"Mas mendengar gumaman mu, kenapa kau sebut Zidan?" tanya Alden yang baru saja masuk kamar dan mendapati istrinya yang tampak khawatir.
Amora terkejut, dia berusaha mencari alasan apa yang bisa dia berikan untuk suaminya.
Cklek!
Alden menutup pintu kamar, dia mendekati sang istri yang sepertinya berusaha menghindarinya.
"Mas tanya, kenapa kamu sebut Zidan? apa yang kamu sembunyikan? jangan coba berkilah Amora!" ujar Alden.
"Ta-tadi ... A-aku ...,"
"Apakah aku harus bilang sama mas Alden kalau tadi aku ketemu Zidan? tapi bisa aja kan pria itu hanya mirip?" ucap Amora dalam hati.
"Sayang!" sentak Alden.
"Aaa iya, itu ... tadi ... tadi aku lihat ...,"
Tok!
Tok!
Tok!
Alden memutar bola matanya sambil menghela nafasnya, setelah itu dia menuju pintu untuk melihat siapa yang mengganggu dirinya.
Cklek!
"Hiks huaaa mommy!"
Alden menghela nafasnya, pasti sang putra akan menangis jika terbangun dan tidak mendapati sang mommy di sebelahnya.
"Sorry dad, Ravin terbangun dan mencari mommy." ucap Laskar sambil memberikan Ravin pada Alden.
Alden mengambil putranya yang sesenggukan akibat menangis. Sementara Amora tampak menghela nafas lega karena sang putra membuatnya aman dari pertanyaan suaminya.
Cklek!
Alden kembali menutup pintu, dia berbalik mendekati sang istri yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu urus Ravin dulu, aku mau mandi," ujar Alden.
Amora mengangguk, dia mengambil Ravin yang sedang merentangkan tangannya itu.
Setelah memberi Ravin, Alden langsung masuk kamar mandi. Berbeda dengan Amora yang menidurkan Ravin kembali dan menepuk pelan punggung anaknya.
***
Terik matahari sangat menyengat kulit Lia dan juga anggota lainnya. Bahkan kini Viola sudah menggerutu akibat dirinya yang belum memakai sunscreen.
"Hitam deh kulit gue! bunda! aaa, nyesel gue lupa pake sunscreen." gerutu Viola sambik menggosok kulitnya.
Lia menghela nafasnya, sedari tadi temannya itu menggerutu akibat di jemur di bawa terik matahari. Bagi Lia kulitnya putih, dan tidak mudah hitam hanya karena matahari.
"Bisa diem gak lu! ribut mulu!" ujar seorang wanita bernama Gina yang duduk di samping Lia.
Viola mengerucutkan bibirnya sebal. Tak lama setelah itu teriakan histeris para anggota putri membuat Lia dan Viola mengalihkan pandangan mereka.
"Ada apaan sih?" heran Viola.
Netra mereka membulat sempurna ketika melihat para anggota putra yang melewati tempat latihan mereka dan parahnya lagi anggota putra tak memakai baju sehingga tampaklah otot-otot yang membuat para wanita histeris.
"Waw ... amazing," gumam Lia.
Bagaimana tidak? bahkan tatapan Lia kini tepat pada Ezra yang berjalan paling depan di antara mereka. Dan kini pria itu tengah berbalik sehingga memunggungi para anggota putri untuk memakai bajunya. Begitu pula dengan para anggota putra lain.
"Liaaaa!! Abang gue kok ngumbar auratnya?! gak terima nih gue! kasian istrinya nanti ... udah gak suci tubuhnya hiks ... malah di jadiin tontonan lagi hiks ...," histeris Viola.
"Eh iya juga yah ... ck ... ck, abang lu emang kurang pujian kali," ujar Lia mencoba tak terpesona tetapi wajahnya tak bisa berbohong.
tak sengaja Lia bertatapan dengan Ezra yang kini sudah memakai bajunya. Ezra tersenyum tipis sehingga Lia juga ikut tersenyum dan hal itu membuat Ezra mematung akan kecantikan Lia.
"Cantik," ucap Ezra dengan suara kecil.
"Apa dral? siapa cantik?" ujar Reno dan menatap sekelilingnya dan terhenti pada apa yang Ezra lihat. Namun sayang, yang dia lihat bukan Lia melainkan Dokter Clara yang juga sepertinya salah faham dengan senyuman Ezra.
"WAAAH SI JENDRAL NAKSIR NENG CLARA?!" teriak Reno yang mana membuat sorak sorai di lapangan itu semakin menjadi.
