Lia tengah berdiri sambil menatap Ezra yang tengah melatih anggotanya, di temani oleh Viola yang saat ini tengah menonton instagramnya.
"Gue heran ama abang lu vi," ujar Lia.
Viola memghentikan kegiatannya, dia menatap Lia yang sedari tadi memperhatikan abangnya.
"Heran kenapa?" bingung Viola.
"Mukanya kayak gak asing gitu, kayak familiar banget!" ujar Lia.
Viola mengingat apakah ada artis yang terlihat mirip dengan abangnya. Tetapi Viola tidak merasa seperti itu.
"Gak ah! muka abang gue limited edition kok," bantah Viola.
Lia hanya mengangguk, dia mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang berjas dokter sedang memperhatikan Ezra.
"Dia dokter yah?" tanya Lia sembari menunjuk wanita itu.
"Mana?" tanya Viola sembari menatap apa yang Lia tunjuk.
"Oh itu, dia Dokter Clara. Dia juga anak dari Jendral besar di akademi ini, mungkin karena kesibukan Jendral besar di akademi lain jadi jarang kesini." ujar Viola sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket lorengnya.
Lia mengangguk, tetapi dia bisa menangkap jika Clara menatap Ezra dengan kagum.
"Eh, gue lupa nanya. Nama panjang lu siapa yah? karena kan setiap acara TV nama lu selalu Lia dan gak pernah nyebut nama lengkap, cari di internet juga gak nemu," ujar Viola.
"Emang lu kira gue artis apa sampe orang cantumin nama gue? kurang kerjaan banget," seru Lia.
"Ya ... ya nggak gitu! tapikan bokap lo terkenal Lia!" kesal Viola.
Lia menghela nafasnya dia mengajak Viola untuk pergi dari sana.
"Nama gue Zanna Liana putri Wesley, biasanya yang orang tau gue adalah Liana putri Wesley. Mungkin karena nama Zanna yang jarang banget gue pakai. Bahkan yang manggil gue Zanna hanya ...,"
"Hanya apa?" ujar Viola menunggu jawaban Lia.
"Lupakan, yang penting lu udah tau nama lengkap gue," ngeles Lia.
Viola mengangguk, tetapi pendengarannya tidak asing dengan nama itu. Namun dirinya lupa pernah mendengar dimana nama tersebut.
"Oh ya Li, gue naksir sama gelang lu. Mau coba boleh gak?" pinta Viola.
Lia menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Viola. Lia menatap tangannya yang terdapat gelang berbandul indan dengan inisial Zanna dan Leon.
"Gue gak masalah lu pinjam, tapi masalahnya ni gelang gak bisa di buka." ujar Lia sembari menyodorkan tangannya.
"Kok bisa?" heran Viola yang di balas gelengan oleh Lia.
Viola menyentuh tangan Lia, dia berusaha membuka gelang itu tetapi dia tak menemukan dimana pengaitnya kecuali sebuah lubang yang seperti lubang kunci.
"Ini gelang apa sih li! masa gak ada pengaitnya?" heran Viola.
"Hah ... gak tau, yang tau hanya dia. Gue lupa bagaimana dia memasangkan nya." ujar Lia sembari menarik kembali tangannya.
"Kalian sedang apa?"
Suara berat mengangetkan mereka yang mana membuat Viola dan Lia saling memekik histeris.
"AAAA!"
Nampaknya pria.yang mengagetkan mereka adakah Ezra yang entah kapan sudah berdiri di belakang mereka.
"Ck! gak sadar apa tubuh kalian seperti kerdil hah?! hais ... tubuh kecil pasti memiliki suara melengking, apa kalian tidak tau!" kesal Ezra yang menutup telinganya akibat jeritan mereka.
Bugh!
"Sekate-kate ngatain kita kerdil, lah situ apa? jelangkung hah?! datang gak di undang pulang gak di antar," kesal Lia.
" Eeh ... tiba-tiba nongol di belakang, wajarlah kita kaget!" lanjut Viola.
Ezra melepas tangannya dari telinganya, secara mengejutkan dia menarik tangan Lia dan menatap gelang Lia dengan intens.
"IIIHHH APAAN SIH! LEPASIN GAK!" sentak Lia sembari menarik paksa tangannya.
Mereka menjadi pusat perhatian, apalagi Lia yang dengan berani membentak Ezra yang notabennya seorang jendral bawahan jendral besar.
"Eh! yang sopan dong! kamu anggota baru kan? sopan dong, dia ini jendral tau gak?!" sentak wanita sambil menatap tajam Lia.
