Lia kini tengah menggerutu, sementara Lio tengah menatap motor dan mobil yang berada di belakang mereka.
"Kamu gak seharusnya seperti itu Lia," ujar Lio.
Lia menoleh, dia merasa tak terima dengan kembarnya yang membela orang lain. Namun, ketika dirinya ingin protes Lio lebih dulu menyela ucapannya.
"Dia Jendral Ezra, dirinya paling di takuti oleh siapapun yang mengenalnya. Aku memang pertama kali baru melihatnya, tetapi rumor yang beredar mengatakan seperti itu," sela Lio.
"APA?! KENAPA KAU TIDAK BILANG! MAU TARO DI MANA MUKA GUE LIO!" teriak Lia.
Pletak!
"Mulutnya! Gak usah teriak gue juga denger!" kesal Lio.
Lia mendengus kesal, dia menoleh ke belakang dan mendapati pasukan bermotor itu melewatinya dan berjalan di hadapannya.
"Kok jadi mereka di depan kita?" heran Lia.
"Mampus! lu sih cari masalah sama Jendral! masuk lu dalam daftar orang yang patut di singkirkan dalam hidup jendral!" ancam Lio.
Lia semakin takut, dia menyuruh sang supir untuk mendahului para motor itu. Namun tampaknya sang supir tak mampu karena motor tersebut selalu menghalanginya.
"Gimana ini Lio! Lia gak mau mati deluan," takut Lia.
Lio hanya acuh, dia menatap mobil yang di belakangnya melalui spion. Netranya menajam sempurna ketika melihat mobik itu tak sedikitpun mendahuluinya.
"Apa yang Jendral itu mau? tidak biasanya dia berbuat seperti ini," gumam Lio.
***
"Abang! kenapa tadi abang gak tahan Lia nya! aku tuh mau foto bareng dia! abang gak tau yah kalau Lia itu ...," heboh Viola.
"Bisa diem tidak? pusing abang! dia akan ke akademi kita, apa kau tak liat baju yang mereka pakai hah?" sela Ezra dengan menatap tajam adiknya.
Viola mengerucutkan bibirnya, tetapi sedetik kemudian dia melebarkan matanya dan menatap mobil yang ada di depan mereka.
"Bang! serius dia bakal satu akademi sama kita?" seru Viola.
Ezra menghela nafasnya kemudian mengangguk, dia melipat tangannya dan mulai memejamkan mata karena sudah jengah dengan sikap adiknya itu.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah memasuki kawasan militer yang mana mobik akan di periksa terlebih dahulu.
Ezra menurunkan spionnya, seketika kolonel yang berjaga mengangguk dan menyuruh temannya untuk membuka kan pagar.
Mobil mereka berjalan kembali dan terhenti di parkiran. Ezra keluar dari mobil diikuti oleh Viola, mereka mendekati mobil Lio dan Lia karena sedari tadi para penumpangnya beluk juga keluar.
Tuk!
Ezra mengetuk kaca, seketika Lio membukanya dan menatap Ezra dengan raut bertanya.
"Apa terjadi masalah?" singkat Ezra.
"Tidak, jendral deluan saja ... aku masih menunggu kembaranku, karena dia masih tertidur." terang Lio sambil mendongak menatap Ezra.
Ezra tak mengerti, mengapa harus menunggu Lia bangun. Memangnya wanita itu tak bisa di bangunkan? Dirinya juga baru sadar ternyata Lio mengetahui siapa dirinya.
"Bangunkan saja dia!" titah Ezra sambil menatap Lia yang menyender pada Lio tetapi wajah itu tidak terlihat karena Lio yang menutupnya.
"Maaf Jendral, aku bisa mengurus kembaranku. Lebih baik anda lakukan tugas anda, tidak baik jika anda terlalu memperhatikan kami," ujar Lio dengan nada datar.
