Lia dan Viola kini tengah berlari memutari lapangan bersama dengan calon murid lainnya.
"Hah ... hah ... capek tau gak!" gerutu Lia sambil terus berlari.
"Iya hah ... hah ... bang Ezra gak ngotak ngasih tugasnya hah ...," gerutu Viola yang berada di samping Lia.
Mereka terus berlari hingga puluhan putaran bahkan kini banyak yang tumbang akibat kecelakaan.
"Lia hah ... gue udah gak sanggup hah ... perut gue sakit," ujar Viola.
Baru saja Lia akan berbicara, Viola sudah lebih dulu menepi. Sekarang ia harus melanjutkan larinya.
"Lu capek, nepi aja." ujar Lio sambil mensejajarkan larinya dengan Lia.
"Gak, gue masih sanggup," lirih Lia.
Lio tahu bahwa kembarannya tak mungkin sanggup untuk memutari lapangan beberapa kali lagi. Apalagi kini dia tak sengaja menatap wajah kembarannya yang pucat.
"Nepi aja, gak mungkin kena hukuman," bujuk Lio.
"Gak! gue bakal lari sampai kekesalan gue sama tu triplek hilang!" ujar Lia dan mempercepat larinya hingga jaraknya dan Lio kian menjauh.
Lio hanya pasrah, dia tahu persis jika kembarannya sedang kesal maka kembarannya pasti akan melampiaskan kemarahannya dengan cara berlari ataupun loncat yang tidak jelas.
Sepuluh menit kemudian, Lia telah selesai melakukan kegiatannya. Dia menoleh ke belakang dan tak melihat siapapun yang berlari di belakangnya.
"Kemana mereka?" gumam Lia.
Prok!
Prok!
Prok!
Lia menoleh menatap orang yang bertepuk tangan atas keberhasilannya. Dia menyilangkan tangannya di depan dada dan mengibas rambutnya yang di kuncir kuda pelan.
"Gak usah terpesona gitu, gue tau gue hebat," ujar Lia.
"Benar, kamu memang hebat. Tapi sayang ... kamu bodoh," ujarnya.
Lia membulatkan matanya, dia menunjuk pria di depannya dengan jari telunjuknya.
"Kau! jendral triplek! apa maksudmu mengataiku bodoh hah?!" ujar Lia sembari menatap tajam pria itu yang tak lain adalah Ezra.
Ezra hanya diam, dia menatap Lio yang berjalan ke arah mereka.
"Maaf jendral, saya izin membawa kembaran saya sebentar," ujar Lio.
Tanpa menunggu jawaban Ezra, Lio langsung menarik lengan Lia dan menariknya menjauhi Ezra yang menatap keduanya datar.
"Iiih! Lio mau apa sih!" gerutu Lia.
Lio membawa Lia ke gedung belakang, dia menyerahkan botol minum pada kembarannya itu.
"Lu tau kenapa lu di katakan bodoh oleh jendral?" tanya Lio.
Lia yang sedang minum hanya menggeleng, dia hanya terfokus dengan acara minumnya karena sangat haus.
"Kita cuma disuruh untuk keliling 50 putaran, bukan 70 puluh putaran," ujar Lio.
Byur!
Lio mengelap wajahnya yang habis di semburkan oleh Lia. Dia menatap tajam Lia yang kini tengah memundurkan langkahnya.
"Apa tidak bisa sehari saja kau tidak membuat ulah? hais ... kau ... kau arghhh!" kesal Lio.
"Ya ... ya maaf, Lia gak sengaja. Abisnya Lia kaget, Lio sih gak bilang kalau putarannya cuma 50 sia-sia dong Lia," bela Lia.
Lio menghela nafasnya pelan, dia menatap kalung Lia yang berada di luar bajunya.
"Kenapa kalungnya masih di pakai?" heran Lio
"Buat mengenang aja, jika Lia memakainya terus rasanya dia selalu ada di dekat Lia." sahut Lia sambil memasukkan kembali kalungnya.
Lio menatap Lia dengan raut wajah tak terbaca, dia menoleh menatap Ezra yang kini tengah berbincang dengan para bawahannya.
"Apa kau ingat kalung itu dari siapa? orang yang sudah tiada, kenapa masih harus di ingat?" ujar Lio tanpa melepaskan pandangannya.
Lia tampak berpikir, tetapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menatap Lio yang kini sudah kembali menatapnya.
"Lia yakin, dia masih ada tapi di kehidupan yang berbeda." ujar Lia sambil berlalu dari hadapan Lio.
Lio menatap punggung Lia yang kini menjauh, pikirannya menerawang beberapa tahun lalu.
Flashback on.
"Kenapa mom? kok Lia nangis kejer begitu?" ujar seorang anak laki-laki berumur 9 tahun yang tak lain adalah Lio yang baru saja memasuki kamar kembarannya.
Amora menatap Lio, dia menyuruh Lio untuk menenangkan Lia yang saat ini masih menangis bahkan tanpa suara.
"Leon di kabarkan meninggal, bahkan kini kita semua tidak tau bagaimana kedaannya. Untuk itu tolong kamu tenangkan Lia," pinta Amora.
Lio yang akan menghampiri Lia seketika terhenti, dia menatap terkejut ke arah sang mommy.
"Apa?! meninggal? bagaimana bisa?" heran Lio.
"Pesawat yang di tumpangi Zidan dan Leon terjatuh, bahkan mayat mereka tidak di temukan. Untuk itu mereka di nyatakan tiada," ujar Amora.
