Di sebuah restoran menjadi tempat Amora dan Kirana berbincang, mereka habis berbelanja bareng entah karena apa sepertinya mereka terlihat akrab akibat ulah anak mereka.
"Ravin mau apa sayang?" tanya Amora ketika melihat anaknya yang selalu menatap arah lain.
"Lavin mau main itu mommy," ujar Ravin.
Amora mengikuti arah pandang anaknya, ternyata disana ada ada permainan perosotan dan juga ayunan yang memang tersedia di resto itu.
"Banyak orang nak, nanti kamu terdorong. liat tuh, banyak kakak-kakak yang lagi main," ujar Amora.
Permainan itu banyak yang usianya lebih dari Ravin, Amora takut anaknya terdorong oleh badan besar mereka.
"Eh, Amora ... gak papa, Kino temani Ravin main sayang." pinta Kirana pada Kino yang sedang asik makan es krim.
"Kino lagi makan es klim bunda," rengek Kino.
"Udah mbak, gak papa. Ravin sudah mengantuk, jadi banyak maunya," ujar Amora yang merasa tak enak.
Kirana tersenyum sambil menatap Amora, setelah itu dia menoleh pada anaknya dan menatap tajam putranya.
"Ish! iya! iya! melotot telus, ental matana topot aja! balu tau lasa!" gerutu Kino sambil menaruh cup es krimnya dan turun dari bangkunya.
Kirana menghela nafasnya, dia mempunyai anak yang ajaib sepertinya. Sedangkan Amora terkekeh, karena menurutnya Elbert kecil lebih parah dari ini.
"Ayo tepet! nyucahin aja!" kesal Kino.
"Iya! cabal napa!" balas Ravin tak kalah kesal.
Akhirnya mereka pergi ke tempat permainan itu, sementara Kirana dan Amora kembali sibuk dengan makanan mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong berapa anakmu?" tanya Kirana di sela suapannya.
"Enam, 2 kembar." singkat Amora sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"UHUK! UHUK!"
Amora terkejut melihat kirana yang terbatuk, apakah jawabannya salah? sepertinya tidak.
"Apa mbak baik-baik saja?" tanya Amora ketika melihat Kirana yang bari selesai minum.
"Aku terkejut mendengarnya, padahal umurmu hampir sama dengan ku. Apakah memang berencana menginginkan anak banyak?" ujar Kirana.
"Tidak, entahlah ... mungkin sudah rezekinya," ucap Amora.
Kirana tersenyum, dia menatap ponselnya yang berdering. Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan mengangkatnya.
"Halo,"
"Oh kamu sudah di sini? yaudah langsung kesini aja, aku sedang mengobrol dengan teman baruku," ujar Kirana.
Setelah itu Kirana menutup telponnya, dia kembali menyimpan ponselnya di atas meja dan menatap Amora.
"Oh iya, berapa umur anakmu yang paling besar?" tanya Amora.
"Hm putraku berumur 26 tahun dan kini sedang bertugas di akademi militer," jawab Kirana.
"Oh ya? wah, putriku juga masuk ke akademi militer. Nampaknya putra putri kita serasi, bisa juga kita jadi besan." canda Amora sambil sedikit terkekeh.
Kirana ikut tertawa kecil, tetapi dia teringat akan Ezra yang tak mau di jodohkan oleh siapapun sebelum dia bertemu dengan wanita yang berada di mimpinya itu.
"Kita berada di mall hingga malam, apa suamimu tidak mencarimu?" tanya kirana sambil menatap Amora.
"Aku sudah bilang padanya untuk menjemput ku sekitar jam 07.00. Mungkin sekitar 15 menit lagi," jawab Amora.
Tadinya Alden akan menghampiri istrinya, tetapi secara mengejutkan rekan kerjanya yang dari London mengabarinya jika ia akan bertemu dengan Alden. Mau tak mau Alden harus merelakan kartu hitamnya untuk sang istri.
***
"Gimana keadaan jendral Lio?" tanya Lia sambil menatap kembarannya yang kini tengah mengompres kakinya yang pegal.
"Gak tau, itu bukan urusan gue," sahut Lio dengan acuh.
"Tapi dia yang udah nolong Lia, kalau aja jendral gak nolong Lia mungkin sekarang Lia udah gak tau harus gimana." ujar Lia sambil menatap sendu kepada kembarannya itu.
Lio menghela nafasnya, dia menyudahi kompresannya dan kembali menarik celana panjang Lia yang tadi sempat ia singkap sebentar untuk mengompres betisnya.