Tanpa bicara lagi Ezra langsung masuk kedalam akademi, sementara Viola masih terdiam dan menatap sekitar yang juga banyak para calon murid baru.
Eunghh!
"Cepat bangunlah! kita sudah sampai!" titah Lio sembari membenarkan rambut Lia.
"Sudah sampai?" heran Lia.
"Ck, iya sudah sampai ayo!" ajak Lio.
Lia mengangguk, dia keluar dari mobil bersamaan dengan Lio yang menyuruh supirnya untuk kembali ke mansion.
Lia menatap sekelilingnya, netranya jatuh pada Viola yang kini menatapnya berbinar. Bahkan kini gadis itu sudah menghampiri Lia dan berdiri tepat di hadapannya.
"Aaaa Lia!" seru Viola.
Lia hanya mengerutkan keningnya bingung, dia menatap Viola seakan bertanya tentang kebingungannya.
"Eh, maaf ... aku belum kenalin diri. Namaku Viola, tidak usah memperkenalkan dirimu karena aku tau jika kau Lia seorang putri dari penguasa bisnis kan? fotomu ada dimana-mana kau tahu?" antusias Viola.
Lia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara Lio menghampiri mereka dengan tas Lia yang dia pegang.
"Cepat ambil tasmu dan bawa juga kopermu. Aku lelah membawa barangmu yang begitu banyak!" gerutu Lio.
Lia mendengus pelan, dia memakai tasnya dan mengambil kopernya. Sementara Viola masih menunggu Lia yang sedang di ceramahi oleh Lio.
"Jangan buat masalah! jangan buat onar! jangan cari masalah! jangan ...,"
"Berisik!" sela Lia dan kembali menghampiri Viola yang mana membuat Lio mendengus kesal.
Lio segera beranjak dari sana sementara Lia segera mengajak Viola untuk masuk ke dalam akademi. Mereka ingin satu kamar agar mempunyai teman bicara.
"Ini asrama satu, yang paling sedikit kapasitasnya. Lebih baik kita disini saja Lia, dari pada asrama lain," ujar Viola.
Viola hanya menatap pintu yang bertuliskan berapa orang yang terisi di setiap kamar. Pilihannya terjatuh pada kamar yang bertuliskan asrama satu.
Lia mengangguk, mereka memasuki asrama itu yang tampak kecil dan hanya ada empat kasur.
Brugh!
Lia dan Viola sama-sama membanting dirinya di kasur tersebut. Mereka mengatur nafasnya akibat lelah membawa koper yang begitu besar.
"Aku sangat lelah," gumam Lia.
"Bukan hanya kau ... tapi juga aku," sahut Viola.
Mereka berdua kembali menduduki diri mereka, mata mereka saling beradu ketika mendengar suara sirine.
"Apa ada kebakaran yah?" gumam Lia.
Viola yang baru saja tersadar suara itu segera menarik Lia dan berlari keluar kamar. Dia mengarahkan Lia ke lapangan dan melihat para murid baru yang sudah berbaris rapih.
"Kita terlambat Lia," lirih Viola.
keterlambatan mereka mengundang perhatian semua orang yang ada di lapangan termasuk Ezra yang kini tengah berdiri di samping pasukan putra.
"Kalian berdua, cepat masuk barisan!" titah Ezra.
Viola dan Lia kini memasuki barisan, mereka berdiri bersebelahan sambil menundukkan kepalanya.
Mereka hanya mendengarkan ceramahan dari Ezra yang mana membuat Lia dan juga Viola mengantuk.
"Mulutnya gak berbusa yah dari tadi ngomong terus?" heran Lia.
"Hm, aku juga heran. Padahal yang ku tau, abang Ezra orangnya minim bicara," sahut Viola.
"Ternyata dia abangmu ... ku kira bukan, kalian tidak mirip dari segi wajah dan juga perilaku." ujar Lia sambil menatap Viola.
Saat Viola akan menjawab, tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh suara yang menyebut mereka.
