Bangun tidur pagi ini seperti ada sesuatu yang berbeda bagi Larry. Seperti sedang ikuti ujian, hari ini sedang menunggu hasil pengumuman apakah Larry lulus apa tidak.
"Mas Zaki, Papa bisa diganggu tidak?" tanya Larry pada Ajudan Papanya via telepon. Tidak sabar ingin bicara dengan Papa, padahal belum mengambil hasil pemeriksaan kesehatan.
"Sedang ada tamu Mas Larry." jawab Zaki dari seberang. Sepagi ini sudah ada tamu, di waktu sarapan Pagi, mungkin berbincang santai di restaurant hotel.
"Ada pesan Mas Larry, biar nanti saya sampaikan." kata Zaki sopan.
"Aku mau ngobrol sebentar." Larry berharap Papa siapkan waktu Lima menit saja mendengarkan pertanyaannya pada Papa.
"Baik, begitu tamunya pergi akan saya sampaikan." janji Zaki pada Larry.
"Mama dimana?" tanya Larry lagi.
"Sedang keliling meninjau lokasi penanaman pohon Mas." entah pohon apa yang akan ditanam , Larry jadi sedikit kesal. Kenapa semua pada sibuk sepagi ini sih.
"Ok." Larry menghela nafas, marahi Zaki juga percuma, tidak akan bisa berikan solusi.
"Bicaranya nanti mau sama Bapak atau Ibu, Mas?" Zaki memastikan lagi pada Larry.
"Papa, aku mau bicara sama Papa. Sama Mama aku sudah bicara kemarin malam." kata Larry sebelum matikan sambungan teleponnya.
"Siap Mas Larry, akan saya sampaikan." ah Zaki, kamu malah bisa bertemu Papa setiap hari, keluh Larry dalam hati. Selama ini tidak pernah pusing kalau Papa dan Mama sibuk di luar kota, tapi berhubung kali ini ada sesuatu yang penting untuk masa depan maka Larry tidak sabar ingin membahas sama Papa tentang segala kemungkinan yang ada.
Larry bersiap mandi dan rapikan diri, ia tetap harus terlihat tampan dimanapun berada. Bahkan saat bangun tidur pun. Mama selalu bilang, Abang belum mandi saja tetap terlihat menyenangkan, ya siapa lagi yang bisa puji dan kagumi anak sendiri kalau bukan Mama dan Papanya.
"Sarapan sudah siap Mas Larry." Ibu Titik tersenyum menyambut Larry saat menuruni tangga.
"Ada cerita apa Bu Titik?" tanya Larry mau dengar laporan dari Bu Titik yang lebih tahu banyak dari Larry.
"Bapak dan Ibu pastikan minggu malam sudah di Jakarta Mas." jawab Bu Titik.
"Kemana? Rumah Dinas?" tanya Larry sambil mengunyah roti yang sudah di panggang.
"Kemungkinan besar ke rumah dinas karena ada pertemuan disana." jawab Bu Titik.
"Oke." jawab Larry, tetap tidak bisa komplen. Larry ambil handphonenya lalu hubungi Nanta. Sudah pasti mau bicara dengan singkong cantiknya.
"Aban Leyi..." benar saja langsung singkong yang angkat telepon Abangnya.
"Sudah pulang Tania ya?" tanya Larry.
"Beum, anakna tan masih tunin." jawabnya sok tahu.
"Kok Abang dirumah?" tanya Larry.
"Gantian sama Oma, Leyi. Gue kan hari ini ke kantor. Tidak bawa baju." kata Nanta pada sahabatnya
"Oh iya sudah masuk ya. Gue mau ambil hasil padahal ke rumah sakit, elu tidak disana. Ya tidak mampir deh."
"Mampirlah bawakan Dania kue pasar yang gue beli dulu Leyi."
"Oh ya sudah nanti gue belikan, berapa box?"
"Sedikit saja, jangan lebih dari satu box."
"Oke."
"Balen, bulan depan ikut kejuaraan ya, kemarin sudah Aban daftarkan." kata Larry pada Balen.
"Beenang?" tanya Balen dengan wajah sumringah.
"Iya berenang, latihan maksimal biar jadi juara ya sayang aban." pesan Larry pada Balen.
"Ote." main oke saja.
"Baju berenang Balen sudah aban pesankan juga."
"Wah Baen puna baju bau don. Badus ndak?"
"Nanti lihat saja sendiri, hari minggu aban bawakan saat jemput Balen syuting ya."
"Matasih Aban Leyi Baen."
"Sama-sama sayang. Ya sudah ya, Aban mau telepon kakak Rumi dulu." kata Larry pada Balen.
"Uhuk..." Nanta langsung batuk-batuk.
"Kasih minum tuh Aban Nanta, Kasihan batuk." kata Larry membuat Nanta terbahak, sementara Balen ikuti perintah Larry sodorkan gelas minuman yang dihadapannya.
