Kini Amora sudah sampai di parkiran Mall, dia segera keluar dari dalam mobil menuju pintu belakang tempat anaknya berada.
"Ayok, udah sampai," ujar Amora.
Amora membuka sabuk pengaman anaknya, setelah itu dia membawa Ravin turun dari mobil.
"Kita belanja mommy? kok nda cama daddy?" heran Ravin sembari menggandeng tangan sang mommy.
"Kalau sama daddymu itu terbatas, beda lagi kalau belanja sama kartunya ... tanpa batas luar biasa," seru Amora.
Ravin tak mengerti, tetapi dia hanya mengangguk dan mengikuti langkah mommynya yang sudah tidak sabar untuk membeli tas limited.
Amora membawa Ravin memasuki lift, tetapi secara mengejutkan banyak orang yang masuk dan terlihat ada seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Amora juga tengah masuk dan berdiri di samping Amora.
"Cempit mommy," ujar Ravin.
"Sebentar doang kok," jawab Amora.
Ravin menghela nafasnya, suasana di lift benar-benar sesak akibat banyaknya orang. Netranya beralih menatap anak yang berada di gendongan ibunya tepat di sampingnya. Anak itu tampak merengek karena sempit dan juga beralih menatapnya.
"Ih! cempit bunda!" seru anak tersebut.
"Kino diam, jika merengek seperti itu pasti tambah sempit," ujar wanita itu yang tak lain adalah Kirana.
Amora dan Kirana bertemu, tetapi mereka tak mengenal satu sama lain.
"Kau! gesel dulu kesitu! gesel dulu kesitu! cempit! cempit!" sentak Kino pada Ravin sambil menggeser kepala anak itu.
"Kau aja yang gesel aku pun cempit ku lasa!" sahut Ravin tak terima sambil menghalangi Kino yang mendorong kepalanya.
Amora dan kirana sama-sama terkejut, mereka berusaha menghalangi putra-putra mereka yang kini sudah saling menjambak.
"Astaga! lepas dek!" panik Kinara.
Tring!
Pintu lift sudah terbuka, orang-orang pun sudah pada keluar tetapi dua bocah itu masih saling menjambak.
"Lepas! cakit!" ujar Ravin.
"Emangnya kino nda cakit apa!" sahut Kino tak terima.
Bugh!
"HIKS .... HUAAAAA,"
Sudah Amora dan Kirana duga, tak lama pasti ada yang menangis atau mungkin keduanya.
***
Kini Lia tengah berusaha membuka kotak yang ia bawa dari kamarnya, temannya pun sudah pada tidur sementara dirinya masih berusaha membuka kotak tersebut dengan pisau latihannya.
"Kok Lia bisa lupa yah ini kotak apa? haduuhh! dasar! lupaaan!" gerutu Lia.
Kletak!
Kletak!
"Ish! lu berisik banget sih! gue ngantuk!" sentak Ica dengan wajah kesalnya.
"Eh maaf-maaf, ini dari tadi susah di buka. Kan gue kepo." ujar Lia sembari menatap Ica dengan tatapan bersalahnya.
Ica turun dari ranjang nya, setelah itu dia duduk lesehan bersama Lia yang sudah kembali fokus pada kotak itu.
"Sini! gue bantu buka," ujar Ica.
Lia memberi kota itu dan diterima oleh Ica, doa menatap Ica yang masih berusaha untuk membukanya.
"Aneh banget sih nih kotak, lu punya kuncinya kagak?" ucap Ica.
"Kalau ada kuncinya ngapain gue susah payah buka dodol!" gemas Lia.
Ica meringis pelan, setelah itu dia kembali berusaha membuka kotak itu.
"Tunggu!" seru Lia.
Ica mengerutkan keningnya ketika Lia mengambil kotak itu dan mengarahkan ke gelangnya. Netranya melebar sempurna ketika menyadari susuatu.
"Lubang kuncinya mirip, apa mungkin satu set kali yah?" asal Lia.
"Lu bercandanya mendunia banget Li, mana ada gelang satu set sama kotak yang lebih mirip sebagai tempat barang kuno! aneh lu!" heran Ica.
"Tapi bener loh, coba lu liat." kata Lua sembari menyodorkan tangan dan kotak itu.
Ica memandang lubang itu, lubang yang tidak terlalu kecil dan sangat mirip.
