kepada Kirana.
Flashback on.
"Maaf mbak, apa Leon berada di akademi militer magelang?" tanya Amora pada Kirana yang sedang di obati oleh suster pada luka lecetnya yang berada di tangan dan pelipis.
Kirana mengangguk pelan, dia menatap Amora yang tersenyum menatapnya.
"Kalau begitu pasti putra dan putriku sudah bertemu dengannya bukan?" antusias Amora.
"Mungkin, tapi ... mereka tak saling kenal. Aku yakin itu," ucap Kirana.
Senyum Amora luntur, dia menatap Kirana yang tengah menatapnya sembari berkaca-kaca.
"Zidan merubah identitas Leon menjadi Ezra Louise Elvish, bersamaan dengan Leon yang kehilangan ingatannya karena pengobatan penyakit ensefalitis. Mustahil bagi mereka untuk saling mengenal, apalagi yang keluargamu tau jika Leon sudah tiada," lirih Kirana.
Amora terdiam, pikirannya mengingat pria yang dia temui di akademi saat mengunjungi si kembar. Air matanya jatuh bersamaan dengan tangannya yang menutup mulutnya.
"Hah ... Le-Leon ... a-aku sudah bertemu de-dengannya," kejut Amora.
"Benarkah?" kaget Kirana.
"I-ya, dia yang mengenalkan namanya. Dari awal aku juga merasa jika wajahnya mirip dengan Leon, dan ternyata dugaan ku benar," gumam Amora.
Flashback off.
"Bagaimana aku memberi tahu mas Alden jika pria yang di marahinya beberapa waktu lalu adalah Leon keponakannya sendiri?" ucap Amora dalam hati.
Alden yang melihat istrinya sedari tadi terdiam pun mencoba menyadarkannya.
"Hei!" panggil Alden.
"A-ah iya," gugup Amora
"Kamu kenapa?" heran Alden.
Amora tampak gugup, dia menoleh menatap putrinya yang juga tengah memandangnya. Sedetik kemudian Amora kembali menatap wajah suaminya.
"Mas aku mau jelaskan sesuatu, ini tentang Leon," ucap Amora Kemudian memejamkan matanya.
Alden hanya mengangguk, dia tak tau apa yang akan istrinya ini ucapkan.
"Leon, dia ... amnesia," ucap Amora.
"Apa?!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
senin nih🤭, jangan lupa votenya yah❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Vera Wilda
Kenapa harus Clara yg mendonorkan Thor, nanti malah d jadikan alasan sm Clara buat menjerat Ezra nikah dg Clara , ckckckckk…. 🤔🤔
2025-01-28
0
Fani Indriyani
knp harus clara sih thor
2024-12-10
0
Maya Ratnasari
author suka plot twist
2025-03-28
0