"Dia di bawa ke ruang rawat, kekurangan cairan menyebabkan tidak sadarkan diri. Lia tenang saja, pasti besok dia akan sadar," terang Lio.
"Ini semua salah Lia, coba aja Lia gak masuk makin dalam ke hutan itu. Pasti jendral gak akan seperti ini," lirih Lia
"Hah ... Dia aja yang bodoh kenapa gak berkata kepadamu lebih dulu jika kamu nyasar dan malah ngikutin," gerutu Lio.
Lia terkekeh, dia memeluk kembarannya dan dibalas oleh kembarannya itu.
"Lio segalanya buat Lia, Lio yang selalu menenangkan Lia dan Lio juga yang jaga Lia. Tapi sayang, Lio ngeselin. Lia kesal kalau Lio udah marah-marahin Lia," ungkapan hati Lia yang mana membuat Lio gemas.
"Itu karena Lio sayang Lia, dari kita di dalam kandungan Lio pun sudah menolong Lia kan? buktinya Lia lahir duluan karena siapa? karena Lio yang nendang Lia makanya Lia keluar cepat," ujar Lio.
Lia melepaskan pelukannya, dia menatap Lio dengan tajam. Sungguh dirinya kesal jika Lio terus berucap seperti itu..
"Diamlah! jika kau bicara pasti selalu membuat ku kesal!" gerutu Lia.
"Jika aku cuek kau akan berkata, Lio jangan cuek seperti itu! apa kau tak kasian pada kembaranmu yang menggemaskan ini?" ujar Lio sambil meniru ucapan Lia.
Lia menepuk pelan punggung kekar Lio, dia merasa malu karena Lio meledeknya.
Cklek!
Pintu ruang pengobatan terbuka dan tampaklah Reno yang tersenyum menatap mereka.
"Eh neng Lia, kok belum balik ke asrama neng?" tanya Reno.
"Eh iya kak, tadi kaki Lia pegel terus Lio ajak Lia kesini buat kompresin kaki Lia. Ini juga udah mau balik ke asrama kok," jawab Lia.
Reno mengangguk, dia membuka laci dan mencari sesuatu disana.
"Yaudah, gue balik ke asrama dulu yah." ujar Lia sambil bangkit dari duduknya.
Lio mengangguk, mereka terkadang menyebut nama mereka terkadang dengan bahasa Gue- Lu dan terkadang aku kamu. Entahlah apa yang terjadi pada kembaran itu.
Lia keluar ruangan sementara Lio tampak bangkit dan mendekati Reno yang sedang serius mencari barang.
"Abang cari apa?" heran Lio.
"Ini, gue di perintah sama dokter Clara buat ambil obat tidur. Tapi kok gak ada yah?" heran Reno.
"Obat tidur? untuk apa?" tanya Lio.
"Dari tadi jendral terus bergumam nama Zanna lagi Zanna lagi! heran gue, siapa sih Zanna ampe jendral segitunya." jawab Reno sambil terus mencari obat tersebut.
Lio tampak terkejut, dia menatap pintu yang sedikit terbuka dengan segera dia menutupnya yang mana membuat Reno terkejut.
"Mau ngapain lu? jangan bilang lu mau perkosa gue?!" ujar Reno sambil menyilang kan tangannya di depan dada karena terkejut Lio yang tiba-tiba menutup pintu dan menguncinya.
"Idih! pede banget Lu bang, gak mungkin gue main pedang sama pedang!" sentak Lio.
"Ya kali lu belok," kikuk Reno.
Lio ikut mencari obat itu, tak lama ia menemukan botol kecil berisikan cairan dan menunjukkannya kepada Reno.
"Ini maksud lu?" tanya Lio.
"Iya! bener! jeli juga mata lu," jawab Reno.
Reno akan mengambilnya, tetapi Lio menghalanginya dan menatap Reno dengan tajam.
"Gue bisa buat dia tenang dalam tidurnya tanpa obat ini," ujar Lio.
"Apa maksud lu?" heran Reno.
"Gue punya obat yang lebih manjur dari ini, asalkan abang bisa bawa gue bertemu jendral tanpa ada seorang pun termasuk Dokter Clara," pinta Lio yang di balas tatapan tak terbaca oleh Reno.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ririn
ini pernah disebut juga di novel sebelumnya, lio nendang lia makanya lia lahir duluan wkkkkwkkkk
2024-12-03
0
Vera Wilda
Semoga secepat nya mereka saling menyadari dan ingat ya Thor
2025-01-28
0
flowers city
😃😃😃😃😃😃😃😃😃😃
2024-12-03
0