"Papi aku sehat loh." Rumi langsung menghambur kepelukan Papi Mario begitu Larry menghilang dari pandangan mata.
"Iya tadi Papi sudah tahu lebih dulu, Papi senang sekali kamu sehat, Rum. Jangan sentuh lagi minuman itu ya, sayang." Mario mengusap bahu keponakannya.
"Iya Papi. Aku sangat bersyukur Papi dan Mami perhatikan aku seperti anak sendiri." Rumi menitikkan air matanya.
"Memang kamu anak Papi, bukan orang lain." Mario terkekeh menepuk bahu Rumi
"Ayo masuk, Mami menunggu kamu dari tadi." Mario ajak Rumi masuk, tidak mau berlama-lama dalam suasana haru, apalagi Rumi sudah mulai keluarkan air mata.
"Rumi sayang, Mami senang hasil kesehatan kamu bagus." sambut Mami Regina saat Rumi dan Mario masuki rumah.
"Mami, ini berkat doa Mami, aku tidak tahu bagaimana harus balas kebaikan Papi dan Mami yang sangat perhatikan aku." kata Rumi memeluk Regina.
"Berbahagialah sayang, melihat kamu bahagia, kami semua pasti akan bahagia." kata Regina ikut memeluk Rumi erat.
"Terus berdoa dan jangan lagi melenceng." pesan Regina pada Rumi.
"Iya Mami, aku janji. Sungguh tidak tahu diri kalau aku kembali melenceng." kata Rumi tertawa miris.
"Aku akan jadi orang yang tahu diri Mami." janji Rumi lagi, Mario dan Regina jadi tertawa.
"Kamu sudah makan?" tanya Regina.
"Sudah, hari ini Rumi detox melon seharian." jawab Rumi.
"Besok mau detox lagi kah?" tanya Mami.
"Iya Mami, tiga hari niat Rumi."
"Mau buah apa? tadi Mami hanya beli jeruk."
"Rumi sudah pesan Nanas, besok pagi diantar Mami." jawab Rumi tersenyum manis.
"Baiklah, kamu istirahat deh, beberapa hari ini pulang malam terus." Regina ingatkan Rumi.
"Iya Mami, sabtu juga Rumi masuk, karena minggu syuting iklannya." jawab Rumi.
"Apa Steve akan ke Jakarta, Rum?" tanya Mario.
"Katanya sih begitu, tapi tidak menginap karena anak-anak bisa ribut kalau Bang Steve tidak pulang." jawab Rumi.
"Hubungi Steve, Honey. Bilang ajak anak dan istrinya ke Jakarta. Enak saja mau balik hari, kita dianggap tidak ada." protes Mario minta Regina hubungi putra semata wayangnya. Regina tertawa melihat suaminya mulai bertanduk.
"Steve darling." Mami Regina langsung tersenyum mereka saat Steve menjawab sambungan teleponnya.
"Ya Mami."
"Pastikan besok pagi menantu dan cucu Mami ikut kamu ke Jakarta ya. Mami tidak terima alasan." langsung saja bicara tanpa beri kesempatan Steve untuk menjawab.
"Oke Steve, Mami tutup dulu." kata Regina kemudian.
"Mami aku..."
"Sudahlah Steve kalau kamu tidak mau, jangan hubungi Mami dan Papi lagi, anggap saja kami sudah mati." mulai merajuk.
"Ish Mami ini, anakku tidak suka Jakarta." Steve menjelaskan.
"Tapi Oma dan Opanya ada di Jakarta, kamu harus tegaskan itu. Bukan anakmu yang mengatur kamu, Steve." mulai tunjukkan taringnya.
"Iya Mami. Selin, Tori, minta Ncusss siapkan baju kalian ya, kita ditunggu Opa dan Oma di Jakarta besok." kata Steve pada anak-anaknya terdengar oleh Regina.
"Macet Papa." Tori merengek.
"Ada adik bayi Om Raymond loh, kamu mau bertemu Shakira kan? Nanti bertemu Richie juga." bujuk Steve sebut nama Richie adik Nanta.
"Oke." Regina tersenyum mendengar cucunya bilang Oke.
"Begitu dong, baru anak Mami." tersenyum lebar lalu menutup sambungan teleponnya.
"Beres Honey." lapor Regina pada Mario, Rumi tersenyum mendengarnya. Mario acungkan jempolnya lalu memeluk Regina dari belakang, lalu ciumi pipinya.
"Papi Mami ke kamar dulu ya." kata Mario tersenyum pada Rumi.
"Ya Papi." pemandangan yang biasa buat Rumi melihat kemesraan Papi dan Mami seperti itu.
Rumi pun masuk kekamarnya, baru terasa lelah kalau begini, benar kata Mami istirahat, malam ini harus tidur, seperti kata Larry, Rumi tidak boleh begadang. Sebelum tidur Rumi cek handphonenya dulu, berharap ada pesan dari Larry.