"Mau dia jendral kek! babu kek! bencong kek! gua gak ada urusannya sama lu! lagian juga dia yang salah bukan gue! yok cabut Vi," ujar Lia dan mengajak Viola untuk pergi dari sana.
Sementara Ezra hanya terdiam, pikirannya kini hanya ada Lia, Lia dan Lia. Entah apa yang wanita itu miliki, tapi Ezra selalu terbayang dirinya.
"Siapa.kamu sebenarnya Lia? apa yang kamu miliki hingga pikiran saya selalu berpusat padamu?" ujar Ezra dalam hati.
***
"Daddy, ini kaltu hitam buat Lavin yah." ujar Ravin sambil menghampiri Alden yang tengah sibuk mengerjakan berkasnya.
Siang ini memang Amora dan Ravin sengaja datang ke kantor Alden untuk makan siang bersama, tetapi pria itu sepertinya masih sibuk yang mana membuat Amora lelah menunggu dan berakhir keluar sementara Ravin dia bermain dompet Alden yang berada di meja kerjanya.
"Iya, ambil aja," ujar Alden tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Ravin tersenyum senang, dia mengambil pacifiernya dan memakainya. Kartu tersebut dia genggam, sementara kakinya melangkah keluar ruangan Alden.
"Loh, Ravin kenapa keluar sayang?" ujar Amora yang baru saja akan masuk.
"Lavin mau main kaltu hitam daddy mommy," ujar Ravin setelah melepas pacifiernya.
Amora menatap kartu yang ada di tangan anaknya, dia mengambil kartu tersebut seketika netranya berbinar.
"Tadi Ravin sudah izin sama daddy belum?" ujar Amora sembari mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak.
"Cudah, tadi Lavin bilang ke daddy kaltu hitamnya buat Lavin. Telus daddy bilang iya ambil aja gitu," terang Ravin.
Amora tersenyum lebar, dia menggendong sang anak dan mendekati meja sekretaris.
"Rea, nanti kamu bilangin sama suami saya kalau dia cari saya bilang saya lagi belanja gitu yah," ujar Amora.
"Baik bu," jawab Rea yang merupakan sekretaris Alden.
Amora langsung menggendong sang anak ke parkiran, dia memang menyupir mobilnya sendiri.
"Ravin duduk yang anteng yah, kita mau ke mall buat belanja." ujar Amora sambil menaruh Ravin pada kursi bayinya.
Ravin hanya mengangguk, dia menyanderkan tubuhnya dan memasukkan kembali pacifiernya itu ke dalam mulut mungilnya.
Setelah memakaikan Ravin sabuk pengaman, Amora segera masuk kedalam mobil. Dia tampak senang bahkan kini tersenyum lebar.
"Tas limited, i'm comming!" seru Amora dan menjalankan mobilnya meninggalkan kantor suaminya.
Sementara Alden kini sudah selesai dengan berkasnya, dia melihat jam tangannya yang melingkar apik pada pergelangan tangannya.
"Jam satu, pantas saja gue laper banget," gumam Alden.
"Sayang aku mau ...," ucapan Alden terhenti karena tak melihat keberadaan istri serta putranya.
Netranya mencari sekeliling ruangannya, tetapi tetap tidka menemukan juga. Bahkan kini hanya tersisa rantang yang istrinya bawa.
"Istri sama anak gue kemana yah?" gumam Alden
Alden bangkit dari duduknya, kemudian dia melangkahkan kakinya. Namun, ketika beberapa langkah dia tak sengaja menginjak sesuatu.
"Kok dompet gue ada disini sih?" gumam Alden.
Alden menundukkan dirinya, dia mengambil dompetnya yang sudah ke luar semua isinya.
"Black card gue mana?" heran Alden sembari mencari di selipan dompetnya.
Seketika dia teringat jika tadi putranya menyebut kartu hitam. Setelah sadar, Alden menepuk keningnya. Dia berjalan cepat keluar ruangannya dan melihat sekretarisnya sedang sibuk bekerja.
"Rea! istri saya mana?" tanya Alden sembari menatap Rea.
"Oh, bu bos tadi bilang kalau pak bos nyari bilang kalau bu bos lagi belanja," ujar Rea yang mana membuat Alden memegang kepalanya.
Tanpa berlama-lama Alden berlari menuju lift, dirinya menyesal karena mengabaikan Ravin yang meminta kartu hitamnya.
"Mampus lu Alden! siap-siap terima tagihan yang fantastis," gumamnya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ririn
mau jd amora
2024-12-03
0
flowers city
😃😃😃😃😃😃😃👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
2024-12-03
0
Nanik Kusno
🤣🤣🤣🤣🤣 Lavin memang anak mommy yang the best....
2024-10-13
0