"Zanna?"
Viola dan Reno menatap Lia yang menatap Reno dengan wajah terkejut.
"Iya, jendral sering gumamin nama Zanna. 12 tahun lalu jendral di katakan memiliki penyakit ensefalitis, dan 2 tahun setelahnya jendral sembuh tapi dia harus kehilangan seluruh memorynya. Mulai dari situ, seorang wanita bernama Zanna muncul di dalam mimpinya. Katanya itu dia memiliki ...,"
"Lia!"
Mereka menatap Lio yang sedang berlari ke arah mereka sambil meneriaki nama Lia. Reno berdecak sebal karena ucapannya terpotong oleh Lio.
"Kenapa?" heran Lia.
"Daddy menjenguk kita, cepatlah!" ujar Lio sambil menarik Lia pergi.
Sementara Reno dan Viola menghela nafas mereka ketika Lio dengan seenaknya menarik Lia pergi.
Sementara itu, kini Lia berlari menerjang tubuh sang daddy yang menunggunya di depan mobil.
"DADDY!" seru Lia.
Alden tersenyum, dia merentangkan tangannya sehingga sang putri masuk pelukannya.
"Princess daddy, how are you dear?" tanya Alden.
"I'm fine daddy!" seru Lia.
Alden mengecup pucuk kepala anaknya berkali-kali, dia sangat merindukan putri kecilnya ini. Menghiraukan tatapan anggota lain yang berada di dekat mereka.
"Mas sudah! aku juga ingin memeluk putriku!" ujar Amora yang kesal menunggu suaminya yang tak kunjung melepas pelukan mereka.
Alden terkekeh, dia melepas pelukan putrinya dan beralih menatap Lio.
"Mau daddy peluk?" tanya Alden sembari menahan tawa.
Lio hanya diam, dia sepertinya malu untuk memeluk daddynya. Apalagi selama ini Lio terlihat cuek dengan sang daddy, berbeda dengan Lia yang selalu dekat dengan daddy mereka.
Alden yang peka langsung saja memeluk putranya, dia tau jika sang putra merindukannya. Namun, sifat Lio sama seperti dirinya yang terlalu gengsi.
Mereka berpelukan tanpa memperdulikan sosok kecil yang telah menghilang. Bahkan dirinya sudah meninggalkan botol susunya tepat di sebelah kaki sang mommy.
"Wah banak olang," seru sosok kecil itu yang tak lain Ravin.
Ravin berjalan memasuki asrama putri, netranya menatap sekeliling yang terlihat asing baginya.
"Eh adek, kok bisa disini? orang tuanya mana?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Mesya.
"Lavin cali kakak." ujarnya sambil mendongak menatap Mesya.
Mesya menjongkokkan dirinya, dia memegang kedua bahu Ravin yang tengah menatapnya.
"Kakaknya namanya siapa?" tanya Mesya.
"Lia," jawab Ravin.
Mesya mengangguk, dia baru tau jika Lia masih memiliki adik berumur 3 tahun.
"Yaudah, yuk bareng kakak. Kita ketemu kak Lia," ajak Mesya
"Kata daddy nda boleh ikut olang acing, tapi kakakna tantik jadi nda papa deh," ujar Ravin.
Mesya terkekeh pelan karena mendengar ujaran Ravin. Dia bangkit dan menggandeng lengan kecil Ravin menuju asramanya.
Ravin sedang bersama mesya, sementara kini Amora dan Alden sedang sibuk mencari Ravin. Begitu pula dengan si kembar. Amora yang menyadari anaknya tidak ada memekik histeris, maka dari itu mereka langsung mencari Ravin.
"Gimana? ketemu?" tanya Alden ketika melihat istrinya yang berjalan ke arahnya.
"Gak mas, coba kamu cek lokasi jamnya aja. Tadi sebelum berangkat aku pakein Ravin jam yang pernah daddy kasih," ucap Amora.
Jonathan Wesley yang merupakan daddy dari Alden. Dia memberi cucunya sebuah jam yang terdapat alat pelacak guna untuk menjaga cucu kesayangannya itu.
"Sebentar aku cek." ujar Alden sambil mengotak atik ponselnya.
Amora panik, tak lama netranya menangkap seorang pria yang tak asing di lihat nya.
"Mirip Leon," gumam Amora.
Amora membulatkan matanya ketika melihat pria itu mendekatinya.
"Selamat siang, ada keperluan apa kalian kemari?" tanya pria itu yang tak lain adalah Ezra.
"A-aa ituu kami ingin menjenguk putra putri kami, Lia dan Lio. Maaf jika kedatangan kami mengganggu kegiatan mereka," ujar Amora yang gugup.
Ezra mengangguk, dia menoleh menatap Alden yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Eh maaf, boleh saya tau nama kamu?" tanya Amora sambil menatap Ezra.
Ezra menoleh, dia menatap Amora tetapi ada yang berbeda. Tatapan itu kini terlihat teduh, seperti tersimpan kerinduan yang dia tidak tau apa itu.
