Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" seru seorang pria yang tak lain adalah Elbert yang kini masih sibuk dengan berkasnya.
"Maaf tuan, perusahaan DE group sudah menunggu anda di ruang rapat," ujar asisten pribadi Elbert yang bernama Tio.
Elbert mengangguk, dia membereskan berkasnya dan segera bangkit untuk menuju ruang rapat.
Selama perjalan ke ruang rapat, Elbert sesekali berbincang dengan asistennya.
Cklek!
Elbert masuk ruangan rapat setelah Tio membukanya, dia masuk sambil membenarkan jasnya dan berjalan menuju kursinya.
"Selamat pagi direktur, maaf saya terlambat," ujar Elbert.
Direktur tersebut merupakan seorang wanita, dia membuka kaca matanya dan menatap Elbert dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Tidak apa tuan Elbert, saya merasa senang karena bisa bekerja sama dengan perusahaan anda yang besar ini." ujarnya sembari tersenyum menatap Elbert.
"Baik, maaf sebelumnya. Bisa saya tau siapa nama anda?" tanya Elbert.
"Nama saya ... Aqeela Lawrance atau Aqila Wesley yah?" guraunya.
Elbert membulatkan matanya, dia menatap penuh selidik pada wanita di hadapannya. Dia bahkan berdiri dan mendekati wanita yang bernama Aqila.
"Kau! kak QIla? anaknya ayah Gio kan?" seru Elbert.
Wanita itu adalah Aqila, dia sengaja bekerja sama dengan Elbert untuk bertemu dengan pria itu.
"Apa kabar kak? lama tak jumpa? dan sekarang kau berubah secara drastis!" ujar Elbert sembari terduduk kembali.
"Baik, bagaimana dengan saudaramu yang lain? ku dengar mommy kembali melahirkan 3 tahun lalu benar?" tanya Aqila sembari bersedekap dada.
Elbert mengangguk, jika dia sudah bertemu Aqila dia akan lupa dengan tujuannya yang sebenarnya. Bahkan kini asisten mereka berdua menatap heran para atasannya yang malah reunian itu.
"Benar, hais ... aku heran dengan daddy yang selalu membuat anak, bahkan yang seharusnya dia memiliki cucu malah memiliki anak kembali," jawab Elbert.
"Hahahaha, mungkin daddy merasa jika saudara sedikit akan terasa sepi. Kau tau kan kalau daddy tak memiliki saudara kecuali tante Angel." ujar Aqila sembari menutup mulutnya.
"Iya sih, kak ... gimana hubunganmu dengan kak Frans?" tanya Elbert antusias.
Tiba-tiba raut wajah Aqila sendu yang mana membuat Elbert merasa bingung. Dia menyentuh lengan Aqila yang mana membuat Aqila menatapnya.
"Sepertinya hubungan kami tidak bisa berlanjut, dia pria yang tidak bisa memberi kepastian. Selalu saja ada alasan ketika aku berkata kapan dia akan melamarku," ujar Aqila.
"Oh begitu, hm ... aku doakan semoga kakak mendapat yang terbaik," ujar Elbert.
"Lalu, kapan kau akan memiliki pasangan?" tanya Aqila yang mana membuat Elbert tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk! uhuk!"
Aqila puas tertawa, sementara Elbert membuang pandangannya karena dirinya sampai saat ini masih sendiri.
"Kenapa kau betah sekali dengan kejombloanmu itu El? apa kau tak ingin mendapat perhatian wanita?" tanya Aqila.
"Kan aku sudah di perhatikan kakak," ledek Elbert sambil mengedipkan satu matanya.
***
"Hiks ... gimana nih ..., udah mau malem. Jendral sih pakai acara lupa jalan!" kesal Lia yang saat ini duduk bersandar pada pohon.
Ezra hanya menatap Lia dengan jengah, dia menoleh kesana dan kemari untuk memantau situasi.
"Mana gue gak bawa soflen lagi, nanti kalau gelap terus mata hijau gue keliatan gimana?" gumam Lia.
Ezra masih mendengar gumaman Lia walau hanya samar, dia yang duduk tak jauh dari Lia membuatnya dia mendengar sedikit gumaman Lia.
"Dingin banget lagi!" gerutu Lia.
Ezra bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Lia dan duduk di samping wanita itu.
"Ngapain?" heran Lia.
Ezra tak menjawab, dia hanya membawa kedua tangan Lia dan menggenggamnya dan mengarahkan ke dekat mulutnya.
Lia seketika terdiam saat Ezra meniup tangannya guna menghangatkan Lia. Padahal Lia tidak tau jika Ezra tidak pernah tahan dengan dingin. Namun, pria itu tetap menahannya dan menghangatkan Lia.
"Tangan jendral dingin juga," lirih Lia.
"Gak papa, yang penting kamu tetap hangat." ucap Ezra sambil sesekali meniup tangan Lia.
Lia menatap wajah Ezra, tiba-tiba air matanya terjatuh karena mengingat wajah Ezra yang mirip dengan Leon.
"Kamu kenapa?" heran Ezra yang menyadari jika Lia menangis.
Lia menggeleng, dia menghapus air matanya dan menatap Ezra dengan pandangan sendu.
"Gak papa," singkat Lia.