"Kok bisa yah? eh, emang ni gelang lu beli dimana?" tanya Ica.
"Gak beli, ini di kasih sama dia. Seseorang yang sampai saat ini masih tersimpan disini," ujar Lia setelah itu menunjuk dadanya.
Ica tampak mengerti, mungkin orang yang Lia maksud istimewa hingga Lia berkata seperti itu.
"Sorry nih yah, kenapa lu gak minta aja sama dia?" heran Ica.
"Masalahnya, dia udah gak ada. Dunia kita kini sudah berbeda." singkat Lia sembari mengambil kembali kota itu dan menyimpannya di laci meja belajarnya.
Lia kembali duduk di depan Ica yang sedang terdiam, dia menatap Ica dengan aneh tanpa menunggu lama dia menyentuk lengan Ica.
"Ada apa? kenapa kau terdiam?" heran Lia.
"A-ah tidak apa," sahut Ica.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur kembali, bahkan kini mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing hingga alam mimpi memeluk mereka.
Esok pagi, Ezra terlihat tengah merangkai sebuah tembakan. Kini wajahnya terlihat sangat tampan akibat keringat yang membasahi pelipisnya.
"Jendral!" seru seseorang.
Ezra menoleh, dia mendapati salah satu anggotanya yang berlari menghampirinya.
"Ada apa?" ujar Ezra tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Anggota sudah bersiap ke hutan untuk latihan tempur, dan juga kini mereka sudah berangkat kesana," ujarnya.
Ezra mengerutkan keningnya, setahunya pelatihan itu akan di laksanakan minggu depan. Apalagi para anggota baru belum berada dua minggu disana dan pastinya mereka belum ada persiapan yang matang.
"Para anggota baru ikut?" tanya Ezra.
"Iya, tapi hanya beberapa yang dipilih oleh jendral besar," ujar anggota tersebut.
Ezra membulatkan matanya, dia menaruh tembakan itu dan berlari menuju lapangan. Dia tak tau jika jendral besar sudah sampai di akademi.
"Loh, jendral gak ikut?" heran Reno yang berpapasan dengan Ezra yang berlari.
Setibanya di lapangan, dia tak menemukan satupun anggota. Hanya ada anggota pria yang kini sibuk dengan latihan menembak.
Untuk itu Ezra berlari kembali ke arah ruang Jendral besar. Tetapi saat dia akan sampai, seorang wanita menyapanya.
"Selamat pagi jendral, ada hal apa yang membuat anda ke ruangan ayah saya?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Dokter Clara.
"Saya ingin bertemu jendral besar," ujar Ezra.
Dokter Clara mengantarkan Ezra masuk ke dalam ruangan ayahnya, netaranya mendapati sang ayah yang kini meminum kopinya seraya menatap luar jendela.
"Ayah," panggil Dokter Clara.
Seorang yang berpakaian serba hitam menoleh dan mendapati putrinya yang datang bersama Ezra.
"Eh, jendral Ezra apa kabar?" tanya jendral besar dengan ramah.
Ezra memberi hormat pada jendral besar, setelahnya dia mendekati jendral yang berdiri tak jauh darinya.
"Saya baik, maaf saya ingin bertanya," ujar Ezra.
"Iya, silahkan duduk dulu dan kau Clara silahkan keluar dan kerjakan tugasmu," ucap jendral besar dan beralih menatap putrinya.
Clara mengerucutkan bibirnya sebal, dia keluar dari ruangan ayahnya sambil menahan kesal.
"Maaf jendral besar, kenapa anda mengirim beberapa anggota baru untuk mengikuti pelatihan itu. Bahkan mereka baru 2 minggu berlatih di akademi ini," ujar Ezra setelah menduduki dirinya.
"Kenapa kamu begitu khawatir? saya hanya mengirim 10 orang anggota baru lima putri dan 5 putra. Saya tidak mengirim semuanya, yang saya pilih karena mereka memiliki kemampuan khusus," terang jendral besar.
Ezra tampak mengerutkan keningnya, dia menatap atasannya dengan heran.
"Siapa saja yang anda kirim kesana?" heran Ezra.
"Mereka ...,"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
flowers city
😃😃🤣🤣🤣🤣🤣🤣😃😃
2024-12-03
0
flowers city
😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄
2024-12-03
0
Leng Loy
Clara jadi saingan Lia nanti, ada apa dengan Jendral besar
2024-04-18
0