"Ehm Ezra tante, Ezra Louise El ...,"
"KETEMU! RAVIN ADA DI ..., !" sela Alden.
Amora menatap suami yang sedang menatap datar Ezra yang berdiri menatap istrinya.
"Siapa kamu? gak usah liatin istri saya, dia udah punya buntut enam. Mukanya oplas makanya masih keliatan muda," oceh Alden.
Ezra mengalihkan pandangannya, dia mengerutkan keningnya ketika mendengar ocehan Alden yang tidak bermutu.
"Mas! apa-apaan sih kamu! udah! mending kamu sekarang cari Ravin!" kesal Amora.
Alden mengangguk pasrah, dia mengarahkan dua jari tangannya ke matanya dan mata Ezra.
"Kamu! dalam pantauan saya!" tekan Alden dan berlalu dari sana.
Amora tampak tersenyum kikuk, dia merasa tak enak dengan Ezra yang hanya menatap datar ke arah kepergian Alden.
"Maaf, boleh kamu lanjutkan ucapan kamu tadi?" tanya Amora.
"Sepertinya itu tidak penting, kalau begitu saya permisi." ujar Ezra sambil menunduk sedikit dan berlalu dari hadapan Amora.
Sedangkan Amora masih terdiam, dia berharap jika pria itu adalah Leon. Namun, setelah mendengar namanya adalah Ezra yang mana membuat harapan Amora pupus.
"Aku hafal dengan tatapannya, tatapan seperti mata Leon. Aku ibu keduanya, tentu saja aku hafal bagaimana sikapnya. Apalagi Leon yang sering bersama Lia, tapi ... apakah mungkin," gumam Amora.
Amora menggelengkan kepalanya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam asrama menyisakan Ezra yang ternyata berada di balik mobil dekat dengan Amora.
"Leon? kenapa semua mimpiku ada hubungannya dengan Lia dan kini keluarganya juga? wajah, mata, dan Leon ... apa maksud dari semuanya? siapa Leon dan siapa Lia yang sebenarnya?" lirih Ezra.
Ezra mendengar gumaman Amora, dirinya merasa jika ada sesuatu antara dirinya dengan Amora karena perasaannya seperti merindukan sosok Amora yang ada di hadapannya. Untuk itu dia memutuskan untuk menunggu Amora pergi, tetapi ia malah mendengar gumaman Amora.
***
"Ravin!" seru Lia.
"Kamu itu! mommy panik cari kamu, mommy nangis tau gak gara-gara Ravin hilang!" seru Lia sambil menarik adiknya yang berada di pangkuan Ica.
Ravin yang tadinya sedang tertawa terkejut mendapati kakaknya yang masuk dengan wajah kesal bercampur panik.
"Mommy nanis?" panik Ravin.
"Iya mommy nangis gara-gara Ravin," ledek Lia.
Tiba-tiba saja Ravin menangis yang mana membuat Lia panik, dia membawa adiknya keluar asrama dan berjalan ke arah parkiran.
"Kenapa dia menangis?"
Lia terkejut, dia melihat Ezra yang berdiri di hadapannya. Netranya beralih menatap Ravin yang berada di sebelahnya dengan tangan kecilnya yang menggenggam tangan sang kakak.
"Aku tadi ...," gugup Lia.
Ezra tak menghiraukan ucapan Lia, dia membawa Ravin ke gendongannya dan menepuk punggung itu pelan.
"Diamlah, jagoan tidak boleh menangis," bujuk Ezra.
"Tapi hiks ... mommy nanis kalna Lavin hiks ...," ucap Ravin sambil sesenggukan.
"Untuk itu Lavin nda boleh nangis, kalau Lavin nangis nanti mommy tambah menangis." ujar Ezra sambil menghapus air mata Ravin.
Percakapan mereka tak luput dari tatapan Lia, dia sedikit meringis karena Ezra mengikuti kecadelan adiknya.
"Ehm maaf jendral nama dia Ravin bukan Lavin, dia cadel," ringis Lia.
Ezra menatap Lia dengan datar, sepertinya dirinya sedikit malu akibat mengikuti kecadelan Ravin.
"Terserah saya, mulut-mulut saya. Kenapa kamu yang komplen?" sinis Ezra.
Lia merengut kesal, dia menatap Ezra dengan tajam sementara Ezra sibuk dengan Ravin.
"Baru aja mau gue puji cocok nih jadi suami, pasti bakalan sayang banget ama anak. Eh, malah sifat ngeselinnya kambuh!" gumam Lia.
"Yaudah ayok!" seru Ezra
Lia terkejut, dia menatap Ezra yang juga kini menatapnya. Sementara Ravin menyenderkan kepalanya pada bahu tegal Ezra.
"Ayok apa?" heran Lia.
"Halalin kamu," singkat Ezra.
"Haaaa," kaget Lia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ririn
uhhuuyyy gaskeun
2024-12-04
0
flowers city
😃😃😃😃😃🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-03
0
flowers city
😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄
2024-12-03
0