"Nanti ke Warung Elite lah." Nanta mengundang Larry.
"Elu kerja, baru juga masuk."
"Ajak Mike sama Doni." kata Nanta lagi.
"Doni agak susah keluar sekarang." kata Larry ingat Doni sedang jadi suami siaga.
"Nanti berkabar Nan, kalau Mike bisa, gue ajak Mike. Gue juga ada perlu sama Mike." kata Larry lagi.
"Aban, Baen omba beenangna sendiian?" tanya Balen rusuh pikirkan lomba.
"Tidak sayang, nanti kan ada teman-teman Balen yang lain."
"Temenna natal ndak?"
"Tidak dong, kalau teman harus baik."
"Ada temen yan natal tok. Itu Maisa natal anakna." bicarakan Masha and the bear film kartun yang ditontonnya di TV.
"Jangan berteman sama Masha kalau begitu." jawab Larry tertawa.
"Baen ndak temenan, Baen nonton aja." katanya membuat Larry dan Nanta tertawa.
"Ya sudah aban tutup dulu ya, hari minggu dijemput jam berapa?" tanya Larry.
"Ndak tau, tanain Tatak Yumi aja." jawab Balen.
"Oke, Nan tutup ya. Bokap gue telepon." kata Larry dan langsung tutup sambungan teleponnya pada Nanta lalu angkat telepon dari Papanya.
"Larry..." terdengar suara Papa yang sangat Larry hapal, serak dan berat begitu.
"Papa sibuk?" tanya Larry tersenyum Papa langsung yang hubungi Larry tanpa Zaki.
"Ya seperti biasa saja, kenapa Nak?" tanya James ingin tahu.
"Waktuku berapa menit?" tanya sama Papa begitu karena khawatir lagi enak bicara harus terputus.
"Hahaha bebas kamu mau berapa menit bicara sama Papa." James jadi terbahak mendengar pertanyaan Larry.
"Aku sudah cek kesehatan."
"Loh kok kamu yang cek kesehatan?"
"Aku dan Rumi."
"Telepon Papa hanya mau bicarakan Rumi?" James terkekeh.
"Papa, kalau hasil yang keluar justru aku yang sakit bagaimana? sementara Rumi bisa terima aku dalam keadaan sehat ataupun sakit?" tanya Larry pada Papa.
"Jangan berandai-andai Larry." James jadi khawatir.
"Ya aku cuma mau kasih tahu kemungkinan yang ada saja." jawab Larry.
"Papa harap kalian berdua sehat." James tersenyum.
"Jadi Papa restui kami?" Larry menarik nafas lega.
"Jangan terburu nafsu Larry, kamu harus yakinkan lagi, apa memang Rumi yang kamu harap bisa jadi Ibu dari anak-anak kamu nanti." James ingatkan Larry.
"Ya, aku berharap Rumi." jawab Larry yakin.
"Papa rasa kamu terbawa suasana karena sahabat kamu sudah pada menikah. Jangan karena itu, Nak." kata James lagi
"Bukan karena itu, aku cuma mau Rumi yang jadi istriku. Papa restui aku dong." langsung membujuk Papanya.
"Hahaha..." malah tertawakan Larry yang merengek seperti anak kecil.
"Aku tidak bercanda Papa." Larry yakinkan Papa.
"Habiskan waktu Papa cuma mau bahas ini." James kembali terbahak.
"Ini baru sepuluh menit, Papa tadi bilang bebas." protes Larry pada Papa.
"Kamu jadi seperti Daniel yang minta dijodohkan dengan Balen." James kembali terbahak tertawakan Larry, benar-benar bergaya Daniel.
"Papa jadi bagaimana?" Larry minta pendapat Papa tidak peduli dibilang seperti Daniel.
"Nanti kita bicarakan saat bertemu saja. Hari minggu malam Papa di Jakarta." tegas James pada Larry.
"Papa ke rumah Dinas?" tanya Larry.
"Iya, kamu menginap saja disana." pinta James pada Larry
"Aku tidak suka disana." tolak Larry.
"Ya sudah kalau begitu Papa tidak akan pernah suka Rumi." James bawa-bawa Rumi.
"Iya aku menginap disana hari minggu nanti." mengalah demi restu Papa.
"Hahaha oke Papa tunggu." James tertawa puas bisa ajak Larry menginap di Rumah Dinas. Gampang sekali rupanya bujuk Larry sekarang, sebut saja nama Rumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya semangat bang leyi udah gak sabar ya
2022-02-07
1
nha_82
hahahah... papa udah tau kelemahan leyi ya, sebut rumi leyi nurut😃😃
2022-02-07
1
Diandra Kalista80
my good,seruuu abis KK...tp kok up nya dikit ya,,???ditambah dongggg,🥰🥰🥰
2022-02-07
1