Lia terkejut begitu juga dengan Viola, mereka menoleh menatap Clara yang berdiri di belakang mereka.
"Gue kira jendral senyum sama gue! malu bangeett!" gerutu Lia dalam hati.
"Lah? kok si Clara? bukannya abang gak suka yah?" gumam Viola.
Sementara Ezra mengalihkan pandangannya, dia merutuki Reno yang salah paham dengan siapa dia tersenyum.
Sementara Clara menahan senyumnya, dia bahkan sudah menutupi wajahnya yang kini sudah memerah.
"Ciee dokter ... udah lampu hijau tuh," gurau anggota putri lain.
"Apaan sih kamu ... malu tau ...," ucap Clara.
Wajah Viola kini sudah menahan muntah, sementara Lia terdiam. Entah apa yang terjadi pada dirinya, hatinya seperti tersentil ketika mengetahui ternyata Ezra suka dengan Clara padahal tidak.
"Viola, masuk yuk. Gue ngerasa gak enak badan," lirih Lia.
"EH! yaudah ayok! gue anter," ujar Viola.
Mereka berdiri, dan menepuk celana mereka pelan. Viola lebih dulu berjalan ke arah ketua mereka untuk meminta izin.
"Kak, gue sama Lia izin yah ... Lia gak enak badan katanya," izin Lia.
"Iya," singkat ketua itu.
Viola mengajak Lia kembali ke asrama. Pergerakan mereka tak luput dari tatapan Ezra. Dia penasaran kenapa Viola membawa Lia kembali ke asrama.
Ezra menghampiri ketua anggota putri baru untuk menanyakan tentang apa yang mereka bicarakan.
"Tadi mereka bilang apa?" tanya Ezra.
"Mereka izin, katanya Lia gak enak badan," jawabnya.
Ezra mengangguk, dia berniat menyusul Lia dan Viola. Namun langkahnya terhenti ketika Clara menghalanginya.
"Ehm maaf jendral bisa kita bicara sebentar?" tanya Clara.
"Maaf, saya sedang terburu-buru," tolak Ezra.
"Hanya sebentar, saya ingin bertanya kenapa sampai sekarang jendral belum juga mau melaksanakan pertunangan kita? bukankah jendral menyukai saya?" tanya Clara dengan senyum tipisnya.
Ezra memutar bola matanya malas, sepertinya atasannya itu belum juga berbicara yang sebenarnya pada Clara. Terpaksa dia harus berkata jujur pada Clara.
"Maaf, sepertinya jendral besar belum berkata yang sejujurnya pada anda. Maka dari itu saya harus katakan jika pertunangan itu sudah saya batalkan. Tidak ada lagi rencana pertunangan itu!" ujar Ezra.
Dokter Clara mematung, air matanya jatuh ketika mendengar apa yang Ezra katakan. Kini, dirinya tak mampu lagi menahan isakannya.
"Stop! jangan menangis di hadapan saya, menangislah pada ayah anda yang membuat situasi ini semakin rumit. Permisi!" ucap Ezra dan berlalu dari sana meninggalkan Clara yang menutup mulutnya sambil terisak.
Clara berlari menjauhi area lapangan, Sementara anggota yang tak sengaja mendengar percakapan mereka memberitahukannya kepada yang lain.
Clara berlari menuju kamarnya, dia menutup pintu dengan kencang dan merosotkan tubuhnya di balik pintu.
"Hiks ... jahat! kau jahat! apa kurangnya aku hah?! tadi ku kira benar kau telah menyukaiku! tapi tampaknya aku salah mengira hiks ...,"
"Siapa wanita yang kau cintai? siapa wanita beruntung yang mendapat cintamu? kenapa aku yang berjuang, kenapa harus dia yang dapat? siapa dia hiks ...,"
"Apa aku kurang sempurna? aku cantik, berpendidikan, dari keluarga baik-baik dan juga ayahku seorang jendral besar. Lalu kenapa? kenapa aku masih belum bisa memilikimu hah?! hiks ... banyak sekali laki-laki yang mau menjadikanku pasangannya, kenapa rasanya sulit sekali aku menggapaimu EZRA!"
Di kamar itu hanya ada isakan dan ungkapan hati Clara, dia merasa Ezra tega tak membalas rasa cintanya. Namun, bukan salah Ezra ... Ezra hanya jujur jika hatinya tak menyukai apalagi mencintai Clara.
Dokter Clara.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ririn
gak salah tempat woyy nanya disitu
2024-12-03
0
Ririn
bagai bumi dan langit sm lia
2024-12-03
0
Ririn
jd inget elbert kecil
2024-12-03
0