Tak lama terdengar suara bunyi perut dari seseorang yang tak lain adalah Lia.
"Kamu lapar?" tanya Ezra.
"Iya," cicit Lia menahan malu.
Ezra tersenyum tipis, dia merogoh sakunya yang ternyata terdapat beberapa permen.
"Saya hanya punya permen, kalau kamu lapar makan ini saja. Bisa untuk mengganjal perut sampai bantuan datang," ujar Ezra.
Lia tersenyum lebar, dia mengambil dua permen dan menyisakan satu permen untuk Ezra.
"Terima kasih, kamu gak lapar?" ujar Lia.
Ezra menggeleng, baginya melihat Lia yang bahagia sepertinya sudah cukup untuknya. Entah mengapa berada di sebelah wanita itu membuat Ezra tak merasakan apapun selain nyaman.
Ezra menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya, dingin udara membuatnya menggigil apalagi dirinya yang tak pernah tahan dingin. Walau dia jendral, Ezra memiliki kekurangan dan tak ada satupun temannya rau selain keluarganya.
Setiap latihan di udara dingin, pasti dirinya sudah meminum obat kekebalan tubuh. Untuk itu dirinya lumayan kuat, sementara saat ini dia tak meminum obat karena dia pikir tak akan tersesat seperti ini.
Lia yang asik makan permen tak sengaja menatap kalung Ezra yang keluar dari bajunya, dengan perlahan dia menyentuh kalung itu.
"Mirip banget kayak punya kak Leon," gumam Lia.
"Leon siapa?" tanya Ezra sambil membuka matanya.
Lia terlihat salah tingkah, dia akan menarik kembali tangannya tetapi Ezra malah menarik tangannya sehingga tubuhnya menabrak dada bidang Ezra.
"Siapa Leon?" tanya Ezra dengan nada serius.
"Iiihhh apaan sih! lepasin gak!" kesal Lia.
"Saya tanya, siapa Leon?!" tanya Ezra dengan sedikit penekanan.
"Leon pacar saya puas!" sentak Lia.
Ezra melepaskan tangan Lia, dirinya teringat akan mimpinya selama sepuluh tahun ini.
"Zanna sayang kak Leon ...,"
"ARGHH!!"
Lia terkejut melihat Ezra yang memegangi kepalanya sembari teriak, bahkan akibat teriakannya burung-burung pada berterbangan akibat terkejut.
"Jendral! jendral kenapa?!" panik Lia.
Lia segera membawa kepala Ezra ke pangkuannya, Ezra juga merebahkan dirinya dan menerima Lia memindahkan kepalanya ke pangkuan Lia.
"Syuuut ...,"
Lia mencoba menenangkan Ezra yang dengan kuat menjambak rambutnya, tangan Lia mencoba membuka kepalan tangan Ezra pada rambutnya.
"Tenang okay," ucap Lia.
Bagaikan sebuah hipnotis, Ezra langsung merenggangkan jambakannya. Dia bahkan sudah memejamkan matanya sambil terus bergumam tidak jelas.
"Zanna,"
"Zanna,"
Lia tertegun ketika mendengar gumaman Ezra, dia menatap Ezra yang tengah membalikkan tubuhnya dan kini menghadap ke arah perutnya.
"Zanna? kenapa dia bisa tau nama depan gue? alah, mungkin aja temannya." sangkal Lia sambil menyisir rambut Ezra dengan tangannya.
Kini sudah malam, Tetapi belum ada juga anggota yang datang membantu mereka. Bahkan kini Ezra sudah bergetar karena dingin. Bibirnya sudah pucat pasi sementara Lia tengah bingung bagaimana cara menolong Ezra.
"Hiks ... gimana nih hiks ... jangan mati ya dral, nanti gue jadi tersangkanya hiks ...," gumam Lia.
Warna mata Lia kini menjadi hijau, pendengarannya kini sudah menajam. Dia mendengar jika ada langkah kaki yang mendekati mereka.
"Lia ...," panggil seseorang.
Lia menoleh, dia mendapati Lio yang berlari menghampirinya.
"Hiks ... Lio! Lio!"
Lio dapat menyadari jika di jarak yang lumayan jauh itu adakah Lia karena mata Lia yang membuatnya dia tahu jika itu kembarannya.
"Hah ... hah ... lu gak papa?" tanya Lio sembari memeluk Lia.
"Hiks ... jendral hiks ... jendral hiks ...,"
Lio melepas pelukan Lia, dia menatap wajah jendral yang sudah pucat pasi tepat di pangkuan Lia.
"Lu pergi dulu dari sini nanti gue susul sesudah gue kabarin yang lain. Takutnya mereka ngeliat warna mata lu, untung aja ni jendral lagi gak sadarkan diri," ujar Lio.
Lia mengangguk, dia memindahkan kepala jendral pada pangkuan Lio. Tetapi tanpa Lia sadari Ezra sedikit membuka matanya dan melihat warna mata Lia yang tampak indah.
"Hijau ... ternyata dia," lirih Ezra.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
flowers city
brondong
2024-12-03
0
flowers city
wowwwww
2024-12-03
0
Leng Loy
Ezra tau dech klo mata Lia hijau
2024-04-18
0