Lio masih terdiam, tatapannya jatuh pada Lia yang meraung nama Leon.
"Lia, dengarkan Lio. Biarkan Leon tenang disana, Lia gak mau kan kalau kak Leon sedih melihat Lia yang seperti ini?" tanya Lio sambil menjongkokkan dirinya di hadapan Lia.
"Hiks ... kak ... hiks ... kak Leon hiks ... kak Le ...,"
Brugh!
"LIAAA!"
Flashback off.
"Leon ... nama yang tidak mungkin Lia lupakan. Bahkan sampai saat ini Lia masih memakai kalung pemberian Leon saat dia masih bayi," gumam Lio.
Di lain tempat, kini Lia tengah menatap para anggota yang tengah latihan tanpa menggunakan baju. Teriakan histeris para wanita membuat Lia dan Viola menutup telinga mereka.
"Kok pada bangga sih auratnya di liat orang?" gumam Viola.
"Gak usah sok jadi polos deh lu, pasti lu senengkan ngeliatin yang seger begini? ck, udahlah ... lagian ngapain juga ngeliatan kayak gitu, gue mau balik ke asrama buat beresin barang," ujar Lia.
Viola hanya cengengesan, dia menoleh pada Lia yang sepertinya menatap sesuatu dengan serius.
"Kenapa lu?" heran Viola.
Lia tersadar, dia menoleh kepada Viola dan menarik tangan wanita itu untuk menjauh dari sana.
"Iiihhh lepasin Lia!" rengek Viola.
Lia melepaskan tangan Viola, dia berjalan santai masuk asrama yang mana menyebabkan Viola menatapnya heran.
Brugh!
"Aw! bokon9 aduhai gueee!" siapa sih yang nab ...,"
Viola menabrak seorang wanita dengan pakaian lorengnya, dia menatap Viola dengan pandangan sinis.
"Lu anak baru kan?" ujarnya.
Viola bangkit dari duduknya, dia menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ya, emangnya situ sapa ya?" tanya balik Viola.
"Gue, gue mayor disini!" sentak wanita itu.
Viola menatap tag nama yang berada di baju wanita itu.
"Mayor Marina Bailey," gumam Viola.
"Kok namanya kayak handbody?" lanjut Viola.
Wanita yang bernama Marina itu menatap kesal ke arah Viola. Dia mendekat Viola dan akan membalasnya tetapi Lia sudah keburu datang dan meminta maaf pada Marina.
"Maafkan teman saya, lain kali saya akan mengajarinya." ujar Lia sembari menunduk.
Wanita itu pergi dengan melengos, sementara Viola dan Lia memasang sinis.
"Belagu banget njir!" seru Viola.
"Hus! bahasanya!" seru Lia.
"Hehe, maaf." ujar Viola sembari menggaruk pelipisnya pelan.
Lia memang tidak menyukai bahasa kotor karena Alden selalu mendidiknya untuk tidak berbicara bahasa itu.
"Yaudah ayo masuk," ajak Lia.
Akhirnya mereka masuk ke dalam asrama, tetapi mereka mengerutkan keningnya ketika melihat 2 orang wanita yang kini menatap mereka. Bukan karena keberadaan 2 wanita itu, tapi penampilan mereka membuat Lia dan Viola heran.
"H-hai!" seru wanita yang memakai bando pink dan baju serba pink.
"Ha-hai juga," seru Lia dan Viola kompak.
Mereka beralih menatap wanita berambut pendek sebahu yang sedang menatap mereka dengan datar
"Oh, kenalin aku Mesya indah dan ini dia ... Raisa tapi dia biasa di panggil Ica," ujar wanita yang bernama Mesya memecah keheningan.
"Haha, salam kenal Mesya dan Ica. Nama gue Viola dan sebelah gue Lia," ujar Viola.
"Semoga kita bisa menjadi teman baik yah," sahut Lia.
Mesya mengangguk, dia tersenyum melihat keramahan Viola dan Lia. Sementara wanita yang bernama Ica hanya menatap mereka tanpa berniat berbicara.
Kini ruangan sunyi, mereka sibuk membereskan barang-barang mereka untuk di masukkan ke dalam lemari. Sementara Ica tengah menatap mereka sembari memakai earphone nya.
"Kenapa kalian ingin berada disini?" tanya Mesya sambil merapihkan bukunya.
"Aku hanya mengikuti abangku," jawab Viola.
"Kalau kamu Lia?" tanya Mesya.
"Huh, daddy yang menyuruh ku. Aku tidak ingin mengambil jurusan yang ku impikan sebenarnya, tapi daddy memaksaku untuk ikut militer bersama kembaranku," gerutu Lia.
Viola dan Mesya saling tatap, tak lama kemudian mereka beralih menatap Lia yang tengah cemberut.
"Memangnya cita-cita apa yang kau inginkan?" heran Viola.
"Aku ... cita-citaku ingin menjadi kurir," jawab Lia.
Jdeerr!
"HAHAHAHAHA,"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Nanik Kusno
Ya Ampun.....ada aja Othor ini....di dunia nyata aja g ada orang yang bercita-cita jadi kurir...🥴🥴🥴🥴🥴🥴
2024-10-13
0
Hilmiya Kasinji
ya Allah .. baru kali ini ada ya cita2 jadi kurir.
2024-07-19
0
Leng Loy
Lia pengen jadi kurir itu sudah menjadi cita"nya
2024-04-18
0