Ruang rawat inilah tempat yang Lio pijak sekarang, ruang rawat akademi yang hanya berisikan Ezra yang sedang terbaring lemah.
"Zanna ...,"
"Zanna ...,"
Lio menatap Reno yang baru saja menyuruh Dokter Clara keluar dan mengunci pintu tersebut. Kemudian netranya beralih menatap Ezra yang masih bergumam nama Zanna.
"Terus, lu mau ngapain?" tanya Reno sambil menghampiri Lio.
Lio tak menjawab, dia hanya mendekati brankar Ezra sambil mengeluarkan ponselnya.
Setelah itu Lio mengetik sesuatu dan tak lama terdengar suara tawa anak kecil.
Lio mendekatkan ponselnya pada telinga Ezra, dan seketika Ezra tak lagi menggumamkan nama Zanna dan kembali tenang.
"Kak Leon! Zanna sayang kak Leon! nanti kalau besar Zanna mau nikahnya sama kak Leon saja!"
"Tentu, kau masa depanku Zanna,"
Itulah bunyi yang berasal dari ponsel Lio, Reno yang sedari tadi mendengar merasa terkejut karena Lio yang mempunyai rekaman tentang perempuan bernama Zanna.
"Bagaimana bisa?! bagaimana bisa orang yang bernama Zanna ... kenapa kau bisa memiliki rekaman itu hah?!" ujar Reno.
Lio tak menjawab, dia kembali mematikan ponselnya dan menaruhnya pada saku bajunya.
"Jawaban lu juga jawaban gue. Setelah ini gue semakin jelas percaya jika dia ... masih hidup!"
Lio segera keluar meninggalkan Reno yang masih terdiam dengan ucapan Lio barusan.
"Apa maksudnya? apa hubungan dia sama Zanna?" heran Reno.
Sementara Lio berjalan sembari kembali mengambil ponselnya. Dia mengetikkan sesuatu dan menelpon seseorang.
"Halo,"
"Halo bang, gue mau lu cari data tentang Ezra Louise. Gue harap malam ini sudah harus ada," ujar Lio dan mematikan ponselnya.
Lio mengangkat satu sudut bibirnya, langkahnya terhenti dan menoleh menatap ruangan Ezra.
"Merubah nama, tetapi sifat tetap sama. Lia ..
Lia ... kenapa anak itu terlalu bodoh untuk menyadari jika Ezra adalah Leon. Padahal wajahnya tak banyak berubah," gumam Lio.
Flashback Off.
Lio baru saja masuk ke dalam asrama putra, netranya mencari sekeliling temannya yang juga ada di akademi ini.
Brugh!
Lio menatap pria yang menatapnya, dia memundurkan langkahnya ketika pria itu berucap.
"Bisakah kau jalan menggunakan matamu?" tanya Pria itu sambil menatap tajam Lio.
"Waw, apa kau tak pernah belajar? kita berjalan menggunakan kaki, dan kau yang menabrakku! Jendral!" tekan Lio.
Setelah itu Lio berlalu dari hadapan pria yang tak lain adalah Ezra. Tiba-tiba dirinya teringat akan seseorang.
"Leon? kenapa cara bicaranya sama seperti Leon? dingin, ketus dan arghh! pokonya gue benci pria itu! Leon telah tiada dan muncul pria yang ...,"
"Tunggu ... kenapa wajahnya terlihat sedikit mirip dengan Leon, walau aku melihatnya hanya sekilas tapi warna mata hitam pekat itu seperti Leon," gumam Lio.
Flashback Off.
"Kecurigaanku terbukti, kau adalah Leon. Tinggal saatnya gue mencari kebenaran tentang kemana lu selama ini," gumam Lio dan kembali berjalan.
***
"Sayang," panggil seorang pria yang tak lain adalah Zidan.
"Eh, kamu sudah sampai mas?" ujar Kirana sambil berdiri dari duduknya dan memeluk singkat suaminya.
"Loh, temanmu mana? katanya kamu punya teman baru," heran Zidan.
Kirana menghela nafasnya, dia memanggil Kino yang asik bermain game untuk menyuruhnya pulang.
"Dia baru saja pulang duluan, tadi suaminya sudah menjemputnya. Kamu sih datangnya lama!" gerutu Kirana.
Zidan merasa bersalah, tadi dirinya terjebak macet dan berakhir telat menjemput istri dan anaknya.
Sementara Amora sudah terlebih dulu di jemput Alden, dia juga merasa lelah untuk itu dia bergegas pulang
"Ya sudah ayo kita pulang," ujar Zidan.
Kino meminta di gendong, dengan segera Zidan mengangkat Kino ke gendongannya.