Aku sudah di rumah Love, Nite-nite.
benar saja Larry sudah mengirimkan pesan untuk Rumi. Duh kenapa Larry semanis ini ya? bikin Rumi jadi tambah menggila ingin selalu dekat dengan Larry.
Nite-Nite Leyi, cium peluk jarak jauh dari aku, berasa tidak? *Rumi
Bodo ah. *Larry
Ish dasar tidak romantis. *Rumi
Tidak ada jawaban lagi, Rumi yakin Larry pasti lagi tertawakan Rumi seperti biasa. Tidak apa tidak romantis yang penting dia sudah bilang Love, pikir Rumi sambil tertawa dalam hati.
Benar saja Larry sedang tertawa pandangi handphonenya, bayangkan wajah Rumi saat tulis tidak romantis. Biar saja Rumi bilang tidak romantis, nanti saja kalau sudah halal, pikir Larry kembali tersenyum lebar.
Balenku lagi apa?
Kirim pesan pada Nanta karena malam ini tidak ngobrol dengan singkong cantiknya.
Gue menginap di rumah sakit, telepon bertiga yuk. *Nanta.
Oke. *Larry
"Aban Leyi..." muncul wajah Balen dengan rambut awut-awutan, sudah pakai piyama.
"Baen belum bobo?" tanya Larry senang bisa ngobrol sama si unyil.
"Beum, Baen tunduin tepon Aban Juda, bau tepon sekaang." langsung mulutnya monyong-monyong membuat Larry terbahak.
"Tuh Aban Nanta sibuk sih." Larry salahkan Nanta.
"Aban tepon henpon Mamon Baen don." ajari Larry hubungi Mamon.
"Mamon tidak terima telepon dari Larry." terdengar suara Mamon menggoda Balen.
"Ndak boeh sombon Mamon." nasehati Mamon membuat semuanya terbahak.
"Bima cari Ante Baen nih, tidak pernah datang." Nanta membuat Balen tidak enak hati.
"Anak Ante nanis ya?" tanyanya.
"Loh iya." jawab Nanta, Larry tertawa-tawa saja mendengarnya.
"Ante Baenna ladi piek, tata Oma ndak boeh temu anak bayi, nanti aja diumah." Balen menjelaskan kenapa tidak pernah ikut ke rumah sakit.
"Oh iya Aban lupa Baen lagi pilek." Nanta tertawa.
"Udah tua sih jadi upa deh." Larry dan Nanta kembali terbahak dibuatnya.
"Aban Leyi, janan beiin es tim duu ya, beum sembuh Baen." kata Balen pada Larry.
"Sudah minum obat belum?" tanya Larry.
"Udah nih, tida tayi sehai." jawabnya tunjuki botol obat sirup ditangannya.
"Ya sudah kalau begitu Balen bobo deh, kalau habis minum obat kan mengantuk biasanya." kata Larry lagi.
"Boro-boro mengantuk Larry, adikmu mengoceh terus dari pagi sampai malam." kata Nona membuat Larry dan Nanta kembali tertawakan Balen, si ceriwis mana bisa diam, apalagi kalau sudah bergaya Ibu Balen, nasehati semua orang.
"Mamon hari minggu aku dan Rumi jemput Balen jam tujuh ya." Larry ingatkan Mamon.
"Oke, kalian berlatih jadi orangtua asuh anak ya." kata Nona pada Larry.
"Hahaha iya, Baen jadi anak Aban Leyi dulu ya nanti hari minggu." kata Larry tertawa.
"Eman iya?" tanya Balen pada Nona.
"Iya kan kamu cuma pergi syuting sama Kak Rumi dan Bang Larry, nanti disana bertemu Abang Steve." kata Nona pada Balen.
"Eh ada Bang Steve ya?" tanya Larry.
"Biasanya kalau syuting, Steve selalu hadir Larry." Nona sampaikan pengalaman beberapa kali temani Balen syuting.
"Ketemu Abang Ipar deh." Nanta menggoda Larry.
"Eh jadi sama Rumi ya?" tanya Nona semangat.
"Doakan saja Mamon, kalau ada jodohnya." jawab Larry terkekeh.
"Tuh Balen, istrinya Abang Larry nanti kakak Rumi loh." kata Nona pada Balen.
"Iya, Baen juda." jawab Balen.
"Juga apa?" tanya Larry.
"Isti Aban Leyi." jawab Balen membuat semua terbahak, labil sekali singkong rebus Nanta dan Singkong cantik Larry ini, terserah dia saja lagi mau jadi istri siapa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor aku suka banget seru nih bikin ketawa sendiri baca baen siap2 nanti diupain sama aban anta aban leyi karena udah pada sibuk masing ya baen cari aban yg baru aja ya biar aban2 pusing dicuekin sama baen cantik 🤣🤣🤣🤩🤩😂😂💪👍👍👍
2022-02-08
0
nha_82
seru... semangat up lg kakak...
2022-02-08
1
Diandra Kalista80
so sweet 🥰🥰🥰🥰...seruuuuuuu KK...ayo up lg ditngg
2022-02-08
1