"Kalian berdua yang dibelakang! sudah puas ngobrolnya?"
***
Sementara itu di mansion Wesley tampak sangat sepi karena tak lagi ada yang buat kerusuhan. Kini di mansion hanya ada Alden, Amora dan Ravin karena yang lain sedang pergi untuk acara masing-masing.
"Daddy! meong Lavin mana?" ujar Ravin sambil menghampiri daddynya yang sibuk mengerjakan berkas kantor.
"Tadi Ravin taro di mana?" tanya balik Alden Tanpa melepas pandangannya dari Ravin.
Ravin mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya, dia menatap sekitar setelahnya dua berteriak histeris.
"Actaga! Lavin lupa! ci meong Lavin tinggal di kandang cinga glandpa!" seru Ravin dan berlari keluar ruang kerja Alden.
Alden mengalihkan pandangannya pada Ravin yang berlari keluar ruang kerjanya. Dia mengerutkan keningnya ketika mendengar kandang singa.
"Loh, singa papi masih disini?" gumam Alden.
Beberapa hari lalu, Mertua Alden datang ke mansionnya. Bukan hanya membawa diri, tapi juga membawa singa untuk di titipkan pada Alden karena mertuanya berkata jika dia ingin melakukan perjalanan bisnis.
Alden segera menutup laptopnya dan berlari keluar untuk mengejar anaknya yang akan pergi ke kandang singa milik mertuanya.
"RAVIN!" seru Alden ketika melihat putranya yang ternyata masuk ke dalam kandang melalui celah-celah pagar. Ravin muat memasuki celah itu karena tubuhnya yang kecil.
Sementara Ravin hanya menatap kucingnya yang kini meringsut ketakutan akibat singa itu yang mendekatinya.
"Bugh!"
Ravin memukul badan singa itu yang mana membuat singa itu menatap Ravin.
"Gesel dulu, Lavin mau ambil ci meong," ujar anak itu.
Bagaikan sebuah perintah, singa tersebut menggeserkan tubuhnya. Dia hanya menatap Ravin yang membawa kucing tersebut ke gendongannya.
"Ravin! keluar sekarang!" panik Alden.
Ravin menatap daddynya kemudian mengangguk, dia mengeluarkan kucing itu. Saat dia akan mengeluarkan tubuhnya, singa tersebut menggigit bajunya yang mana membuat Ravin terjerembab.
"Aduh! iiiihhh dacal cinga pentolan!" kesal Ravin sambil berusaha bangkit dan melihat baju belakangnya yang sudah sobek.
"Hiks ... tu kan bajuna Lavin cobek! cinga nda ada otakna! hiks ... talo di omeli mommy gimana ini hiks ...," isak Ravin.
Alden yang panik seketika terhenti akibat gerutuan putranya yang malah takut di omeli oleh sang istri.
"Ravin, ayo cepat keluar." bujuk Alden sambil menarik baju anak itu.
"Bajuna cobek daddy hiks ...," isak Ravin.
"Nanti kita beli yang baru, sekarang keluar ya nak," bujuk Alden.
Akhirnya Ravin keluar dan segera Alden mengecek tubuh anaknya. Dirinya takut singa itu melukai sang putra.
"Hiks ... baju Lavin cobek hiks ... cingana nda ada otakna hiks ...,"
"Namanya juga hewan, sudah ayo! keburu mommy sadar kamu gak ada di dalam," ujar Alden.
Ravin mengangguk, dia memegang tangan daddynya dan berjalan memasuki mansion dengan diikuti okeh kucingnya yang berjalan tepat di belakang mereka.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ririn
dikata singa itu emaknya kucing /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-03
0
Vera Wilda
Ada2 aja Thor , masak iya kandang singa gak penjaganya
2025-01-27
0
Ririn
viola ngefans sm lia?
emang lia ini kelebihannya apa
2024-12-03
0