Mereka beranjak pulang tanpa menyadari jika seseorang melihat mereka.
"Zidan? dia Zidan! jadi ... suami dari Kirana adalah Zidan?" gumamnya yang tak lain adalah Amora.
"Sayang, kok lama sih ngambil barang yang tertinggalnya? ayo cepet, kasian Ravin yang tidur begini," ujar Alden yang baru saja menghampiri istrinya.
Amora menatap suaminya kemudian beralih kembali menatap meja tempat Zidan berdiri namun tampaknya mereka sudah tiada.
"Kamu ngeliatin apa sih?" heran Alden sambil menatap apa yang menjadi pusat perhatian sang istri
"Ga-gak! gak papa kok, yaudah kita pulang yuk!" ajak Amora sambil menggandeng lengan suaminya.
Alden hanya menurut, dia merasa ada yang janggal dari tatapan kekhawatiran sang istri.
"Benarkah itu Zidan? jika benar, kemana dia selama ini? ataukah aku hanya berhalusinasi? apa aku bicara pada mas Alden yah?"
Begitulah isi pikiran Amora, bahkan dirinya tak fokus berjalan. Hanya mengandalkan lengannya yang di genggam oleh suaminya.
Sampai di parkiran Amora tetap terdiam, bahkan Alden yang sudah selesai menaruh Ravin di bangku bayinya dan kini menatap istrinya dengan heran.
"Kamu kenapa sih yang? dari tadi keliatan gak fokus, kamu sakit?" tanya Alden sembari memegang wajah istrinya.
Amora menggeleng pelan, tanpa berbicara dia langsung menyingkirkan tangan Alden dan masuk kedalam mobil menyisakan Alden yang tampak bingung.
Selama perjalanan pulang pun Amora tampak diam, padahal Alden sudah mengajaknya berbicara mengenai apa yang dia belanjaannya hari ini. Namun, tampaknya wanita itu tetap bungkam.
Alden akhirnya menyerah, sepertinya akan dia tanyakan saat di rumah saja pikirnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Alden sudah terparkir rapih di garasi mobil mansion. Dia segera keluar dari dalam mobilnya menuju pintu penumpang untuk mengambil putranya.
Sementara Amora sudah lebih dulu keluar dan berlari masuk ke dalam mansion.
"Tolong kamu bawa belanjaan istri saya masuk," ujar Alden pada salah satu bodyguard yang berjaga.
Setelahnya Alden masuk ke dalam mansion menuju kamar putranya, tetapi netranya menangkap putrinya yang baru saja pulang bersama putra ketiganya.
"Aurora, Laskar! dari mana kalian?" heran Alden.
Aurora dan Laskar menghentikan langkah mereka, mereka menatap Alden yang menghampiri mereka.
"Kami baru pulang dari acara ulang tahun teman Aurora dad, aku memaksa ikut dengannya karena aku khawatir dengan Aurora yang keluar malam sendiri." ujar Laskar sambil menatap Alden.
Laskar mengambil alih Ravin dari Alden, sepertinya dia ingin tidur dengan adik bungsunya dan segera membawanya masuk. Sementara Alden mengajak putrinya itu masuk.
"Benarkah Laskar menemanimu?" tanya Alden.
"Iya, kak Laskar terlalu khawatir padaku. Padahal banyak temanku yang juga di undang di acara itu," ujar Aurora dan mengerucutkan bibirnya sebal.
"Itu tandanya abangmu sayang padamu, jika dia masih bisa menjagamu maka akan dia lakukan semampunya. Kau putri kedua daddy, bagi daddy kau adalah berlian Wesley." bujuk Alden sambil berjalan masuk bersama putrinya.
Berbeda dengan Amora yang kini berjalan mondar-mandir sambil menggigit jari jempolnya.
"Gak ... Zidan udah gak ada! mana mungkin dia masih selamat sementara mayatnya tidak di temukan selama 10 tahun. Aku yakin pasti hanya halusinasi ku, atau mungkin saja miripkan? atau hantunya Zidan?" gumam Amora
"Tapi ... jika dia adalah Zidan, lalu dimana Leon?" lanjut Amora.
Amora tiba-tiba teringat akan Kirana yang menyebut putra sulungnya yang berumur 26 tahun dan kini sedang bertugas di akademi militer.
"A-apakah mungkin ...,"
Cklek!
"Zidan? mengapa kau menyebutnya?"
Deghh!!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Puji Ustariana
bukannya arjuna nikah dg adik tirinya zidan ya ?
2024-11-25
0
Eka Mulyani
Tiada?... nyawanya LDR begitu?/Frown/
2025-01-08
0
Ririn
lohhh lio udh tau ezra itu leon
2024-12-03
0